
Mobil Reihan sudah tiba di halaman rumah Melin. Setelah sekian lama, akhirnya Reihan kembali menginjakkan kakinya di sana.
"Kenapa? Ayo...!" ajak Melin.
Reihan masih memperhatikan sekelilingnya.
"Tidak ada yang berubah, kak. Semua masih sama." kata Melin.
Melin berjalan lebih dulu, kemudian Reihan menyusul di belakangnya.
"Assalamu'alaikum..." Melin membuka pintu rumahnya sambil mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam..." ternyata mama Yunita yang menyambut kedatangan mereka.
"Rei...?!!" gumam mama Yunita saat melihat Reihan datang bersama dengan putrinya.
"Papaa...!!" seru mama Yunita kemudian. "Paa...!!"
"Maa, kenapa sih...?" sahut Melin.
Tak berselang lama, papa Adi tiba di hadapan mereka bertiga. Dari jauh dia sudah menyambut Reihan dengan senyuman.
"Akhirnya kalian datang juga..." ujar papa Adi dengan senyuman yang sangat merekah.
Mama Yunita kembali dibuat terkejut untuk kedua kalinya, dengan reaksi yang ditunjukkan oleh suaminya.
"Mau sampai kapan berdiri di sini? Ayo semuanya masuk...!" kata papa Adi.
"Ayo, kak!" ujar Melin.
"Ayo, mama juga masuk...!" papa Adi merangkul sang istri yang masih bingung.
"Paa, papa ini..."
"Sudahlah, nanti biar mereka yang cerita." kata papa Adi.
Saat ada kesempatan berdua, papa Adi mengajak Reihan bicara di ruang kerjanya.
"Bagaimana pekerjaanmu, Rei? Papa lihat banyak sekali project yang sedang kamu kerjakan." ujar papa Adi.
"Tidak banyak, pa." jawab Reihan merendah.
"Jangan bicara begitu, papa sudah tahu semua yang kamu lakukan. Dan kamu sungguh hebat, Rei. Papa bangga sama kamu." puji papa Adi.
"Sudah kuduga, papa tidak akan melepaskan aku begitu saja. Pantas saja aku sering merasa sedang diawasi."
Reihan memang sudah menyadari hal itu sejak lama. Bahkan Reihan sempat berpikir, kalau mudahnya setiap langkah yang dia ambil, ada campur dari papa Adi juga.
"Jangan berburuk sangka, papa hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Karena itu papa memerintahkan seseorang untuk mengawasimu. Hanya mengawasi, tidak untuk hal yang lain. Itu semata-mata karena papa peduli padamu, Rei." ujar papa Adi yang seolah mengetahui isi dalam pikiran Reihan.
"Terimakasih atas perhatian papa selama ini." balas Reihan.
"Sudah papa katakan waktu itu bukan, papa ingin kamu tetap menjadi anak papa." kata papa Adi.
"Iya, paa. Terimakasih." Reihan sangat bersyukur telah mengenal sosok ayah seperti papa Adi.
"Apa..., papa juga yang mengirim Melin datang ke tempat itu? Karena papa tahu aku sedang di sana?" tanya Reihan.
"Kalau itu tidak. Hanya kebetulan Melin kenal baik dengan yang punya acara, jadi aku biarkan dia datang." katanya.
"Dan papa melupakan sesuatu. Dia tidak bisa terlalu lama terpapar udara dingin. Melin drop malam itu, untung saja aku yang menemukannya."
"Kamu serius?!" papa Adi sungguh kaget mendengar cerita Reihan. "Bodohnya papa membiarkan dia pergi hari itu." gumamnya.
"Tapi ada sisi baiknya juga. Akhirnya kalian bisa bertemu kan..." papa Adi kini tersenyum.
"Iya, paa." balas Reihan.
Reihan tidak bisa terlalu lama di rumah itu. Dia harus segera kembali ke rumah sakit menemani bibinya.
......................
Reihan sedang ngobrol dengan bibi Nurma yang baru saja diperiksa oleh dokter.
"Bibi harus semangat, bibi dengar kan kata dokter tadi? Kalau ingin cepat pulang, harus ikuti saran dokter." Reihan mengulang kembali perkataan dokter yang menangani bibinya.
"Kamu bahkan lebih cerewet dari pamanmu." balas bibi.
"Karena aku sayang sama bibi. Bibi adalah ibuku juga." kata Reihan.
Bibi Nurma tersenyum mendengar kalimat itu dari Reihan. Dia bangga sekali memiliki keponakan seperti Reihan.
"Kamu belum cerita." bibi teringat sesuatu.
"Bagaimana respon orang tua Melin, saat melihat kedatanganmu, Rei?" tanya bibi Nurma.
"Mereka masih sama, bi. Tetao baik seperti dulu. Mereka menerimaku dengan tangan terbuka." balas Reihan.
"Syukurlah. Lalu..., apa kamu berniat kembali memperbaiki hubungan dengan Melin?" tanya bibi lagi.
__ADS_1
"Entahlah bi. Aku menginginkan itu. Tapi sisi lain hatiku masih ragu. Karena aku belum tahu bagaimana kehidupan dia sekarang. Statusnya yang sebenarnya juga, aku masih belum berani menanyakannya." ujar Reihan yang apa adanya.
"Pastikan dia tidak sedang berhubungan dengan siapapun. Maka bibi akan mendukungmu. Tapi kalau sebaliknya, bibi dengan tegas menentang. Apapun alasan kamu, sebaiknya jangan temui Melin lagi. Bibi tidak mau kamu jadi orang ketiga." tutur bibi.
"Iya bi. Aku sudah dewasa, aku tahu mana yang salah dan mana yang benar." jawaban Reihan bisa membuat bibinya cukup tenang.
"Boleh bibi tanya sesuatu?" tanya bibi Nurma.
"Apa itu, bi?" balas Reihan.
"Semalam pamanmu bilang kamu datang sangat larut dengan Melin. Apa itu benar?"
"Iya, bi."
"Bagaimana bisa?" tanya bibi lagi.
"Sebenarnya, sebelumnya kami sempat bertemu di sebuah acara. Kebetulan sore itu paman telepon. Jadi kami memutuskan pulang malam itu juga." katanya.
"Setelah dari rumah sakit, kamu tidak pulang ke rumah. Dan kamu tadi pagi datang lagi bersama Melin. Kamu tidur dimana? Rumah Melin?"
"Bibi..., ya tidaklah. Aku menginap di rumah teman setelah mengantar Melin pulang." jawabnya. Dan tentu saja itu bohong.
Bibi menatap curiga pada keponakannya itu. Dia tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan Reihan.
"Bibi jangan overthinking begitu. Tidak bagus buat kesehatan bibi." ujar Reihan lagi.
"Bibi hanya khawatir, Rei." gumam bibinya.
"Aku lebih khawatir lagi kalau bibi banyak pikiran." katanya.
"Maafkan aku bibi. Aku terpaksa berbohong."
"Betapa bibi akan membenciku, kalau saja malam itu aku tidak bisa mengontrol diriku. Haaaah..., untung saja Tuhan masih melindungiku."
......................
Hari ini Melin sudah bersiap masuk kantor lagi. Sudah pasti dengan suasana hati yang jauh berbeda dengan sebelumnya.
"Selamat pagi, mbak..." sapa seorang resepsionis.
"Pagi..." balas Melin yang kala itu sedang menerima telepon dari Reihan.
"Mbak Mel, ini ada kiriman bunga." ujar seorang resepsionis.
"Dari siapa?" tanya Melin.
"Selalu..." gumam Melin. Dan orang di seberang sana masih bisa mendengarnya.
"Buat kamu saja." Melin kembali melenggang menuju ruangannya.
"Kenapa tidak diambil saja?"
"Aku tidak suka."
"Apa dia sering begitu?"
"Em. Sangat sering, dan itu menyebalkan." kata Melin.
"Oh, Mel. Aku ada tamu, sudah dulu ya. Nanti aku telepon lagi."
"Oke. Bye..."
Melin sudah tiba di ruangannya. Dia memeriksa berkas yang sudah disiapkan Sasha di atas meja kerjanya.
Banyak sekali pekerjaan Melin di hari pertama setelah dia libur. Hingga dia melewatkan jam makan siangnya.
"Aaah..., laper..." keluhnya.
Handphone yang ada di atas meja berdering. Reihan memanggil.
"Turunlah, aku di lobi."
"Ah?!"
"Cepat. Aku tidak suka jam karet."
Melin segera mengakhiri panggilan itu. Dan bergegas keluar dari ruangannya. Tiba-tiba Sasha membuka pintu ruangannya, ketika dia hendak membuka pintu.
"Baru mau aku tawarin makan."
"Skip saja untuk hari ini. Kak Rei datang. Aku pergi dulu ya..." pamitnya.
"Melin..., Melin..." gumam Sasha. "Tapi aku senang, kamu kelihatan sangat bahagia sekarang." Sasha pun tersenyum melihat kepergian Melin.
Melin melihat Reihan sedang duduk di lobi, dan ada buket bunga di sampingnya.
"Ya ampun..., kenapa dia sesweet ini sih...? Kan jadi makin suka...!!" batin Melin.
Reihan segera berdiri dan mengambil bunganya, ketika melihat Melin dari kejauhan. Sambil menyunggingkan senyumannya, dia menghampiri Melin.
__ADS_1
"Aku sedang merayumu, agar mau makan siang denganku." ujar Reihan sambil memberikan bunga itu pada Melin.
"Apa aku bisa menolak?" gurau Melin.
"Setidaknya jangan di sini. Kamu lihat, semua pegawaimu dari tadi memperhatikanku. Jangan buat aku malu." bisik Reihan.
Melin menahan tawanya mendengar bisikan Reihan.
"Bisa pergi sekarang? Aku sangat lapar...!" rengek Melin.
Reihan langsung menggandeng tangan Melin. Dan keluar dari gedung itu.
Beberapa saat kemudian, Theo datang. Dia ingin bertemu Melin.
"Maaf, pak Theo. Mbak Melin baru saja keluar." kata resepsionis.
"Keluar? Kemana?" tanya Theo lagi.
"Entah. Mbak Melin tidak memberikan pesan apapun." jawab resepsionis itu dengan sopan.
"Baiklah." kata Theo.
Theo kembali dengan rasa kecewa. Padahal niatnya ingin memberi kejutan, tapi malah tidak bisa bertemu dengan Melin. Dia menyesal karena tidak menghubungi Melin lebih dulu.
......................
Reihan dan Melin sudah berada di sebuah rumah makan sederhana. Mereka memesan makanan sesui keinginan masing-masing.
"Kalau aku tidak datang, sepertinya kamu tidak akan makan siang." ujar Reihan.
"Makanlah, meskipun telat." balas Melin.
"Apa itu sudah jadi kebiasaan?" tanya Reihan.
Melin terdiam. Dan diamnya Melin dianggap iya oleh Reihan.
"Mulai sekarang, jangan seperti itu lagi. Oke...?!" Reihan menggenggam tangan Melin.
"Em." Melin mengangguk.
"Good girl..." Reihan mencium punggung tangan Melin. Hingga membuat Melin tersipu malu.
Setelah menghabiskan makan siangnya, Reihan mengantar Melin kembali ke kantor.
"Selamat bekerja kembali." kata Reihan.
"Kak Rei juga. Hati-hati ya..." ujar Melin.
"Eh, tunggu!" Reihan menarik tangan Melin.
Reihan mengetik sesuatu di ponselnya. Hal itu membuat Melin sedikit tersinggung. Ponsel Melin berdering, lalu dia membukanya. Sebuah pesan masuk dari Reihan. Melin melirik Reihan sebelum membukanya.
"Itu password apartemen. Kamu bisa datang sewaktu-waktu meskipun aku tidak di sana." katanya. "Aku balik ya..." Reihan kemudian masuk ke mobilnya kembali.
"Hati-hati...!"
"Ya ampun, sandi apartemen? Serius ini...?!"
Melin tidak menyangka kalau Reihan akan memberikan kebebasan padanya untuk datang ke apartemen.
"Entah apa yang terjadi pada kak Rei selama ini. Sekarang dia benar-benar berubah. Lebih romantis, pintar merayu. Kadang juga bikin deg-degan kalau lagi kumat."
"Roman-romannya bahagia sekali bos cantik aku...!!" goda Sasha saat melihat kedatangan Melin dengan membawa sebuket bunga.
"Iya dong...!!" sahut Melin. "You know why...?!!"
Sasha tak bisa berhenti tersenyum melihat raut wajah bahagia sahabatnya itu. Itu adalah wajah yang telah lama dirindukan oleh Sasha.
"Kak Rei berubah banget. Tidak sedingin yang dulu." ujarnya.
"Berarti bukan tipe kamu lagi dong..., kan kami sukanya yang cool, misterius..."
"Ssstt...!" Melin memotong ucapan Sasha dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibir Sasha.
"Aku justru semakin suka. Dia sweet banget...!!!" Melin mencium bunga pemberian Reihan.
"Tahu deh..., yang lagi kena virus-virus cintaaa...!" goda Sasha.
Melin mencabut setangkai mawar merah, lalu dia berikan pada Sasha.
"Biar virusnya nular." bisik Melin.
"Ngeledek kamu ya, Mel...!!!" dengus Sasha kesal.
Melin segera mempercepat langkahnya menuju ruangannya.
"Malang benar diri ini...! Bolak-balik pacaran diputusin. Eh si Melin malah awet banget cintanya. Padahal sudah sempat pisah lama." gumam Sasha dalam meratapi nasib percintaannya.
......................
__ADS_1