
Pagi itu Reihan datang ke kediaman Adi Widjaya, dia akan mulai bekerja lagi setelah libur panjang karena ujian sekolahnya.
"Bagaimana ujiannya, Rei?" tanya papa Adi.
"Alhamdulillah lancar, pak." jawab Reihan.
"Syukurlah." balas papa Adi. "Tapi hari ini kamu tidak ada jadwal sekolah kan?"
"Tidak ada, pak."
"Nanti ajaklah Melin pergi jalan-jalan. Kamu tahu, selama liburan kemarin dia tidak mau pergi kemana-mana." ujar papa Adi.
"Baik, pak."
"Apa kamu akan menunggu Melin di sekolah?"
"Tidak perlu, paa...!" sahut Melin yang baru saja keluar.
Ada perasaan aneh pada dua sejoli itu, karena pada akhirnya mereka bisa berjumpa kembali. Papa Adi pun tak kalah senang, ketika melihat aura bahagia yang terpancar dari putrinya.
Setelah mereka berpamitan, mereka segera berangkat menuju ke sekolah.
"Terimakasih Starla, putriku. Karenamu papa bisa lebih memahami Melin. Semoga kamu bahagia di sana, nak. Papa selalu merindukanmu."
Papa Adi mengerjapkan matanya berulang kali agar tidak sampai menangis.
Sementara di dalam mobil yang dikemudikan oleh Reihan.
"Yakin tidak mau aku tunggu saja di sekolah?" tanya Reihan lagi untuk memastikan.
"Em." Melin mengangguk.
"Kalau ada yang mengganggu?" ujar Reihan sambil melirik Melin.
"Menurut kakak siapa yang selama ini menggangguku? Hanya kak Anya kan..." balas Melin. "Dan hari ini dia libur." Melin tersenyum pada Reihan.
"Baiklah, kalau itu maumu."
"Papa tadi ngobrol apa saja, kak? Ngomongin aku ya?" Melin mulai kepo.
"Tidak ada. Hanya urusan pekerjaan." jawab Reihan.
"Kenapa dengan pekerjaannya kak?" tanya Melin.
"Tidak kenapa-napa." jawab Reihan dengan santainya.
"Oh..." Melin kemudian terdiam.
"Pulang sekolah nanti mau kemana?" tanya Reihan.
"Belum tahu. Kenapa?" Melin balik tanya.
"Ikut aku ya?!"
"Kemana?" tanya Melin lagi.
"Nanti kamu akan tahu." jawabnya.
"Okelah!" Melin tampak sangat antusias. Meski dia tidak tahu kemana Reihan akan membawanya.
"Makin-makin deh ini kakak satu. Ya ampuuun...!!!"
Batin Melin tak henti-hentinya mengagumi Reihan.
"Ada apa?" sahut Reihan saat merasa Melin sedang memperhatikannya.
"Ah, tidak." Melin hanya nyengir memamerkan deretan gigi putihnya.
Reihan tersenyum simpul. Kemudian kembali fokus ke depan.
......................
Melin terkejut saat Reihan membawanya ke lokasi pemakaman umum. Padahal dia sudah membayangkan yang indah-indah ketika pergi bersama Reihan.
Tiin...!!
Reihan kemudian membuka kaca jendela, dan melambaikan tangannya pada beberapa pemuda dengan baju hitam yang sedang nongkrong.
__ADS_1
"Ini makam orang tuaku. Kemarin selesai ujian aku belum mengunjungi mereka. Karena banyak pekerjaan di toko." begitu ujar Reihan.
"Mau ikut apa di sini saja?" tanya Reihan sebelum keluar.
Melin melihat sekelilingnya. Melin melihat para pemuda yang tadi disapa oleh Reihan. Dan itu membuat Melin sedikit takut.
"Ikut kakak saja." putus kemudian.
Kini mereka sudah berdiri di depan dua pusara. Melin hanya memperhatikan makam itu bergantian. Kemudian melihat ke arah Reihan yang sedang berdo'a.
"Sudah, ayo!" kata Reihan setelah dia terdiam cukup lama, dan mengabaikan Melin yang ada di sampingnya.
Melin menurut saja, dia pun bangkit dari duduknya.
"Awas, hati-hati!" Reihan mengulurkan tangannya untuk membantu Melin.
"Kenapa kak Rei tidak membawa bunga buat orang tua kakak?" tanya Melin.
"Biasanya ada yang jual di dekat sini. Tapi sepertinya ibunya sedang libur." jawab Reihan. "Kan yang penting juga do'anya."
"Iya juga sih." balas Melin.
Setelah dari makam kedua orang tua Reihan, mereka pergi ke sebuah toko alat tulis.
"Buat apa?" tanya Reihan ketika Melin mengambil beberapa perlengkapan menggambar.
"Buat menggambar dan mewarnailah." jawab Melin.
"Kita tidak ada pelajaran itu di sekolah." kata Reihan.
"Buat Lili, kak Rei...!!" balas Melin. "Aku sudah janji waktu itu." imbuhnya.
"Harusnya tidak perlu seperti ini." gumam Reihan sambil melihat keranjang yang dia bawa.
"Dan harusnya kak Rei tidak protes. Oke...?!" sahut Melin sambil memasukkan barang terakhir yang dia pilih.
Tidak hanya singgah di toko alat tulis. Melin juga mengajak Reihan pergi ke toko aksesoris. Reihan tidak ikut masuk, dia memilih menunggu di depan toko sambil menikmati camilan dan es yang dia beli dari kedai sebelah. Selagi Melin memilih barang di dalam.
Beberapa saat berkeliling, Melin merasa cukup lelah.
"Lama nggak belanja, efeknya gini amat. Baru juga asyik belanja, barangnya bagus-bagus lagi..."
"Bagaimana dia bisa muncul di sini sih? Makin rusak deh mood aku...!!"
Setelah melakukan pembayaran, Melin segera keluar.
"Ekhem!"
Reihan dan Anya menoleh ke arah Melin.
"Hai, Mel...!!" sapa Anya dengan gaya centilnya. "Lama tak jumpa. Nggak nyangka bisa bertemu kamu di sini."
"Iya..." Melin tersenyum padanya.
Melin mengambil botol air mineral yang memang Reihan siapkan untuknya.
"Untukku?" Melin melirik Reihan. Dan Reihan menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih..." katanya lagi.
"Pulang sekarang?" tanya Reihan.
"Urusan kalian sudah selesai?" tanya Melin tanpa menoleh ke arah Anya.
"Tidak ada hal penting. Hanya kebetulan bertemu." balas Reihan. "Sini aku bawain." Reihan mengambil alih kantong belanja yang dibawa Melin.
"Thanks, kak." balas Melin. "Duluan kak Anya." Melin melambaikan tangannya pada Anya.
Anya pun melambaikan tangannya seraya tersenyum sinis. Dia kesal karena sedari tadi diabaikan oleh keduanya.
......................
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reihan karena Melin terlihat seperti sedang gelisah, tidak seperti biasanya.
"Aku merasa tidak enak kak..." jawabnya dengan suara pelan.
"Akan aku tepikan mobilnya." kata Reihan.
__ADS_1
Reihan mengikuti instruksi yang pernah disampaikan oleh mama Melin. Dia membuka jendela mobil dan mematikan AC mobil.
"Engap?" tanya Reihan.
"Sedikit..."
Melin hendak membuka dashboard mobil, tapi ditahan sama Reihan. Reihan yang mengambil obat itu dan memberikannya pada Melin.
Setelah meminum obatnya, Melin mengatur nafasnya sambil memejamkan matanya. Tangannya meremas ujung roknya. Reihan yang melihat hal itu segera menarik tangan kanan Melin. Dia genggam tangan yang dingin itu, dan mengusapnya dengan lembut.
"Rileks..." ujar Reihan. "Kamu harus tenang..."
Reihan tak henti mengusap tangan Melin, hingga Melin merasa lebih tenang. Dan itu butuh cukup banyak waktu. Reihan juga sesekali mengambil tisu untuk mengusap keringat di wajah Melin.
"Apa ini...?" batin Melin.
"Maaf, aku tidak bermaksud lancang." kata Reihan dengan tenang.
Melin mengangguk saja, dia tahu kalau niat Reihan baik.
"Sudah enakan?" tanya Reihan ketika Melin mulai bergerak mengubah posisi duduknya.
"Em." Melin mengangguk lagi. "Maaf, merepotkan..." suara Melin masih terdengar pelan.
"Tidak sama sekali." Reihan tersenyum. "Lain kali lebih pandai kontrol diri sendiri. Karena hanya kamu yang tahu kapan tubuh kamu harus beristirahat." tutur Reihan.
"Lapar tidak?" tanya Reihan lagi. Melin mengangguk. "Mau makan apa?"
Melin tidak menjawab, Reihan memutuskan kembali melajukan mobilnya.
Beberapa saat kemudian Melin menaikan jendela di sampingnya hingga nyaris tertutup seluruhnya. Itu pertanda kalau kondisinya mulai membaik.
"Jadi mau makan apa?" Reihan mengulang pertanyaan yang sama.
"Langsung pulang saja, makan di rumah." jawab melin. "Tidak apa-apa kan?"
"Em." Reihan mengiyakan saja.
"Kak, jangan bilang mama dan papa soal tadi ya...!" pinta Melin. Reihan hanya mengangguk.
"Istirahatlah, akan aku bangunkan saat tiba nanti." ujar Reihan.
"Terimakasih, kak..." Melin tersenyum pada Reihan.
"Sama-sama. Jangan buat orang panik lagi ya...!" katanya.
"Maaf..."
"Lain kali aku tidak akan setuju kalau kamu ajak pergi belanja lagi." kata Reihan.
Melin hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Aku tidak sedang bercanda." sahut Reihan dengan nada datarnya.
Melin seketika terdiam, setiap kalau mendengar nada datar keluar dari mulut bodyguardnya itu.
Tiba di rumah...
"Maaf kalau kata-kataku menyinggung perasaan kamu." ucap Reihan sebelum mereka turun.
"Tidak apa-apa, kak. Aku yang minta maaf karena sudah merepotkan." balas Melin.
"Aku sama sekali tidak keberatan. Tapi aku akan sangat merasa bersalah, kalau aku tidak bisa menjagamu dengan baik." ungkap Reihan.
"Aku tahu, karena tugas kak Rei adalah menjagaku." sahut Melin.
"Bukan hanya itu." Reihan menatap Melin, begitu juga dengan Melin.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu, Mel. Tolong lebih hati-hati. Terutama jika aku tidak bersamamu." katanya.
"Berjanjilah...!" imbuhnya.
Melin hanya diam. Dia merasakan sesuatu di dada dan perutnya. Ucapan Reihan seolah memberi efek yang asing dalam dirinya.
"Kamu dengar aku?!" Reihan menatap tajam mata Melin.
"Ah?! Iya." jawab Melin dengan cepat.
__ADS_1
"Terimakasih." Reihan tersenyum.
......................