
Ketika tiba di rumah sakit, Reihan tidak masuk ke kamar Melin. Lantaran teman sekolah Melin ada di dalam untuk melihat kondisi Melin. Sehingga Reihan menunggu di depan ruangan Melin bersama dengan Guntur.
"Entahlah apa yang mereka bicarakan. Lama sekali di dalam." gerutu Guntur.
"Bagaimana kalau kita keluar untuk ngopi." saran Reihan.
"Ah, tidak. Mama sedang keluar. Di dalam ada Keira, adiknya Kevin. Feelingku kuat, kalau Kevin nanti akan menyusul ke sini." balas Guntur.
"Kevin...?" sahut Reihan.
"Ya, itu kakaknya Keira. Aku dengar desas-desus dari pegawai di kantornya, kalau Kevin sedang berusaha mendekati adikku." terangnya.
Reihan yakin Kevin adalah lelaki yang bersama Keira dan Melin waktu itu. Nyali Reihan tiba-tiba menciut, meski dia sudah mendapatkan lampu hijau dari orang tua Melin. Karena jika dibuat tabel perbandingan, sudah pasti Kevin lebih unggul.
Dan benar saja dugaan Guntur. Si Kevin sudah tampak di ujung lorong menuju tempat mereka berada, sambil membawa sebuket bunga.
"Panjang umur..." gumam Guntur sambil melihat sosok yang sedang berjalan ke arahnya.
Reihan pun mengubah posisinya agar bisa melihat orang itu.
"Benar dia." batin Reihan.
"Halo brother..." sapa Kevin. "Aku mau jemput si Kei, sekalian jenguk Melin." Kevin menunjukkan bunga yang dia bawa.
"Lama-lama rumah sakit ini jadi pameran bunga." gerutu Guntur.
"Bisa saja kamu, bro...!" balas Kevin dengan santainya.
Tak berselang lama, Sasha, Ben, dan Keira keluar.
"Kak Kevin sudah datang? Mau lihat kak Melin dulu?" celoteh si Keira.
"Aku antar." sahut Guntur.
Dengan gerakan malasnya Guntur beranjak dari kursinya untuk menemani Kevin masuk.
"Aku hanya menjenguk, apa harus diawasi seperti ini?" bisik Kevin.
"Karena kamu orangnya. Aku akan terus mengawasimu." balas Guntur.
"Ada yang ingin bertemu." kata Guntur setelah sampai di samping kasur Melin.
Kevin muncul dengan senyuman terbaiknya, untuk menarik perhatian Melin.
"Untukmu. Cepat sembuh ya." ujar Kevin.
"Terimakasih." balas Melin dengan singkat.
Kevin tidak bisa terlalu lama di dalam sana. Karena Keira menunggunya di luar. Sehingga dia tidak bisa banyak ngobrol dengan Melin dan Guntur.
"Temani Melin sebentar ya. Aku lapar sekali." kata Guntur.
"Teman kak Guntur saja masuk dikawal. Bisa-bisanya kak Guntur menyuruhku menemani Melin." balas Reihan.
"Karena aku lebih percaya sama kamu. Masuklah!" ujar si Guntur dengan santainya.
"Terimakasih kalian sudah percaya padaku. Sejujurnya kepercayaan itu juga menjadi beban berat untukku. Bagaimana kalau ternyata di masa depan aku tidak bisa mewujudkan segala impianku."
Begitu ujar Reihan dalam hatinya, sambil membuka pintu kamar Melin. Lalu dia menatap Melin yang tersenyum manis menyambut kedatangannya.
"Termasuk untuk membahagiakan Melin..."
Reihan membalas Melin dengan senyuman tipisnya. Lalu duduk di kursi yang ada di samping kasur.
"Kenapa masih terima tamu di jam ini? Bukannya ini jam istirahat kamu?" Reihan melihat jam tangannya.
"Harusnya. Tapi kan aku juga nggak bisa menolak mereka." aku si Melin.
"Lain kali kalau kamu merasa tidak enak, minta suster yang menyampaikan. Mengerti?" tutur Reihan menasihati Melin.
"Sekarang kamu bisa istirahat." imbuhnya.
"Kak Rei mau pergi?" tanya Melin sedikit ragu.
Reihan mengikis jarak dengan Melin, lali dia menopang dagunya.
"Katakan, memangnya kamu mau aku pergi?" bisik Reihan sambil menatap dalam mata Melin.
Deg
Melin yang panik hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia tidak peduli jika mimik wajahnya saat ini sangat memalukan.
"Tidurlah. Aku tidak akan mengganggumu." Reihan merapikan selimut yang menutupi setengah bagian tubuh Melin.
"Aaahhh..., dasar nggak sopan...!!" umpat Melin dalam hati.
"Tidur!" titah Reihan saat melihat Melin tak kunjung menutup matanya. Padahal Reihan sudah duduk dengan gagahnya di sofa.
Menerima teguran untuk kesekian kalinya membuat Melin sedikit ngeri. Dia pun memaksakan diri untuk tidur. Sementara di sudut yang lain, Reihan sedang menertawakan Melin dalam diam.
......................
Melin sangat bersemangat karena hari ini dia akan kembali ke rumah. Sayangnya Reihan tidak bisa menjemput karena masih ada kuliah. Sehingga Guntur yang menjemputnya.
"Akhirnya...!!" Melin sangat senang akhirnya tidur di kamarnya lagi.
"Sebaiknya istirahat dulu, dek." ujar sang kakak.
"Iya, kak." balas Melin.
Melin yang patuh segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu mengganti pakaiannya.
Entah berapa lama Melin tertidur, bangun-bangun langit yang tadinya berwarna biru dengan awan berarak-arak, sudah berubah jadi jingga. Melin beranjak dari tempat tidurnya, lalu pergi ke balon kamarnya.
__ADS_1
"Kak Rei..." gumam Melin saat melihat Reihan ada di bawah bersama paman Lukman.
"Kok masih di sini? Lagi ngapain...?!" tanya Melin pada dirinya sendiri.
Setelah mandi, Melin merapikan diri. Dia menatap pantulan dirinya di cermin, lalu tersenyum. Setelah yakin sudah sempurna, dia pun turun.
"Lho, sudah bangun...!" kata mama Yunita yang sedang menata kue.
"Iya, ma." balas Melin. "Maa, banyak sekali makanan mau ada acara apa?" tanya Melin.
"Mama undang adik-adik kamu dari yayasan buat berdo'a bersama di sini. Nanti setelah sholat isya." jawab mama Yunita.
"Kamu istirahat saja, tidak perlu bantu-bantu. Oke?" kata mamanya lagi.
"Aku keluar boleh maa?" tanya Melin kemudian.
"Iya. Ada Reihan juga di luar sama paman. Sedang menata meja. Sekalian bawa ini." mama Yunita memberikan dua buah piring berisi kue dan potongan semangka.
"Camilan datang...!!" seru Melin saat dia sampai di halaman samping rumah.
Paman Lukman memberi kode pada Reihan agar menghampiri nona mudanya itu.
"Sudah enakan?" tanya Reihan setelah berada di dekat Melin.
"Em." Melin mengangguk.
"Kakak Melin...!!!"
Suara melingking itu tak asing di telinga Melin dan Reihan. Mereka pun menoleh bebarengan.
"Hai..., sama siapa?" tanya Melin setelah Lili memeluknya.
"Sama ayah dan ibu." jawabnya.
"Paman..." sapa Reihan saat paman Bian datang.
"Paman, apa kabar?" sapa Melin juga.
"Baik. Non Melin bagaimana? Maaf kami baru bisa datang." ujar paman Bian tak enak hati.
"Aku tidak apa-apa, paman." balas Melin.
"Jangan sampai kenapa-kenapa lagi, nanti paman bingung karena di rumah paman ada yang mogok makan." paman Bian melirik keponakannya.
Paman Bian kemudian pergi menghampiri paman Lukman. Untuk membantu menyelesaikan meja-meja itu.
"Siapa yang mogok makan?" Melin menatap Reihan dengan ekspresi jailnya.
"Mana aku tahu. Aku akan bantu mereka." Reihan menghindari kontak mata yang berbahaya itu. "Lili sama kak Melin ya, jangan banyak tingkah."
"Iya, kak." jawab Lili.
"Mogok makan itu apa sih, kak?" tanya Lili sambil mengambil semangka.
"Sama seperti malas makan." jawab Melin.
Tidak sia-sia persiapan yang mereka lakukan. Karena acara berlangsung lancar sesuai rencana orang tua Melin.
"Lili tidur bi. Biarkan saja menginap di sini." kata Melin.
"Ah, non..., jangan. Tidak enak bibi merepotkan." ujar bi Nurma.
"Tidak merepotkan kok bi. Kasihan lho kalau nanti dibangunkan." balas Melin.
"Nanti bibi gendong, pasti tidak akan bangun." kata bibi Nurma.
"Kalau begitu biar pulangnya pakai mobil saja. Nanti sama kak Rei." ujar Melin. "Bibi tunggu di sini."
Melin segera pergi dari kamar tamu itu, sebelum bibinya Reihan kembali memberikan penolakan.
"Ada apa, Mel?" tanya papanya yang saat itu sedang bersama paman Bian dan Reihan.
"Mau minta kak Rei ngantar bibi dan Lili. Soalnya Lilinya tidur, paa. Aku suruh nginap tidak mau." kata Melin yang jujur apa adanya.
"Biar sama paman saja." sahut paman Bian.
"Tidak, pak. Biar sama Reihan. Kasihan nanti sakit kena angin malam." tutur papa Adi.
"Iya, paman. Tidak apa-apa. Ini sudah sangat malam." kata Reihan.
Reihan pun menyiapkan mobil yang biasa dia gunakan bersama Melin. Sedangkan Melin memanggil bibi Nurma.
"Terimakasih, pak, bu." ujar bibi Nurma pada orang tua Melin.
"Terimakasih juga sudah bantu kami, lho." mama Yunita mengusap bahu bibi Nurma.
"Itu bukan apa-apa, bu." balas bibi Nurma.
Setelah berpamitan mereka pun meninggalkan kediaman Adi Widjaya.
"Senang ya paa, kalau besanan sama mereka." mama Yunita melirik Melin.
"Iya, ma. Sayangnya mereka masih pada sekolah." sahut papa Adi.
"Terus saja begitu." balas Melin, kemudian berlalu meninggalkan orang tuanya di teras rumah.
Mereka hanya tersenyum melihat reaksi Melin.
"Anak kita sudah besar pa." kata mamanya.
"Iya, ma. Alhamdulillah." sahut papanya.
......................
__ADS_1
Hari ini Melin mulai masuk sekolah, seperti biasa dia akan diantar jemput oleh Reihan.
"Pulang sekolah nanti kita pergi sebentar ya?" kata Reihan.
"Kemana?" tanya Melin.
"Ada buku yang harus aku beli." balas Reihan.
"Oke." sahut Melin. "Sasha bilang hari ini pulang cepat. Nanti aku kabari kak Rei kalau sudah waktunya pulang."
"Kalau aku belum datang, jangan kemana-mana. Tunggu di pos jaga sama pak Supri. Atau tetap di dalam sekolah." pesan Reihan.
"Siap, komandan." Melin memberi hormat pada Reihan.
Tak lama kemudian mereka tiba di sekolah.
"Ya ampun..." dengus Melin.
"Kenapa?" tanya Reihan.
"Kak Rei..." Melin melihat Reihan. "Keberatan tidak mengantarku sampai dalam?" pinta Melin.
Reihan kemudian melihat sekitarnya. Ada Kevin dan Keira di salah satu sudut gerbang.
"Tumben?" Reihan ingin memastikan apa dugaannya benar, Melin tidak ingin bertemu Kevin.
"Ada kak Kevin. Aku malas ketemu sama dia." ungkapnya.
"Baiklah. Diam di sini." Reihan melepas sabuk pengamannya.
Reihan keluar lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk Melin.
"Ayo!" Reihan mengulurkan tangannya.
Deg
Untuk kesekian kalinya, jantung Melin bereaksi ketika Reihan menggenggam tangannya.
Kevin melihat dua tangan sejoli itu bertautan saat tiba di hadapannya.
"Kak Melin sudah sehat, syukurlah." ujar Keira.
"Mau aku temani masuk?" tanya Reihan tiba-tiba.
"Aku akan masuk sama Keira, ayo Kei...!" ajak Melin.
"Tunggu!" Reihan menarik tangan Melin dengan pelan.
Deg
"Ya ampun, kenapa ini?"
"Jangan capek-capek ya. Kamu harus jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa hubungi aku." begitu kata Reihan.
"Iya, thanks." Melin tersenyum. "Bye..." Melin melambaikan tangan pada Reihan.
"Bye..." Reihan membalasnya.
Melin masih melihat sikap Reihan yang manis itu. Dia tersenyum, kemudian kembali fokus ke depan.
"Jadi berasa sudah pacaran saja." Melin menahan senyumnya.
Kevin dibuat kesal dengan pemandangan itu.
"Apa ini normal? Seorang kacung dengan majikannya bersikap seperti itu?!" cibir Kevin.
"Jika menurutmu tidak, maka jangan dilihat." balas Reihan dengan entengnya, kemudian berlalu dari hadapan Kevin.
"Sial!!!" geram Kevin.
Siapa sangka masalah itu berbuntur panjang. Kevin mengikuti mobil Reihan, ketika ada kesempatan dia memotong laju mobil yang dikemudikan Reihan. Beruntung Reihan sudah mahir, sehingga tidak sampai terjadi tabrakan karena ulah Kevin.
Kevin berkacak pinggang di depan mobil Reihan. Reihan pun turun dan mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Reihan.
"Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Melin!" kata Kevin.
"Apa masalahnya?" sahut Reihan.
"Tentu saja bermasalah. Karena kamu tidak pantas untuk Melin!" cibir Kevin.
"Oh begitu. Oke." Reihan kemudian berbalik, hendak kembali ke dalam mobil.
"Br*ngsek...!!!" geram Kevin yang kemudian mengejar Reihan.
Kevin menarik tangan Reihan dan membuatnya terlempar ke sisi mobil. Kemudian Kevin menarik merah bajunya.
"Aku tidak suka diremehkan...!!" Kevin tampak sangat marah.
"Tidak ada yang meremehkanmu." balas Reihan dengan tenang.
"Aku serius dengan ucapanku!" hardik Kevin yang semakin berang.
"Iya, terserah kamu. Lihatlah, mereka memperhatikan kita." mata Reihan melirik kiri dan kanan.
Beberapa orang sedang menonton mereka. Bahkan ada yang bersiap menyeberang jalan, mungkin untuk menegur mereka agar tidak meresahkan pengguna jalan lainnya.
"Aku sih tidak apa-apa, hanya kacung ini. Tapi bagaimana dengan wibawamu?" Reihan tersenyum tipis.
"Sial!" Kevin terpaksa menurunkan tangannya.
Kevin menunjuk wajah Reihan sebelum dia pergi.
__ADS_1
"Aku merasa dia sangat berbahaya. Aku harus lebih waspada dan terus memantau Melin."
......................