Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Kabur


__ADS_3

Kevin datang ke kamar membawa satu setel baju untuk Melin. Namun Melin tidak memberikan respon sedikitpun. Dia masih duduk di atas kasur, memeluk lututnya yang dia tutupi dengan selimut. Matanya bengkak, sembap, dan merah.


"Kenapa tidak dimakan?" ujar Kevin setelah melihat makanan di atas nakas yang masih utuh.


"Jangan sampai lapar, nanti kamu sakit. Aku yang sedih tahu..."


Kevin hendak mengusap rambut panjang Melin yang berantakan, namun tangan Kevin dengan cepat dihempaskan oleh Melin.


"Jangan sentuh aku..." ucap Melin pelan.


"Kenapa? Bahkan Reihan melakukan lebih dari ini saja kamu tidak keberatan." cibirnya.


"Dia suamiku!" teriak Melin dengan lantang.


"What...?!! Suami...?! Kamu yakin...?!" Kevin tertawa. "Mana mau om Adi punya mantu seorang supir, jongos, atau apalah itu. Itu tidak akan menaikkan derajatnya...!!" ujarnya.


Melin kemudian mengeluarkan kalung dengan cincin pernikahan sebagai bandul yang selalu dia kenakan.


"Lihat ini. Kami sudah menikah." tandas Melin.


Kevin meraih cincin itu, di sana terukir sebuah tanggal, serta nama Melin dan Reihan. Lalu tangan Kevin beralih mencengkeram kerah baju Melin.


"Jadi dia pelakunya, iya?!" teriak Kevin. "Sial...!!!" Kevin kembali mendorong tubuh Melin hingga menabrak headboard.


"Aah...!"


Melin merintih karena punggungnya menatap headboard dengan sangat keras. Bahkan rasa sakitnya seakan tembus ke bagian dada.


"Aku tidak akan membiarkan kamu bertemu pria brengsek itu lagi!" Kevin menunjuk wajah Melin.


"Mandilah, bersihkan dirimu dan ganti baju!" titah Kevin, lalu dia meninggalkan kamar itu.


"Ya Allah, aku mohon lindungi aku...!!" itulah do'a yang selalu dia panjatkan.


Kevin tidak muncul lagi sejak kejadian itu. Kesempatan itu Melin gunakan untuk mengotak-atik jendela kamar agar terbuka.


Langit menampakkan nuansa jingganya, pertanda sebentar lagi langit akan gelap. Namun usahanya belum membuahkan hasil. Sampai pada akhirnya dia tidak memiliki pilihan lain, kecuali memecahkan kaca besar yang terhubung dengan balkon.


"Aaaahhh...!!!!"


Teriakan penuh keputusasaan itu terdengar, lantaran sudah kesekiankaliannya kaca hanya mengalami retak.


Dengan sisa tenanganya, Melin kembali memukul kaca itu dengan kursi yang sedari tadi dia gunakan sebagai media penghancur. Dan akhirnya kaca itu pecah. Melin terus memukul hingga dirasa cukup untuk dia lewati.


"Aoh...! Sssttt...!!" Melin meringis karena bahunya tergores pecahan kaca yang masih tersisa.


Dengan bantuan seprai dia menuruni baklon. Kemudian berlari sambil memegangi bahunya yang terluka, dan darah mengucur dari bekas goresan itu.


Melin berhasil keluar dari kamar itu, tapi dia terkepung oleh tembok dan pagar yang tinggi.


"Toloooong....!!!" teriak Melin dari balik pintu pagar.


"Siapapun toloooong...!!!" Melin terus berteriak sambil menangis.


Beberapa saat kemudian, Melin mendengar suara mobil semakin dekat. Saat lampu mobil itu mengarah pada pagar, Melin pun bergegas mencari tempat untuk bersembunyi. Karena dia tidak ingin tertangkap lagi setelah usaha kerasnya keluar dari kamar itu.


Rupanya yang datang memang Kevin. Dia turun dari mobil dan membuka pagar itu. Saat Kevin memasukkan mobilnya, saat itulah Melin menyelinap dengan merangkak agar Kevin tidak melihatnya.


......................


Jantung Melin berdebar kencang, tubuhnya gemetar. Untuk berlari pun langkah kakinya sangat berat, seolah ada yang menariknya dari belakang. Rasa takut itu pun membuatnya tak mampu membuka suara. Hanya air matanya yang terus berderai, dan membuat wajahnya semakin kacau.


"Ya Allah, tolong aku. Jangan sampai dia menemukanku..."

__ADS_1


Entah benar ataukah salah langkah kakinya. Dia hanya bisa mengikuti nalurinya sekarang. Dia memilih pergi melalui jalur yang sepi. Karena dia yakin sekali, dia belum jauh dari kediaman Kevin. Kevin pasti sudah mengetahui kalau dia kabur, dan sekarang sedang mencarinya.


Melin berada di sekitar bangunan yang masih penuh dengan material. Beruntung masih ada penerangan di beberapa sudut.


"Siapa di sana...?!" seru seseorang.


Deg


Melin langsung mencari tempat sembunyi, sambil menutup mulutnya. Tapi justru dia dikejutkan oleh keberadaan orang di belakangnya.


"Sedang apa kamu?!" tanya orang itu.


Melin pun berdiri dan berusaha mengatakan sesuatu pada orang itu. Tapi bibirnya seolah terkunci.


Pria dewasa dengan setelan pakaian kerja lusuh, lengkap dengan helm dan sepatu botnya itu, melihat Melin dari atas sampai bawah. Rasa iba campur penasaran menyelimuti hatinya.


"Tanganmu terluka. Kamu habis kecelakaan?" tanya pria itu. Melin menggeleng.


"Kamu habis tawuran?!" terkanya lagi. Lagi-lagi dia hanya mendapat jawaban dengan gelengan.


"Kamu ketakutan?!"


Melin mengangguk.


"Saya tidak akan menyakitimu. Saya juga punya anak perempuan masih sekolah sepertimu." ujarnya.


"Ayo ikut saya, saya ambilkan minum." katanya.


Melin masih ragu. Dia memperhatikan pria asing itu lekat-lekat. Kemudian dia memutuskan untuk mengikutinya. Setelah meyakinkan dirinya kalau bapak itu orang baik.


Sang bapak membawa Melin ke sebuah tempat istirahat yang biasa dia gunakan bersama rekan-rekannya. Di sana masih ada galon berisi air, beberapa kue, juga buah.


"Minumlah, ini juga makanlah. Seadanya saja. Ini lebihan pekerja tadi." katanya.


"Jadi namamu Melin..." ujar bapak itu. "Saya Wanto. Pekerja di sini." si bapak memperkenalkan diri.


"Jadi apa yang terjadi padamu, nak?" tanya si bapak setelah ia merasa Melin mulai membaik, karena sudah menjawab pertanyaannya.


"Saya diculik. Tolong bantu saya keluar dari sini....!!" ujar Melin, air matanya kembali menetes.


"Astaghfirullah...!" bapak itu terkejut.


Ketika bapak itu hendak membuka pintu, dia melihat Melin yang tiba-tiba meringkuk di bawah sambil menutupi kepalanya. Si bapak menoleh ke sekeliling tempat. Rupanya ada seseorang sedang menuju ke arahnya.


"Siapa ya?" gumam pak Wanto. "Ada apa mas?" tanya pak Wanto sambil mendekati orang itu.


"Apa bapak melihat seorang perempuan di sekitar sini?"


Si bapak langsung peka. Dia yakin kalau orang di hadapannya saat ini adalah penculik yang dimaksud oleh Melin. Dan memang benar orang itu adalah Kevin. Melin dari kejauhan sudah bisa menebak kalau itu Kevin, meski gelap, tapi cara jalannya benar-benar mirip Kevin. Sehingga Melin langsung meringkuk ke bawah.


"Masnya ini kok lucu. Lha ini bangunan berantakan, seram begini. Mana ada perempuan datang kemari." katanya sambil tersenyum.


"Saya tadi cek sekeliling, tidak ada apa-apa. Tapi kalau masnya tidak percaya, ya monggo dicari ke dalam. Saya permisi, anak dan istri sudah menunggu di rumah." katanya.


Setelah Kevin memasuki bangunan itu, bapak tadi segera masuk mobil dan menyalakan mesinnya.


"Orang ganteng dan berwibawa begitu kok ya tega culik anak gadis orang." gerutunya sambil fokus menyetir.


"Keluarlah, nak. Kita sudah jauh." katanya kemudian.


Melin pun mengikuti instruksi si bapak.


......................

__ADS_1


Melin tiba di sebuah rumah minimalis di pinggiran kota. Seorang wanita menyambut kedatangan mereka. Melin yakin itu adalah istri si bapak. Setelah sampai di ruang tamu, pak Wanto menceritakan semuanya pada sang istri. Juga pada anak gadisnya.


"HP kamu bawa sini, nduk. Biar nak Melin menelepon keluarganya. HP bapak mati." katanya.


"Iya, pak." gadis itu pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya.


Tak lama kemudian gadis itu kembali, dan memberikan handphonenya pada Melin.


Melin menghubungi Reihan, karena hanya nomor suaminya yang mudah dia ingat.


"Kak Rei..." air mata Melin kembali menetes untuk kesekian kalinya.


"Aku baik, ada keluarga baik yang menolongku." Melin melihat ketiga orang baik yang bersamanya saat ini.


"Iya."


Setelah mengakhiri panggilannya, Melin mengirim lokasinya saat ini.


"Terimakasih." kata Melin.


"Iya, nak. Sama-sama." balas ibu.


"Nduk, antar mbaknya ke kamar mandi. Pinjami bajumu. Kayaknya kok muat." kata ibu.


"Baik, bu. Ayo, mbak." gadis itu mengulurkan tangannya untuk menggandeng Melin.


Selesai mandi tubuhnya menggigil. Karena dia tidak pernah mandi malam dengan air dingin. Mau minta air hangat juga tidak mungkin, dia tidak mau merepotkan orang yang sudah menyelamatkannya.


"Pakai jaket ini, mbak. Kayaknya muat." katanya.


"Terimakasih." jawab Melin.


Tiba di ruang makan, sudah ada teh hangat dan nasi goreng yang dibeli bapak di jalan tadi. Lagi-lagi Melin tidak mampu menolak, dan memilih yang lain. Dia pun menyantap semuanya yang disuguhkan dengan basmallah.


Apa yang Melin takutkan benar-benar terjadi. Dia terus saja batuk ketika menunggu kedatangan Reihan.


"Kamu batuk, nak." kata ibu.


"Bukannya ibu nyimpan obat batuk ya?" sahut anak gadisnya.


"Coba bawa kemari kotaknya." titah ibu.


Beberapa saat kemudian gadis itu kembali membawa kotak obat.


"Maaf, boleh saya lihat." ujar Melin.


Kali ini Melin tidak mau diam saja. Dia memilih obat yang bisa dia konsumsi.


"Alhamdulillah..." batin Melin saat menemukan obat yang kandungannya sama dengan obatnya.


"Ada?" tanya ibu.


"Iya." Melin mengangguk.


"Mbak Melin mau menunggu di kamar? Barang kali di sini terlalu dingin." ujar gadis itu.


"Tidak apa-apa, di sini saja." balas Melin.


"Sebaiknya di dalam kamar saja. Lebih hangat." timpal ibu.


Akhirnya Melin pergi ke kamar lagi sambil rebahan. Karena kelelahan ditambah lagi dengan efek samping obat yang baru saja dia minum, Melin pun terlelap begitu cepat.


......................

__ADS_1


__ADS_2