
Papa Adi sempat marah pada Reihan, karena dinilai lalai menjalankan tugasnya. Tapi Sasha berusaha memberikan pembelaaan, karena itu bukan kesalahan Reihan.
"Om, kami yang minta kak Reihan tidak ikut. Karena kami mau membeli barang pribadi. Dan kami juga yang bandel, karena tidak langsung kembali seperti pesan kak Reihan. Kami justru pergi ke toko itu. Yang ternyata itu milik Kevin, dan dia berada di sana." Sasha menceritakan semuanya tanpa ada kebohongan sedikitpun.
Papa Adi memijat pelipisnya setelah mendengar pengakuan Sasha.
"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Sasha kamu bisa pulang, biar paman Lukman yang antar ya. Dan Reihan, kamu tetap ikut saya!" katanya dengan nada yang sangat tegas.
Setelah Sasha berpamitan, Reihan diajak ke kamar Melin. Tapi dia tidak masuk. Dia hanya menunggu di luar sesuai instruksi papa Adi. Lalu papa Adi memanggil istrinya keluar dari kamar Melin.
"Saya tidak ingin kejadian ini terulang lagi." ujar papa Adi. "Sebaiknya kalian menikah saja!" putusnya.
"Hah?!" Reihan terkejut.
"Pa...?!!" istrinya pun tak kalah terkejutnya.
"Mama tahu apa alasan Melin melarang Reihan pergi bersamanya? Sehingga terjadi hal seperti ini...?!" kata papa Adi. "Karena dia ingin membeli barang pribadi."
"Lalu kenapa tiba-tiba harus menikah?!" mamanya masih bingung.
"Kalau mereka menikah, mereka akan bisa mengerti satu sama lain. Paham dengan hal-hal pribadi masing-masing. Jadi bisa pergi kemanapun tanpa malu lagi." terang papa Adi.
"Tapi apa harus menikah secepat ini juga...?!" mama Yunita masih tidak yakin.
"Mereka masih pelajar, paa...!! Terlalu dini...!" sang istri rupanya masih keukeuh menentang putusan suaminya itu.
Reihan hanya bisa diam mendengarkan perdebatan sepasang suami-istri di hadapannya itu. Dia sendiri pusing bagaimana majikannya itu bisa mengambil solusi sewaoh itu.
"Bagaimana, Rei...?!" tanya papa Adi tiba-tiba.
Reihan tidak bisa memberikan jawaban saat itu. Dia benar-benar bingung.
"Papa..., pernikahan bukan lelucon. Ini ikatan suci. Tidak bisa begitu saja diputuskan." sahut mama Yunita yang masih berusaha menengahi.
"Kamu menolaknya?!" papa Adi menatap Reihan, tanpa peduli ucapan sang istri.
"Apa kamu hanya ingin mempermainkan perasaan putri saya?!" ucapan papa Adi semakin ngegas saja.
"Paa, sabar...!" ujar sang istri.
"Maaf sebelumnya, pak..., bu... Saya diam bukan karena saya menolak. Tapi saya sedang memikirkan Melin." ujar Reihan.
"Saya tidak ada maksud mempermainkan Melin. Karena saya benar-benar menyayanginya. Tapi saya juga tidak bisa langsung menerima putusan pak Adi. Tanpa berdiskusi dengan Melin. Karena yang akan menjalani pernikahan ini adalah kami. Saya juga butuh restu dari paman dan bibi saya. Mohon kiranya pak Adi berkenan memberi kami waktu untuk bicara." tuturnya.
"Reihan benar, pa. Bagaimana kalau Melin tidak siap...? Lalu bagaimana kalau keluarga Reihan juga tidak berkenan...?" ujar mama Yunita.
"Saya beri waktu tiga hari." putus papa Adi, kemudian dia berlalu menuruni tangga.
"Maafkan papanya Melin ya, Rei. Dia hanya takut kalau terjadi sesuatu sama Melin." mama Yunita mencoba menenangkan Reihan.
"Tidak apa-apa, bu. Saya mengerti." Reihan tetap berusaha tersenyum, meski sebenarnya dia sangat gelisah.
......................
Paman Bian merasa khawatir dengan keponakannya yang sejak pulang sama sekali tidak keluar kamar. Akhirnya paman mengetuk pintu kamar Reihan, dan mencoba berbicara dengannya.
"Paman sudah tahu apa yang terjadi. Tadi orang-orang di kantor sedang membicarakan itu." ujar paman Bian.
"Apa pak Adi memarahimu, dan memecatmu?" tanya paman Bian.
"Tidak paman." balas Reihan dengan nada datarnya. "Ini di luar ekspektasiku." sambungnya.
"Apa yang terjadi? Ceritalah pada paman...!" ujar sang paman.
__ADS_1
"Pak Adi minta aku menikahi Melin." cetus Reihan.
"Hah?!" paman Bian melongo.
"Me..., me..., menikah...?!" ujarnya gugup. "Apa yang kamu lakukan sama non Melin, Reihaaan...?!" geram pamannya.
"Aku tidak melakukan apapun, paman. Paman jangan su'udzon dulu...!" balas Reihan.
"Sebenarnya aku dan Melin memang sudah pacaran." kata Reihan.
"Pacaran...?! Beraninya kamu...?!!!" seru paman.
Suara itu membuat bibi Nurma terkejut, sehingga bibi pun berlari ke kamar Reihan.
"Apa sih ribut-ribut...?! Lili sedang tidur...!!" tegur bibi. "Lagian ayah, Reihan sudah dewasa. Biar saja dia pacaran." kata bibi kemudian.
"Lihat dulu siapa yang dipacari, bu...!!!" geram paman Bian. "Non Melin!"
"Apa?!" bibi tak kalah kagetnya. "Reihan..., apa-apaan kamu ini...?!!"
Reihan semakin dibuatnya. Dia belum selesai bercerita, tapi semua sudah memberikan respon yang membuatnya kesal.
"Pamaan..., bibi..., tenang dulu...!! Dengarkan aku!"
Reihan kemudian kembali bercerita tentang semua hal yang hampir 6 bulan ini dia lalui bersama Melin. Tentunya tanpa sepengetahuan paman dan bibinya.
"Dan karena kejadian tadi siang itu, pak Adi kembali memintaku menikah dengan Melin." Reihan mengakhiri ceritanya.
Paman dan bibi terdiam dengan pikiran masing-masing. Reihan menatap keduanya bergantian.
"Maafkan aku bibi, paman..." ujar Reihan sambil bersimpuh di hadapan keduanya. "Aku bukannya membuat hidup kalian bahagia, malah aku menambah beban kalian." tuturnya.
Bibi Nurma mengusap rambut hitam nan tebal milik keponakannya itu. Sedangkan paman menepuk punggung lebarnya.
"Apa yang membuatmu gusar?" tanya paman kemudian.
"Apa aku bisa menjadi suami yang baik? Bisa memenuhi kebutuhan istriku kelak? Sementara aku saja belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk keluargaku." gumam Reihan.
Paman dan bibi saling melempar pandangan, lalu keduanya tersenyum.
"Pasti bisa, asal niatnya ada." kata paman Bian.
"Pamanmu benar, Rei. Kami sudah bersyukur karena bisa hidup jauh lebih baik saat ini. Semua juga berkat kamu yang bekerja keras bersama paman." sahut bibi.
"Mungkin memang jalan hidupmu harus seperti ini. Kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti garis hidup yang Allah sudah atur untuk kita." tambahnya.
"Dekatkan diri pada Allah. Mintalah petunjuknya." tutur paman Bian.
"Em. Iya, paman." balas Reihan.
......................
Kejadian yang menimpah Melin hari itu, ternyata berdampak pula pada Keira. Adik Kevin. Lantaran beredarnya potongan video ketika Kevin digiring petugas keamanan mall, juga penyegelan toko. Hampir semua membully Keira karena ulah Kevin.
"Ini dia adiknya si Kevin." cibir seorang siswa.
"Masih berani datang ke sekolah rupanya..."
"Kakak kamu ganteng-ganteng ternyata jahat ya. Pantas saja Melin lebih memilih kak Reihan. Udah ganteng, pinter, baik pula..."
"Eh, tokonya juga disegel lho. Aku baca berita, toko di setiap mall tidak boleh beroperasi."
"Bilangin sama kakakmu itu, makanya jadi orang jangan jahat-jahat...!!"
__ADS_1
"Diam semua...!!" teriak Keira.
"Waoh...!! Ada yang marahkah...?!"
"Tidak dengar tuh...!!!"
Keira sangat kesal dibuatnya. Dia menutup telinganya sambil berlari. Dia tidak pergi ke kelasnya, tapi justru ke kelas Melin.
"Kak Meliiin...!!!" serunya. "Dimana kamu..?!!"
Keira mencari di setiap sudut ruang kelas itu.
"Eh, adiknya datang nih...!" sahut teman sekelas Melin. "Ngapain teriak-teriak di sini?!"
"Tahu nih, keluar gih! Kelas kita nggak terima keluarga penjahat yaaa...!!"
"Diam...!" sentak Keira. "Mana kak Melin?!"
Di belakang Keira muncullah Sasha yang baru saja datang.
"Kenapa cari Melin?" tanya Sasha dengan santainya.
"Mana dia?!" suara lantang itu kembali terdengar.
"Dia tidak masuk." jawabnya.
"Enak sekali tidak masuk. Sementara aku di sini dibully sama semua orang karena dia!"
"Eh, jaga mulut kamu ya! Melin tidak masuk karena dia mengalami trauma akibat ulah kakakmu!" Sasha menunjuk Keira.
"Tadinya aku tidak mau melibatkan kamu, meski ini masalah kakakmu. Tapi kok kamunya malah nyolot begini...!!!"
"Betul itu...!!" sahut yang lain.
"Asal kamu tahu ya, Kei. Gara-gara kakakmu itu, Melin sekarat karena kekurangan oksigen. Masih mending tidak terjadi sesuatu. Kalau sampai fatal, kakakmu bisa saja dihukum mati." ujar Sasha.
"Kakakku nggak akan begitu kalau saja kak Melin mau menerimanya. Dia bela-belain meninggalkan Bali dan buka usahanya sendiri di sini, demi kak Melin. Tapi apa balasannya, kak Melin lebih memilih kacungnya itu!" bantah Keira tak mau kalah.
"Ini masalah hati, Kei. Perasaan. Nggak bisa dipaksa! Harusnya kakakmu mengerti itu." ujar Sasha.
"Kenapa harus kakak yang mengerti? Sedangkan kak Melin saja tidak peduli dengan perasaan kakakku?!" bantah Keira.
"Sudahlah..., tetap saja kakakmu salah. Jangan ngotot, capek...!" sahut yang lain.
"Awas kalian semua!!!" Keira menunjuk seluruh siswa di ruangan itu, lalu pergi.
"Huuuuuhhh...!!!" semua menyoraki Keira.
"Sudah..., sudah...!!" tegur Sasha. "Pagi-pagi bikin panas saja." gumam Sasha.
"Melin baik-baik saja kan, Sha?"
"Dia masih butuh istirahat. Kita do'akan agar segera sembuh dan sekolah lagi, ya...!" jawab Sasha.
"Iya, Sha. Kasihan sekali Melin..."
"Iya. Syukur tidak sampai diapa-apain."
Sasha hanya tersenyum simpul mendengar teman-temannya.
"Beruntung kak Reihan datang tepat waktu..." batin Sasha.
......................
__ADS_1