Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Gagal


__ADS_3

Buuggh...!!!


Buuuggh...!!!


Buuggh...!!!


Arka tersungkur karena bogeman mentah dari Reihan yang dia terima bertubi-tubi. Arka tidak sempat mengelak apalagi melawan, karena gerakan Reihan begitu cepat.


"Bangun kamu...!!" teriak Reihan sambil mengangkat kerah kemeja Arka.


"Rei, sabar. Ini rumah sakit...!!" papa Adi berusaha menenangkan Reihan yang tengah kalap.


"Bagaimana aku bisa sabar, pa?! Pria brengsek ini sudah menyentuh istriku!!!" bantah Reihan.


"Situasi masih janggal, Rei. Kebenarannya belum terbukti." ujar papanya.


"Aku tahu, kamu pasti sekongkol dengan eyang merencanakan semua ini. Katakan?!!!" Reihan kembali menatap Arka seolah ingin segera menghabisinya.


"Begitu berambisinya kalian menghancurkan rumah tanggaku, sampai tega menyakiti istriku!!" hardik Reihan.


"Rei, aku bisa jelaskan..." balas Arka dalam kondisi yang sudah kepayahan.


"Apa yang mau kamu jelaskan?! Semua sudah jelas, br*ngsek...!!!"


Seorang petugas keamanan kemudian datang, karena laporan seorang suster yang kebetulan melihat keributan itu.


"Tolong jaga sikap kalian, ini rumah sakit. Bukan arena tinju!" ujarnya.


"Arka, sebaiknya kamu pulang. Kita selesai nanti ketika Melin sudah membaik." kata papa Adi.


Reihan yang kecewa dengan sikap papanya, segera masuk ke ruangan Melin kembali.


"Maafkan mama, nak...! Mama di sana tapi tidak tahu apa-apa." gumamnya.


"Sudahlah, ma. Semua sudah terjadi. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan Melin." Reihan menoleh ke arah kamar yang tertutup rapat oleh tirai.


Dalam tirai itu, Melin menangis tanpa suara. Meratapi nasibnya yang begitu buruk. Dia tidak bisa menjaga kehormatannya. Dia telah melukai hati suaminya. Itulah yang dia pikirkan.


Menjelang subuh Reihan terbangun, dia mencoba mencuri kesempatan untuk melihat kondisi sang istri. Tapi justru hal mengejutkan yang dia lihat.


"Hentikan, Mel...!!!" Reihan berlari kemudian menarik tangan Melin.


Butiran-butiran obat yang ada di tangan Melin berjatuhan. Reihan memeluk erat istrinya yang mencoba bunuh diri dengan minum obat penenang sebanyak itu.


"Ada apa?!"


Mama dan papa pun terbangun setelah mendengar teriakan Reihan. Mereka melihat obat berserakan di lantai.


"Jangan lakukan itu, aku mohon...!!" ujar Reihan.


"Lepaskan aku. Aku sudah kotor. Aku tidak pantas lagi buat kamu..." Melin kembali menangis.


"Aku tidak akan melepasmu. Tidak akan." balas Reihan.


"Aku hancuuur..." Melin masih terisak.


"Tidak, Melin. Jangan katakan itu."


Kedua orang tua mereka hanya bisa diam melihat drama yang mengharukan itu. Papa Adi merangkul istrinya yang tengah menangis.


......................

__ADS_1


Tentu saja kejadian itu sangat mengganggu mental Melin. Semakin sakit hatinya, ketika mendapati Reihan masih menerimanya yang sudah tak berharga lagi.


Sementara itu Arka masih keukeuh dengan keyakinannya, bahwa tidak melakukan apapun terhadap Melin. Tapi dia masih belum memiliki bukti yang kuat untuk membuktikannya pada keluarga Melin.


Eyang pun tak kalah kerasnya. Dia masih mempertahankan keputusannya untuk menikahkan Arka dan Melin yang dianggap telah menebar aib di keluarganya.


"Cukup!!!" Melin berdiri di tengah diskusi keluarga hari itu.


"Aku tidak akan menikah dengan siapapun. Dan aku juga tidak akan melanjutkan pernikahanku." putus Melin.


"Mel...!!" Reihan menarik tangan Melin yang ada di sampingnya.


"Keputusanku sudah bulat." katanya. "Tolong urus perceraian kami, paa!"


Melin kemudian meninggalkan ruang keluarga. Sungguh keputusan yang di luar dugaan. Membuat semua yang ada di sana terkejut. Terutama Reihan.


Reihan mengejarnya hingga sampai di dalam kamarnya.


"Apa maksudnya ini, Mel...?! Kamu mau kita cerai?!" tanya Reihan.


"Aku tidak perlu mengulanginya lagi kan." balas Melin.


"Aku tidak!" ucap Reihan tak mau kalah. "Kenapa sependek itu jalan pikiranmu, Mel...?!"


"Tidak ada alasan untuk mempertahankan pernikahan ini." celetuk Melin datar.


Reihan mendekati Melin, menatapnya dengan tajam.


"Tatap mataku, Mel...!! Dan katakan sekali lagi!" titah Reihan. Namun Melin hanya diam sambil menundukkan kepalanya.


"Ayo katakan...!!" Reihan geram karena Melin tidak merespon.


"Kamu bilang tidak ada alasan lagi? Apa itu artinya cintamu tidak ada lagi untukku, begitu?" Reihan menuntut penjelasan.


"Apapun alasanmu. Aku akan tetap pertahankan pernikahan kita." putus Reihan.


"Aku ingin sendiri. Tolong mengertilah...!! Tidak mudah berada di posisiku saat ini." ujar Melin memohon.


"Semua akan mudah, Mel. Asal kita tetap bersama." bujuk Reihan. "Aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi." tuturnya lagi.


"Lebih baik aku mati, daripada aku yang sudah hancur ini tetap hidup bersamamu, kak...!!!" ucap Melin dengan nada lebih keras.


"Aku tidak peduli apa yang terjadi, aku akan tetap bersamamu..!!" suara Reihan tak kalah tinggi.


Melin menarik laci nakas, dia mengambil gunting di dalam sana.


"Mel...!!"


"Jangan mendekat!" Melin mengarahkan gunting itu pada perutnya.


"Sudah aku katakan, aku lebih baik mati...!!" teriak Melin sambil menangis.


"Meliiin...!!!" seru mama Yunita yang baru saja masuk bersama suaminya.


"Jika kalian tidak ingin melihatku mati, urus perceraian kami secepatnya!!" kata Melin.


"Mel, istighfar...!!!" sahut Reihan.


"Kak Rei, please...!! Biarkan aku hidup sendiri. Aku mohon...!!!" ujar Melin mengiba.


"Aku tidak pantas berada di sisimu lagi, kak...!! Kamu terlalu sempurna untukku...!!" gumam Melin dengan suara serak karena tangisannya.

__ADS_1


Tubuh yang bergetar itu dia jatuhkan ke lantai, gunting terlepas begitu saja dari tangannya. Reihan segera membuangnya jauh-jauh agar Melin tak bisa mengambilnya.


"Kamu sungguh menginginkan kita berpisah...?" tanya Reihan dengan hati-hati sambil mendekatinya.


Melin mengangguk.


"Sungguh tidak ada pilihan lain...?" sekali lagi Reihan mencoba cari kesempatan.


Melin menggelengkan kepalanya.


"Baiklah." putus Reihan dengan berat hati.


Reihan memejamkam matanya sejenak. Sudut matanya basah karena air mata.


"Tapi berjanjilah, kamu akan hidup dengan baik setelah ini. Kamu harus bahagia, setelah kita tak bersama lagi. Harus jadi Melin yang kuat. Berjanjilah." tutur Reihan.


Melin hanya diam. Reihan memeluk Melin untuk terakhir kalinya.


"Aku mencintaimu, Mel..." batin Reihan.


Kemudian Reihan melepas pelukan itu. Dan beranjak dari hadapan Melin.


"Paa, tolong urus secepatnya!"


Reihan kemudian pergi dari hadapan mereka.


"Aku kalah. Aku tidak bisa mempertahankan pernikahanku..." batinnya.


......................


Hari itu Melin tidak hadir dalam sidang perceraiannya. Dia memang sengaja karena tidak ingin bertemu lagi dengan Reihan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak dia inginkan.


"Papa percaya kamu melakukan ini untuk Melin. Tapi papa menyayangkan keputusanmu, Rei." ujar sang papa.


"Aku hanya tidak ingin Melin merasakan semakin menderita, pa." balas Reihan.


"Aku minta tolong, jauhkan benda-benda berbahaya dari Melin. Aku takut sewaktu-waktu dia kembali nekat." kata Reihan.


"Pasti." kata papa Adi.


"Semoga kalian bisa menemukan jalan hidup terbaik, dan selalu berbahagia." ujar papa Adi kemudian.


"Terimakasih, paa. Do'a terbaik juga untuk papa sekeluarga." kata Reihan dengan senyuman tipis yang terlihat sangat dipaksakan.


Papa Adi memeluk Reihan sebelum keduanya berpisah.


"Tetaplah menjadi putra kami. Papa selalu bangga padamu. Lanjutkan kuliahmu, raih impianmu...!" tutur papa Adi.


"Iya, pa."


Reihan meninggal gedung pengadilan. Dia menuju ke makam kedua orang tuanya. Dia mengirimkan do'a pada mendiang orang tuanya, lalu menaburkan bunga.


"Maaf, aku datang sendiri hari ini." begitu batin Reihan.


"Ayah..., ibu..., andai kalian masih di sini bersamaku. Mungkin aku tidak akan sekacau ini. Aku telah gagal mempertahankan pernikahanku. Aku gagal menjadi suami seperti ayah. Aku terpaksa menyetujui perpisahan ini ibu. Sungguh ini bukan keinginanku. Aku melakukan semua ini, karena aku tidak ingin Melin merasa semakin tersiksa. Jujur..., aku sangat sedih ibu. Untuk kesekian kalinya, aku kehilangan orang yang aku cintai. Setelah kepergian ayah dan ibu..."


Reihan mengusap air matanya. Dia merasa sedikit lega karena sudah mencurahkan isi hatinya di depan makam ayah dan ibunya.


Tak berselang lama setelah kepergian Reihan. Melin datang mengunjungi makam itu juga. Dia melihat taburan bunga yang masih segar. Dia sangat yakin Reihan baru saja datang.


"Ayah, ibu... Aku datang. Pasti tadi kak Rei datang juga kan...? Ayah, ibu, maafkan aku yang sudah menyakiti hati kak Rei. Aku hanya ingin dia mendapatkan orang yang lebih baik. Bukan perempuan sepertiku. Ibu..., ternyata aku tidak bisa sebaik ibu. Aku begitu buruk, bu. Bahkan menjaga diriku sendiri saja aku tidak bisa. Aku malu bu..., aku benci dengan diriku sendiri...."

__ADS_1


Melin pun menangis di sana. Karena sudah tidak tahan lagi, dia segera pergi setelah memanjatkan do'a. Dia berlari menuju mobilnya yang dikemudikan oleh paman Lukman. Paman Lukman menatap iba atas apa yang terjadi ada nono kesayangannya itu.


......................


__ADS_2