Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Lampu Hijau


__ADS_3

Reihan mulai sibuk dengan status barunya sebagai seorang mahasiswa. Dia juga harus membagi waktu dengan pekerjaannya. Setelah mengantar Melin ke sekolah, Reihan akan lanjut ke kampus. Pulang dari kampus, Reihan akan kembali ke sekolah kalau memang sudah waktunya Melin pulang. Kalau Melin ada tambahan jam kursus, dia akan mengambil job di toko bibi Ismi.


"Bagaimana kuliahnya?" tanya bibi Ismi.


"Alhamdulillah baik, bi." jawab Reihan sambil menata minuman di lemari pendingin.


"Syukurlah. Bibi hanya takut kamu kuwalahan, terus capek dan jatuh sakit. Karena selain kuliah, kamu juga bekerja." ujar bibi.


"InsyaAllah tidak bi. Lagi pula kalau aku tidak bekerja, bagaimana dengan kebutuhan yang lain." balas Reihan.


Reihan kemudian duduk di samping bi Ismi setelah menyelesaikan tugasnya.


"Aku sangat bersyukur, mendapat bos seperti bibi dan keluarga Melin. Yang mengerti posisiku. Meskipun kadang aku merasa sangat tidak enak, bi." tutur Reihan.


"Orang baik, akan dilimpahi kebaikan juga." bibi tersenyum. "Bibi malah sedih. Kalau kamu sudah jadi orang besar nanti, kamu pasti akan meninggalkan toko kecil ini. Dan mulai sibuk di gedung-gedung megah."


"Bibi bisa saja." balas Reihan. "Bagaimana kuenya bi, sudah siap? Biar aku bawa sekalian. Sebentar lagi waktunya jemput Melin." kata Reihan.


"Sedang disiapkan di belakang. Kamu bersihkan dirimu itu. Masa ketemu cewek bau vanili." gurau si bibi.


Reihan hanya tersenyum, lalu dia beranjak dari kursinya dan menuju ruang ganti karyawan.


Beberapa menit kemudian Reihan tiba di sekolah. Dia melihat Melin sedang ngobrol dengan Keira dan seorang lelaki dengan setelan jasnya yang rapi.


"Apa itu kakaknya Keira?"


Beberapa saat kemudian Melin sudah berada di sisi mobil dan membuka pintu.


"Menunggu lama?" tanya Reihan.


"Tidak. Baru keluar juga, tapi ngobrol dulu sama bu Astrid." balas Melin sambil memasang seatbelt.


"Mau ada kompetisi lagi?" tanya Reihan.


"Em." Melin mengangguk.


"Semangat berjuang!" Reihan tersenyum.


"Bisa nggak ya...?! Kan kemarin yang membuat aku sesemangat itu ya dia..."


Melin melirik Reihan yang sudah fokus menatap jalanan yang akan dilalui.


"Kuliahnya bagaimana, kak?" tanya Melin.


"Baik." jawabnya.


"Mabanya pasti cantik-cantik." goda Melin.


Reihan hanya diam. Tidak tertarik dengan obrolan itu.


"Mau langsung pulang?" tanya Reihan untuk mengalihkan pembicaraan.


"Iya, kak. Nggak tahu kenapa aku merasa sangat lelah hari ini...?" keluh Melin.


"Ada yang terasa tidak nyaman?" Reihan sedikit melirik Melin.


"Sedikit pusing saja." jawabnya.


"Tidur saja, nanti aku bangunkan." ujar Reihan. Melin pun mengangguk.


Tangan kiri Reihan meraih tangan Melin, dan menggenggamnya dengan lembut.


"Jaga kesehatan ya. Jangan sampai sakit."


Ucapan Reihan yang diikuti senyuman itu terasa sangat menenangkan hati Melin. Melin pun membalasnya dengan senyuman. Saat Reihan kembali fokus menyetir, Melin mengalihkan pandangannya pada tangan Reihan yang tak kunjung melepas tangannya.


......................


Reihan tidak langsung pulang setelah mengantar Melin. Karena paman Lukman butuh bantuannya untuk memperbaiki lampu di paviliun belakang rumah.


"Hati-hati, Rei...!" ujar paman Lukman saat memegangi tangga untuk Reihan.


"Pak Lukman, Reihan...!!" suara bibi terdengar sangat panik.


"Ada apa?" tanya paman Lukman.


"Non Melin pingsan, ibu minta diantar ke rumah sakit."


Reihan segera turun dari tangga ketika mendengar kabar itu.

__ADS_1


"Rei...!" ujar paman Lukman.


Paman Lukman dan bibi mengikuti Reihan yang sudah lebih dulu berlari.


"Mel...!"


Reihan mendekati Melin yang berada di pangkuan mamanya. Dan masih tak sadarkan diri.


"Rei, ayo bawa Melin." ujar mama Yunita yang sudah sangat gelisah.


"Iya, bu."


Reihan menggendong Melin dan segera membawanya masuk dalam mobil yang sudah disiapkan paman Lukman.


Sampai di rumah sakit Melin langsung mendapat penanganan oleh tim medis. Sementara Reihan menunggu di depan ruang UGD.


"Dengan mas Reihan...?" seorang suster mendekatinya.


"Saya, suster." Reihan sontak berdiri.


"Ibu Yunita memanggil masnya." katanya.


Reihan pun mengikuti langkah sang suster.


"Bagaimana Melin, bu?" tanya Reihan.


"Tensinya turun, sepertinya dia kelelahan." jawab mama Yunita. "Kamu bawa handphone? Saya pinjam sebentar, mau telepon papanya." katanya.


"Silakan, bu." Reihan memberikan ponselnya.


"Kamu di sini dulu ya, jagain Melin. Sekalian nanti saya urus administrasi." ujarnya.


"Iya, baik bu." balas Reihan.


Mama Yunita keluar untuk menghubungi suaminya. Meninggalkan sang putri bersama senior kesayangnya.


Reihan meraih tangan Melin dan mengusapnya dengan lembut. Sambil menatap wajah pucat dengan mata yang masih terpejam. Tiba-tiba wajah tenang itu tampak gelisah, dan kesulitan bernafas.


"Dokter...!!! Suster...!!" teriak Reihan.


Reihan tidak bisa beranjak karena Melin menggenggam tangannya dengan sangat erat.


"Tetap di sisinya, pasien dalam kondisi seperti ini biasanya akan merasa sangat ketakutan. Sehingga butuh seseorang untuk menemaninya." tutur dokter setelah memastikan nafas Melin kembali normal.


"Dia tidak boleh panik ataupun gelisah. Buat dia setenang mungkin." dokter tersenyum saat melihat tangan dua sejoli itu bertautan.


"Kamar sudah siap. Setelah kondisinya stabil, pasien akan dipindahkan." ujar suster.


"Baik. Terimakasih." balas Reihan.


Tak berselang lama setelah dokter dan suster keluar, Melin berlahan membuka matanya. Baru saja Melin akan mengatakan sesuatu, Reihan memberi kode agar Melin diam.


"Jangan banyak bicara dulu." ujar Reihan. "Nafasnya sudah enak?" tanya Reihan.


Melin mengangguk saja. Matanya berkaca-kaca, lalu butir air mata menetes melalui sudut matanya.


"Jangan nangis...!" Reihan mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. "Nanti sakit lagi." katanya.


"Jangan takut ya. Aku di sini kok. Mama kamu sedang mengurus administrasi. Nanti juga kembali."


Reihan mengusap punggung tangan Melin dengan maksud agar Melin merasa lebih tenang. Wajah pucat itu tampak memberikan respon dengan senyuman yang seadanya.


Rupanya pemandangan itu tak luput dari pantauan mama Yunita. Karena diam-diam mama Yunita mengintip dari balik tirai.


......................


Setelah kondisi Melin stabil, suster membawanya ke ruang perawatan.


"Mama, pulang saja ya...!" pinta Melin.


"Tidak sayang. Tante Nisa sedang jadi sukarelawan di luar kota. Bagaimana nanti, siapa yang merawat kamu? Mama tidak bisa ganti infus."


"Aku nggak mau di sini..." rengeknya dengan manja.


"Tolong ya, kali ini saja kamu patuh. Tidak lama kok, sayang." bujuk mamanya.


Melin hanya bisa diam.


"Makan ya, sedikit saja." kata mamanya.

__ADS_1


Melin terus menggeleng saat disuruh makan. Jangankan mengunyah makanan, air saja dia tidak bisa menelannya. Karena memang dia tidak bisa melakukan itu ketika di rumah sakit.


"Mama tahu kamu pasti lapar, sedikit saja." mamanya sangat khawatir. "Dipaksa ya..." bujuk sang mama.


Tak lama kemudian papanya datang bersama Reihan. Mereka baru saja selesai melaksanakan sholat di masjid.


"Coba kamu yang bujuk, Rei!" titah papa Adi.


"Saya, pak?" Reihan kaget mendengar perintah papa Adi.


"Ma, biar sama Reihan. Mama juga harus makan kan, kita keluar sekalian nanti beli untuk Reihan." kata papanya.


"Sama Reihan dulu ya." mama Yunita mengecup kening Melin. Begitu juga dengan papanya.


"Sebentar ya." papa Adi menepuk pundak Reihan.


"Kenapa tidak makan?" tanya Reihan sambil duduk di sisi kasur. Melin hanya menggeleng.


"Bagaimana kalau dicoba sedikit saja. Kalau kamu tidak makan, kamu tidak akan diperbolehkan pulang." ujar Reihan lagi.


"Coba sedikit saja, ya!" pinta Reihan dengan nada yang sangat lembut. "Atau mau ganti makanan yang lain? Biar aku belikan."


Melin tidak bergeming. Reihan bingung harus membujuk dengan cara apa lagi.


"Coba abaikan kalau ini di rumah sakit. Bayangkan kalau kita sedang makan di pinggir jalan seperti waktu itu, karena terjebak macet." ujar Reihan.


Reihan tiba-tiba teringat momen dimana mereka terjebak macet dan kelaparan. Kemudian Reihan membeli nasi bungkus di warung kecil pinggir jalan raya.


Melin pun ingat akan kejadian itu. Dan dia menyunggingkan senyuman.


"Coba sekali saja. Aaaak...!"


Melin ragu-ragu membuka mulutnya. Dia takut akan memuntahkan makanannya seperti yang sudah-sudah. Apalagi dibonusi rasa malu, karena sekarang posisinya bersama Reihan.


"Sedikiiiit saja..., please...!!" Reihan tak henti memohon.


Akhirnya satu suapan masuk ke mulut Melin. Melin mengunyah dengan hati-hati, lalu menelannya.


"Minum?" Reihan mengambil gelas di atas nakas.


Melin meneguk air mineral itu.


"Bagaimana?" Reihan memastikan tidak ada masalah pada Melin. "Sekali lagi, boleh?" tanya Reihan.


Setelah mendapat jawaban dengan anggukan kepala, Reihan kembali menyuapi nonanya itu.


"Cepat sembuh ya..." Reihan menatap dalam mata Melin. "Jangan sakit-sakit lagi." katanya.


"Terimakasih, kak." balas Melin.


Reihan melihat jam tangannya, Melin bisa menangkap sesuatu dari ekspresi Reihan saat itu.


"Kak Rei mau pulang?" tanya Melin.


Reihan menatap kembali wajah sayu Melin. Dia ingin tetap menemani Melin, tapi itu tidak mungkin. Karena sudah bisa dipastikan orang tua Melin akan memintanya untuk pulang.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sebelum orang tuamu kembali." ucap Reihan.


"Kak Rei pasti banyak tugas yang belum dikerjakan." terka Melin.


"Tugasku saat ini hanya menjagamu." balas Reihan. "Aku sangat mengkhawatirkanmu, Mel..." ucap Reihan dengan lirih.


"Kamu boleh menginap di sini, Rei." sahut papa Adi yang baru saja kembali.


"P..., pak...!" Reihan segera berdiri.


Dia sangat terkejut, begitu juga dengan Melin. Bahkan keduanya takut kalau papa Adi akan marah.


"Tidak perlu tegang seperti itu." kata mama Yunita sambil menaruh makanan di atas meja.


"Maaf, pak, bu." ujar Reihan tanpa berani mengangkat kepalanya.


"Saya tidak akan membiarkan kamu di sini, kalau saya tidak percaya sama kamu." tutur papa Adi. "Bahkan kalau memang kalian menjalin hubungan, kami tidak keberatan." tambahnya.


"Ah...?!"


Keduanya saling pandang, mereka tidak menyangka seorang Adi Widjaya akan mengatakan hal itu.


......................

__ADS_1


__ADS_2