
Mama Yunita memanggil sang putri yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Dia khawatir Melin akan benar-benar mogok sekolah, seperti yang dia ujarkan beberapa hari lalu. Karena dia masih merasa takut berada di jalanan lantaran kejadian malam itu.
Saat sang mama tiba, rupanya Melin masih duduk dan melamun di depan meja riasnya. Lalu mama Yunita memijat lembut pundaknya.
"Papa menunggu di bawah untuk sarapan. Ayo turun...!" ujarnya dengan lembut.
"Maa..., bisa tidak aku homeschooling saja?" sahut Melin.
"Sayang..., dengarkan mama. Tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi. Sekarang kita turun, sarapan, lalu berangkat sekolah. Bodyguard buat kamu juga sudah menunggu di depan." katanya.
"Apa dia bisa diandalkan?" gumam Melin yang masih meragu.
"Sangat bisa! Dia satu-satunya yang lolos seleksi." balas mama Yunita.
Dengan langkah malasnya Melin menuruni anak tangga untuk sampai di ruang makan. Mereka makan dengan tenang.
Tak lama kemudian mereka sama-sama keluar untuk mengantar Melin ke depan pintu.
Deg...!!
Melin terkejut saat melihat sosok yang berdiri di samping mobilnya. Walaupun dia membelakangi Melin, tapi Melin sangat mengenalinya.
"Hati-hati bawa putri saya. Jaga dia dengan baik!" tutur papa Adi dengan nada tegasnya.
"Baik, pak!" balas Reihan tak kalah tegas.
"Pa, ma...?!" gumam Melin sambil melihat kedua orang tuanya bergantian.
"Dia yang mama bicarakan tadi." bisik mama Yunita.
"Papa hanya percaya sama Reihan. Kamu tidak keberatan kan?" papa Adi menatap mata Melin untuk mencari jawaban.
Melin hanya diam. Dia benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Setelah berpamitan mereka berdua meluncur santai menuju sekolah.
Saat dalam perjalanan, Melin menerima pesan dari mamanya.
Bodyguardnya ganteng kan...???!😉
Melin melirik sejenak ke arah Reihan yang sedang fokus menyetir. Lalu kembali fokus ke depan.
"Ada apa?" tanya Reihan tanpa menoleh ke arah Melin yang duduk di sampingnya.
"Nggak ada." jawab Melin.
"Tidak nyaman?" tanya Reihan lagi. Melin menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian mobil mereka memasuki halaman parkir. Namun mereka tidak langsung turun, sehingga menarik perhatian beberapa siswa yang berada di sana.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Ayo keluar!" ajak Reihan.
Melin menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Hubungi aku kapanpun kamu butuh. Sekarang aku adalah pekerjamu." ujar Reihan.
"Lalu, apa yang akan aku katakan pada mereka?" Melin melihat teman-temannya yang saling berbisik di luar sana.
"Katakan apa adanya. Tidak ada yang perlu ditutupi." Reihan membuka pintunya.
Melin pun melakukan hal yang sama. Yang mengejutkan, Reihan membantunya membuka pintu lebih lebar. Membuatnya sedikit salah tingkah, dan merasa tak enak.
"Serius mereka bersama?"
"Seorang Reihan bisa pacaran juga, guys...! Sesweet itu coba...!!"
"Beruntungnya si Melin...!!!"
......................
Sasha berlari ke bangku Melin, ketika dia sampai di dalam kelas. Pasalnya sepanjang koridor dia mendengar semua membicarakan Reihan dan Melin. Bahkan ada yang langsung menanyakan kebenarannya pada Sasha.
"Kalian jadian?!" tanya Sasha.
__ADS_1
"Enggak." balas Melin.
"Lalu...?!" tanya Sasha lagi.
"Dia bekerja sama papa." jawab Melin.
"Jadi supri, gitu...?!" sahut Sasha.
"Supri?" Melin menyipitkan matanya.
"Supir pribadi, Meliiin...!!!" ujarnya sedikit gemas karena Melin tidak memahami bahasanya.
"Lebih tepatnya bodyguard."
"What?!!" Sasha semakin heboh. "Kok bisa?!!!"
"Buktinya, bisa." hanya itu jawaban Melin. Dia tidak ingin mengungkap alasan di balik semua itu.
Saat jam istirahat, Melin memilih tinggal di dalam kelasnya. Dia tidak ingin pergi kemanapun.
Karena ketidakmunculannya di kantin saat itu, membuat Reihan mulai khawatir.
Dimana?
_
Kelas
_
Sudah makan?
_
Tidak lapar
_
Reihan beranjak dari kursinya, sambil mengantongi handphonenya.
"Mau kemana?" tanya Nathan.
"Bentar." jawabnya.
"Paling juga nemuin Melin..." balas Gina.
"Mereka benar-benar sudah jadian?" Nathan menatap Gina.
"Entahlah. Aku belum menanyakan langsung pada Melin." katanya. "Kamu keberatan kalau mereka bersama?" tanya Gina kemudian.
"Tidak." balas Nathan singkat. "Hanya tidak percaya saja, seorang Nathan keduluan bocah kaku macam Reihan." Nathan tampak meringis, lalu menggelengkan kepalanya.
Di sisi lain...
Reihan telah tiba di depan kelas Melin. Sebelum masuk dia memastikan nona barunya itu berada di dalam sana.
"Kak Rei..." sapa seorang teman Melin.
Reihan hanya sedikit mengangguk untuk membalasnya. Dia kemudian duduk di bangku yang ada di depan Melin. Sehingga membuat Melin terkejut, lalu mengangkat kepalanya yang sedari dia sandarkan di meja.
"Kak..." ucapnya lirih.
"Makan." Reihan menaruh nasi goreng dan sebotol air mineral di atas meja.
"Aku tidak lapar." katanya.
Reihan tidak peduli. Dia justru membuka bungkua kotak makan itu, lalu mencoba menyuapi Melin.
"Makan sendiri atau aku yang suapi?"
Melin melihat sekelilingnya, rupanya beberapa temannya sedang memperhatikan. Dia pun mengambil sendok dari tangan Reihan.
__ADS_1
"Jangan sampai kelaparan, atau orang tuamu akan memarahiku." ujar Reihan sambil membuka tutup botol minuman.
"Bagaimana dia bisa tahu porsiku, dan segala topingnya?" batin Melin.
"Aku harus pergi. Habiskan, jangan ada sisa!" begitu pesan Reihan sebelum pergi.
"Thanks." balas Melin.
Tak ada balasan dari Reihan, dia berlalu begitu saja dari hadapan Melin.
......................
"Ciieeeh..., yang lagi dikawal..." bisik Sasha saat melihat Reihan sudah menunggu di bawah tangga.
Melin tidak merespon sama sekali.
"Kenapa Melin jadi aneh begini sih? Nggak asyik kayak dulu." batin Sasha.
"Kak Rei..." sapa Sasha.
"Mel, aku duluan ya. Bye..." pamitnya kemudian.
"Hati-hati..." balas Melin.
"Mau pergi kemana?" tanya Reihan.
"Langsung pulang." jawab Melin.
Mereka pun berjalan ke arah parkir mobil.
"Mau mampir beli kue?" tanya Reihan saat keduanya sudah berada dalam mobil.
"Lain kali saja." balasnya.
Tanpa banyak tanya lagi Reihan segera melajukan mobil itu menuju rumah Melin.
"Kak Rei masih bekerja di toko itu?" tanya Melin saat mobil mereka melewati pertokoan.
"Masih. Setelah mengantar kamu pulang, aku akan kembali bekerja." balas Reihan.
"Tidak capek?" tanya Melin sambil mengubah posisi duduknya agar bisa melihat Reihan.
"Anggap saja aku tidak mengenal kata itu." Reihan tersenyum tipis.
"Apa papa memaksa kakak untuk melakukan pekerjaan ini?" Melin kembali bertanya.
"Tidak. Pak Adi hanya menawarkan, dah aku menerimanya. Karena aku juga butuh uang tambahan." ucapnya dengan jujur.
"Ooh..."
Setelah mendengar penjelasan Reihan, Melin kembali pada posisi semula.
"Aku janji tidak akan merepotkan, kak... Terimakasih sudah menerima tawaran papa. Karena aku memang merasa lebih aman saat kakak ada di dekatku. Seperti sekarang ini."
"Tapi kalau tiba-tiba ingin pergi, kamu bisa telepon. Bi Ismi juga sudah tahu soal pekerjaan baruku ini. Dan dia sangat mengerti." ujarnya. Melin hanya mengangguk.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah. Setelah itu Reihan langsung pamit untuk pergi ke toko kue milik bibi Ismi.
"Bagaimana perasaanmu sayang?" tanya mama Yunita.
"Baik, ma." balasnya.
"Ma, bagaimana papa bisa tiba-tiba memberikan pekerjaan itu pada kak Rei?" tanya Melin.
"Karena papa yakin Reihan bisa melindungi kamu." jawabnya.
"Kak Rei juga kerja di toko kue, dia pasti kerepotan." kata Melin.
"Tapi Reihan bilang, kalau dia sanggup melakukannya." balas mamanya. "Kamunya juga jarang pergi-pergi kan. Jadi tidak akan ada masalah."
......................
__ADS_1