Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Pergi


__ADS_3

Ketika Melin menemani mama Yunita ke pasar. Salah seorang pembantu rumah tangga memanggil Reihan untuk menemui eyang. Reihan sebenarnya malas, tapi dia harus tetap datang.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk...!" seru eyang dari dalam kamarnya.


"Eyang memanggil saya?" tanya Reihan.


"Duduk kamu!" titah eyang putri.


"Tidak perlu basa-basi, katakan apa tujuanmu menikahi Melin? Karena uang?!" ujar eyang dengan entengnya.


Reihan mencoba mengontrol emosinya agar tetap stabil. Dia tidak boleh tantrum di saat seperti ini.


"Saya memang bukan orang kaya. Tapi saya tidak seperti yang eyang pikirkan." balas Reihan setenang mungkin.


"Lantas seperti apa?" sahut eyang dengan logatnya yang meremehkan.


"Saya dan Melin saling mencintai." kata Reihan.


"Tapi kamu menambah beban anak dan cucu saya. Apa kamu sadar itu?!" ucapan itu seakan mengintimidasi Reihan.


"Kalau kamu sadar diri, tinggalkan Melin dan keluar dari rumah mereka!" perintah eyang. "Kalau kamu sayang sama Melin, biarkan Melin fokus menyelesaikan sekolahnya, dan biarkan dia menikah dengan Arka."


"Maaf eyang, sepertinya eyang sudah melampaui batas. Tidak seharusnya eyang mengatur kehidupan kami." tutur Reihan. "Permisi." Reihan beranjak dari kursinya.


Siapa sangka eyang nekat menjatuhkan dirinya sendiri dari kursi, saat mendengar Melin menyapa Reihan.


"Tolooong...!" seru eyang dengan nada yang disetel semiris mungkin.


Reihan sontak menoleh ke belakang, dilihatnya eyang tergeletak di lantai. Lalu dia menghampiri eyang.


"Eyang?!" Melin mempercepat langkahnya, begitu juga dengan mama Yunita.


"Jangan sentuh saya!" eyang menepis tangan Reihan yang hendak membantunya.


"Eyang, ya ampun..." Melin berusaha membangunkan eyang dibantu oleh mama Yunita.


Reihan hanya diam terpaku, lantaran eyang tidak ingin disentuh olehnya.


"Bawa dia pergi dari sini!" eyang menunjuk Reihan sambil menangis. "Dia berusaha menyakiti eyang, karena eyang tidak menyukainya." ujarnya.


Reihan terbelalak, tak disangka eyang Melin sedrama itu. Melin dan mamanya pun menatap Reihan seolah menuntut penjelasan.


"Kak Rei...?" gumam Melin.


Reihan sangat malas meladeni hal seperti itu. Dia memilih keluar dari kamar eyang, karena jika tetap berada di sana, dan berusaha membela diri pun tak akan ada gunanya.


"Apa yang terjadi, bu...?" tanya mama Yunita.


"Ibu hanya bilang sama dia, harusnya dia tidak menikahi Melin. Melin masih sekolah. Tapi dia marah dan menarik ibu sebelum pergi." katanya.


Melin langsung meninggalkan kamar eyang setelah mendengar cerita eyangnya.


"Mel..." panggil mamanya, tapi panggilan itu tak dihiraukan.


"Jangan tinggalkan ibu. Tetaplah di sini." eyang masih setia dengan air mata bawangnya.


"Tenang, bu. Minum dulu, ya." kata mama Yunita.


......................


Melin menemui Reihan di kamar, dia ingin minta penjelasan dari Reihan.


"Kamu mau bertanya kenapa aku melakukan itu pada eyang?" ujar Reihan saat mengetahui kedatangan Melin, meski dia tetap fokus melihat ke luar jendela.


"Apa kak Rei benar-benar melakukannya?" balas Melin dengan hati-hati.


"Pertanyaanmu itu sudah cukup membuktikan, kalau kamu lebih percaya pada eyangmu daripada aku." Reihan tersenyum miring tanpa menatap sang istri yang sudah ada di sampingnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Melin.


"Apa itu penting bagimu?" kata Reihan.


"Kak Rei..., bisa tidak kita bicara baik-baik dengan kepala dingin...? Kak Rei itu berubah. Lebih dingin dan selalu bersikap datar kalau bicara." protes Melin.


"Aku berubah?" kali ini Reihan menoleh ke arah Melin.


"Coba posisikan dirimu di tempatku. Seorang menantu yatim piatu, miskin, yang dengan jelas mendengar hinaan dari eyangmu. Dengan telinganya sendiri mendengar eyangmu menyuruhku ninggalin kamu, agar kamu menikah dengan pria lain. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu di posisiku...?! Katakan!!"


"Jadi karena itu kak Rei membuat eyang terjatuh?" balas Melin. "Kak..., eyang hanya ingin menguji ketulusan kak Rei ke aku sampai dimana..." Melin tetap membela eyangnya.


"Terserah!" Reihan benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan eyang Melin.

__ADS_1


"Kak Rei, please...!" ujar Melin. "Eyang sedang sakit, tolong jangan buat pikiranku makin kacau...!" pinta Melin.


"Fokuslah dengan eyangmu. Aku akan pulang hari ini juga." Reihan melewati untuk mengambil dompet dan handphonenya.


"Kak, jangan begitu dong...!!" seru Melin yang berusaha menghentikan Reihan.


"Kak Rei kok jadi childish banget gini sih?!" kata Melin.


"Aku childish?! Lalu eyangmu apa?! Yang dengan penuh kesadarannya membuat drama untuk merusak rumah tangga kita?!" sentak Reihan.


"Aku pergi hanya untuk menghindari drama nggak mutu itu berkelanjutan." imbuhnya.


"Eyang itu benar-benar sakit kak...!" bantah Melin.


"Oh ya?! Kamu seyakin itu rupanya?!" sahut Reihan. "Diamlah di sini sampai kamu tahu kebenarannya." katanya.


Reihan berbalik menatap mata Melin yang berkaca-kaca. Sesungguhnya dia tidak tega melihat Melin seperti itu. Tapi dia harus benar-benar pergi, sebelum drama eyang semakin menggila karena dia tetap di sini.


"Kak..., kak Rei...!!!" Melin terus mengejar Reihan.


Sampai di depan rumah papa Adi menghadangnya.


"Mau kemana?" tanya mertuanya.


"Kak Rei jangan pergi...!" rengek Melin sambil menarik tangan Reihan.


"Aku harus pulang, paa. Tolong jaga Melin di sini." jawab Reihan.


"Kamu yakin?" tanya papanya lagi.


"Kak..., please...!!" Melin terus memohon pada suaminya agar tetap tinggal.


"Papa tahu kan apa yang terjadi di sini. Aku hanya tidak ingin membuat suasana makin runyam." katanya.


Reihan menarik Melin dalam pelukannya untuk beberapa saat.


"Aku pulang." Reihan mengecup kening Melin.


"Kak..." tangis Melin pun kian menjadi.


"Biarkan dia pergi. Dia hanya sedang butuh waktu untuk sendiri." ujar papanya.


"Tapi, paa..." rengek Melin.


......................


Reihan telah tiba di kediaman mertuanya. Dia hanya datang untuk mengambil beberapa buku kuliah dan baju yang dia butuhkan. Lalu dia pergi ke rumah pamannya.


"Apa yang terjadi Rei?" tanya bibi Nurma.


"Tidak ada, bi. Aku hanya pulang lebih awal karena lusa sudah harus masuk kuliah." balas Reihan.


"Yakin hanya itu?" tentu saja bibinya tidak begitu saja percaya.


Bibi Nurma meraih tangan keponakannya itu. Lalu mengusapnya dengan lembut.


"Bibi sudah bersamamu sejak kamu masih kecil. Bibi bisa mengerti kapan suasana hatimu baik, atau sebaliknya. Ada masalah apa? Katakan pada bibi...!" tutur bibi Nurma.


"Aku meninggalkan Melin di sana." katanya.


"Kalian bertengkar?" tanya bibi dengan intonasi yang sangat pelan.


"Rumit, bi."


Reihan kemudian menceritakan segalanya, tanpa ada yang dia tutup-tutupi.


"Andai aku tidak jatuh cinta dengannya..."


"Sssstt...!" tegur bibi Nurma sambil menepuk paha Reihan.


"Tidak boleh berkata seperti itu. Ini semua terjadi bukan karena kebetulan. Tapi Allah yang mengatur segalanya." ujar bibi Nurma.


"Do'akan aku jadi orang sukses ya, bi. Agar bisa menaikkan derajat keluarga kita. Sehingga tidak lagi dipandang sebelah mata." kata Reihan.


"Tentu, do'a bibi selalu menyertai langkahmu." balas bibi.


"Sekarang, beri kabar pada Melin kalau kamu sudah sampai di sini dengan selamat. Jangan buat dia makin khawatir sama kamu." begitu pesan bibi sebelum keluar dari kamar Reihan.


Reihan mengangguk saja, tapi pada kenyataannya dia sama sekali tidak ingi memberi kabar pada siapapun. Termasuk istrinya sendiri.


......................


Hari ini yang berbeda, karena Reihan berangkat kuliah dengan ojol. Tentu saja hal itu menarik perhatian banyak orang.

__ADS_1


"Bro..., tumben-tumbenan naik ojek?" sapa Nathan begitu ketemu dengan Reihan.


"Biasanya naik bus juga oke-oke saja." balas Reihan.


"Bukan begitu maksudku. Memangnya tidak antar Melin sekolah?" tanya Nathan lagi.


"Dia sedang di rumah eyangnya." kata Reihan.


"Oh..., seperti itu." Nathan manggut-manggut saja.


"Apa dia baik-baik saja di sana...?!" batin Reihan.


Bunga yang mendengar percakapan itu, seketika menyunggingkan senyuman. Karena dia merasa memiliki kesempatan untuk dekat dengan Reihan. Selama Melin tidak ada pasti Reihan tidak akan sibuk mengurusinya.


Bukan Bunga namanya kalau tidak sat-set wat-wet. Saat akan pulang, dia segera menghampiri meja Reihan.


"Rei, ke toko kue nggak?" tanya Bunga.


"Em." balas Reihan.


"Kalau begitu kita bareng saja. Gimana?"


"Boleh." kata Reihan.


"Ini." Bunga memberikan kunci mobilnya pada Reihan. "Kamu yang bawa, oke?!"


Reihan menerimanya begitu saja. Saat keduanya hendak pergi, Bunga melambaikan tangannya pada Anya. Anya pun memberikan senyuman palsu.


"Sial, kalah cepet!" dengus Anya dalam hati.


Reihan dan Bunga berada dalam satu mobil. Bunga berusaha mengajak Reihan bicara, sayangnya Reihan tidak peduli. Dia hanya sesekali membalas dengan deheman.


Bunga sangat bangga ketika keluar dari mobil yang sama dengan Reihan, dan diperhatikan banyak orang. Senyumannya tak pernah luntur hingga dia keluar dari toko kue itu.


Sore harinya beberapa menit sebelum toko tutup, giliran Anya yang datang ke toko itu. Bibi Ismi menahan senyumannya. Lalu berbisik pada Reihan.


"Makanya, segera umumkan kalau kamu sudah tak lajang lagi. Kasihan itu anak gadis orang yang cari perhatian."


Reihan hanya menggelengkan kepalanya.


"Bahkan aku tidak yakin pernikahan ini akan bertahan lama." begitu batin Reihan.


Kue pesanan Anya sudah siap. Anya kemudian pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran.


Reihan terkejut ketika Anya masih ada di depan toko menunggunya pulang.


"Pulang bareng, yuk?!" ujar Anya.


Reihan melihat jam tangannya, dia akhirnya mengiyakan ajakan Anya. Tapi tetap Anya yang membawa mobilnya.


Sebelum sampai di rumah, adzan maghrib sudah berkumandang. Sementara jalanan sedang macet. Karena takut tidak keburu, Anya mengajak Reihan singgah di sebuah masjid.


"Tidak sholat?" tanya Reihan.


"Aku sedang halangan. Aku tunggu di sini." jawab Anya.


Beberapa menit kemudian Reihan kembali.


"Biar aku yang bawa. Kamu pasti lelah." kata Reihan.


"Boleh."


Anya pun keluar dari mobilnya, karena akan bertukar posisi dengan Reihan.


"Rei, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Anya.


"Em..."


"Aku hanya merasa kamu sedang tidak baik-baik saja. Tapi semoga firasatku salah." ujar Anya.


"Aku tidak apa-apa." katanya.


"Aku memang bukan siapa-siapa kamu, Rei. Tapi aku mengenalmu sudah lama. Seorang Reihan kalau sudah diam banget begini, pasti ada sesuatu." tutur Anya.


"Aku tidak bermaksud memasuki zona pribadimu, lho. Jangan salah paham ya. Aku cuma mau bilang, apapun yang sedang terjadi, jangan sampai mengganggu kuliahmu. Aku tahu banget kamu memiliki banyak mimpi. Jangan sampai semua usahamu sia-sia."


Reihan spontan menoleh pada Anya. Dia sedikit tersentil dengan celotehan Anya.


"Thanks." hanya itu respon Reihan. Kemudian dia kembali fokus mengemudi.


Anya tersenyum puas, dia merasa berhasil menyentuh hati Reihan.


......................

__ADS_1


__ADS_2