
Reihan mendapat kabar kalau Melin berada di UKS. Dia pun bergegas menuju UKS ketika jam istirahat. Namun dia tidak menemukan Melin di sana. Memang tidak ada masalah serius yang terjadi pada Melin, dia hanya sedang mengantar Sasha yang sedang kram perut karena tamu rutinannya datang.
"Kak, kenapa?" tanya Sasha yang baru keluar dari toilet.
"Melin di sini?" tanya Reihan pada Sasha.
"Dia sedang ke kantin beli minuman." jawab Sasha.
"Oh." hanya itu balasan Reihan. Lalu dia meninggalkan UKS.
Saat keluar dari UKS, Reihan bertemu dengan Melin. Dan kondisinya baik-baik saja.
"Kak Rei." Melin tersenyum pada Reihan.
"Dari mana?" tanya Reihan basa-basi.
"Kantin." jawab Melin sambil mengangkat kantong plastik berisi minuman dan makanan untuk Sasha.
"Kak Rei sakit?" tanya Melin.
"Tidak." balasnya.
"Terus, ngapain di sini?"
"Aku tunggu kamu di sana. Jangan lama." Reihan kemudian berlalu dari hadapan Melin.
"Ada apa...?!" gumam Melin.
Setelah Melin memberikan pesanan Sasha, dia pergi menemui Reihan yang sudah duduk di salah satu bangku di koridor.
"Ada apa kak?" tanya Melin.
"Kamu tidak bawa HP?" tanya Reihan.
"Bawa, tapi dalam kelas. Karena tadi buru-buru antar Sasha." jelasnya.
"Lain kali jangan tinggalkan HP kamu." kata Reihan. "Aku bertanggungjawab atas keselamatan kamu sekarang. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu." tutur Reihan.
"Maaf..." balas Melin.
"Ya sudah. Aku kembali ke kelas dulu." pamit Reihan.
Melin tersenyum menatap kepergian Reihan. Lalu dia kembali ke UKS menemui Sasha.
"Jadi kenapa? Wajahnya tadi serius sekali, tahu...!!" tanya Sasha.
"Tidak apa. Kamu mau tetap di sini atau kembali ke kelas?" tanya Melin.
"Balik, deh. Ngantuk aku di sini. Lagian sudah mendingan kok." kata Sasha. "Thanks ya, perawat cantikkuuu..." Sasha mencubit pipi Melin.
"Lebaaaaii...!!!" balasnya sambil menepis tangan Sasha. "Ya sudah, ayo!" Melin lebih dulu keluar dari UKS.
......................
Reihan mengirim pesan pada Melin, kalau dia menunggu di parkiran. Melin pun segera menuju ke parkiran setelah keluar dari kelasnya.
Ketika sampai di sana, Melin melihat Reihan sedang bersama Anya. Mereka seolah sedang membicarakan hal serius.
"Kesana nggak ya? Apa aku tunggu di depan saja?" batin Melin.
__ADS_1
Saat Melin hendak mengirim pesan pada Reihan. Reihan lebih dulu meneleponnya.
"Cepatlah, aku menunggumu!"
"Iya, kak." jawab Melin sambil melihat ke arah Reihan.
Setibanya Melin di sana, dia mendapat tatapan yang tidak mengenakkan dari Anya.
"Aku duluan." kata Reihan pada Anya.
Kemudian mobil itu keluar dari halaman parkir, meninggalkan Anya dengan segala rasa kesal dalam dirinya.
"Ada apa dengan kak Anya?" Melin mengungkapkan rasa penasarannya yang dia tahan sejak tadi.
"Tidak ada." balas Reihan singkat.
"Oh..." hanya itu reaksi Melin.
Baru sebentar Melin diam, dan membuat suasana di dalam mobil menjadi hening. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Senin depan kak Rei mulai tryout kan? Apa nggak sebaiknya kak Rei izin sama papa, agar bisa fokus belajarnya?"
"Aku sudah pikirkan itu." jawab Reihan tanpa menoleh ke arah Melin.
Beberapa saat kemudian handphone Reihan bergetar. Dia segera mencari tempat untuk menepikan mobilnya, setelah mengetahui itu adalah panggilan dari bibinya.
"Assalamu'alaikum, bi." begitu sapa Reihan ketika dia menelepon balik bibi Nurma.
Melin melihat ekspresi Reihan yang berubah. Tampak sedang mencemaskan sesuatu.
"Ada apa kak?" tanya Melin setelah Reihan mengakhiri panggilan teleponnya.
"Langsung ke klinik saja kak. Nggak apa kok. Aku akan kasih tahu orang rumah." balas Melin.
"Baiklah." Reihan kembali fokus menyetir.
Melin menahan rasa ingin tahunya perihal sakitnya Lili. Dia tidak ingin mengganggu konsentrasi Reihan dalam berkendara.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka tiba di depan klinik. Setelah memarkir mobilnya, Reihan bergegas menuju tempat informasi.
"Di mana pasien atas nama Lili, yang baru masuk?" tanya Reihan.
Setelah itu mereka segera menuju ke ruangan di mana Lili dirawat.
"Apa kata dokter, bi?" tanya Reihan.
"Kemungkinan salah makan waktu sekolah, begitu katanya. Tapi ini sudah jauh lebih baik. Sudah nyenyak tidurnya." bibi Nurma menatap sang putri.
"Paman dimana?" tanya Reihan kemudian.
"Sedang beli makanan. Sebentar lagi juga dia kembali." jawab bi Nurma.
"Ya Tuhan!" Reihan menepuk jidatnya.
"Kenapa Rei?" tanya bibinya.
"Melin di luar bi. Karena tadi suster hanya mengizinkan satu orang saja buat masuk. Aku temui dia dulu ya." katanya.
Setelah bibinya mengiyakan. Reihan pun keluar untuk menemui nonanya. Reihan mendapati Melin sedang ngobrol via handphone, dia pun mengurangkan niatnya untuk menghampiri Melin. Dia lebih memilih duduk di bangku yang ada di depan ruang perawatan.
__ADS_1
"Bagaimana kak?" tanya Melin setelah menyelesaikan aktivitasnya.
"Sedang tidur, katanya sudah jauh lebih baik. Untung tidak telat membawanya kemari." ujar Reihan.
"Ada berapa pasien di dalam?" tanya Melin lagi.
"Empat." jawabnya.
"Kak Rei. Ada baiknya Lili kita pisahkan dari mereka. Takutnya dia terpapar virus dari pasien yang lain. Kan kasihan."
Reihan bisa menerima saran dari Melin. Karena kemungkinan itu memang sudah Reihan pikirkan. Sayangnya, dia dan keluarganya tidak memiliki pilihan lain. Pasalnya keuangan mereka tidak akan cukup untuk itu.
"Kak, izinkan aku untuk bantu Lili." bujuk Melin.
"Tidak, Mel. Ruangan ini sudah cukup kok. Lili juga sudah mendapatkan perawatan yang layak, kok. Tidak perlu khawatirkan itu." balas Reihan.
"Kak Rei..., kakak tidak kasihan sama Lili? Kasihan juga lho sama ibunya, ayahnya, kak Rei juga. Kalau mau menemani Lili, kalian mau tidur di mana? Di luar seperti ini? Kalau kalian ikutan sakit, masuk angin, meriang, pegel-pegel. Lalu bagaimana akan menjaga Lili...?" celoteh Melin.
Reihan tersenyum simpul mendengarnya. Baginya Melin terlihat sangat lucu ketika dalam mode bawel.
"Kenapa melihatku seperti itu? Aku tidak sedang melucu kak Rei...!!" Melin memprotes Reihan yang seakan menertawakannya.
"Baiklah..., baiklah...! Aku akan minta pak Adi untuk memotong gajiku untuk membayar cicilan biaya pengobatan Lili." putus Reihan.
"Kita bukan koperasi ya!" sahut Melin. "Ayo kita ruang administrasi!" ajak Melin yang spontan menarik tangan Reihan.
Ketika dia mendapati Reihan hanya diam, Melin baru menyadari kalau mungkin Reihan risih dengan gerakan refleksnya itu.
"M..., maaf...!" Melin segera melepaskan tangannya dari tangan Reihan.
Untuk mengurangi kecanggungan itu, Melin berjalan lebih dulu. Dan dia merutuki kelakuannya itu. Kebiasaannya pada Sasha, jadi terbawa ketika dia berhadapan dengan Reihan.
Reihan mengikutinya di belakang sambil tersenyum dan menatap tangannya yang dipegang Melin barusan. Lalu dia memasukkan tangan itu ke dalam saku celananya.
Hari itu juga, Lili dipindahkan ke kamar yang lain. Memang tidak terlalu besar. Tapi setidaknya ada tempat untuk keluarga pasien beristirahat. Kamar mandi juga ada di dalam, dan tidak perlu berbagi dengan pasien yang lain.
"Non Melin harusnya tidak perlu serepot ini." begitu kata bibi.
"Tidak repot kok, bi. Ini juga demi Lili, agar segera pulih dan kembali ke rumah. Iya kan, Li..." Melin mengusap pipi gadia kecil itu.
"Kami sangat berterimakasih non..." ujar paman Bian juga.
"Sama-sama, paman. Ini belum ada apa-apanya juga, jika dibandingkan dengan apa yang paman dan kak Rei lakukan buat keluarga kami." Melin tersenyum pada semuanya.
"Kita sesama manusia, memang sudah sepatutnya saling membantu." balas paman Bian. Melin pun mengangguk.
Setelah ngobrol cukup lama, Melin pun pamit untuk pulang. Apalagi dia juga mulai merasakan rasa yang sangat familiar pada dirinya, yang sedari tadi dia tahan.
"Kak Rei, aku akan istirahat bentar. Kalau sampai rumah tolong dibangunkan ya." ujar Melin.
"Baiklah." kata Reihan.
Reihan bisa melihat, kalau Melin sedang mengatur pernafasannya. Bahkan sebelumnya Melin membuka blazernya, dan membuka kancing kemejanya yang paling atas. Dia juga mematikan AC mobil, dan menurunkan sedikit kaca mobilnya.
Sesekali Reihan memperhatikan gadis di sampingnya itu. Semakin lama-lama nafasnya mulai beraturan, dan sepertinya Melin sudah benar-benar terlelap.
"Apa yang terjadi sama kamu, Mel...?!"
......................
__ADS_1