Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Pacar


__ADS_3

"Kak Reihan benar-benar datang menemui papa?!" Melin terkejut mendengar cerita papanya.


"Iya. Kamu puas sekarang?!" papanya tersenyum.


"Papa..., aku hanya bercanda waktu itu." balas Melin.


"Itu bukan bahan candaan, nak." sahut mamanya. "Bagi pria yang benar-benar tulus mencintai wanitanya, itu adalah sebuah tantangan untuk membuktikan keseriusannya."


"Mama benar, Mel." sang papa menimpali. "Papa cuma pesan, jalin hubungan yang sehat. Jangan bar-bar, apalagi sampai mengganggu kuliah Reihan. Atau dia tidak akan menikahimu di masa depan."


"Iiih..., papa...!!" sahut Melin sedikit tidak terima dibilang bar-bar oleh papanya.


Obrolannya bersama orang tua di ruang keluarga itu, membuatnya berpikir keras ketika dia sendirian di dalam kamarnya.


"Apa artinya aku dan kak Rei sekarang benar-benar pacaran...?"


"Oh my God..., kenapa aku sehappy ini...?!"


"Tapi tunggu, kenapa kak Rei tidak mengatakan apapun padaku?"


Melin sempat berpikir untuk menghubungi Reihan dan menanyakan semuanya. Tapi dia mengurungkan niatnya.


"Nggak bisa. Kesannya kok aku kesenangan banget pacaran sama dia. Ya..., meskipun sebenarnya iya. Tapi kan, gengsilah..."


Melin pun mengembalikan handphone ke atas nakas.


"Sebaiknya aku tidur saja. Besok juga ketemu. Pasti dia akan mengatakan sesuatu."


Senyum Melin terukir sangat manis. Dia memejamkan matanya dengan suasana hati yang berbunga-bunga.


......................


Suatu pagi di rumah Reihan. Tidak seperti biasanya Reihan lebih lambat keluar kamarnya. Sampai sang bibi mengetuk pintu kamarnya.


"Rei..., berangkat tidak?" seru bibi.


"Iya bi. Ini sedang menata buku...!" sahut Reihan.


Tentu saja dia berbohong. Bagaimana mungkin seorang Reihan baru menata bukunya. Itu bukan kebiasaannya.


"Sudah pas tidak ya?"


Reihan menatap menampilannya sekali lagi di cermin.


"Kenapa jadi gugup begini...?!"


"Aah..., sudahlah. Bisa-bisa aku terlambat."


Reihan kemudian menyambar tas ranselnya, lalu keluar dari kamar.


"Bibi pikir kamu kenapa-kenapa." kata bibi saat Reihan sudah bergabung di meja makan.


"Aman, bi." balas Reihan.


"Bibimu sudah panik, kamu masih bilang aman." sahut paman Bian.


"Maaf..." kata Reihan.


Setelah sarapan bersama, Reihan segera berangkat menjemput Melin.


Sampai di halaman rumah besar itu, Reihan menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Dia masih saja belum bisa membuang jauh kegugupannya.


"Siaaal...!!" umpatnya.


"Rei..." sapa papa Adi.


"Eh, iya pak." balas Reihan.


"Sudah sarapan?" tanya papa Adi.


"Sudah pak." jawab Reihan. "Pak Adi tumben berangkatnya pagi sekali?" tanya Reihan.


"Saya ada pekerjaan di luar kota." katanya. "Titip Melin ya."


"Siap, pak."


Beberapa saat kemudian mama Yunita keluar bersama Melin.


"Hati-hati, pa. Kalau sudah sampai kabari ya." begitu ujar sang istri.


"Mel, baik-baik di rumah. Ingat pesan papa semalam." kata papanya.


"Papaa...!!" ucap Melin dengan suara lirih.


Setelah berpamitan pada semuanya, papa Adi segera menuju bandara diantar oleh paman Lukman.


"Aku berangkat juga ya, ma." pamit Melin.


"Hati-hati..." ujar sang mama setelah memeluk putrinya itu.


"Jangan ngebut ya, Rei..." pesan mama Yunita saat Reihan menyalaminya.


"Iya, bu."


Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka obrolan. Mereka sibuk berperang batin. Sampai pada akhirnya keduanya mencapai titik jenuh.


"Kak..."


"Mel..."


Suara itu terdengar bersamaan. Tanpa menunggu perintah, Reihan menepikan mobilnya.


"Kamu duluan." kata Reihan.


"Eem..., oke." gumam Melin. "Aku..., mau minta maaf. Soal yang di pesta itu." Melin sangat berhati-hati saat melafalkan kalimat itu.


"Apa perlu minta maaf...? Setelah aku menemui papamu untuk meminta restu darinya." balas Reihan sambil menatap gadis di sampingnya yang terus menunduk.

__ADS_1


Deg


Sontak saja Melin membalas tatapan itu. Deg-degan bercampur senang, karena Reihan akhirnya bicara juga.


"Kak Rei..."


"Iya, kemarin aku menemui papamu di kantornya. Dan sesuai kesepakatan kita malam itu. Kamu harus menerima konsekuensinya." ujar Reihan.


"Maksud kakak...?" Melin masih belum bisa menebak apa konsekuensi yang Reihan maksudkan itu.


"Pertama, kita tidak bisa pacaran layaknya orang-orang pada umumnya. Aku mau kita sama-sama fokus dengan tugas kita saat ini. Belajar." tegas Reihan. Melin pun mengangguk tanda mengerti.


"Kedua."


"Ada lagi?!" sahut Melin.


"Jangan salahkan aku kalau sewaktu-waktu papamu minta kita menikah." ujar Reihan.


"MENIKAAHHH...?!!" seru Melin.


"Yang benar saja, kak?! Kita masih terlalu muda kak, dan kita masih pelajar. Tugas kita belajar. Malah diminta menikah. Apa coba yang papa pikirkan sebenarnya?!" celoteh Melin.


Reihan berusaha keras menahan tawanya lihat reaksi Melin.


"Siapa yang kemarin memintaku untuk menemui papanya?" tanya Reihan saat Melin sudah berhenti bicara. "Jadi sekarang, kamu harus terima akibatnya." ujar Reihan dengan entengnya.


"Tapi, kaaak...!!" rengek Melin.


"Sepertinya di sini hanya aku yang memiliki perasaan itu." gumam Reihan.


"Ah?!" Melin terkejut. "Bukan begitu, kak Rei...!!"


"Harusnya kemarin aku tidak menuruti permintaanmu." Reihan pasang mode ngambek.


"Kak, nggak begitu. Sungguh...!" Melin menggenggam tangan Reihan.


"Aku hanya tidak menyangka kalau akan seperti ini..." Melin tampak murung.


Reihan mengusap tangan Melin, lalu dia tersenyum.


"Tidak apa-apa. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Tapi tidak sekarang, sebaiknya kita ke sekolah sekarang. Pacar...!"


Sebutan itu sukses membuat Melin tersipu malu. Melin yang salah tingkah segera kembali pada posisi semula. Duduk, diam, dengan jantung yang semakin berdetak kencang.


"Tidak suka...?" Reihan terus saja menggoda Melin. Apalagi wajah Melin mulai memerah.


"Kak Rei...!! Ayo buruan...! Telat nanti...!!" sahut Melin.


"Baiklah..., baiklah..." kata Reihan. "Maaf yaa..." Reihan mengusap tangan Melin.


Beberapa menit kemudian sampailah mereka di sekolah.


"Fokus belajar. Jangan banyak melamun." kata Reihan


"Iya..." balas Melin. "Kak Rei hati-hati ya."


"Em." Reihan mengangguk. "Kamu juga. Jangan genit ya...!" Reihan kembali menggodanya.


"Bye...!" Melin melambaikan tangannya sebelum Reihan melajukan mobilnya.


"Bye...!" balas Reihan.


......................


Reihan sedang makan di kantin sambil chatingan dengan Melin. Bunga yang sedang duduk bersama Anya sedang memperhatikannya.


"Ke sana dulu ya." kata Bunga.


"Oke." balas Anya.


Anya kini memperhatikan interaksi Bunga dan Reihan.


"Besok ke acara pameran tidak?" tanya Bunga.


"Iya." jawab Reihan.


"Kita pergi bareng gimana?"


"Em, sorry. Aku sudah janji sama orang." kata Reihan.


"Siapa?" tanya Bunga.


"Melin."


"Melin?! Anak itu lagi?!" sahut Bunga. "Kamu tidak bisa ya, sehari saja tidak sama Melin?!"


Reihan yang tadinya fokus dengan ponselnya, seketika menatap Bunga.


"Memang kenapa dengan Melin?" suara itu sangat datar.


"Ya soalnya kamu selalu saja mementingkan dia lho." begitu alasan Bunga.


"Terus masalahnya apa sama kamu?"


"Ya..., ya..." Bunga mulai kelabakan. "Ya kamu itu jangan begitu Rei. Aku tahu kamu kerja sama dia. Tapi kamu juga harus memikirkan diri kamu dong. Kamu butuh me time. Kamu butuh juga bergaul dengan teman-teman lainnya."


"Hai, bro...!"


Nathan datang menghampiri Reihan. Kelasnya baru saja selesai.


"Ada apa ini?" tanya Nathan. Reihan hanya mengangkat kedua pundaknya.


Bunga beranjak begitu saja, dia kesal dengan Nathan yang tiba-tiba saja datang.


"Kenapa dia?" tanya Nathan lagi.


"Kenapa kamu tidak tanya tadi?" balas Reihan.

__ADS_1


"Pasti kamu tolak cintanya ya...?!" gurau si Nathan.


"Ngomong-ngomong, kamu besok mau lihat pameran tidak? Kalau iya, jangan ikut aku. Karena aku akan mengajak Gina." ujar Nathan panjang lebar.


"Ajak keluarganya juga terserah." balas Reihan masa bodoh.


"Melin mau tidak ya?" batin Reihan.


Di meja yang lain, Anya tampak senang melihat wajah kesal si Bunga.


"Melin terus deh, heran...! Apa sih bagusnya itu anak ingusan?!" gerutunya.


"Sabar, buuukk...!!" sahut Anya. "Pergi saja sama aku. Nanti di sana juga ketemu Reihan kan..." bujuk Anya.


"Berapa sih gaji yang diberikan si Melin itu? Sampai Reihan segitunya..."


"Ya mana aku tahu..." balas Anya.


......................


Semetara itu di sekolah Melin....


"Wooiih...!" seru Sasha.


Melin terkejut hingga menjatuhkan garpunya.


"Ngelamun apaan...?!"


"Nggak ada." balas Melin sambil mengambil garpu yang baru.


"Ada yang kamu sembunyikan pasti..." terka Sasha.


"Enggak!"


"Bohooong...!!!" Sasha menyipitkan matanya.


"Serius...!!"


Sasha tetap tidak percaya. Dia terus mendesak agar Melin berkata jujur.


"Aku jadian sama kak Reihan." tutur Melin dengan suara pelan.


"Serius...?!!" sahut Sasha. Dan Melin mengangguk.


"Kapan?" tanya Sasha lagi.


"Hari ini."


"Ya ampuuun...! Ikut happy lho aku...!!" Sasha sangat bahagia mendengarnya.


"Ceritain, dia nembaknya gimana?" desak Sasha. "Dinner romantis...? Kalian lihat sunset? Atau dia memberikan bunga dan coklat?"


"Mana ada begituan." sahut Melin.


"Lalu...?! Jangan bilang pakai surat lewat pak pos?!"


"Ngelawak!" celetuk Melin. "Dia langsung menemui papaku dan minta restu. Lalu tadi pagi kita resmi pacaran."


"Ngajak pacaran sudah berasa ngajak nikah saja. Pakai minta restu segala." ujar si Sasha.


"Itu tandanya, kak Reihan adalah cowok yang baik. Dan dia serius." sahut Melin tak mau kalah.


"Tahu deh..., yang sudah dapatin cowok idamanan setelah menunggu setahun lebih...!!" goda Sasha sambil menoel dagu Melin.


"Boleh nih, baksoku dibayarin." gurau Sasha kemudian.


"Unjung-unjungnya pasti begitu..." gumam Melin.


"Iyalaah, biar langgeng juga hubungannya." balas Sasha.


"Halaah..., ada maunya saja makanya do'ain yang baik-baik."


Tanpa sepengetahuan keduanya, rupanya sedari tadi Keira menguping obrolan keduanya. Meski sesekali tak terdengar ketika keduanya berbisik.


Tiba waktunya pulang sekolah, seperti biasa Reihan sudah menunggu Melin di depan gerbang.


"Doi sudah menunggu agaknya..." Sasha menyenggol Melin.


"Mau nebeng?" tanya Melin.


"Oh jelaaaas...!!" seru Sasha. "Tidak!" imbuhnya dengan cepat dan tegas.


"Feelingku kalian akan ngedate untuk pertama kalinya, jadi aku nggak mau ganggu. Aku nebeng Ben saja." kata Sasha.


"Baiklah." kata Melin.


Melin pun pergi menemui Reihan yang sudah bersiap membuka pintu untuknya.


"Sasha tidak ikut?" tanya Reihan.


"Mau bareng sama Ben katanya." jawab Melin.


"Yuk, masuk!"


Setelah Melin masuk, Reihan pun menyusul.


"Tidak ingin pergi kemana-mana?" tanya Reihan.


"Tidak sih..." balas Melin.


"Oke." Reihan kemudian menyalakan mesin mobilnya.


"Besok ada acara pameran seni. Dan jurusan seni kampusku mengikutinya. Mau ikut pergi?" tanya Reihan.


"Boleh. Jam berapa?" Melin balik bertanya.


"Kita bisa pergi sorean saja. Acaranya sih dari pagi sampai malam." terang Reihan.

__ADS_1


"Oh, oke." balas Melin.


......................


__ADS_2