Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Tanda Merah


__ADS_3

"Luar biasa sekali kalian ya..., bisa gitu nyembunyiin hal sepenting ini dari aku." gerutu Sasha saat mereka dalam perjalanan pulang.


Sasha memutuskan untuk pulang lebih awal, karena dia merasa tidak enak dengan Reihan. Semalam dia sudah merebut Melin dari Reihan. Dia tidak ingin membuat interaksi kedua temannya itu jadi terbatas karena keberadaannya di rumah itu.


"Coba kalau aku nggak dengar sendiri obrolan tante Yunita dan bibi. Kalian pasti nggak akan kasih tahu aku kan...!! Iya kan...?!"


"Ya sudah kali. Dibahas terus..." sahut Melin. "Kan sekarang sudah tahu. Dan aku juga sudah minta maaf..."


"Iya, tapi sedih aku tuh...!!" rengek Sasha. "Jadinya nggak bisa sering-sering hangout sama kamu." katanya lagi.


"Bisa." sahut Reihan. "Aku tidak membatasi Melin buat nongkrong sama teman-temannya. Selama circlenya baik, dan tidak sampai terlalu malam." tuturnya.


"Tuh, dengerin...!" Melin menimpali.


"Iya..., iya...! Kalian nggak tahu sih, gimana rasanya ditinggal teman nikah dalam status yang masih jomblo kek aku begini. Ngenes, melas, tak berdaya. Tidak ibakah kalian...?!" celoteh Sasha.


Reihan dan Melin menahan tawa mereka, melihat ekspresi si Sasha yang sedang kesal.


"Yakin nggak mau ikut kita nonton?" rayu Melin saat mereka sampai di rumah Sasha.


"Ogah." balasnya.


"Oke deh. Balik ya..., bye...!" Melin melambaikan tangannya.


"Nyebelin...!!" Sasha masih saja mendengus kesal.


Seperti yang dikatakan Melin sebelumnya, dia akan pergi nonton dengan Reihan. Setelah nonton mereka pergi berbelanja.


"Sudah belum?" tanya Reihan.


"Sebentar lagi." Melin masih melanjutkan memilih beberapa barang yang dia butuhkan.


"Besok lagi, ya. Aku khawatir kamu drop lagi karena kelelahan." begitu ujar Reihan.


Melin langsung menghadap suaminya itu, lalu memamerkan senyuman terbaiknya.


"I'm okey. Kak Rei jangan khawatir." katanya.


"Setelah ini sudah ya!" pinta Reihan.


"Iya..." balas Melin.


......................


Setelah sholat isya di mall itu, Reihan mengajak Melin untuk segera pulang. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan istrinya itu.


Dalam perjalanan Melin mulai menunjukkan gelagat yang berbeda. Tak lagi cerewet seperti sebelumnya. Dia lebih banyak diam, dan mulai mengantuk.


"Capek?" tanya Reihan sambil mengusap tangan Melin.


"Dikit." Melin sudah memilih posisi paling nyaman di kursinya.


"Sesak tidak?" tanya Reihan lagi. Melin hanya menggeleng.


"Istirahat saja." kata Reihan kemudian.


Karena terlalu lelah, Melin terlelap sepanjang jalan menuju ke rumah. Bahkan ketika sampai di rumah dia tak kunjung bangun. Sehingga Reihan harus menggendongnya sampai ke kamar.


"Kenapa...?!" mama Yunita sangat panik saat melihat adegan itu di depan matanya.


Reihan memberi kode agar sang mama tidak berisik. Mama Yunita pun mengerti.


Sampai di dalam kamarnya, Reihan merebahkan tubuh sang istri dengan hati-hati. Melin sedikit menggeliat, lalu membuka matanya.


"Kak..."


"Sudah di kamar. Tidur lagi ya." katanya sambil mengusap pipi Melin.


"Kak Rei mau kemana?"


"Aku ambil belanjaan kita dulu, sekalian masukin mobil." jawabnya.


Melin pun mengangguk, lalu dia kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


Saat tiba di lantai bawah, rupanya semua belanjaan sudah dikeluarkan oleh mama Yunita.


"Maaf, ma. Jadi merepotkan." ujar Reihan.


"Tidak apa-apa." mama Yunita menyerahkan beberapa kantong belanja pada Reihan.


"Terimakasih, ma."


"Bagaimana Melin?"


"Tadi sempat bangun, lalu tidur lagi. Sepertinya sangat lelah. Dia senang sekali keliling mall." begitu kata Reihan.


"Kebiasaan anak itu. Terus kalian sudah makan malam?" tanya mamanya.


"Sudah ma."


"Kalau begitu segera istirahat. Besok kan kalian sekolah." katanya.


"Iya, ma. Permisi." pamit Reihan.


"Terimakasih Tuhan, sudah memberikan jodoh yang sangat baik untuk putriku."


Mama Yunita terus menatap punggung lebar Reihan, hingga tak kelihatan lagi.


Tengah malam Reihan merasakan sebuah pergerakan yang membuatnya tidak nyaman. Saat membuka matanya, dia melihat Melin sedang gelisah dalam tidurnya.


"Mel..., bangun..." Reihan menepuk pelan pipi Melin.


Melin membuka matanya meski tidak sempurna. Melin tampak kesulitan bernafas, lalu Reihan memapah Melin agar bersandar padanya. Kemudian dia mengambil obat di laci nakas.


"Minum dulu." Reihan memberikan obat itu pada Melin.


Dengan kondisinya yang lemah itu, Melin terus menyandarkan dirinya pada sang suami untuk mendapatkan kenyamanannya. Sementara Reihan masih merasa cemas. Meski sudah sering dihadapkan dengan hal seperti itu tetap saja Reihan diterpah kekhawatiran yang berlebihan.


Setelah hampir 2 jam, nafas Melin mulai normal. Dia membuka matanya, dan melihat Reihan yang rela terjaga demi menjaganya.


"Sudah enakan?" tanya Reihan sambil mengecup kening Melin. Melin mengangguk.


"Mau tidur?" tanya Reihan lagi. Melin mengangguk lagi.


Cup...


Reihan mengecup bibir Melin, Melin membuka matanya sedikit lalu tersenyum tipis.


"Selamat tidur..." katanya pada Melin.


Reihan pun merebahkan diri di samping Melin. Tapi dia tidak bisa menutup matanya. Dia terus memperhatikan wajah sang istri. Lalu dia mengusap pipinya dengan pelan.


Melin yang belum benar-benar tidur, merasa terganggu dengan sentuhan-sentuhan itu. Melin pun membuka matanya.


"Maaf, aku mengganggu ya?" ujar Reihan pelan.


"Kak Rei kenapa tidak tidur?" Melin mengubah posisinya jadi berhadapan dengan Reihan.


"Aku mau menjaga kamu." balasnya sambil mengecup kening Melin.


"Aku sudah tidak apa-apa." kata Melin.


"Tidak apa. Tidurlah duluan." katanya lagi.


"Kak...?!"


"Hem...?!"


"Peluk aku ya, jangan dilepas." ujar Melin dengan manja.


"Sini..." Reihan menarik pinggang istrinya hingga tubuh mereka merapat.


"Mel..., boleh tidak...?!" Reihan mengusap lembut bibir Melin.


Melin mengangguk pelan.


"Sungguh?!" Reihan kembali memastikan.

__ADS_1


Kecupan-kecupan lembut itu berubah panas, dan keduanya saling bertautan semakin dalam. Hal yang baru pertama mereka lakukan itu, membuat keduanya terbuai. Bahkan Reihan memberikan tanda kepemilikan di beberapa bagian dada Melin. Begitupun dengan Melin. Dia melakukan hal yang sama sesuai instruksi sang suami.


Keesokan harinya Melin sangat terkejut melihat bercak merah di dadanya. Tidak disangka kegiatan mereka semalam akan meninggalkan bekas seperti itu.


"Kenapa?" Reihan mendekati Melin.


"Lama hilangnya?" tanya Melin.


"Aku harap iya." balas Reihan.


"Kok gitu...?!" sahut Melin.


"Biar kamu selalu ingat kalau sudah punya suami." bisik Reihan.


"Memangnya aku pernah lupa?!" Melin sedikit tersinggung dengan ucapan Reihan.


"Tidak sih. Kan aku takut saja. Soalnya pasti banyak yang PDKT sama kamu di sekolah kan..."


"Siapa yang berani coba...?! Secara semua orang tahu kalau aku pacarnya kakak senior yang sangat terkenal dan disegani di sekolah." ujar Melin.


"Syukurlah. Ya sudah, ayo berangkat!" ajak Reihan.


"Tunggu...!!" seru Melin. "Ini kelihatan nggak?"


"Tidak, sayang...!" balas Reihan. "Aman!" katanya.


......................


Melin merasa sangat mengantuk, sehingga dia memutuskan pergi ke toilet untuk mencuci wajahnya. Melin melepas balzernya agar tidak kebasahan. Lalu dia membuka dua kancing kemeja putihnya. Tanpa sepengetahuannya, seseorang mengambil gambarnya sambil tersenyum puas.


"Gila...!!" seru orang itu.


Melin terkejut, dia segera berbalik.


"Keira..." gumamnya.


"Tanda merah yang indah. Sepertinya kamu sangat menikmatinya." ledek Keira.


Melin segera memasang kancing kemejanya, lalu memakai blazernya juga.


"Percuma ditutup. Karena aku sudah menyimpan fotomu dengan indah." katanya.


"Bekas ****** siapa itu?! Jongos kamu?! Tapi tunggu! Jongos kamu itu kan alim ya, attitudenya bagus, baik. Kayaknya bukan dia. Jangan-jangan..., kamu selingkuh?! Iya...?! " kata Keira lagi.


"Hapus foto itu, Kei!" titah Melin. "Dan jangan sembarangan bicara!"


"Kalau nggak mau, gimana?!" balasnya dengan nada nyolot.


"Kei, please. Kamu nggak seharusnya selancang itu. Ambil foto orang tanpa izin." tegur Melin.


"Terserah dong, handphone-handphone aku." Keira masih tidak mau kalah.


"Gimana ini...? Apa aku bilang kalau aku sudah menikah? Tapi kalau dibocorin gimana? Aku bisa di DO dari sekolah."


Melin jadi bingung harus bagaimana. Keira terlanjur benci dengannya. Dirayu dengan cara apapun, Keira tidak akan peduli lagi.


"Oh my God..., tamat sudah riwayatku...!!"


"Pergi dulu ya, bye...!!" Keira melambaikan tangannya dengan centil pada Melin.


"Aaah..., sial...!!!"


Seharian itu Melin dibuat tidak fokus karena ulah Keira. Dan entah kemana perginya Keira, Melin tidak bisa menemukannya lagi setelah pertemuan mereka di toilet tadi pagi.


"Kenapa sih Mel?" tanya Sasha.


"Aneh saja, Keira tidak kelihatan sejak pagi." ujar Melin.


"Masih saja mikirin anak itu. Biarkan saja kali...!" balas Sasha.


"Bagaimana bisa, dia ambil fotoku yang enggak banget...!! " dengus Melin dalam batinnya.


Melin sangat takut kalau Keira menyebarkan foto itu di sosial media. Bisa terbongkar semua rahasianya.

__ADS_1


......................


__ADS_2