Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Tak akan Terganti


__ADS_3

Dalam sebuah restoran terlihat dua orang sedang menikmati makan siangnya. Si perempuan tampak mengenakan setelan kerja yang sangat modis. Dan si pria pun tak kalah stylish dengan kemejanya yang bermerk itu.


Mereka adalah Melin dan Theo. Theo adalah seorang pebisnis muda, yang kebetulan perusahaannya sudah lama menjalin kerjasama dengan perusahaan papa Melin. Di kesempatan ini mereka pergi makan siang berdua setelah sebelumnya mereka melakukan meeting penting dengan seorang klien.


"Malam minggu ini ada acara?" tanya Theo.


"Tidak ada." jawab Melin.


"Kebetulan. Main ke rumah yuk...?!" ujar Theo kemudian. "Papi dan mamiku baru pulang dari Paris. Mereka ingin mengundang kamu dinner bersama." katanya lagi.


"Maaf, Theo. Aku tidak bisa." Melin meletakkan garpu dan sendoknya dengan rapi di atas piring.


"Kenapa sih, Mel...? Kamu selalu saja menolak ajakanku..." protes Theo.


"Kalau pergi bersama rekan kerja kita, oke aku bisa. Tapi untuk dinner, apalagi melibatkan orang tua. Maaf. Aku tidak mau membuat orang tuamu salah paham." balas Melin berterus terang.


"Mel..., aku bingung sama kamu. Harus dengan apa aku meyakinkan kamu kalau aku ini benar-benar tulus sama kamu." katanya.


"Oke fine, kamu selalu menolak cintaku. Mungkin kamu anggap aku hanya main-main. Sekarang aku mau langsung ajak kamu ketemu orang tuaku, buat meyakinkan kamu kalau aku benar-benar serius. Kamu masih juga ragu?!"


"Aku tidak pernah meragukan kamu, Theo. Tapi aku tidak bisa menerima kamu. Tolong mengertilah!" ujar Melin.


"Dua tahun Melin..., aku berusaha ambil hati kamu. Apa usahaku itu masih belum bisa membuatku layak bersamamu...?!" Theo tetap keras kepala.


Sejak Melin memutuskan untuk terlibat dalam bisnis keluarganya 3 tahun silam. Melin mulai bertemu dan mengenal banyak orang. Dan tak jarang dari mereka yang terpesona dengan kecantikan dan kinerja Melin. Salah satunya adalah Theo. Yang dia kenal sekitar 2 tahun yang lalu.


"Sorry, Theo. Di hatiku masih ada masa lalu yang tidak bisa aku lupakan. Dia masih ada, dan tak akan tergantikan."


Melin kemudian pamit pada Theo, dan meninggalkan Theo yang patah hati untuk kesekian kalinya.


Rupanya waktu 6 tahun itu tidaklah cukup membuat seorang Melin move on dari Reihan. Dia masih saja memikirkan seniornya itu. Terutama ketika dia sedang sendirian.


"Kak Rei..., apa kita bisa bertemu lagi...?!"


Melin bahkan sudah tidak tahu lagi dimana keluarga Reihan tinggal. Karena rumah yang dulu itu sudah tidak ditempati lagi.


Malam harinya, mama Yunita mendatangi kamar Melin.


"Kamu menolak ajakan Theo lagi?" tanya mama Yunita.


"Ma, aku lelah. Aku ingin segera istirahat." balas Melin yang sangat tak bersemangat.


"Kamu menolak terus saja menolak Theo. Kenapa?! Masih mengharapkan Reihan kembali, iya?!" ujar mama dengan ketus.


"Ma, please...! Jangan tanyakan itu lagi. Karena jawabanku masih sama." balas Melin.


"Kamu itu bodoh atau apa sih, Mel?! Sudah jelas-jelas dia menjauh, kamu masih saja mengharapkan dia? Lupakan!! Kamu terima saja yang jelas ada di depan mata!" katanya.

__ADS_1


"Aku heran ya. Kenapa sekarang mama jadi seperti ini?" ujar Melin. "Lama-lama mama jadi kayak eyang. Ini hidupku, ma. Jadi tolong, mama tidak perlu ikut campur." tegasnya.


"Mama ikut campur karena mama peduli sama kamu." sahut mamanya tak mau kalah.


"Terimakasih atas kepeduliannya, ma. Good night."


Melin menarik selimutnya lalu memejamkan matanya. Mama Yunita kesal melihat kelakuan putrinya itu. Akhirnya dia keluar dari kamar Melin.


Beberapa saat kemudian Melin bangkit dari kasurnya. Dia mengunci pintu kamarnya dengan rapat. Lalu kembali ke atas kasur.


"Kak Rei..., aku sangat merindukanmu..."


Air mata Melin tiba-tiba menetes. Dan itu selalu terjadi ketika Melin memikirkan sang mantan suami.


......................


Suatu hari Melin mendapatkan undangan pesta pernikahan dari salah satu kliennya. Berlokasi di sebuah pantai yang ada di luar kota. Melin hanya pergi bersama paman Lukman dan asistennya, Sasha. Dia adalah Sasha teman terdekat Melin waktu sekolah dulu. Melin memesan dua kamar di hotel. Satu untuknya dan Sasha, satu lagi untuk paman Lukman.


"Istirahat dulu, Mel. Acaranya masih nanti malam. Jangan sampai kamu kecapekan."


Sasha yang sudah mengetahui kondisi Melin, tak pernah lupa memperingatkannya. Karena hal itu juga, Melin minta pada papanya agar mengangkat Sasha sebagai asistennya.


"Siap, bu Sasha." Melin memberi hormat pada Sasha sambil tersenyum.


"Aku cek lokasi dulu, kalau ada apa-apa call me!" kata Sasha.


Menjelang sore Melin terbangun. Semburat cahaya sunset yang begitu hangat menyapa wajahnya dengan sangat sopan. Membuat Melin tergerak untuk menuju balkon. Seutas senyuman pun terpancar di wajah cantiknya.


"Indah kan..." ujar Sasha yang tiba-tiba hadir di sampingnya. "Butuh usaha keras lho untuk mendapatkan kamar ini." katanya.


"Thankyou usaha kerasnya, Sha." Melin merangkul pinggang Sasha.


"Sama-sama..." balas Sasha.


Malam pun tiba. Melin dan Sasha kini berada di lokasi pesta. Saling sapa ketika bertemu dengan kenalan mereka, sambil menikmati jamuan yang disajikan.


Namun semakin malam tubuh Melin semakin merasa tak enak. Udara pantai sangat tidak bersahabat dengannya. Meskipun sebelumnya dia sudah mengkonsumsi obat untuk berjaga-jaga.


Melin memutuskan pergi ke toilet sebentar. Namun sayangnya, tubuhnya benar-benar oleng bahkan sebelum dia sampai ke toilet.


"Eh, nona..." ujar seseorang.


Melin masih bisa mendengar suara itu. Tapi dia tidak bisa membuka matanya.


Sementara di keramaian tempat pesta digelar, Sasha sibuk mencari keberadaan Melin. Dia bertanya pada beberapa orang di sana.


"Kemana sih? Apa langsung balik ke kamar ya? Kan di sini makin dingin." gumamnya.

__ADS_1


Akhirnya Sasha memutuskan untuk kembali ke kamar hotel saja.


Sasha semakin bingung ketika tidak menemukan Melin di dalam kamar mereka.


"Ya Tuhan..., kemana sih...?! Mana HP nggak dibawa." Sasha melihat handphone Melin yang sebelumnya dititipkan.


......................


Di kamar yang lain. Melin berlahan membuka matanya. Dia merasakan ada benda basah yang menempel di keningnya. Lalu dia bangun, melihat sekelilingnya. Desain kamar yang sama, tapi jelas sekali bukan kamar yang dia tempati. Melin pun mulai panik.


Ceklek


Pintu terbuka. Entah apa yang dirasakan Melin ketika melihat sosok yang berdiri di sana. Terkejut, bahagia, ingin menangis, deg-degan. Semua bercampur jadi satu.


"Sudah bangun rupanya." katanya. "Aku baru saja akan mengganti handuk itu."


"Kak Rei..." gumamnya lirih.


Iya, orang yang bersamanya saat ini adalah Reihan. Reihanlah yang menemukan Melin terjatuh, lalu dia segera membawa Melin ke kamarnya.


"Aku melihatmu jatuh. Dan maaf, sudah membawamu kemari tanpa izin. Karena aku tidak tahu kamarmu." ujarnya.


"Apa yang kamu rasakan? Apa perlu ke dokter?" tanya Reihan. Melin hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Lapar tidak?" tanya Reihan lagi. "Aku tadi pesankan bubur dan teh hangat untukmu. Sebentar lagi pasti tiba."


Melin seperti terhipnotis. Dia tidak bisa berkata-kata, mulutnya terkunci rapat. Tapi mata yang berkaca-kaca itu rupanya tak mampu menahan terlalu lama lagi. Butiran bening dan hangat itu jatuh begitu saja tanpa sungkan.


Reihan pun mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. Dalam hitungan sepersekian detik, Melin memeluknya dengan sangat erat.


"Aku mohon biarkan seperti ini..." ujar Melin.


Reihan tak bisa membohongi dirinya, dia juga menyimpan kerinduan yang mendalam pada sesosok perempuan yang memeluknya saat ini. Reihan pun membalas pelukan itu. Keduanya larut dalam dekapan yang begitu hangat, yang lama tak mereka rasakan.


Sampai suara bel pintu membuat pelukan itu merenggang. Reihan tersenyum sambil mengusap kembali air mata Melin.


"Berhentilah menangis. Kamu tunggu di sini." ucap Reihan.


Tak lama kemudian Reihan datang membawa bubur yang dia pesan untuk Melin.


"Makanlah, kamu pasti lapar." katanya.


"Kak Rei. Ada banyak hal yang..." kalimat Melin menggantung karena Reihan meraih tangannya.


"Makan dulu, oke?!" sahut Reihan.


Melin yang patuh hanya bisa mengangguk setuju. Melin cukup senang, rupanya Reihan masih mengingat bubur yang sering dia makan, juga teh yang selalu dia minum.

__ADS_1


......................


__ADS_2