
Reihan pergi ke rumah pak Adi Widjaya sebelum berangkat kuliah. Dia ingin melihat kondisi sang kekasih yang sejak kemarin membuatnya gelisah.
"Kamu datang? Tapi Melin tidak sekolah. Dia masih butuh istirahat." ujar papa Adi sedikit ketus.
"Pa..." tegur sang istri.
"Iya, pak. Maaf, saya datang kemari untuk menjeguk Melin. Apa boleh?"
Reihan tetap memberanikan diri minta izin pada bosnya itu, meski wajahnya pagi ini sangat tidak bersahabat.
"Masuk saja!" ujarnya.
"Terimakasih, pak." balas Reihan.
Tapi Reihan belum beranjak dari teras rumah mewah itu. Dia akan masuk ketika papa Adi sudah berangkat bekerja.
"Ayo masuk, Rei...!" ajak mama Yunita.
"Bagaimana keadaan Melin, bu?" tanya Reihan.
"Baik. Hanya sering melamun saja. Saya jadi khawatir. Semalam dia tanya soal kamu juga. Dia pikir kamu tidak ada, karena dipecat sama papanya." mama Yunita tersenyum sejenak di akhir ceritanya.
Mama Yunita mengantar Reihan hingga ke kamar Melin. Lalu meninggalkan mereka berdua di dalam sana, dengan pintu yang dibiarkan tetap terbuka lebar.
"Pagiii, pacarku..." Reihan menyapa Melin sambil menggodanya.
Melin hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu dia mengulurkan tangannya untuk menyambut Reihan.
"Sudah baikan?" tanya Reihan dengan senyum manisnya, sambil menggengam tangan Melin. Melin pun mengangguk.
"Kak Rei kemana saja? Kenapa semalam tidak di sini?" tanya Melin.
"Aku harus pulang, maaf ya..." katanya.
"Aku pikir kak Rei dipecat..." gumam Melin.
"Aku pikir juga begitu." balas Reihan.
"Papa marah ya?" tanya Melin.
"Em." Reihan mengangguk. "Bahkan papamu menghukumku." adu Reihan dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.
"Dihukum? Apa hukumannya...?!" Melin sangat terkejut.
"Orang tuamu belum cerita?" Reihan balik bertanya. Melin menggelengkan kepalanya.
"Papamu minta kita menikah." kata Reihan.
"APA...?!"
Melin sangat terkejut dengan hukuman yang dibuat oleh papanya.
"Kita diberi waktu tiga hari dari sekarang untuk memikirkannya." sambung Reihan.
"Aku mau ketemu papa!" Melin menyibakkan selimutnya.
"Eh...!" cegah Reihan. "Papamu sudah berangkat kerja. Nanti saja kita menghadap bersama. Setuju...?!" bujuk Reihan.
"Kak Rei mau kita segera menikah...?!" tanya Melin dengan suara pelan.
"Aku ikut kamu saja. Senyamannya kamu. Aku siap menerima segala keputusan kamu." balas Reihan.
"Kalau aku belum siap?!" gumam Melin.
"Tidak apa-apa." sahut Reihan.
"Kita bahas lagi nanti ya. Aku harus ke kampus." Reihan menoel hidung Melin.
"Em. Hati-hati."
"Pasti. Istirahat ya, jangan pikirkan yang macam-macam. Oke...?!"
"Em." Melin mengangguk.
......................
Ketika Reihan sampai, rupanya Bunga sudah berada dalam kelas. Bunga yang tadinya sedang ngobrol dengan Anya, langsung saja menyusul Reihan yang berjalan menuju kursinya.
"Rei, terimakasih untuk yang kemarin." katanya.
__ADS_1
"Em."
"Hari ini aku siap latihan lagi." katanya lagi.
"Kalau tidak serius, tidak perlu. Riska bisa menggantikanmu." ucap Reihan.
"Kok begitu?!" sentak Bunga.
Tiba-tiba Reihan baru ngeh kalau dia mencium aroma yang sangat familiar. Parfum yang biasa dipakai Melin. Tapi sumbernya dari Bunga. Dia kemudian melihat penampilan Bunga yang berbeda dari biasanya. Dan Reihan tersenyum miring.
"Ke..., kenapa melihatku..., seperti itu, Rei...?!" Bunga sedikit gugup.
Reihan melewatinya begitu saja. Dia tidak habis pikir. Setelah Bunga mengatakan kalau dirinya sakit. Sekarang dia hadir dengan style barunya yang terinspirasi dari Melin. Model rambut, bahkan sampai aroma parfum dia mengikuti selera Melin.
"Kenapa, bro?" tanya Nathan.
"Cewek itu memang aneh." gumam Reihan sambil duduk di depan Nathan.
"Siapa? Melin?" sahut Nathan. "Eh, by the way..., bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sudah mendingan, tapi belum bisa masuk sekolah." jawab Reihan.
"Si Kevin itu katanya ditahan?" tanya Nathan lagi.
"Harusnya begitu. Tapi mungkin hanya sebentar, kamu tahulah orang-orang di kalangan mereka pasti banyak menyimpan taktik yang licik." ujar Reihan.
"Aislaaah..., yang sudah bergaul dengan golongan tuan Adi Widjaya, bahasanya serem banget sekarang...!!" canda Nathan.
"Tapi syukurlah kalau Melin tidak apa-apa. Pas dengar kabarnya aku sampai berpikiran macam-macam."
"Sama. Itu juga yang aku pikirkan saat Sasha meneleponku." Reihan teringat momen menegangkan hari kemarin.
"Mau ngapain lagi dia...?" gerutu Reihan.
"Siapa?" Nathan ikutan menoleh ke belakang.
Rupanya Bunga datang ke kantin juga. Reihan pikir Bunga sengaja menyusulnya. Tapi dia salah, Bunga hanya sedang sarapan dengan Anya.
"Style baru, nih." kata Nathan. "Tapi kayak familiar gayanya..."
Reihan kembali tersenyum miring. Dan itu tak luput dari pantauan Nathan.
"Dia ini sebenarnya terobsesi sama kamu atau Melin sih?" Nathan melirik Reihan.
"Tidak peduli." sahut Reihan.
"Bunga..., Bunga..." Nathan geleng-geleng kepala.
Beberapa jam berlalu. Setelah jam kuliah usai, Reihan dan kelompoknya melakukan persiapan terakhir untuk tugas yang akan disetorkan besok pagi. Sesuai dengan kesepakatan bersama, Bunga diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Dan Bunga melakukan yang terbaik.
"Siip...!" seru Farel.
Bunga pun tersenyum senang. Berbanding terbalik dengan Reihan yang ekspresinya minimalis.
"Semoga besok berjalan lancar." kata Riska.
"Aamiin...!!" balas semuanya, kecuali Reihan.
Setelah itu mereka mengemas barangnya masing-masing.
"Aku duluan ya." pamit Riska.
"Aku juga." sahut Farel.
Reihan hanya mengangkat tangannya sebagai respon. Setelah keduanya pergi, Bunga menghampiri Reihan yang sibuk dengan ponselnya.
"Rei, terimakasih sudah kasih aku kesempatan lagi." ujarnya dengan suara yang lembut.
"Berterimakasihlah sama Farel dan Riska." kata Reihan.
"Iya, aku juga sudah melakukannya." balas Bunga. "Kamu tidak pulang?" tanya Bunga.
"Nanti." katanya.
"Oh, iya Rei. Aku dengar pacarmu habis mendapat pelecehan. Aku turut prihatin ya..."
Sontak saja Reihan menatap tajam mata Bunga.
"Jaga bicaramu!" sentak Reihan. "Itu tidak terjadi pada Melin." katanya.
__ADS_1
"Rei..., aku tahu kamu pasti terpukul. Aku bi..." Bunga berusaha menyentuh tangan Reihan, tapi ditangkis dengan cepat oleh Reihan.
"Dengar Bunga!" nada itu rendah, tapi terdengar sangat menyeramkan. "Tidak ada apapun yang terjadi pada Melin. Apalagi seperti yang bicarakan. Cari informasi yang jelas sebelum speak up. Atau kamu akan menyesalinya!"
Reihan mengambil tasnya, lalu dia keluar dari ruangan itu.
"Iiiih...!!!" Bunga menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
"Bunga...!!!" Anya setengah berlari menghampiri Bunga.
"Kamu dengar kan...? Bukannya dia welcome, tapi justru marah sama aku. Padahal aku hanya ingin menghiburnya." celoteh Bunga.
"Sabar..., mungkin Reihan masih belum bisa terima kenyataan." ujar Anya.
"Tapi tunggu dulu. Kamu salah kasih info ke aku kali. Reihan bilang Melin tidak seperti itu." kata Bunga.
"Yaa..., ya..., kan aku juga tahunya lewat berita sekilas di grup." begitu alasan Bunga.
"Aku harus cari tahu deh, Nya. Jangan-jangan berita itu memang salah." Bunga mulai searching.
"Eh, sudah jam segini. Aku harus pulang, yuuukkk...!!" Anya menarik tangan Bunga.
"Tunggu...!" Bunga masih fokus pada ponselnya.
Sampai di mobil pun Bunga terus mencari. Namun hasilnya nihil. Tak ada satu pun berita tentang itu.
"Kok bisa sih...?" gumamnya terheran-heran.
"Palingan media sudah diulti. Keluarga mereka kan lumayan berpengaruh." sahut Anya.
Anya merasa lega, setidaknya Bunga tidak akan tahu kalau dirinya mengirim berita palsu pada Bunga.
......................
Reihan dan Melin sedang berhadapan dengan papa Adi dan mama Yunita di ruang kerja. Reihan menatap Melin, kemudian Melin menganggukan kepalanya.
"Jadi kalian sudah putuskan?" tanya papa Adi sambil memandang keduanya bergantian.
"Pa, maaf..." ujar Melin. "Apa tidak ada solusi lain, selain sebuah pernikahan?" tanya Melin.
"Ada. Homeschooling." jawab sang papa singkat.
"Jadi kamu aman di rumah, dan tidak perlu bodyguard lagi. Reihan bisa fokus pada kuliahnya, dan melepas tanggung jawabnya atas dirimu." begitu kata papa Adi.
"Kok...?!" Melin merasa ini tidak adil baginya.
"Daripada kamu ada bodyguard, tapi kamu melarangnya untuk ikut bersamamu. Terlebih dia juga berstatus sebagai pacar kamu. Tapi kamu memilih pergi tanpa dia, dan akhirnya kamu dalam bahaya." ujar papanya.
"Aku punya alasan untuk itu papa." Melin mencoba membela diri.
"Malu!" sahut papanya. "Kamu malu karena akan membeli barang pribadi."
Melin menunduk sambil menganggukkan kepalanya.
"Karena itu, dengan kalian menikah, kalian bisa saling memahami. Saling terikat. Tidak ada lagi rasa canggung ataupun malu." kata papanya kemudian.
"Paa, tapi ini konyol...!!" sentak Melin. Lantas dia berdiri dari kursinya.
"Mel..." Reihan menarik tangan Melin agar kembali duduk.
Melin mematuhinya. Lalu dia kembali duduk di tempatnya.
"Papa tidak ingin melanjutkan ini kalau kamu tidak bisa berpikir tenang." tutur sang papa.
"Maaf..." gumam Melin.
"Papa menginginkan kalian berdua menikah bukan cuma karena kasus kemarin. Tapi demi menjaga kalian juga dari fitnah di luar sana. Karena cepat atau lambat, orang pasti akan tahu kalau bodyguard kamu ini adalah pacar kamu sendiri." ujar papa Adi.
Melin terdiam. Begitu pula dengan Reihan. Reihan pun baru menyadari hal itu. Selama ini rupanya dia terlena dengan situasi yang dia jalani bersama Melin. Hingga dia tidak memikirkan hal itu.
"Minta kalian putus juga tidak mungkin. Iya kan? Makanya papa minta kalian menikah saja." sambungnya lagi. "Papa akan atur semua buat kalian. Kamu juga masih bisa sekolah, Reihan bisa terus kuliah. Pernikahan ini tidak akan mengganggu apapun. Percayalah!" papa Adi berusaha meyakinkan keduanya.
Melin dan Reihan saling menatap, Reihan menggenggam tangan Melin.
"Saya bersedia, pak." ucap Reihan dengan tegas.
"Melin?" papa Adi menatap putrinya.
"Aku juga." jawab Melin pelan, dia pasrah saja. Karena dia tidak ingin putus sama Reihan.
__ADS_1
"Alhamdulillah...!!!" papa Adi langsung berucap syukur, sedang sang mama terharu dengan mata yang berkaca-kaca.
......................