Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Pelukan Kangen


__ADS_3

Pak Wanto dan istrinya sedang menunggu kedatangan keluarga Melin di teras rumahnya. Tak seberapa lama kemudian, mereka mendengar suara mobil yang sepertinya lebih dari satu mulai mendekat. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobil pick-up miliknya. Diikuti mobil-mobil lainnya yang parkir di belakangnya, bahkan ada yang di depan mobil pick-up.


"Lha kok buanyak sekali lho, bu? Masa ini yang mau jemput?!" pak Wanto sedikit panik.


"Ya mana ibu tahu, pak..." balas si ibu.


Semua yang turun dari mobil adalah seorang pria dengan setelan baju yang rapi dan serba hitam. Mereka berjajar rapi dengan posisi siaga di sekitar rumah pak Wanto. Ada satu orang yang tampak berbeda, hanya menggunakan celana jeans dengan kaos dan jaket. Dia memasuki halaman rumah pak Wanto ditemani oleh dua orang dengan pakaian yang lebih formal. Mereka adalah Reihan, papa Adi, dan Guntur.


Kedatangan mereka tentu saja menjadi pusat perhatian beberapa warga. Bahkan yang tadinya tertidur pun jadi bangun karena mendengar suara mobil-mobil itu. Mereka berbondong-bondong keluar dari rumah untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Assalamu'alaikum..." papa Adi memberi salam pada pasangan suami istri yang tampak gugup itu.


"Waalaikumsalam." balas pak Wanto.


"Kami datang untuk menjemput Melin." kata papa Adi.


"Maaf. Kalian ini siapa?" tanya pak Wanto.


Jelas saja pak Wanto khawatir, karena penampilan mereka terlihat menakutkan. Apalagi dengan pengawalan bak seorang presiden. Dia takut kalau sebenarnya yang datang bukanlah keluarga dari gadis yang ada di dalam rumahnya saat ini.


"Kami keluarganya. Saya suaminya, Reihan." sahut Reihan yang sudah tidak sabar bertemu dengan Melin.


Pak Wanto dan sang istri saling pandang. Mereka sama-sama belum percaya. Bagaimana mungkin seorang pelajar memiliki suami...?! Begitulah pikir mereka.


Menyadari keraguan kedua orang tersebut, Reihan segera menunjukkan foto mereka yang ada di handphonenya. Setelah itu barulah ketiganya dipersilakan masuk.


"Mereka pasti tertidur, biar saya panggilkan." kata pak Wanto. "Ibu bikinkan minum ya!" titah si bapak.


"Tidak perlu repot-repot." sahut Guntur. "Bapak duduk saja di sini bersama kami." katanya kemudian.


"Duduk, pak. Biar ibu saja yang panggil." istri pak Wanto tampaknya masih sedikit takut dengan mereka.


Sampai di kamar anak gadisnya, sang ibu membangunkannya dengan lembut.


"Ada apa, bu?" tanya gadis itu yang belum sepenuhnya membuka mata.


"Keluarganya sudah datang, ayo bangun....!" katanya.


Si ibu menyentuh Melin bermaksud membangunkannya. Tapi dia merasakan hawa panas dari tubuh gadis itu.


"Ya Allah, dia demam. Cepat panggil orang-orang di depan, nduk...!" titah ibu.


Tak lama kemudian mereka tiba di dalam kamar yang sempit itu. Guntur hanya bisa menunggu di depan pintu karena minimnya ruang di dalam sana.


"Panasnya tinggi, paa." ujar Reihan. "Kita harus ke rumah sakit sekarang." Reihan segera menggendong Melin dan membawanya keluar.


"Bertahan sayang..." ujarnya lirih.


"Guntur, kamu urus yang di sini. Papa akan temani Reihan." sang papa memberi perintah pada Guntur.


"Pak, bu. Terimakasih atas semuanya. Mohon maaf, saya harus segera membawa Melin ke rumah sakit." ujar papa Adi pada pak Wanto.

__ADS_1


"Iya, pak." hanya itu jawaban pak Wanto.


Pak Wanto dan keluarganya juga menyadari bahwa saat ini yang lebih utama adalah menyelamatkan Melin.


......................


Reihan tidak pernah meninggalkan Melin sejak mereka sampai di rumah sakit. Dia terus menggenggam erat tangan Melin, sambil memanjatkan do'a untuk kesembuhan sang istri.


"Istirahatlah, Rei..." kata mama Yunita.


"Tidak, ma. Aku akan di sini sampai Melin bangun.


Mama Yunita hanya bisa mengusap bahu Reihan. Ini sudah kesekian kalinya mama Yunita menyuruh Reihan beristirahat. Karena Reihan sudah menghabiskan banyak waktu untuk mencari Melin, bahkan dia sampai tidak memikirkan dirinya.


Tengah malam itu Melin terbangun, dia melihat Reihan tertidur di sampingnya.


"Kak Rei..." ucapnya masih lemah.


Reihan tak merespon. Sampai Melin menarik tangannya, barulah dia terbangun.


"Melin..." Reihan sangat bahagia melihat Melin malam itu.


"Haus..." katanya.


"Sebentar." Reihan menuangkan air minum di dalam gelas.


"Kenapa aku di sini?" tanya Melin.


"Kamu demam, jadi kami langsung membawamu ke mari." kata Reihan.


"Setelah kamu sembuh, kita akan pergi kesana bersama. Oke?" ujar Reihan. Melin pun mengangguk.


"Mama dan papa mana?" tanya Melin.


"Mereka di rumah. Besok pagi-pagi ke sini lagi."


"Tidur lagi ya..." kata Reihan kemudian.


"Kak Rei temani aku." Melin bergeser untuk memberi ruang pada Reihan.


Melin memeluk Reihan. Dia menenggelamkan wajahnya di dada Reihan. Akhirnya dia menemukan tempat ternyamannya kembali. Reihan pun membalas pelukan itu, sambil mengecup puncak kepala Melin penuh sayang. Dia sengaja tidak menanyakan apapun pada Melin. Karena itu pasti akan sangat menyakitkan bagi Melin. Dia memilih diam, sampai nanti Melin sendiri yang menceritakan semuanya.


"Kangeeen..." gumam Melin.


"Aku juga." balas Reihan.


"Terimakasih ya Allah, Engkau kembalikan aku pada suamiku tanpa kurang suatu apapun." batin Melin.


Air mata Melin menetes dalam dekapan Reihan. Dia tidak bisa membayangkan, apa jadinya kalau dia gagal kabur dari tempat itu. Reihan bisa sangat kecewa padanya. Dan mungkin akan meninggalkannya.


"Jangan pernah pergi lagi tanpaku, mengerti?" tutur Reihan. Melin mengangguk.

__ADS_1


"Peluk erat lagi, jangan dilepas. Aku sangat kangen sama kamu." ujar Reihan.


Melin menurut saja, dia mempererat pelukannya. Dia tidak ingin jauh-jauh lagi dari Reihan. Perpisahan beberapa jam itu benar-benar membuat Melin ketakutan. Bahkan dia sempat berpikir, kalau dia tidak akan selamat. Beruntung dia bertemu dengan


"Aku mencintaimu, Mel. Sangat mencintaimu. Meski terkadang aku masih terganggu dengan latar belakangku yang hanya sebatang kara, dan tidak memiliki apa-apa. Jauh sekali dibandingkan denganmu." batin Reihan.


Iya, Reihan memang masih memikirkan hal itu. Meski sudah menikahi Melin, dia tetap saja merasa belum pantas bersanding dengan Melin. Padahal mertua dan kakak iparnya menerimanya dengan tulus tanpa memandang status sosialnya.


......................


Sementara itu di rumah sakit tempat Keira di rawat. Kevin terkejut melihat dua orang polisi berada di dalam kamar sang adik.


"Ma, pa..." gumam Kevin. "Ada apa ini?" tanya Kevin.


Awalnya Kevin berpikir ini masih ada hubungannya dengan kasus Keira. Tapi Kevin melihat tatapan aneh dari orang tua serta adiknya. Dia pun sadar kalau dia telah salah menerka. Saat Kevin hendak kabur, dua orang polisi lagi muncul dari arah pintu masuk. Disusul kemudian oleh Guntur.


"Tangkap dia!" titah Guntur


Kedua polisi itu pun langsung meringkus Kevin.


"Apa-apaan ini?!" Kevin memberontak.


"Saudara Kevin, anda ditangkap atas tuduhan penculikan. Silakan ikut kami ke kantor!" ujar seorang petugas.


"Siapa menculik siapa? Jangan asal tangkap orang!" Kevin terus membantah.


"Sebaiknya anda jelaskan nanti di kantor." kata petugas itu lagi.


"Pak, tolong jangan tangkap anak saya." sang mama yang merasa iba, memohon-mohon pada petugas tersebut.


"Ma, Kevin nggak salah ma. Tolong Kevin...!!" teriak Kevin saat diseret keluar dari kamar.


"Guntur, kita bisa bicarakan ini baik-baik, nak. Tante mohon...!" mama Kevin menggengam erat tangan Kevin.


"Maaf, tidak bisa. Kevin sudah keterlaluan." balas Guntur dengan tegas.


"Dia hanya bingung menunjukkan rasa sayangnya pada Melin. Percayalah...!!" bujuknya.


"Mama, cukup!" bentak suaminya.


"Pa, itu anak kita ditangkap." ujar mama Kevin sambil menangis.


"Dia sudah keterlaluan. Biarkan dia mempertanggungjawabkan perbuatannya. Anak tidak tahu diri! Tidak pernah jera!" ujar sang papa.


"Kalau begitu saya permisi. Selamat malam." pamit Guntur.


"Kak Kevin..., jadi benar kakak yang menculik kak Melin. Kenapa kakak melakukan itu, kak...?! Apa kakak tidak mikir, kalau kelakuan kakak itu membuatku jadi bahan bullyan...!!" batin Keira.


"Jangan menangis, nak. Kakakmu memang harus bertanggung jawab." sang papa memeluk Keira. Tanpa tahu apa yang ada dalam benak Keira sebenarnya.


"Fokus saja sama pemulihanmu ya." katanya lagi.

__ADS_1


Sedangkan sang istri masih sibuk meratapi anak pertamanya yang dibawa oleh polisi.


......................


__ADS_2