
"Ingat ya, hubungi aku kalau kamu butuh aku untuk menemanimu!" Reihan kembali berpesan pada Melin sebelum dia pergi.
"Iya, kak." balas Melin.
"Balik dulu." kata Reihan lagi.
"Hati-hati kak..." Melin melambaikan tangannya pada Reihan.
Setelah Reihan pergi, Melin segera memasuki rumahnya. Dengan setengah berlari dia menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya.
Sampai di kamar dia mengunci pintu dan melempar tubuhnya sendiri di atas kasur.
"Kak Rei...!!! Bisa-bisanya bikin aku salting...!!!"
Melin menjerit dalam hati, sambil menghentak-hentakkan kakinya dalam posisi tengkurang.
"Aaah...!!! Keseeel...!"
Melin mengubah posisinya menjadi terlentang, menatap langit-langit kamar sambil mengingat kejadian di dalam mobil beberapa saat yang lalu.
"Kira-kira kak Rei bakalan tetap bekerja nggak ya...?!"
"Tapi aku tidak boleh egois. Biar bagaimana juga, aku tidak bisa memaksakan keinginanku. Sedihnyaaa..."
......................
Tok... tok...
"Masuk, tidak dikunci...!" seru Melin dari dalam kamarnya.
"Paa..., ada apa?" tanya Melin saat melihat orang masuk adalah papanya.
"Liburan tidak ingin pergi keluar?" papa Adi membalasnya dengan sebuah pertanyaan.
"Tidak ingin kemana-mana, paa." Melin menutup laptopnya, lalu menyingkirkannya untuk memberi ruang pada papanya.
"Kenapa? Tidak bosan di rumah terus?" tanya papanya, dan Melin menggeleng sambil menyunggingkan senyuman.
"Papa ganggu tidak?" papa Adi menatap putrinya.
"Apa, paa...?" balas Melin yang mulai penasaran.
"Papa hanya ingin ngobrol sama kamu. Tidak masalah kan?"
"Diih, papa...!! Kayak mau ngobrol sama pejabat saja." celetuk Melin.
Pria dewasa itu tiba-tiba meraih tangan putrinya, menaruhnya di atas paha sambil tersenyum.
"Papa tidak ingin gagal lagi, menjadi ayah yang baik buat putrinya." ujar papa Adi.
"Paa..., papaa adalah ayah terbaik bagiku." Melin mengecup punggung tangan papanya.
"Apa itu benar? Bukannya papa sudah berbuat tidak adil karena memilihkan sekolah untuk kamu, tapi peduli keinginan kamu." sahut papanya.
"Yaa..., awalnya memang iya." aku Melin. "Tapi setelah itu tidak lagi. Benar kata kak Guntur, pilihan orang tua itu lebih banyak yang mengarah pada kebaikan."
"Kakakmu bicara begitu?" papa Adi tersenyum tipis. "Kalau mbak Starlamu masih ada, dia pasti akan menyangkal semua itu." gumamnya.
"Paa..., mbak Starla sudah bahagia di sana." Melin merangkul papanya.
"Sayangnya papa tidak bisa melihat kebahagiaannya. Papa selalu menjadi orang yang jahat semasa hidupnya." wajah papa Adi tampak senduh kala itu.
"Tidak papa..., itu tidak benar. Memang Allah sudah meminta mbak Starla kembali padaNya. Sebelum papa bisa membuktikan, bahwa yang papa lakukan itu demi kebaikan mbak Starla."
__ADS_1
"Sejak kapan anak papa ini jadi pintar bicara, hah?" papa mempererat dekapannya.
"Semoga mbak Starla bisa melihat semuanya. Dan tidak menyalahkan papa dan terus membenci papa." katanya kemudian.
"Dan buat kamu, sayang." papa melepas dekapannya. Kemudian menakup wajah Melin dengan kedua tangan besarnya.
"Jangan sembunyikan apapun dari papa. Izinkan papa menjadi sosok terdekatmu, sehingga papa bisa memahamimu dan bisa selalu memberikan yang terbaik buat kamu."
"Em." Melin mengangguk.
"Sekarang, katakan pada papa!" titahnya. "Apa kamu ingin Reihan tetap di sini?"
Deg...!!
Melin memberikan reaksi yang sesuai dengan dugaan sang papa. Sehingga membuat papanya tersenyum.
"Papa sempat bertanya pada Reihan. Tentang planningnya setelah lulus sekolah." ujar papa Adi.
"Dia bilang akan melanjutkan kuliah. Dan soal pekerjaan, dia akan melihat jadwal kuliahnya terlebih dulu." begitu tutur papanya.
"Kalau kamu mau dia tetap di sini, papa akan membujuknya."
"Jangan, pa!" sahut Melin dengan cepat.
"Kenapa?" tanya papanya.
"Biar kak Reihan yang memutuskannya sendiri." kata Melin.
"Baiklah kalau begitu. Papa cuma mengkhawatirkan kamu, nak. Tapi jangan cemas ya. Kalau nantinya Reihan tidak bekerja lagi, papa akan rekrut bodyguard baru buat kamu secepatnya."
"Iya, thanks ya paa." jawab Melin sambil memeluk papanya.
"Andai papa tahu, hanya ingin kak Reihan. Bukan yang lain."
Selain karena tidak ingin mengganggu konsentrasi Reihan. Melin juga merasa tidak nyaman kalau harus pergi tanpa Reihan. Bukan karena mengingkari janjinya untuk menghubungi Reihan kalau ingin bepergian, tapi juga karena rasa takut yang terkadang masih muncul meski hanya sekilas.
......................
Reihan keluar dari kelasnya, disusul Gina dan Nathan.
"Nongki yuk, merefresh otak." celetuk Gina.
"Setuju, iya kan Rei?" sahut Nathan.
"Aku harus ke toko." jawab Reihan.
"Ayolah, Rei...!!" bujuk Nathan.
"Next time. Aku harus bantu antar pesanan." kata Reihan kemudian. "Duluan ya." pamitnya.
"Menurutmu dia akan benar-benar bekerja setelah otaknya diperas dengan sangat brutal?!" celoteh Nathan.
"Otak dia duplikasi Einstein. Jadi tidak perlu sampai brutal kalau hanya untuk jawab soal ujian." balas Gina.
"Terserahlah. Mau pulang bareng aku?" tiba-tiba menawarkan tumpangan.
"Ah?!" Gina terkejut. "Aku bawa mobil." katanya setelah itu.
"Oke. Kamu hati-hati ya...!"
"Em." Gina tersenyum manis saat melambaikan tangannya pada Nathan.
Beberapa menit kemudian, di toko kue milik bibi Ismi.
__ADS_1
"Maaf bibi jadi merepotkanmu, Rei." ujar bibi sambil mengemas kue.
"Tidak bi. Lagi pula aku juga sudah menyelesaikan ujianku." balas Reihan.
"Tidak terasa kamu akan jadi mahasiswa sebentar lagi." katanya.
"Dan bibi ikut andil atas semua yang aku raih. Terimakasih, bi..."
"Selalu saja begitu." balas bibi Ismi. Dan Reihan hanya tersenyum.
Reihan tidak akan pernah melupakan kebaikan bibi Ismi. Yang mau menerimanya bekerja paruh waktu untuk tambahan uang sekolahnya.
Tak lama kemudian Reihan mulai mengantarkan kue-kue pesanan itu pada pelanggan. Salah satunya beralamatkan rumah Anya.
Kebetulan yang membuka pintu adalah Anya sendiri. Karena dia baru saja pulang sekolah, bahkan masih memakai seragam dan tasnya.
"Rei..., ayo masuk!" katanya sambil tersenyum.
"Aku buru-buru, tanda tangan saja di sini!" balas Reihan dengan nada datarnya.
Mau tak mau Anya mengambil kertas itu dan menandatanganinya.
"Thanks." balas Reihan, sambil menyimpan kembali bukti pengiriman itu.
"Reihan!" panggil Anya.
"Hem...?!"
"Kenapa sih kamu dingin sekali sama aku? Kalau sama Melin saja sikap kamu terlihat berbeda." begitulah kalimat yang keluar dari bibir Anya.
"Aku sedang bekerja. Permisi!" kata Reihan.
"Rei...!" seru Anya.
"Aku mencintaimu. Dan aku sudah berusaha mengunci hatiku selama ini, karena hanya kamu pemilik hatiku. Kenapa kamu tidak pernah mengerti sih, Rei...?!"
"Bukan aku tidak mengerti, Anya. Aku hanya sadar diri, kita berbeda." balas Reihan tanpa menoleh pada Anya.
Anya tersenyum miring, dia mendekati Reihan dan berdiri tepat di hadapan Reihan.
"Berbeda katamu?!" cibir Anya. "Lalu bagaimana dengan Melin...?! Bahkan perbedaan kalian sangat menonjol. Tapi kamu bisa bersikap manis padanya. Lalu kenapa tidak denganku?!"
"Perlu dijelaskan lagi, kalau aku bekerja di keluarganya?" balas Reihan.
"Aku tidak yakin, tidak ada rasa apapun selain tanggungjawab bodyguard pada nona manjamu itu?! Apalagi nonamu itu terlihat sangat kecentilan!" Anya semakin menjadi.
"Sudah cukup Anya! Sekali lagi kamu mengatakan hal buruk soal Melin, kamu akan tahu akibatnya!" hardik Reihan kemudian berlalu.
"Reihaan...!!!" seru Anya.
Sayangnya Reihan mengabaikannya, dia memilih segera pergi meninggalkan rumah Anya.
Tapi tidak dapat dipungkiri, Reihan sedikit terganggu dengan omongan Anya.
"Bahkan perbedaan kalian sangat menonjol...!!"
Kalimat itu terus memenuhi pikiran Reihan.
"Anya ada benarnya, kita sangat berbeda. Mungkin memang sebaiknya aku tidak memikirkannya lagi."
"Tapi..., apa aku bisa melakukannya...?! Bahkan saat ini aku ingin sekali bertemu dengannya."
......................
__ADS_1