
"Jadi kamu semalam sendirian di rumah?" tanya Reihan.
"Tidaklah, kak Rei tahu sendiri kan ada banyak orang di rumahku." balas Melin.
"Di rumah sakit nanti kamu harus janji, kalau lapar, haus, atau apapun itu, kamu harus bilang sama aku!" ujar Reihan.
"Siap komandan...!" Melin memberi hormat pada Reihan.
"Tidak hanya berlaku di rumah sakit. Mulai hari ini, jangan sembunyikan apapun dariku. Mengerti...?!" kata Reihan yang mulai menunjukkan keposesifannya.
"Apapun?!" sahut Melin.
"Em." Reihan mengangguk. "Keberatan?!"
Melin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Mana mungkin keberatan, itu yang aku harapkan dari dulu..." batin Melin.
"Ya sudah, ayo berangkat!" Reihan menggandeng tangan Melin menuju ke mobil.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah sakit.
"Aku tunggu di sini ya." kata Reihan ketika mereka sampai di depan kamar Mika dan bayinya.
"Oke." balas Melin.
Kedatangan Melin disambut hangat oleh seluruh keluarga yang ada di sana. Jangan lupakan tatapan heran dari keluarga Mika. Karena mereka tahu kalau Melin paling tidak suka berada di tempat seperti itu.
"Dimana Reihan?" tanya papanya.
"Tuh...!" Melin menunjuk ke arah pintu.
"Papa keluar dulu ya." pamit papa Adi.
"Ya ampun..., cute banget...!!" ujar Melin saat melihat bayi laki-laki dalam gendongan Guntur.
"Siapa dulu papanya." balas Guntur dengan bangga.
"Diih, kakak cute dari mana...?! Dari pluto...!!" timpal Melin.
Semua yang ada di sana tertawa mendengar candaan dua bersaudara itu.
"Kak Gina nggak ke sini, kak?" tanya Melin pada kakak iparnya.
"Katanya nanti sorean." jawab Mika.
"Ooh..." Melin mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mel, sudah masuk jam makan siang. Kamu tidak pergi makan?" mama Yunita mengingatkan putrinya.
Melin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sebentar lagi ma." jawab Melin kemudian.
Melin mengirim pesan pada Reihan, rupanya Reihan sedang berada di masjid untuk menjalankan ibadah bersama papanya.
Sekembalinya papa Adi dan juga Reihan, Melin pamit pada semua yang ada di sana. Rencananya setelah makan siang, dia akan langsung pulang.
"Mau makan di mana?" tanya Reihan.
"Dimana ya...?" Melin tampak sedang berpikir.
"Kalau belum tahu mau makan dimana, bagaimana kalau pulang saja makan di rumah." begitu saran Reihan.
"Bagaimana kalau makan di rumah kak Rei saja?!" sahut Melin.
"Mau makan apa di sana? Bibi hanya masak telur sama tahu tadi pagi." balas Reihan.
"Bilang saja kalau aku tidak boleh kesana!" celetuk Melin.
"Tidak baik cewek keseringan datang ke rumah cowok." tutur Reihan. "Orang akan mikir jelek tentang kamu."
"Iya." jawab Melin dengan singkat.
"Makan di rumah kamu saja ya?" kata Reihan lagi.
"Em." balas Melin.
"Baru juga kemarin, sudah bilang keseringan..." dengus Melin dalam hati.
......................
Waktu terus bergulir, hubungan Melin dan Reihan semakin akrab meski sampai detik ini status mereka hanya senior dan junior. Dan masih seorang bodyguard dan nonanya.
__ADS_1
"Nanti pulang sekolah, kita ke kampus dulu ya." kata Reihan sebelum Melin keluar.
"Oke." balas Melin.
"Aku langsung ke tempat bi Ismi, tidak apa kan?"
"Iya, kak. Hati-hati ya. Salam buat bibi juga."
Melin segera masuk ketika Reihan sudah berada cukup jauh.
"Kak Melin...!!!" sapa seorang adik kelasnya.
"Hai...!" balas Melin dengan rama. "Bagaimana, sudah nyaman sekolah di sini?" tanya Melin
"Iya, kak. Tidak salah sih kak Kevin merekomendasikan sekolah kita ini." ujarnya.
"Kakak kenal kak Kevin kan...?!" tanya Keira kemudian.
Adik kelas Melin ini bernama Keira. Adiknya Kevin, anak pak Hasan, teman papa Melin.
"Kevin yang mana?" tanya Melin, karena dia punya beberpa kenalan dengan nama yang sama.
Keira kemudian membuka galeri di ponselnya, lalu menunjukkan fotonya bersama Kevin.
"Oh, anak om Hasan." begitu reaksi yang biasa saja dari Melin.
"Yups!" Keira tersenyum.
Jam istirahat...
"Jadi nanti ke kampusnya kak Rei?" tanya Sasha.
"Em. Katanya mau registrasi ulang." jawab Melin.
"Harus banget gitu ngajak kamu...?" goda Sasha.
"Sekalian pulang ya. Catat...!!!" sahut Melin.
"Iya deh iya..." balas Sasha.
"Kak, boleh gabung?" Keira tiba-tiba datang dengan membawa makanannya.
"Duduk saja!" ujar Sasha.
Drrt... Drrrt...
Handphone milik bergetar, Melin tersenyum saat mengetahui siapa yang menelepon. Dan seperti biasa, Sasha menggodanya.
"Iya, kak. Ada apa?" tanya Melin sambil melirik Sasha yang terus memperhatikannya.
"Oh, sudah. Baru saja." kata Melin lagi.
"Oke, siap."
Melin meletakkan kembali handphonenya setelah sambungan terputus.
"Enak ya ada yang perhatiin..." celetuk Sasha.
"Iri yaaa...?" canda Melin.
"Iya aku iri, dan aku bilang!" balas Sasha.
Melin melihat Keira yang dari tadi diam memperhatikan dirinya dan Sasha.
"Sorry ya Kei kalau kamu merasa terganggu dengan kita." ucap Melin.
"Ah tidak, kak." Keira tersenyum. "Kalian sepertinya asyik banget." katanya.
"Masa sih?" sahut Sasha.
"Iya. Sungguh!" Keira mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Jam pulang...
"Ciiieeh..., yang sudah ditungguin...!!" Sasha menyenggol Melin.
"Ciiieeh..., yang lagi jealous...!" balas Melin tak mau kalah.
"Siapa sih...?!" Keira sedang bersama mereka jadi penasaran.
"Lihat cowok super duper keren yang lagi ngobrol sama Ben?" sahut Sasha.
"Iya." balas Keira.
__ADS_1
"Dia itu bodyguard rasa pacar." bisik Sasha.
"Mulutnya yaaa...!" sahut Melin yang ternyata masih bisa mendengar suara lirihnya Sasha.
"Ya sudahlah, duluan ya." katanya lagi. Kemudian Melin berlalu meninggalkan Sasha dan Keira.
Tak lama setelah Melin tiba, Ben pamit pulang terlebih dulu.
"Lapar tidak?" tanya Reihan sambil berjalan ke arah mobil.
"Dikit sih." Melin sudah tak ada jaim-jaimnya lagi pada Reihan sekarang.
"Ada kue di mobil. Aku sengaja bawain buat kamu makan sambil jalan nanti." kata Reihan.
"Oh ya?!" balas Melin, lalu Reihan mengangguk.
"Kenapa baik sekali...? Nggak takut aku makin suka...?!" gumam Melin.
"Apa?!" sahut Reihan.
"Ah, nggak ada. Ini aromanya harum sekali..." balas Melin sekenanya.
Di dalam mobil sudah ada cheesecake kesukaan Melin. Tak lupa juga air mineral yang selalu Reihan sediakan untuk nona kesayangannya itu.
......................
Butuh waktu hampir setengah jam untuk sampai di kampus Reihan. Karena itu Reihan menyiapkan camilan untuk Melin. Tentunya semua yang dia siapkan adalah makanan yang bisa dikonsumsi Melin. Pastinya tanpa menimbulkan resiko yang bisa membuat Melin ngedrop.
"Repot sekali kerja begini ya, kak..." gerutu Melin.
"Maksudnya?" tanya Reihan.
"Selain jagain aku, harus antar jemput. Harus memperhatikan juga makananku. Ribet kan...?!" balas Melin.
"Harusnya memang sudah keluar saja dari dulu ya." celetuk Reihan.
"Kalau orang itu bukan kamu, mungkin aku akan melakukannya. Tapi karena nonaku adalah kamu, aku tidak keberatan." tambahnya sambil melirik Melin.
"Terus saja bikin orang baper...!!" dengus Melin dalam hati.
"Hampir sampai. Mau turun atau di sini saja?" tanya Reihan.
"Lama nggak?!" Melin balik bertanya.
"Belum tahu juga." katanya.
"Di sini saja deh. Malu keluar pakai seragam." balas Melin.
"Diam-diam di sini, jangan kemana-mana sebelum aku kembali." begitu pesan Reihan sebelum turun dari mobil.
Melin terus memperhatikan kepergian Reihan, hingga punggung seniornya itu tak terlihat lagi. Kemudian pandangan Melin pun beralih ke sekitarnya. Siapa sangka Melin melihat sosok perempuan yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Dia kuliah di sini juga?!" gumamnya. "Memang dasar ya, ngintil mulu deh kerjaannya."
Melin tak henti memperhatikan gerak-gerik Anya. Rupanya si Anya mengetahui keberadaan mobil Melin. Anya tampak tersenyum miring di luar sana.
"Diiih..., sok iyeee! Memangnya aku peduli! Bomat!" gerutu Melin sambil menikmati camilannya.
Cukup lama Melin menunggu. Dan Melin sudah tidak tahan lagi untuk pergi ke toilet.
"Kak, masih lama?" tanya Melin melalui sambungan telepon. "Aku mau ke toilet. Sebelah mana?"
Kemudian Melin mengedarkan pandangannya.
"Oke."
Setelah mendapat instruksi dari Reihan, Melin segera meluncur ke sana.
"Aaah..., leganya...!" batin Melin saat mencuci tangannya.
Betapa terkejutnya Melin ketika dia hampir sampai di ujung koridor. Reihan rupanya tengah menunggu Melin di sana sambil bersandar di dinding.
"Bikin kaget tahu...!" protes Melin.
"Maaf." balas Reihan. "Sudah selesai?" tanya Reihan.
"Iya." kata Melin.
"Yuk, balik!" ajak Reihan.
"Yuk!" balas Melin.
......................
__ADS_1