Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Perang Batin


__ADS_3

Rasa bahagia itu terkadang sangat sulit diungkapkan. Untaian kata indah pun seolah tak cukup untuk menggambarkan rasa yang kini dirasakan oleh Reihan dan Melin. Tapi selalu terselip do'a di tengah kebersamaan mereka yang begitu tidak terduga. Agar hubungan mereka tak lagi kandas seperti sebelumnya.


Melin diam-diam mengambil foto Reihan yang sedang ngobrol dengan salah seorang pekerja. Lalu dia mengirimkan foto itu pada papanya.


Paa, boleh aku tinggal beberapa hari lagi di sini? Papa jangan khawatir, karena aku sedang bersama orang baik yang bisa menjagaku. Please...!!!


Tiba-tiba Reihan datang dan membuat Melin sedikit terkejut.


"Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Reihan.


"Nggak ada." balas Melin berbohong. "Sudah selesai?" tanya Melin kemudian.


"Sudah." Reihan melihat jam tangannya. "Masih ada beberapa jam sebelum makan siang. Kita pergi jalan-jalan?" ujar Reihan.


"Boleh." Melin tersenyum sangat manis.


Tentu saja Melin tidak akan menolak. Karena memang ini momen yang dia tunggu-tunggu sejak lama.


"Ayo...!" Reihan mengulurkan tangannya untuk membantu Melin berdiri.


Belajar dari pengalamannya beberapa tahun silam, Reihan tidak akan mengajak Melin pergi ke pusat perbelanjaan. Sudah pasti Melin akan khilaf dan terus berkeliling di dalam sana. Bukan karena Reihan pelit atau takut tidak mampu membelanjakan Melin. Dia hanya khawatir Melin akan kelelahan dan berujung sakit.


Saat ini mereka sedang duduk santai di tepian pantai yang tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap. Menikmati kesegaran es kelapa muda, dengan hamparan lukisan Tuhan yang begitu indah.


"Jadi kapan kamu akan kembali?" tanya Reihan.


"Kak Rei kapan?" tanya Melin balik.


"Kenapa jadi tanya ke aku?" balas Reihan.


"Karena maunya pulang sama kak Rei." Melin menyunggingkan senyuman.


Jika itu yang Melin inginkan, maka Reihan tidak bisa tinggal terlalu lama. Dia yakin orang tua Melin pasti sangat khawatir.


"Aku belum tahu. Nanti aku kabari." kata Reihan.


"Apa itu artinya kak Rei tidak keberatan kalau kita pulang bersama?!" tanya Melin.


"Tentu tidak." balas Reihan.


Jawaban itu tentu saja membuat Melin sangat senang.


Karena Melin sudah memutuskan, dia akan pulang bersama Reihan. Dia memberitahu pada Sasha agar pulang lebih dulu bersama paman Lukman. Sudah pasti paman Lukman tidak serta-merta mengiyakan perintah nonanya itu. Dia menghubungi bos besarnya dulu setelah mendengar kabar dari Sasha.


"Tidak apa-apa. Kalian pulang saja. Dia sudah memberitahu saya lebih awal."


"Baik, pak."


"Akhirnya mereka bertemu, jadi biarkan mereka bersama. Saya yakin Reihan bisa menjaganya dengan baik."


"Mas Reihan?!"


"Iya, dia bersama Reihan."


Setelah mendengar cerita dari tuannya itu, paman jadi lega. Sehingga dia bisa pergi tanpa beban. Karena dia yakin Melin akan aman bersama Reihan.


......................


"Silakan..." seorang waiters terlihat sedang menyajikan makan siang untuk dua sejoli yang kini tengah berbahagia.


"Terimakasih, mbak..." balas Melin tak kalah sopan.


"Makan yang banyak, aku perhatikan kamu kurusan." ujar Reihan.


"Ini bukan kurus ya. Tapi langsing." balas Melin.


Reihan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Beberapa saat kemudian Reihan terdiam sambil melipat tangannya di atas meja. Dia memperhatikan Melin yang duduk di hadapannya itu.

__ADS_1


"Kenapa lihatin aku begitu?" tanya Melin ketika sadar sedang diperhatikan.


"Aku sedang bersyukur saja, bisa bersama denganmu lagi." ujar Reihan.


Melin tersipu malu, wajahmu memancarkan semburat merah merona. Membuat Reihan semakin gemas saja.


"Astaghfirullah..." batin Reihan.


Setelah makan siang Reihan mengantar Melin ke kamarnya.


"Ingat untuk bangun ya. Kita akan lihat sunset nanti sore." kata Reihan.


"Em. Telepon aku kalau aku telat bangun." balas Melin.


"Baiklah. Selamat istirahat..." Reihan menepuk pelan puncak kepala Melin.


"Kak Rei..."


"Em...?!"


"Thanks ya." Melin memberikan senyuman terbaiknya.


"Em." Reihan menganggukkan kepalanya.


Setelah Melin menutup pintu kamarnya, Reihan pun berjalan menuju kamar yang ada di samping Melin.


Reihan tidak bisa memejamkan matanya siang itu. Pikirannya dihantui oleh bayangan masa lalu yang bermula dari rumah eyang Melin. Meskipun eyang sudah tiada, tapi kata-kata menyakitkan dari eyang masih terekam jelas dalam ingatan Reihan.


Ditambah lagi dengan kejadian antara Melin dan Arka. Sebenarnya Reihan masih penasaran akan status Melin yang sebenarnya. Apalagi setelah Melin bicara dengan seseorang di telepon tadi pagi. Hanya saja, cintanya pada Melin seolah mampu menutupi segalanya. Reihan seakan tidak peduli, yang penting Melin bersamanya sekarang. Hanya itu yang ada dalam pikirannya.


"Reihan..., sepertinya kali ini kamu benar-benar dibuat gila oleh Melin. Harusnya kamu tanya dulu statusnya apa saat ini?"


"Bagaimana kalau dia sebenarnya memiliki ikatan dengan pria lain? Itu artinya kalian telah melakukan kesalahan."


Namun di sisi lain...


Perang batin terus terjadi hingga Reihan terlelap.


......................


Reihan dan Melin menikmati keindahan sunset di rooftop hotel tempat mereka menginap. Mereka belum merasa puas meski sudah menghabiskan waktu berdua sejak pagi.


"Kenapa kamu menyuruh Sasha dan paman pulang? Kamu tidak takut kalau aku akan macam-macam sama kamu?" ujar Reihan.


"Aku tidak akan berada di sini sekarang, kalau aku takut." balas Melin.


"Atau kak Rei lupa, kalau kak Rei yang selalu membuang ketakutanku...?" imbuhnya.


"Tapi aku gagal kan waktu itu." ucap Reihan lirih.


"Maafkan aku..." Melin meraih tangan Reihan. Melin sudah tahu hal apa yang dimaksud oleh Reihan.


"Waktu itu aku merasa benar-benar kotor dan..."


Melin tidak bisa melanjutkan ucapannya, lantaran Reihan mengunci bibir Melin dengan ibu jarinya.


"Kita di sini tidak untuk membahas itu. Iya kan?" kata Reihan.


"Coba katakan, apa rencanamu setelah kita kembali?" Reihan mencoba membahas hal lain.


"Aku ingin mengajak kak Rei bertemu orang tuaku." balas Melin penuh antusias.


"Setelah sekian lama, apa kamu yakin kalau mereka bakal menerimaku kembali?" tanya Reihan sedikit ragu.


"Harus!" sahut Melin dengan mantap.


Tiba-tiba handphone Reihan berbunyi, paman Bian memanggil. Dia memberi kabar kalau bibi Nurma masuk rumah sakit.

__ADS_1


"Bibi sakit, Mel." gumam Reihan.


"Terus kak Rei mau pulang sekarang?" tanya Melin.


"Bagaimana sama kamu?" Reihan balik bertanya.


"Tidak apa-apa, aku ikut saja. Kita berkemas sekarang?" balas Melin.


"Maaf ya. Rencana kita jadi berantakan." Reihan mengusap tangan Melin.


"Kita bisa jalan lagi setelah bibi sembuh." Melin berusaha menghibur Reihan.


"Thanks ya."


Pada akhirnya Reihan dan Melin harus pulang malam itu juga. Tepatnya setelah sholat maghrib.


"Kalau capek istirahat dulu, kak." Melin terus memperingatkan Reihan.


"Tenang saja. Aku sudah biasa melakukan perjalanan malam." Reihan tersenyum pada Melin.


Melin hanya mengangguk saja. Sebenarnya dia sangat khawatir pada Reihan. Tapi dia memilih diam setelahnya, karena tidak ingin mengganggu konsentrasi Reihan dalam mengemudi.


"Tidur saja kalau ngantuk, nanti aku bangunkan." kata Reihan.


"Em." Melin mengangguk saja.


Beberapa jam kemudian mereka tiba di rumah sakit. Di sana ada paman Bian yang menjaga sang bibi.


"Bagaimana kondisi bibi?" tanya Reihan sambil melihat bibinya yang tengah tertidur.


"Bibi kena tipis. Bibi pingsan di kamar mandi tadi pagi. Panasnya tinggi sekali. Dia butuh banyak istirahat." kata paman menjelaskan.


"Eh, nona Melin. Bagaimana kabarnya?" tanya paman.


"Alhamdulillah baik, paman." balas Melin dengan sopan.


Paman sebenarnya penasaran dengan kehadiran Melin. Tapi waktunya tidak tepat untuk mempertanyakan hal itu.


"Paman sudah makan?" tanya Reihan.


"Sudah tadi." balas paman.


"Lili sama siapa?" tanya Reihan lagi.


"Di rumah sama Anya."


Jawaban paman sontak membuat Melin terkejut.


"Anya...? Sedekat apa hubungan mereka sekarang...?"


"Ini sudah malam. Sebentar lagi jam besuk habis. Sebaiknya kalian pulang dan istirahat." begitu titah paman Bian.


"Aku antar Melin pulang, lalu kembali untuk menemani paman." ujar Reihan.


"Kamu juga harus istirahat. Besok saja kesini lagi." balas pamannya.


Reihan mengikuti saran paman. Dia memang sangat lelah. Karena rasa lelahnya itu, dia juga memutuskan untuk pergi ke apartemen saja.


"Ini sudah sangat malam. Bermalam di apartemenku saja ya. Lebih dekat dengan rumah sakit." kata Reihan.


"Apartemen?" balas Melin.


"Aku tidak akan macam-macam. Janji!" Reihan mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.


Melin mengangguk pasrah. Dia tidak enak sama Reihan kalau memaksanya mengantar sampai ke rumah. Reihan harus balik lagi nantinya karena arah rumah mereka berlawanan. Apalagi sudah lewat jam sembilan. Pasti akan banyak pertanyaan dari kedua orang tuanya.


......................

__ADS_1


__ADS_2