Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Hari itu Arka menghubungi Adi Widjaya. Dia menyampaikan sebuah kabar, bahwa eyang sedang sakit. Dan eyang menolak dibawa ke rumah sakit. Dia hanya ingin bertemu dengan anak-anak dan cucunya.


Saat itu juga mereka bergegas berangkat ke rumah eyang. Melin pun terpaksa ikut, karena permintaan sang mama. Meski sebenarnya dia enggan kembali ke rumah itu, karena memiliki kenangan yang menyakitkan.


Canggung, ya tentu saja. Itulah yang dia rasakan saat Arka menyambut kedatangan mereka. Bagaimana tidak?... Ini adalah kali pertama Melin bertemu Arka kembali setelah kejadian beberapa bulan yang lalu.


Arka pun tak bisa menahan pandangannya pada Melin. Dia memperhatikan Melin dari atas sampai bawah. Tidak ada yang berubah, bahkan perut Melin tetap rata. Malah bisa dibilang Melin jauh lebih kurus dibanding waktu terakhir kali mereka bertemu.


"Memang benar aku tidak melakukan apapun malam itu." pikir Arka.


"Kamu sehat?" sapa Arka. Melin hanya menjawab dengan anggukan.


Mereka kemudian pergi ke kamar eyang, tanpa Arka.


"Meliiin..." ujar eyang.


"Kemari, sayang!" mama Yunita memanggil putrinya yang berdiri paling jauh dari kasur eyang.


Melin duduk di sisi kasur eyang. Tangan kurus dan keriput itu tiba-tiba meraih tangan Melin.


"Eyang minta maaf, nak." kata eyang dengan suara pelan.


"Eyang cepat sembuh, ya..." balas Melin.


"Eyang rela tidak sembuh, bahkan eyang sudah ikhlas. Tapi eyang belum tenang, sebelum mengatakannya." ujar eyang lagi.


"Apa yang ibu inginkan, bu...?" tanya mama Yunita.


"Eyang minta maaf..." eyang tiba-tiba menangis.


"Eyang..." Melin mengusap air matanya.


"Arka..., panggilkan dia!" titah eyang.


Tak lama kemudian Arka memasuki ruangan itu.


"Maafkan eyang. Eyanglah yang menjebak kalian malam itu."


Pengakuan mengejutkan itu membuat tangan Melin tiba-tiba lemas. Dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan eyang. Dia bangun dari duduknya.


"Eyang ingin kamu cerai dengan Reihan, dan menikah dengan Arka..." eyang menangis. "Eyang mencampurkan obat tidur pada minuman kalian saat makan malam."


Melin menangis dalam pelukan mamanya. Dia merasa sangat kecewa dengan eyang.


Arka pun ingin marah saat itu, tapi apa pantas dia marah pada nenek tua rentah yang sedang terbaring tak berdaya itu?!...


Arka hanya bisa bercedak karena kekesalannya.


Sama halnya dengan papa Adi. Tangannya sudah mengepal menahan amarahnya. Perbuatan sang ibu mertua telah menghancurkan masa depan anak-anaknya. Membuatnya kehilangan sosok menantu kebanggannya.


"Maaf..." itulah kalimat terakhir yang eyang ucapnya, sebelum menutup mata.


"Ibu...!!!" seru mama Yunita.


Sejahat apapun perempuan tua itu, dia tetaplah ibu kandung mama Yunita. Sudah pasti mama Yunita sangat merasa sedih karena kehilangan sang ibu.


Sore itu juga eyang dimakamkan. Saat semua bersiap mengantarkan jenazah eyang ke peristirahatan terakhirnya. Melin justru memilih diam di dalam kamarnya. Sama sekali tidak berkeinginan untuk pergi bersama yang lain.

__ADS_1


Malam harinya setelah acara kirim do'a. Mama Yunita menemui putrinya di dalam kamar.


"Mel..., atas nama eyang, mama minta maaf sama kamu ya..." mama Yunita memeluk Melin sambil menangis.


Melin pun menangis saat itu.


"Apa maaf itu bisa mengembalikan semuanya, maa...? Apa bisa aku kembali pada kak Rei...?" sahut Melin.


Mama Yunita hanya diam.


"Katakan padaku, mama...!!" teriakan itu terdengar sangat memalukan.


"Bisa, sayang. Mama yakin pasti bisa." jawab mamanya dengan optimis, meski suaranya bergetar. "Maaf ya, nak...!"


"Kenapa eyang setega itu, mama...? Kenapa...?!" rengek Melin.


......................


Setelah tujuh hari meninggalnya eyang. Semua kembali ke rumah, kecuali mama Yunita. Dia akan mengurusi beberapa hal di sana.


Malam harinya, Melin mendatangi rumah paman Bian untuk bertemu dengan Reihan.


"Mau apa nona kemari?" sambutan itu terasa sangat dingin, padahal yang menyambutnya bukanlah orang asing.


"Aku mau ketemu kak Rei, bibi." jawab Melin.


"Dia tidak tinggal di sini lagi. Jadi silakan pergi dari rumah saya!" usir bibi Nurma.


"Kak Rei tinggal dimana sekarang, bi?" tanya Melin lagi.


"Saya tidak akan kasih tahu kamu. Karena saya tidak rela kamu kembali mengusik kehidupan Reihan. Dan membuat Reihan susah." jawabnya dengan ketus.


"Maaf kamu bilang?!" bibi tersenyum miring.


"Sekarang kamu minta maaf. Lalu besok kamu menyakiti Reihan lagi. Itu maumu, hah?!!" bentak bibi.


"Memang tidak seharusnya Reihan menikahi bocah seperti kamu. Yang tidak bisa berpikir dewasa." cibir bibi.


Melin hanya bisa menangis tanpa suara mendengar semua ucapan bibi Nurma.


"Tidak usah berdrama di sini nona. Lebih baik pulang saja!!" bibi mengusir Melin lagi.


"Kakak..." Lili tiba-tiba keluar.


"Diam di sana!" titah bibi Nurma. "Dia bukan kakakmu lagi."


"Pergilah, nona! Reihan sudah bahagia sekarang, jangan pernah ganggu dia lagi!"


Bibi Nurma mendorong tubuh Melin, lalu dia menutup pintunya. Air mata bibi menetes. Dia meraih tubuh mungil Lili untuk dipeluknya.


"Ya Allah..." tangisnya malam itu.


Sungguh bibi Nurma terpaksa melakukan itu. Karena dia tidak ingin keponakannya menderita lagi karena berhubungan dengan Melin.


Mendapat perlakukan seperti itu membuat Melin sangat sakit. Tapi dia tidak memiliki berani untuk membela diri. Karena menurutnya, dia memang pantas diperlakukan seperti itu. Setelah keegoisannya waktu itu. Dimana dia tidak mau mendengarkan Reihan. Menolak segala solusi dari Reihan. Dan tetap pada keputusannya untuk mengakhiri ikatan suci mereka. Tanpa peduli bagaimana perasaan Reihan.


Melin membuka pintu mobil, dia masuk dengan malas sambil menghapus air matanya.


"Nona baik-baik saja?" tanya paman Lukman.

__ADS_1


"Pulang sekarang, pak." katanya sambil menyandarkan kepala di kaca mobil.


Dari kejauhan tampak pengendara motor yang sudah menyalakan lampu sein kirinya.


"Mobilnya Melin..."


Orang itu adalah Reihan. Dia baru saja pulang mengajar les privat. Motor itu kemudian berbelok ke gang sempit untuk menuju ke rumahnya.


"Bibi, bibi kenapa?" tanya Reihan.


"Ah, tidak." bibi menghapus sisa air matanya. "Kamu sudah pulang. Sudah makan?" tanya bibi Nurma.


"Sudah tadi sama Nathan." katanya. "Bi, apa tadi ada tamu?" tanya Reihan.


"Tidak ada." jawab bibi. "Bibi bawa Lili ke kamar dulu, ya." bibi beranjak dari kursi, dan menggendong Lili menuju kamarnya.


"Kenapa bibi seperti habis menangis...? Dan mobil itu..., aaah..., sepertinya aku benar-benar tidak bisa melupakanmu begitu saja, Mel...!!"


......................


Pagi itu di kampus, ketika Reihan keluar dari area parkir motor. Dia tidak sengaja bertemu dengan Anya.


"Tumben sudah datang?" tanya Anya.


"Kamu yang kepagian kali." balas Reihan.


"Oh iya?!" Anya melihat jam tangannya. "Iya juga, ya..." Anya tertawa.


"Bareng boleh nggak nih...?!" Anya sengaja menggodanya.


"Em." sahut Reihan.


"Aku anggap iya." Anya tak sungkan beriringan dengan Reihan.


Mereka pun berjalan bebarengan menuju lobi utama sambil ngobrol santai.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka. Orang itu adalah Melin.


Melin tidak menyerah begitu saja setelah kejadian malam itu. Dia memutuskan untuk mendatangi kampus Reihan. Menurutnya itu adalah tempat paling memungkinkan baginya untuk bertemu Reihan. Dan dia akan mengatakan segalanya pada Reihan.


Sayang, realitanya justru di luar ekspektasi Melin. Betapa terkejutnya Melin, saat dia mendapati Reihan memasuki lobi utama bersama dengan Anya. Mereka tampak lebih akrab. Entah apa yang mereka bicarakan, sehingga senyum Anya pun terlihat bergitu ceria.


Melihat hal itu membuat Melin percaya dengan omongan bibi Nurma malam itu.


"Jadi ini kebahagiaan kamu sekarang, kak. Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi."


Air mata Melin lolos begitu saja.


"Takdir macam apa ini, Tuhan...?! Menyakitkan sekali...!!!"


Kemudian dia mendengar seseorang tiba-tiba mengetuk kaca mobilnya. Dia adalah Bunga. Saat tahu hal itu, Melin mengusap air matanya dengan cepat. Lalu menyalakan mesin mobilnya, dan tancap gas menuju pintu keluar.


"Woih...!!" seru Bunga.


"Aku yakin itu mobilnya Melin yang biasa dibawa Reihan. Yang di dalam pasti Melin. Apa dia sudah balik ya...?!"


Bunga kemudian beranjak dari tempat itu, membiarkan mobil Melin yang berlalu begitu saja.


......................

__ADS_1


__ADS_2