
Ini adalah hari pertama Melin masuk sekolah, setelah beberapa kejadian tak terduga yang menimpanya. Sekarang setiap paginya dia tidak akan rempong sendirian saat akan berangkat ke sekolah. Karena sudah ada Reihan yang membersamainya.
"Ternyata selama ini ya..., pacarku kalau dandan...!!" ujar Reihan sambil memperhatikan Melin yang sedang menyemprot parfum ke tubuhnya.
"Pacar?!" Melin terlihat melotot dari pantulan cerminnya.
Reihan kemudian mendekat sambil memeluk pinggang Melin dari belakang.
"Iya, pacar. Pacar pakai logo halal." bisik Reihan.
"Dikira snack kali..." gumam Melin sambil tersipu.
"Ayo, buruan...!" kata Reihan.
"Iya..."
Akhirnya mereka berdua berangkat bersama. Seperti biasa, Reihan mengantarnya ke sekolah, baru dia akan pergi ke kampus.
"Baik-baik ya..." Reihan mengusap pipi Melin. "Jangan pedulikan omongan orang. Soal Keira juga jangan terlalu dikhawatirkan." begitu pesan Reihan.
Reihan sudah mengetahui apa saja yang terjadi di sekolah selama Melin tidak masuk. Bahkan Keira pun tak segan mengirim pesan berupa hujatan kepada Melin, yang sempat membuat kondisi Melin semakin down waktu itu.
"Iya, kak." balas Melin tak bersemangat.
"Mana senyumnya...?" goda Reihan. "Aku tidak akan membuka pintunya kalau kamu cemberut begitu."
"Iya..., iya...!"
Melin pun memamerkan senyumannya, lalu mencium punggung tangan Reihan. Reihan memberikan sebuah kecupan pada keningnya, sebagai balasannya.
"Bye..."
"Bye..."
Melin mendapat sambutan yang luar biasa dari teman sekelasnya. Mereka semua sangat mengkhawatirkan Melin.
"Senang deh, kamu masuk sekolah lagi." katanya.
"Iya." balas Melin dengan senyumnya yang tak pernah luntur.
Baru saja mereka melepas kangen, si Keira tiba-tiba datang.
"Akhirnya masuk sekolah juga kamu!" ujar Keira.
"Hai, Kei..." sapa Melin, tentunya dengan ramah.
Melin mencoba bersikap biasanya, seperti waktu sebelum ada kejadian itu.
"Masih bisa senyum kamu ya...!! Setelah membuat kakakku tersiksa, sekarang dia di penjara, tokonya disegel. Cewek macam apa sekejam ini, hah...?!" ucap Keira dengan ketus.
"Kei..."
"Aku nyesel tahu, sudah mendukung kakakku dekat sama kamu. Sekarang akhirnya seperti ini. Dimana hati kamu?!! Maunya dimengerti terus. Tapi tidak mau mengerti perasaan orang lain...!"
"Keira, cukuuup...!!" itu suara Sasha. "Apa-apaan sih kamu?! Biangnya itu si Kevin, kakak kamu! Kenapa jadi Melin yang kamu sudutkan...?!" katanya.
"Karena dia nggak punya hati!!" teriak Keira.
Sementara Melin hanya diam dengan air mata yang sudah menggenangi pelupuk matanya.
"Bikin ribut saja, pergi sana ..!!" beberapa teman Melin menyeret paksa Keira untuk keluar dari kelas mereka.
"Nggak kakak, nggak adik, sama saja kelakuannya." ujar yang lain.
"Melin, tenang ya..." Sasha memeluk Melin untuk memberikan rasa nyaman.
__ADS_1
"Ssstt..., tidak apa-apa..." katanya lagi.
......................
Lain di sekolah Melin, lain pula yang terjadi di kampus.
"Ciieeh..., auranya beda sekarang...!!" goda Nathan.
"Jangan banyak omong!" Reihan memperingatkan Nathan.
"Aman...!!" katanya dengan suara pelan.
"Tapi bolehlah spil sedikiiit saja gimana rasanya." gurau Nathan lagi.
Reihan hanya memberikan respon dengan gelengan kepala.
"Rei...!!"
Suara itu membuat Reihan menghembuskan nafas malasnya. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan si Bunga.
"Aku pikir kamu tidak masuk lagi." kata Bunga.
Namun Reihan sama sekali tidak menjawab.
"Rei..., aku ngomong sama kamu lho." ujar Bunga lagi.
"Reihan lagi sakit gigi." celetuk Nathan asal.
"Aku nggak ngomong sama kamu ya!" sahut Bunga.
"Tapi aku dengar, gimana terus...?!" balas Nathan.
Reihan yang masa bodoh, segera meninggalkan dua orang yang sedang ribut itu.
Bebas dari Bunga, Reihan harus berhadapan dengan Anya di dalam kelas.
Ucapan Anya itu membuat Reihan terkejut.
"Apa dia tahu...?"
"Oke, thanks..." balas Reihan sedikit canggung.
"Siapa memangnya yang nikah?" tanya Anya lagi.
"Oh, itu..., saudara jauh." balas Reihan sekenanya saja.
"Oh...!" hanya itu reaksi Anya. Reihan pun bisa bernafas lega.
"Melin apa kabar? Aku dengar dari anak-anak, dia sampai beberapa hari tidak masuk sekolah." Anya mencoba mengambil hati Reihan.
"Baik. Hari ini dia sudah mulai masuk sekolah." kata Reihan.
"Baguslah. Aku khawatir banget sama dia."
"Thanks."
Sekalipun balasan dari Reihan selalu bernada datar, dan tanpa ekspresi. Anya tetap senang. Karena Reihan lebih welcome padanya sekarang. Dia hampir putus asa sebelumnya, karena Bunga juga mengejar Reihan. Tapi Anya bisa membuat Reihan ilfeel sama Bunga, dengan trik yang dia mainkan. Jadi dia mulai melangkah lagi pelan-pelan untuk mengambil simpati Reihan.
......................
Sore itu Reihan dipanggil oleh mertuanya ke ruang kerjanya. Dia bermaksud memberikan gaji bulan ini pada Reihan.
"Maaf, pa. Tapi aku tidak bisa menerima ini." Reihan menolak amplop yang biasanya rutin dia terima setiap bulannya.
"Tapi, Rei. Ini hakmu." ujar papa Adi.
__ADS_1
"Tidak, pa. Aku saat ini sudah menjadi suami Melin, menantu papa. Aku bukan pekerja papa lagi. Kenapa papa masih membayarku...? Aku jadi merasa seolah aku ini menantu bayaran." terang Reihan.
"Oh, maaf. Bukan begitu maksud papa, Rei. Kamu baru beberapa hari jadi menantu papa. Dan beberapa minggu sebelumnya kamu masih bodyguard Melin. Jadi papa pikir..." ucapan sang papa menggantung.
"Tidak pa. Tolong jangan teruskan itu. Justru itu akan membuatku tak nyaman. Papa do'akan saja aku, agar aku bisa menjadi suami dan kepala rumah tangga yang baik untuk Melin." begitu kata Reihan.
"Baiklah, sekali lagi maafkan papa."
"Iya, paa. Aku mengerti." Reihan tersenyum.
"Kalau kamu butuh bantuan papa, katakan saja. Jangan sungkan-sungkan ya." pesan sang papa.
"Baik, pa. Terimakasih." Reihan menyunggingkan senyumannya.
Malam harinya Reihan terdiam di balkon kamar. Banyak hal yang mengganggu pikirannya sejak dia memutuskan untuk menikah dengan Melin. Bagaimana tidak, planing masa depan yang sudah tertata rapi tiba-tiba berubah 180° sejak dia bertemu dan terikat dengan Melin.
Dan sore tadi dia baru saja menolak gaji bulanannya dari papa Adi, mertuanya. Karena statusnya sekarang adalah suami dari Melin. Bukan bodyguard lagi.
"Aku harus cari kerja lagi, mana cukup upah dari bi Ismi untuk kebutuhanku dan Melin...?!"
Melin yang baru saja menyelesaikan tugas sekolahnya, segera menghampirinya.
"Woiihh...!!" Melin sengaja sekali mengejutkan Reihan.
Sayangnya itu tidak berarti apa-apa pada Reihan. Reihan justru meraih pinggang Melin agar merapat padanya.
"Sudah tugasnya?" tanya Reihan berbasa-basi.
"Sudah dong." jawabnya dengan bangga, karena bisa menyelesaikan tugas tanpa bantuan siapapun.
"Mel..."
"Iya?" Melin sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat Reihan, karena Reihan lebih tinggi darinya.
"Seandainya aku cari kerja lagi, bagaimana menurutmu?" tanya Reihan.
"Kerja apa?" tanya Melin.
"Buka jasa bimbel misalnya." sahut Reihan.
"Memangnya nggak akan bentrok dengan kuliahnya?" balas Melin.
"Aku bisa ambil pekerjaan di luar jam kuliah." katanya. "Kamu tahu kan, sekarang ini aku sudah memiliki seorang istri. Tidak mungkinlah kalau aku tidak memberi kamu nafkah. Sekalipun hanya bisa untuk jajan." tuturnya.
"Memangnya kakak sudah tidak dapat gaji dari papa?" tanya Melin.
"Hei...!" Reihan memites hidung Melin dengan gemas. "Sekarang papamu, papaku juga. Aku tidak mungkin terima bayaran untuk jadi bodyguard kamu. Karena kamu sekarang menjadi tanggung jawabku sepenuhnya." jelasnya.
"Iya juga, yaa..."
Untuk beberapa saat mereka sama-sama diam. Sampai akhirnya Melih buka suara.
"Menurutku sudah cukup kerja di toko bibi Ismi saja. Kalau banyak cabangnya, nanti kakak malah kerepotan. Bagaimana kalau tiba-tiba ada delivery pas kak Rei ngajar...? Bakal ribet lho..." ujar Melin.
"Kalau aku stay di sana setelah antar kamu pulang, sampai toko tutup. Keberatan tidak?" tanya Reihan.
"Tidaklah. Kan sebagai istri yang baik harus suport suami." Melin tersenyum sangat manis.
"Sekalipun upah yang aku terima tidak banyak?" ujar Reihan lagi.
"Kak..., jangan mulai deh...!!" Melin memperingatkan Reihan, karena dia paling tidak suka kalau membahas soal materi.
"Maaf..." gumam Reihan. "Terimakasih, sudah mau mengerti aku." Reihan memeluk Melin.
"Em." Melin mengangguk dalam pelukan Reihan. "Terimakasih juga sudah jadi suami aku...!!" ujarnya dengan manja.
__ADS_1
"Sama-sama istriku..." balas Reihan. "Masuk, yuk...!" Reihan kemudian mengajak sang istri kembali ke dalam.
......................