
Saat dalam perjalanan ke sekolah, handphone Reihan berdering. Reihan mengambil dengan tangan kirinya yang bebas, lalu menyerahkannya pada Melin.
"Tolong." katanya.
"Bunga." ujar Melin setelah melihat nama yang muncul, sambil menatap Reihan curiga.
"Angkat saja." balas Reihan dengan ekspresi yang biasa saja.
Melin menghembuskan nafas malasnya. Lalu menerima panggilan itu. Tak lupa dia aktifkan speakernya, agar Reihan mendengar apa yang Bunga bicarakan.
"Halo..." sapa Melin sambil melirik Reihan.
"Reihan mana? Kenapa kamu yang angkat?"
"Lagi ke toilet. Kenapa?"
Reihan hanya tersenyum saat mendengarnya.
"Oh..., kasih tahu saja sama Reihan. Aku tidak bisa masuk hari ini. Karena masih sakit. Kemarin habis dia pulang dari rumahku, aku sama sekali tidak bisa bangun... Dan ini masih sangat pusiiiing..."
Suara di seberang sana terdengar sangat menjijikkan bagi Melin. Sehingga Melin menunjukkan reaksi seolah ingin muntah saja.
"Oke. Nanti aku sampaikan. Sekedar nyaranin ya. Biar nggak pusing, cepetan bobok lagi sana kakak syantiik...! Takutnya nanti kenapa-napa lagi." balas Melin sok menasehati.
"Dan..., kalau butuh apa-apa telepon saja lagi ya. Nanti aku dan kak Rei akan segera mengirimkan bala bantuan. Okeeey...!!" sambungnya lagi dengan suara centilnya.
Reihan menahan tawanya mendengar jawaban Melin.
"No thanks!"
Jawab Bunga dengan ketus. Seketika sambungan pun terputus.
"Jadi..., apa gerangan yang terjadi kemarin?!" tanya Melin. Sambil menoleh pada Reihan.
"Aku hanya mengantar dia pulang, karena dia sempat mau jatuh di kampus. Setelah itu aku pulang dijemput Nathan, lalu nongkrong sebentar." begitu penjelasan Reihan.
Meski pada bagian akhirnya sedikit dia tutupi. Karena tak hanya sebentar, tapi mereka nongkrong sangat lama.
"Harus banget kakak yang nganterin?" Melin masih tidak terima.
"Soalnya hanya ada aku sama dia waktu itu. Kita baru selesai latihan presentasi kemarin itu, sayang..." terangnya lagi.
"Memang terlalu baik ya..." gerutu Melin. "Kan anak orang jadi baper tuh."
"Yang baper kan dia, bukan aku." sahut Reihan dengan entengnya. "Cemburu yaaa...?!" goda Reihan.
"Enggak. Biasa saja." bual Melin.
"Tapi mukanya cemberut." sahut Reihan.
"Enggak..., mana ada!" sangkal Melin.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan sekolah Melin.
"Sampai kita..." ujar Reihan. "Senyum dong...!" rayu Reihan.
Melin mencoba membuka pintu, tapi gagal. Karena Reihan menguncinya.
"Buka, kak...!!" titah Melin.
"Pintunya hanya bisa dibuka dengan senyuman pemiliknya." sahut Reihan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Lebai!" balas Melin ketus.
"I love you too." balas Reihan asal.
"Kak...!!" geram Melin.
"Iya, sayang..." Reihan memamerkan senyuman terbaiknya.
"Buka nggak?!" katanya.
"Senyum nggak?! Atau aku akan cium kamu!" ancam Reihan.
"Iih..., dasar mesum!" balas Melin.
"Makanya senyum...!" pinta Reihan.
"Kak aku bisa telat...!!" rengek Melin.
__ADS_1
"Mel..." Reihan meraih tangan Melin. "Dengarkan aku baik-baik. Aku sudah tahu maksud Bunga apa. Jadi kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh ya..." Reihan memberi pengertian pada Melin.
"Kalau begitu jangan kasih ruang dong." balas Melin.
"Iyaaa..., tidak lagi. Maaf ya...!!"
Melin hanya mengangguk. Reihan pun tersenyum.
"Terimakasih..., cantikku...!!" katanya.
"Nggak usah merayu!" sahut Melin sambil membuka pintu mobil yang sudah tidak terkunci.
"Iiih..., pingin aku kantongin saja ini cewek satu...!"
Begitu batin Reihan sambil tersenyum mengagumi sang pacar. Dia terus memperhatikannya memasuki halaman sekolah. Setelah sosok Melin tak terjangkau lagi oleh pandangannya, Reihan melanjutkan perjalanannya menuju ke kampus.
......................
"Rei, Bunga sakit katanya. Terus bagaimana nanti latihan kalian, libur dulu?" tanya Farel.
"Em." balas Reihan sambil mengangguk. "Video latihan terakhir sudah kalian nonton kan? Bagaimana menurut kalian?"
"Sepertinya semua itu efek dari kondisinya yang kurang fit nggak sih...? Makanya makin kacau. Dan sekarang saja dia benar-benar sakit kan." begitu simpulan dari Riska.
"Aku tidak sependapat." balas Reihan.
"Hah?!" sahut Farel dan Riska.
"Aku tahu dia tidak serius, dan menganggap ini bercandaan." katanya dengan raut wajah yang terkesan sangat kecewa.
"Kalian juga latihan deh, siapa tahu nanti tiba-tiba Bunga berulah lagi. Dan membuat kacau. Jadi kalian bisa siap gantiin dia. Aku sudah tidak respect dengan orang seperti itu." ujar Reihan setelahnyam
Ya, Reihan memang tidak pernah main-main dengan urusan tugas. Sejak dulu dia terkenal totalitas dalam mengerjakan semua tugasnya.
Riska dan Farel saling melirik. Kemudian sama-sama menganggukkan kepalanya.
"Oke. Thanks atas pengertian kalian." Reihan kemudian meninggalkan mereka.
"Reihan kenapa kayak sudah tidak percaya banget ya sama potensi Bunga...?" gerutu Farel.
"Entahlah." balas Riska.
"Anya..." Riska menoleh ke belakang.
"Reihan itu orangnya paling perfect perkara tugas. Jadi kalau kalian ada tugas satu tim sama dia, kalian harus bisa ngimbangi. Paling tidak ya seriuslah. Jangan banyak bercanda, apalagi sampai kalian manfaatkan perkara tugas hanya untuk hal yang tidak guna. Siap-siap saja didepak sama dia." cicit Anya.
"Jadi maksudmu yang banyak drama itu si Bunga? Memangnya si Bunga ngapain?" tanya Farel tidak mengerti.
"Sakitnya pura-pura maksud kamu?" sahut Riska. "Terus for what gitu...?! Untungnya di dia apaan...?!" celoteh Riska yang masih tidak peka.
"Ya mana aku tahu." balas Anya sambil tersenyum miring.
"Gila itu orang...!!" gerutu Farel. "Kalau benar Bunga begitu, bisa benar-benar tamat dia." begitulah reaksi Farel.
Flashback On
"Kalau Reihan tidak punya waktu buat mendengarkan kamu. Maka kamu yang harus cerdas, Bunga. Ulur waktu buat latihan bersamanya misalnya. Setelah kamu dapat waktu sama Reihan, berlahan cari perhatian. Kalau tidak berhasil juga. Pura-pura sakit sekalian, dan minta antarkan dia pulang. Dia paling tidak bisaan tuh lihat orang kesakitan."
"Yakin itu akan berhasil, Nya...?!"
"Percaya sama aku. Sekarang nih, kamu sudah ada kesempatan mepet dia terus karena satu tim. Manfaatkan dengan baik."
"Boleh dicoba."
Flashback Off
......................
Pulang sekolah Melin dan Sasha pergi ke mall. Tentu saja Reihan yang mengantar mereka. Tapi Reihan tidak ikut masuk. Karena mereka bilang akan membeli barang pribadi.
Melin dan Sasha pergi ke sebuah toko baju setelah mendapatkan barang yang mereka cari. Naasnya, mereka bertemu dengan Kevin di sana.
"Dunia ini sempit sekali bukan..." Kevin menatap Melin dengan instens.
Melin tampak menggengam tangan Sasha dengan erat, menyiratkan sebuah rasa takut.
"Lama tidak jumpa, dan kita bisa tiba-tiba bertemu di sini. Takdir yang indah. Iya kan...!" karena postur Kevin yang tinggi, dia sampai menunduk untuk bisa melihat jelas wajah Melin.
Tanpa membalas sepatah katapun, Melin menarik tangan Sasha untuk meninggalkan toko itu.
__ADS_1
"Eiits...!!" dengan gerakan super cepat, Kevin menarik tangan Melin.
"Kali ini tidak akan aku lepaskan begitu saja..." seringai Kevin.
"Lepasin aku, kak. Atau aku akan teriak!" ancam Melin.
"Teriak...?! Waoh..!!" senyuman Kevin sungguh meremehkan Melin.
"Toko ini milikku. Berulah sedikit saja, maka kamu akan menyesal. Me..., liiiin...!!" ujarnya.
"Lepas, kak...!! Kamu mau apa sebenarnya?!" Melin masih berusaha melepaskan diri dari Kevin.
Kelengahan Sasha yang berusaha mengambil ponselnya untuk menghubungi Reihan, membuat Kevin bergerak cepat. Dia segera menarik Melin menuju ke sebuah ruangan.
"Mel...!!!" seru Sasha. "Woih...!! Kenapa kalian diam saja...! Dasar b*d*h...!" maki Sasha pada pegawai berseragam di dalam toko itu.
"Buka pintunya Keviiin...!!! Lepasin Melin...!!" teriak Sasha sambil menggedor pintu itu.
Di dalam ruangan itu.
"Kak tolong lepas..., aku mau keluar...!!" ujar Melin.
"Kamu pikir aku peduli?" balas Kevin. "Jadilah anak baik Melin. Aku hanya ingin kita ngobrol berdua. Tanpa ada yang mengganggu, termasuk temanmu. Terlebih babumu itu!" tegas Kevin sambil tersenyum miring.
"Tapi nggak gini caranya!" kata Melin.
"Lalu bagaimana? Cara lembut kamu cuek. Sedikit kasar kamu malah membandingkanku dengan babumu itu. Kamu mau bagaimana? Dipaksa?!" balas Kevin.
"Kak di sini engap sekali. Aku tidak bisa..." Melin mulai ketakutan.
"Takut...?" balas Kevin. "Kan ada aku. Aku bahkan bisa menjagamu melebihi jongosmu itu." ucapnya.
Tubuh Melin mulai berkeringat, dia merasa engap. Ruangan itu adalah tempat untuk menyimpan stok, sempit, dan full dengan barang. Ada AC, tapi rupanya tak mampu mendinginkan Melin yang semakin ketakutan.
"Kak..." nafas Melin mulai tidak beraturan.
"Apa...?? Sudah mau nurut sama aku?" Kevin tersenyum, lalu duduk di samping Melin.
"Kamu tahu, Mel...? Aku baru balik dari Bali tiga hari yang lalu. Sekarang bertemu sama kamu di sini, rasanya luar biasa. Jadi please..., beri aku waktu sebentar saja ngobrol sama kamu. Atau kamu mau kita sambil makan di luar? Tidak masalah." Kevin terus saja bicara tanpa memperhatikan kondisi Melin.
"A..., kuuuh..." nafas Melin semakin tersengal. Dadanya naik turun tidak beraturan.
"Katakan Mel, mau kemana?" sahut Kevin.
Braaak...!!!
Pintu ruangan itu terbuka paksa karena tendangan Reihan dan petugas keamanan yang dia bawa.
"Meliin...!!" Reihan menyingkirkan Kevin dengan kasar.
"Kaauu...!!" geram Kevin.
Kevin hampir saja menyerang Reihan, tapi dihalau oleh petugas keamanan. Saat itu juga dia baru menyadari, kalau kondisi gadis yang dia paksa masuk ke ruangan sempit itu sangat tidak berdaya.
Tanpa banyak bicara, Reihan membopong tubuh Melin. Dan mendudukkan Melin di sebuah sofa di toko itu.
"Bertahan, Mel...! Kamu kuat..." bisik Reihan.
"Ada oksigen dalam tasnya." kata Reihan pada Sasha.
Sasha bergegas mengambilnya, lalu memberikannya pada Melin.
"Kasih ruang...! Jangan berkerumun...!!!" teriak Reihan.
"Meeel..." Kevin bersimpuh di hadapan Melin.
Buugh...!!
Reihan menendangnya begitu saja. Tanpa ampun. Tidak peduli dengan tatapan semua orang dalam toko itu. Petugas keamanan segera menarik Kevin dan mengamankannya.
Melin menghirup oksigen yang dipegang oleh Sasha, sesuai dengan instruksi Reihan. Tangannya berada dalam genggaman Reihan. Nafasnya mulai beraturan setelah beberapa menit. Namun tubuhnya melemah. Matanya bahkan tak mampu terbuka.
Reihan kembali membopong tubuh lemah sang kekasih untuk dibawa pulang.
"Bawa dia ke kantor. Dan saya pastikan kalian semua berada dalam masalah besar karena ini!" ancam Reihan dengan wajah penuh amarah.
"Meeel...!" Kevin merasa menyesal. Dia tidak tahu kalau Melin memiliki masalah dengan pernafasannya.
Tak butuh waktu lama, orang-orang Adi Widjaya pun datang ke TKP. Masalah ini akan berbuntut panjang. Tak hanya buat Kevin, tapi juga pegawainya. Terlebih setelah mereka melihat rekaman CCTV di toko itu. Yang mana pegawai-pegawai itu hanya diam saat Melin diseret oleh Kevin. Dan saat Sasha minta pertolongan. Hari itu juga toko milik Kevin di seluruh mall di kota itu dilarang beroperasi.
__ADS_1
......................