Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Ngambek


__ADS_3

Sore itu Reihan benar-benar mengajak Melin mengunjungi pameran itu. Sudah cukup banyak pengunjung di sana. Meski tak seramai tadi siang.


"Ramai banget, kak." kata Melin sebelum turun dari mobilnya.


"Kenapa? Tidak suka?" balas Reihan.


"Bukan begitu. Aku pikir pameran seperti ini tidak ada peminatnya." sahutnya Melin sambil melepas sabuk pengamannya.


Keduanya kemudian turun dari mobil.


"Yuk...!" kata Reihan.


Reihan menggandeng tangan Melin. Melin tersenyum sambil terus menatap tangan mereka yang bertautan. Bahkan Reihan tak melepasnya saat mengisi buku tamu.


Reihan tampak sangat menikmati semua yang tersaji di sana. Terkadang dia akan terpaku cukup lama pada sebuah objek. Hingga membuat Melin heran.


"Apa yang menarik sih...?" begitu batin Melin.


Sesekali Reihan juga mengambil gambar objek tersebut.


"Foto saja terus itu patung. Pacarnya boro-boro...!!"


Melin mulai cemburu dengan benda-benda yang ada dalam gedung itu.


"Wah..., Rei...!" seseorang menepuk bahu Reihan. "Kenapa baru muncul...?"


"Ah, sorry. Memang sengaja datang sore." balas Reihan.


"Kita bingung tahu, tadi ada turis kemari. Untung pas Nathan datang." celotehnya.


"Makanya, belajar bahasa Inggris." balas Reihan. Temannya itu hanya nyengir kuda.


"Siapa nih...?" tanya temannya.


"Kenalin, ini Melin. Pacarku." katanya memperkenalkan Melin.


"Hai..., aku Yoga." ujarnya.


"Haloo...!" sapa Melin.


"Aku pikir dia tidak akan jujur." begitu batin Melin.


"Okelah, kalian have fun ya. Aku tinggal ke sana dulu." katanya.


Bunga melihat dua sejoli itu dari kejauhan. Dan dia kembali terbakar api cemburu melihat kedekatan Reihan dan Melin.


"Bagaimana bisa semua orang memperhatikan mereka." ujar Anya dengan sengaja, agar Bunga semakin panas. "Tidak ada serasi-serasinya." sambungnya.


Mereka terus saja memperhatikan pergerakan Melin dan Reihan. Hingga Melin tiba-tiba menjauh dari Reihan, dan Bunga memutuskan untuk mengikutinya. Sedangkan Anya mengambil kesempatan itu untuk ngobrol dengan Reihan.


Sementara itu di toilet...


"Sepertinya kita pernah bertemu?" Bunga berbasa-basi.


"Oh iya??" balas Melin.


Sebenarnya Melin tidak pernah lupa. Dia ingat sekali dengan perempuan yang sedang bercermin di sampingnya itu.


"Kamu yang di rumah sakit sama Reihan waktu itu kan...?!" kata Bunga lagi.


"Kamu pasti lupa ya. Aku Bunga, teman kuliahnya Reihan."


"Oh, hai. Aku Melin, pacar kak Reihan." balas Melin penuh percaya diri.


"Pacar...?!" ucap Bunga lirih.


"Yups." sahut Melin.


Drrrt... Drrrt...


"Maaf." ujar Melin, lalu dia menerima panggilan itu.


"Iya, aku segera kembali. Aku nggak apa-apa, kok."


Setelah itu Melin kembali memasukkan ponselnya dalam tas.


"Duluan ya." pamitnya pada Bunga.


"Tunggu!" seru Bunga.


Melin pun berhenti. Dia berbalik kemudian menatap sosok yang menghentikannya itu.


"Bukannya kamu majikan Reihan yang manja itu? Yang kemana-mana minta ditemani sama Reihan?" cibir Bunga dengan senyum miringnya.


"Bagaimana ceritanya ngaku sebagai pacar? Ngarep banget dipacarin ya...?! Sampai menghalu jadi pacarnya Reihan..." Bunga menertawakan Melin.


Melin berusaha menahan emosinya. Dia tersenyum pada Bunga, dan mendekatinya.


"Cemburu itu saingin. Bukan nyinyirin." bisik Melin.


Kemudian Melin meninggalkan Bunga dengan senyum kemenangan.


"Dasar bocah...!! Iiiihh...!!!" Bunga menggeram karena kesal.


Bagaimana tidak, niat awalnya menyudutkan Melin. Justru dia yang dibuat ketar-ketir oleh Melin.


Saat hampir tiba di tempat Reihan, Melin menarik nafas panjang lantaran dia melihat Anya sedang ngobrol dengan Melin.


"Ulat bulu dimana-mana..." gerutu Melin dalam hatinya.


Melin segera menghampiri keduanya.


"Kenapa lama sekali...?" tanya Reihan saat menyadari kedatangan Melin.


"Maaf, aku bertemu teman kak Rei di sana." kata si Melin.


"Siapa?" tanya Reihan.


"Bunga." jawab Melin sambil melirik Anya. "Kak Anya, apa kabar?" sapa Melin.

__ADS_1


"Baik." Anya memaksakan senyumnya.


"Kak, masih lama nggak?" tanya Melin pada Reihan.


"Sudah bosan?" Reihan balik bertanya.


"Belum sih, cuma kan kita harus ke tempat lain. Nih." Melin menunjukkan jam tangannya.


"Aku hampir lupa." ujar Reihan. "Duluan ya, Nya..." pamitnya pada Anya.


"Hati-hati." balas Anya.


......................


Reihan sudah berjanji pada Melin, akan mengajak Melin jalan-jalan setelah melihat pameran. Karena itu mereka tidak bisa terlalu lama di tempat itu.


Mereka pergi ke taman menikmati suasana sore. Sambil memesan beberapa makanan yang dijual di sana.


"Tidak ada air mineral, bu?" tanya Reihan.


"Maaf, mas. Tidak ada." katanya.


"Aku carikan minum buat kamu dulu, ya."


"Em." Melin mengangguk.


Tak lama kemudian Reihan kembali dengan membawa sebotol air mineral. Lalu mereka menikmati makanan yang sudah dihidangkan.


"Mel..."


"Ya...?"


"Kamu tidak apa-apa, aku ajak makan di tempat seperti ini?" pertanyaan itu membuat Melin sedikit tertawa.


"Lihat aku, kak. Aku baik-baik saja...!" begitu balas Melin.


"Sebenarnya aku minder, karena masih merasa tidak pantas melakukan ini." ujar Reihan.


Melin langsung meletakkan sendok dan garpunya.


"Bisa tidak, kak Rei tidak bahas itu lagi."


"Aku hanya..."


"Setelah tadi teman kakak itu bilang aku terlalu ngarepin kakak. Aku ngehaluin kakak. Sekarang kakak malah bahas kayak gini lagi." dengus Melin kesal.


"Mel, aku minta maaf. Aku tidak..."


Melin mengambil tasnya, dia langsung berdiri meninggalkan tempat itu. Reihan pun mengikutinya. Tapi dia tertinggal karena harus membayar pesanannya.


"Ambil saja kembaliannya." ujar Reihan.


Reihan terus berlari mengejar Melin, sambil sesekali memanggil namanya.


"Mel..., Mel...!!" Reihan menarik tangan Melin.


"Yuk, ke mobil. Tidak enak dilihat orang." Reihan merangkul Melin dan membawanya ke mobil.


Melin diam terpaku menatap lurus ke depan. Reihan mengusap air matanya. Dia tak henti meminta maaf pada Melin.


"Maaf kalau ucapanku menyakiti perasaan kamu, Mel." katanya.


"Aku hanya takut dan tidak percaya dengan diriku sendiri. Apa aku bisa membuat kamu bahagia bersamaku." gumam Reihan.


Melin tetap diam, tidak bergeming sedikitpun.


"Sudah tahu aku kesal, masih saja diulangi lagi." batin Melin.


"Mel...!!" Reihan meraih tangan Melin. "Please..., jangan diam terus...!" ujarnya.


"Antar aku pulang!" titahnya dengan suara yang pelan.


"Oke. Tapi aku mohon maafkan aku." pinta Reihan untuk kesekian kalinya.


Melin hanya mengangguk. Kemudian Reihan melepaskan tangannya, dia menarik seatbelt dan memasangkannya untuk Melin.


Selama dalam perjalanan Melin masih saja diam. Dia tidak mengatakan apapun. Sesekali Reihan melirik Melin yang ada di sampingnya itu. Mata sayu itu membuat hati Reihan hancur.


"Mau istirahat?" tanya Reihan. Tapi tidak ada jawaban.


Beberapa saat kemudian Melin mulai terlelap. Tangan kiri Reihan meraih tangan Melin, dan menggenggamnya.


"Maaf membuatmu sedih..." batin Reihan.


......................


"Mama mau kemana?" tanya Melin saat sampai di rumah.


"Mau jenguk cucu dong...!" balas mamanya. "Lha kamu katanya malam mingguan, kenapa jam segini sudah di rumah?" sang mama balik bertanya.


"Sakit perut, maa." bohongnya.


"Ya ampun..." mama Yunita jadi panik. "Mama telepon tante ya." ujarnya.


"Tidak usah, ma. Aku mau istirahat saja. Mama hati-hati ya. Salam buat semuanya." Melin kemudian menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


"Bibi...!!" seru mama Yunita.


"Iya, buuu...!!" balas bibi sambil berlari kecil. "Ada apa bu?"


"Melin katanya sakit perut, nanti tolong dipantau ya. Ini Mika minta ditemani jaga anaknya, karena di rumah lagi sepi." ujar mama Yunita.


"Baik, bu."


Setelah itu mama Yunita keluar. Dia melihat Reihan sedang membersihkan mobil yang baru saja dia pakai bersama Melin.


"Rei..."


"Iya, bu." balas Reihan.

__ADS_1


"Besok tidak ada kuliah kan?" Reihan mengangguk. "Kamu menginap di sini saja ya. Melin bilang perutnya sakit, saya khawatir sekali. Tapi saya harus pergi ke rumah kakaknya. Tidak orang di sana."


"Oh, baik bu." Reihan mengangguk patuh.


"Kamu bisa tidur di kamar tamu, atau paviliun. Terserah ya. Senyaman kamu. Asal tidak di kamar Melin...!!" lirikan mata genit mama Yunita tertuju pada kekasih putrinya itu.


Reihan jadi malu dibuatnya. Mama Yunita kemudian tersenyum.


"Sudah..., sudah...!" katanya. "Bercanda. Saya juga percaya kamu anak yang baik. Titip Melin ya...!" katanya.


"Siap, bu."


"Panggil mama begitu, biar makin akrab." ujar mama Yunita lalu pergi meninggalkan Reihan.


Reihan mengambil ponselnya, dia mengirim pesan pada Melin.


Mama kamu bilang kalau kamu lagi sakit. Sakit apa? Kenapa tidak bilang?


Tidak ada balasan dari Melin. Meski sudah dibaca.


Mel..., jawab aku


Masih zonk. Reihan tampak semakin gelisah, lalu dia pergi ke dapur menemui bibi.


"Mas Rei belum pulang?" tanya bibi.


"Bu Yunita minta saya menginap bi. Katanya Melin sakit, benar? Padahal tadi tidak kenapa-kenapa." ujar Reihan.


"Aaah..., jangan-jangan non Melin lagi ngambek ini." terka bibi.


Bibi tampak celingukan melihat ke sekelilingnya.


"Memangnya tadi non Melin pergi kemana?" tanya bibi dengan berbisik.


"Ketemu pacarnya ya...? Jangan-jangan mereka bertengkar? Iya kan...? Benar begitu...?!" dia yang bertanya, dia juga yang sangat antusias mengira-ngira jawabannya.


Memang yang tahu status dua anak muda itu hanya orang tua dan kakak Melin. Jadi wajar saja kalau bibi beranggapan seperti itu. Efek dari keseringan nonton sinetron juga, jadi terbawa dalam kesehariannya.


"Ya mana saya tahu, bi. Kan saya cuma bertugas mengantar." Reihan mulai membual. Padahal Melin perginya hanya sama dia.


"Kenapa bibi tidak lihat ke kamarnya. Barang kali dia sakit sungguhan. Tadi bu Yunita minta saya menjaganya." tutur Reihan.


"Ya mas Reihan naiklah ke atas, dicek begitu." bibi justru memerintah Reihan.


"Bibi..., aku..." Melin berhenti bicara karena melihat Reihan berada di dapur.


Reihan dan si bibi berhenti ngerumpi ketika Melin tiba-tiba masuk ke dapur. Pandangan Melin dan Reihan beradu, tapi dengan cepat Melin mengalihkannya.


"Tolong buatkan teh tawar hangat ya bi. Nanti bawa ke kamar."


"Siap, non."


Melin kemudian kembali ke kamarnya. Tanpa menyapa Reihan.


"Masih marah rupanya..." pikir Reihan.


"Sepertinya memang ada masalah. Biasanya juga buat sendiri. Wajahnya ditekuk begitu pula." coleteh bibi.


"Kalau bibi repot, biar saya yang buatkan." kata Reihan.


"Tidak apa-apa nih? Kebetulan, soalnya bibi mau COD sama teman di depan." ujarnya.


"Iya, bi..." jawab Reihan.


"Terimakasih lho. Nanti bibi bagi, bibi pesan mie goreng jawa." katanya sebelum meninggal dapur.


Selesai menyeduh teh, Reihan pergi menuju kamar Melin.


Tok... Tok...


"Masuk, biii...!!" terdengar sahutan dari dalam kamar itu.


"Tar..., AAAAHHH...!!!" teriak Melin ketika mengetahui yang datang bukan bibinya.


Bersamaan dengan itu, Reihan refleks membalikkan badannya saat melihat Melin hanya memakai tanktop. Reihan merasakan panas di tangannya. Karena teh yang dia bawah sempat tumpah mengenai tangannya.


Setelah Melin memakai outernya, Melin segera menghampiri Reihan.


"Mana tehnya?!" ucapnya dengan nada yang tak bersahabat.


Reihan pun berbalik dan memberikan teh itu pada Melin. Melin tidak ingin melihat Reihan, dia hanya fokus pada tehnya. Karena itu dia pun melihat pergelangan Reihan yang memerah.


"Minum tehnya dan istirahat." kata Reihan sebelum pergi.


"Kenapa tangannya? Apa ketumpahan teh ini?" batin Melin sambil meminum tehnya.


Melin menatap pintu kamarnya yang sudah ditutup oleh Reihan. Dia merasa tidak tenang. Akhirnya dia menaruh tehnya dan bergegas turun untuk mencari Reihan.


Melin menemukan Reihan di dapur. Dia sedang membalut pergelangan tangannya dengan lap basah. Tanpa basa-basi Melin mengambil alih aktivitas yang dilakukan oleh Reihan.


"Biar aku saja." ujarnya lirih.


Reihan hanya tersenyum sambil memperhatikan Melin.


"Makanya lain kali hati-hati." kata Melin lagi.


"Kamu juga, lain kali jangan asal nyuruh orang masuk kalau keadaannya seperti itu." celetuk Reihan.


Sontak Melin melepaskan tangannya dari tangan Reihan.


"Lakukan sendiri!" ujarnya, lalu pergi.


"Mel..., Melin...!!" seru Reihan, tapi diabaikan oleh Melin.


"Salah lagi..." gumamnya.


"Dasar nyebelin. Nggak sopan sekali. Bikin malu orang saja. Iiihhh..., keseeeel...!!!" gerutu Melin sambil menaiki anak tangga.


......................

__ADS_1


__ADS_2