Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Sebuah Tantangan


__ADS_3

Reihan setengah berlari menuju halaman parkir. Dia tidak ingin terlambat menjemput Melin. Karena dia khawatir kalau Kevin lebih dulu sampai di sana dan melakukan sesuatu pada Melin.


"Rei, aku nebeng ya." ujar Bunga yang sudah berada di sisi mobil Reihan.


"Sorry, aku buru-buru." balas Reihan.


Reihan tidak memperdulikan Bunga yang terus menggerutu. Dia segera masuk mobil dan meluncur ke sekolah Melin.


"Sepertinya cewek itu benar-benar memperbudak Reihan...!!" dengus Bunga.


Sementara Reihan sudah keluar dari lingkungan kampusnya. Beruntung jalanan tidak begitu ramai, sehingga Reihan bisa leluasa menambah kecepatannya.


Setelah sampai di depan gerbang sekolah Melin, Reihan menghubungi Melin.


"Aku sudah sampai." kata Reihan.


"Aku baru keluar dari ruang guru. Sebentar ya kak."


Reihan bisa bernafas lega. Setelah mengakhiri panggilannya, Reihan turun untuk menyapa pak Supri. Sekaligus adik-adik kelasnya yang lewat.


"Aman, pak?" sapa Reihan.


"Aman terkendali." jawabnya. "Kemarin beberapa dari angkatan kamu juga datang ke sini."


"Oh iya, ada acara apa?" tanya Reihan.


"Hanya ingin mengunjungi wali kelasnya katanya."


"Oh..."


"Itu sudah keluar yang ditunggu-tunggu." kata pak Supri dengan mata genitnya menggoda Reihan.


Reihan menoleh, Melin kemudian melambaikan tangannya.


"Saya juga menunggu, lho." katanya lagi.


"Menunggu siapa, pak?" tanya Reihan.


"Undangan pernikahan kalian."


Reihan hanya menggelengkan kepalanya. Bisa-bisa pak Supri menggodanya.


"Do'akan saja berjodoh, pak." balas Reihan.


Setelah Melin sampai di pos, mereka pun pamit pada pak Supri.


"Kak..."


"Ya?!" balas Reihan.


"Minggu depan ada acara?" tanya Melin.


"Palingan kerja. Kalau kamu tidak ada kegiatan, dan diam di rumah." balas Reihan.


"Nih!" Melin memberikan undangan pada Reihan.


Reihan pun mengurungkan niatnya untuk menyalakan mobil.


"Keira ulang tahun. Aku akan antar. Jangan khawatir." begitu kata Reihan.


"Aku mau kak Rei temani aku. Bukan cuma mengantar." Melin memperjelas lagi maksudnya.


"Aku?!" Reihan menunjuk dirinya dengan undangan yang ada di tangannya.


"Aku tidak mau sendirian. Aku tidak datang juga tidak enak sama Keira. Kalau datang, pasti ketemu kakaknya." raut wajah Melin tampak murung.


"Kalau tidak nyaman, kamu tidak harus datang kan." begitu kata Reihan.


"Nggak enaklah, kak. Aku sakit saja Keira ikut menjenguk." balas Melin.


"Baiklah, demi rasa ti-dak e-nak itu, aku akan temani kamu." putus Reihan.


"Thanks, kak..." Melin tersenyum sangat manis.


"Tapi tidak sampai selesai ya. Aku tidak mau membawamu pulang terlalu malam." itulah syarat yang diajukan oleh Reihan.


"Apa kata kak Rei sajalah." balas Melin yang setuju-setuju saja dengan Reihan.


......................


Hari itu pun tiba. Reihan sudah menunggu Melin di depan rumah ditemani papanya.


"Ajak dia pulang sebelum terlalu malam ya, Rei. Jujur saya masih takut kalau kejadian waktu itu terulang lagi." papa Adi mengutarakan kegelisahannya.


"Iya, pak. Saya sudah katakan pada Melin, kalau tidak perlu berlama-lama." balas Reihan.


"Terimakasih." kata papa Adi. "Biar paman Lukman ikut bersama kalian, untuk berjaga-jaga. Bagaimana?" ujarnya kemudian.


"Boleh." balas Reihan.


Malam itu pun Melin pergi bersama paman Lukman dan Reihan.

__ADS_1


"Masuk dulu ya paman." kata Reihan.


"Siap." balas paman Lukman.


Kedatangan Melin dan Reihan disambut hangat oleh beberapa undangan yang mengenal mereka. Seperti Sasha, Ben, dan beberapa siswa yang bersekolah di tempat yang sama dengan mereka.


Tapi ada juga sepasang mata yang menatap tak suka dengan keduanya.


"Kak..., please. Jangan buat kacau partyku." bisik Keira pada Kevin.


Keira kemudian meninggalkan Kevin untuk menyapa Melin dan Reihan.


"Aku pikir kakak nggak datang." begitu katanya.


"Datanglah, tapi nggak bisa lama ya. Soalnya mau ada acara sama papa juga." balas Melin.


"Oke. Yang penting sekarang kakak datang." kata Keira. "Kak Reihan jangan sungkan, ayo gabung sama yang lain." ucapnya dengan ramah.


Di tengah acara Melin ingin pergi ke kamar mandi. Dan Sasha menemaninya.


"Tunggu ya, ada yang nggak nyaman ini." kata Sasha setelah Melin keluar.


"Jangan lama." balas Melin. Sasha mengacungkan ibu jarinya sebagai jawaban.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Melin, hingga membuat Melin terperanjat.


"Kak..." kata Melin.


"Ngapain sendirian di sini?" tanya Kevin sambil melihat keadaan sekitar.


"Aku sama Sasha kok." begitu balas Melin.


"Aku pikir sama pengawal kamu itu." nada suara itu seolah meremehkan Reihan.


"Ada di depan kalau kak Kevin ingin bertemu." ujar Melin.


"Buat apa? Aku ke sini untuk menemuimu." kata Kevin.


"Harusnya tidak di tempat ini? Ini sangat tidak sopan." balas Melin.


Ceklek


Sasha keluar dari kamar mandi. Dia kaget saat di luar sana Melin sedang bersama Kevin.


"Sudah?" tanya Melin. "Ayo balik!" ajak Melin.


Tapi Kevin menahan tangan Melin.


"Kamu tidak dengar...? Aku ingin menemuimu." ucap Kevin dengan tegas.


"Kak Kevin, jangan kasar dong!" Sasha berusaha menolong Melin.


"Aku tidak ada urusan sama kamu!" kata Kevin sambil menatap tajam si Sasha.


"Ikut aku!" Kevin terus menarik tangan Melin.


"Ngga maauuu...!!!" Melin terus berusaha menarik tangannya.


"Meel..!!" Sasha masih berusaha membantu Melin.


"Lepaskan Melin!!"


Suara yang tak asing itu membuat Melin merasa terselamatkan. Tapi tidak dengan Kevin, dia terlihat sangat kesal.


"Punya telinga kan??! Lepas!!!" bentak Reihan sekali lagi.


Kevin menghempaskan tangan Melin sambil menyeringai. Sasha dengan sigap menangkap tubuh Melin yang terhuyung ke arahnya.


Kini Kevin sudah berhadapan dengan Reihan. Menatap wajah Reihan dengan segudang amarah.


"Jaman sekarang babu pada belagu ya!" cibir Kevin.


"Kamu tidak tahu siapa aku, hah?! Sampai kamu berani membentakku." ujarnya.


"Sangat tahu. Bahkan semua orang tahu kamu. Hanya saja mereka tidak tahu sikap kasar kamu." balas Reihan dengan mode tenang.


"Dengar...!!" Kevin menunjuk wajah Reihan. "Sebesar apapun usahamu menjaga Melin, itu tidak akan berarti apa-apa. Karena kamu dan Melin bagai bumi dan langit. Tetap saja statusnya majikan dan jongosnya. Tidak lebih!" Kevin tersenyum miring setelah mengatakan hal itu.


"Kak Kevin!" sahut Melin menegur Kevin.


"Itu kenyataannya, Mel. Jangan coba menutup mata dengan apa yang jelas-jelas tampak di hadapan kamu saat ini." balas Kevin.


"Dan kenyataannya, kakak tidak lebih baik dari kak Rei." Melin kembali membalasnya.


"Aku...?! Tidak lebih baik dari babumu ini...?! Yakin kamu...?!!" Kevin kembali memamerkan senyum sinisnya.


"Sangat yakin!" jawab Melin dengan tegas. "Ayo kak, jangan hiraukan dia." Melin menarik tangan Reihan.


"Aku pastikan kamu akan menyesali ucapanmu Mel...!!" Kevin kembali menyeringai.


Setelah kejadian itu Melin pamit pulang pada Keira dan orang tuanya. Begitu pula dengan Sasha dan Ben.

__ADS_1


"Coba lihat tangannya!" ujar Reihan sambil menarik tangan Melin. "Sakit?" tanya Reihan.


"Agak panas sih." jawab Melin.


"Tidak apa, hanya sedikit merah. Maafkan aku tidak segera datang." kata Reihan.


"Aku tidak apa-apa, kak." Melin tersenyum pada Reihan.


"Lain kali aku tidak akan membiarkan kamu pergi tanpa aku." tutur Reihan yang masih mengusap pergelangan tangan Melin.


"Ke toilet sekalipun?" sahut Melin.


"Kemanapun!" Reihan kembali menegaskan.


"Diiih, mana bisa. Itu zona privat tahu..." Melin membalasnya dengan candaan.


"Aku tidak suka kamu bercanda dalam keadaan seperti ini, Mel." nada suara Reihan begitu dingin dan datar.


"Aku sungguh tidak mau kamu kenapa-napa." tambahnya.


"Maaf..." ujar Melin lirih.


"Kenapa? Kamu takut padaku? Apa aku terlalu jahat?" cicit Reihan. Melin menggeleng.


"Mungkin kamu berpikir aku berlebihan sebagai babumu. Tapi aku seperti ini karena aku sayang sama kamu, Mel." ujar Reihan.


Melin menatap Reihan. Matanya berkaca-kaca.


"Kalau kakak benar-benar sayang sama aku, buktikan!" tantang Melin. "Datang dan katakan pada orang tuaku kalau kakak sayang sama aku!"


Reihan terdiam.


"Kenapa diam? Kak Rei tidak berani kan?!"


"Setelah aku melakukannya, apa kamu siap dengan segala konsekuensinya?!" Reihan memberikan serangan balik.


"Siap! Lakukan saja!" Melin menjawab dengan sangat berani.


"Itu mobilnya." Reihan menunjuk mobil yang mendekati mereka. "Sebaiknya kita lanjutkan besok." kata Reihan.


......................


Hari masih sangat pagi ketika Reihan sampai di halaman pemakaman umum. Dia memutuskan untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya, sebelum melakukan sesuatu yang sudah dia pikirkan sejak pulang dari pesta malam itu.


"Semoga aku tidak salah mengambil keputusan ayah, ibu..." katanya.


Selesai menabur bunga, Reihan meninggalkan tempat itu. Lalu dia lanjut menjemput Melin seperti biasanya.


"Kak Rei tidak ada kuliah?" tanya Melin saat tidak melihat keberadaan tas milik Reihan di bangku penumpang.


"Tidak ada. Ditunda besok." jawabnya.


"Kak Rei habis ngelayat? Kok pakai hitam-hitam?" tanya Melin lagi.


"Tidak. Aku hanya pergi mengirim do'a untuk mendiang orang tuaku."


"Oh..." hanya itu balasan Melin.


"Kenapa dia beda sekali. Dingin sekali. Apa dia masih tersinggung dengan ucapanku waktu itu ya...?!" pikir Melin.


Setelah mengantar Melin, Reihan tidak kembali ke kediaman Adi Widjaya ataupun toko kue bi Ismi. Dia justru meluncur ke kantor papa Melin, setelah memastikan kalau dia mendapatkan izin untuk bertemu.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan, Rei...?" tanya papa Adi.


"Soal Melin, pak." jawab Reihan.


"Ada masalah apa dengan putri saya?"


"Malam itu di pesta Keira..." Reihan menceritakan semuanya.


Seorang ayah itu tersenyum puas dengan keberanian putrinya. Terkesan konyol, tapi setidaknya Melin berhasil membuat Reihan mengakui perasaannya pada Melin di hadapan orang tuanya.


"Jadi sekarang kamu kemari untuk minta restu memacari anak saya?!" sahut papa Adi. "Kan sudah pernah saya katakan waktu itu, saya merestui kalau kalian memang ingin menjalin sebuah hubungan." imbuhnya.


"Terimakasih, pak." balas Reihan.


"Bahkan kalau kalian ingin menikah muda, saya akan mengurus semuanya." kata papa Adi.


"Saya belum mampu menafkahi putri bapak. Bahkan saat ini saya masih berstatus mahasiswa." ujar Reihan yang sangat tidak percaya diri.


"Reihan. Saya tahu kamu punya prinsip. Andai kamu bisa menerima bantuan saya, saya bisa mengatur segalanya. Tapi saya menghargai pendirian kamu. Itu menunjukkan kalau kamu benar-benar pria yang bertanggung jawab, dan tidak ingin menyusahkan orang lain."


"Terimakasih atas pengertian bapak."


"Pesan saya, kalian harus tahu batasan. Jangan mengecewakan keluarga." tutur papa Adi.


"Iya, pak."


"Jika memang sulit, ya solusinya itu. Kalian menikah saja." papa Adi memelankan volumenya pada kalimat terakhir yang dia ucapkan.


Deg

__ADS_1


"Anak dan bapak ini kenapa selalu mengujiku...??!!" batin Reihan


......................


__ADS_2