
Melin sedang makan di kantin ketika jam istirahat, tentunya bersama dengan Sasha. Saat sedang mengobrol, dia melihat Keira sedang bingung mencari tempat duduk.
"Kei..., sini gabung sama kita." Melin tampak melambaikan tangannya, agar Keira bisa melihatnya.
Namun Keira tak melirik sedikitpun. Dia berlalu pergi menuju sebuah meja di paling pojok.
"Makanya jangan sok baik. Dicuekin kan...!!" celetuk si Sasha.
"Kan kasihan, Sha..." balas Melin.
"Dia saja nggak peduli sama kamu. Ngapain sih kasihan segala sama dia." bantah Sasha.
Melin kemudian diam. Dia tahu betul kalau Sasha masih kesal dengan sikap Keira.
"Oh, Mel. Aku lupa, deh." ujar Sasha kemudian.
"Apa...?" tanya Melin.
"Sabtu ini, aku nginap di rumah kamu boleh?" tanya Sasha.
Deg...!!
"Ngi..., ngiinaap...?!" balas Melin.
"He'em..., kalau boleh....!" ujarnya.
"Orang tuaku pergi ke rumah nenek. Aku malas tidur sendirian. Nyeret kamu buat nginap di rumah aku juga nggak mungkin kan....! Aku takut sama papa kamu..."
Sasha terus saja membeo tanpa jeda. Padahal yang diajak bicara sedang pusing tujuh keliling.
"Bolehkan, Mel...?!! Please...!!" mohonnya pada Melin.
"A..., aku..., bilang, mama dulu ya. Takutnya..., pas ada acara juga." Melin memaksakan senyumnya.
"Oke. Semoga nggak ada. Aamiin...!!"
"Ya Allah..., gimana ini...?!"
Setelah menyelesaikan aktivitas makannya, Melin mencari tempat yang cukup sepi untuk menghubungi Reihan. Dia menyampaikan keinginan Sasha pada sang suami.
"Boleh...?!" tanya Melin sambil celingukan, takut ada yang menguping.
"Baiklah. Akan aku sampaikan nanti pada Sasha." katanya.
"Bye..., love you...!!" Melin kemudian mengakhiri panggilannya.
"Huuuh..., ternyata begini ya rasanya jalanin pernikahan rahasia...!!" gumam Melin dalam hati.
Setelah sampai di kelasnya, dia segera memberitahu Sasha kabar baik yang ditunggu-tunggu.
"Aaah..., thanks banget Meeeel...!!" Sasha seketika itu memeluk Melin.
"Sama-sama. Asal jangan ngorok saja. Awas kalau ngorok!" canda Melin.
"Hahahaaa..., aku ngoroknya manis kok. Tenang saja..." balas Sasha.
"Diih..., gula kali manis..." ledek Melin.
......................
"Kenapa tidak terus terang saja sama Sasha saja?" tanya mama Yunita.
"Aku belum siap, mama. Lagian kalau aku bilang sekarang, dia pasti nggak jadi nginap di sini. Kasihan juga kan..." ujar Melin.
"Kamu kasihan Sasha, tapi tidak kasihan sama suamimu sendiri. Bagaimana kamu ini...?" tegur mamanya.
"Mama iih..., orang kak Rienya juga sudah kasih izin." Melin berusaha membela diri.
"Yakin dia dengan senang hati mengizinkan?" katanya. "Mel..., kita tidak pernah bisa menebak pikiran orang. Tapi setidaknya kita bisa membayangkan, kalau kita di posisi orang itu bagaimana...? Sekarang kalau Nathan menginap di sini, kamu senang tidak?"
Melin merenungi segala pitutur sang mama. Dia semakin bingung saja. Bagaimana kalau ucapan mamanya benar? Reihan sebenarnya keberatan.
"Aahh..., aku akan jadi istri durhaka dong...?!"
__ADS_1
Malam harinya, sepulang dari kerja, Reihan mengajak Melin pergi jalan-jalan.
"Ini gantinya malam minggu besok ya. Kan kamu mau quality time sama Sasha." ujar Reihan.
"Kak Rei keberatan nggak sih...?" Melin menatap Reihan yang ada di sampingnya.
"Tidak sama sekali." jawabnya.
"Yakin...? Soalnya mama negur aku, mama bilang kalau aku tidak adil sama kak Rei..." ujarnya pelan.
"Mungkin mama hanya khawatir sama menantu kesayangannya ini." gurau Reihan.
"Saking sayangnya, aku jadi serba salah. Heran." sahut Melin dengan bibir sedikit manyun.
"Jangan begitu, tidak baik." tegur Reihan dengan lembut. "Kita cuma pisah semalam, habis itu kan balik lagi. Atau kamu mau aku tidur di paviliun? Atau kamar tamu mungkin...?"
"Ah, iya!!" ujar Melin. "Mending gitu. Kak Rei tidak usah ke rumah paman." Melin sangat senang, wajahnya yang tadi cemberut seketika berubah.
"Tapi aku kangen mereka." gumam Reihan lirih.
Melin bisa melihat dengan jelas kerinduan yang Reihan rasakan. Pasal setelah 2 minggu menikah, mereka belum menginap di rumah paman Bian.
"Kak, bagaimana kalau malam ini kita pulang ke rumah paman Bian. Ya..., yaaa...?!" bujuk Melin.
"Kamu yakin malam ini?" Reihan meragukannya.
"Ayo...!!" Melin menarik tangan Reihan yang masih saja duduk di bangku taman.
Akhirnya mereka pergi ke rumah paman Bian malam itu juga.
"Eeh..., pengantin baru datang..." goda pak RT yang waktu itu menjadi saksi dalam pernikahan Reihan dan Melin.
Kebetulan malam itu pak RT sedang nongkrong di pos keamanan bersama beberapa warga.
"Pengantin...??!!" beberapa warga tampak bingung.
Pak RT pun menepuk jidatnya. Dia lupa kalau pernikahan mereka masih dirahasiakan.
"Iya, bapak-bapak. Mereka ini sudah menikah, dan saya hadie sebagai saksi hari itu." kata pak RT.
Reihan dan Melin tersenyum sambil mengangguk.
"Tidak apa, pak. Kalau begitu kami permisi." kata Reihan.
"Iya, mas. Silakan... silakan...!!" sahut seorang warga.
"Waah..., serasi sekali seperti yang di TV-TV itu..." tambah yang lain.
Saat mereka tiba di rumah, paman Bian baru saja hendak menutup pintu.
"Lho..., kenapa malam sekali...?" kata sang paman.
"Ayo, masuk. Dingin lho di luar. Nanti istrimu sakit." ujarnya lagi.
"Ya ampuuun...!!!" bi Nurma pun keluar ke ruang tamu.
"Bi..." Melin menyalimi bibinya.
"Tangan kamu dingin sekali. Bibi buatkan teh hangat ya."
"Bi..." sahut Reihan.
"Iya tahu. Tanpa gula." kata bibi.
"Eh..., mau kemana?" tanya bibi saat Melin mengikutinya.
"Dapur." jawab Melin dengan santainya.
"Tidak usah, duduk saja!" titah bibinya.
"Pulang saja sekalian." canda Melin.
Bibi Nurma pun tak bisa membantah lagi. Mereka akhirnya pergi ke dapur bersama.
__ADS_1
Setelah menikmati teh hangat, Melin dan Reihan beristirahat di kamar. Ini kali pertama Melin memasuki kamar Reihan. Dia terkejut melihat kamar serapi itu.
"Bibi yang nata?" tanya Melin.
"Akulah. Tapi sepertinya sekarang jadi tugas bibi untuk bersih-bersih." balas Reihan.
"Semoga kamu betah ya." kata Reihan.
Melin sepertinya tidak mendengar ucapan Reihan. Dia justru melihat sebuah tisu yang dibungkus rapi dengan mika, yang ada di salah satu rak dalam lemari. Melin mengambilnya dan menunjukkannya pada Reihan.
"Kayak kenal lho..." goda Melin.
Reihan yang tertangkap basah, tidak mampu bicara lagi. Dia hanya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Berarti banget...?!" Melin mulai lagi.
Reihan pura-pura tidak dengar, lalu dia mengambil bajunya di dalam lemari.
"Sini." Reihan merebut tisu yang dibawa Melin.
"Eh...!!"
"Ganti baju, dan istirahat. Jangan membantah!" ujar Reihan.
"Dimana?" tanya Melin.
"Di sini saja. Tidak ada walk-in closed di sini." balas Reihan.
"Ah?!"
Melin tidak mau, dia justru minta diantar ke kamar mandi.
"Jam segini paman masih belum tidur. Kamu mau mondar-mandir ke kamar mandi dilihatin paman?" Reihan mencoba menakuti sang istri.
"Ya ampun..., ribet!" dengus Melin dalam hati.
Melin menurut saja, dia tidak mau mengeluh di hadapan Reihan. Biar bagaimanapun dialah yang minta menginap di rumah paman Bian.
"Balik badannya...!!" perintah Melin.
"Iya, iya..." Reihan pun mengikuti instruksi Melin.
Tak lama kemudian Melin selesai mengganti atasannya dengan kaos oblong milik Reihan yang sudah kesempitan. Tapi ketika dipakai Melin, tetap saja kedodoran. Kaos itu tampak seperti daster di tubuh Melin. Sehingga Melin memutuskan untuk melepas celana jeansnya juga
"Yuk tidur!" kata Reihan.
Melin menaiki kasur Reihan, lalu tidur di samping Reihan. Seperti biasa, dia akan tidur di atas lengan suaminya itu.
"Aku takut kamu tidak nyaman." gumam Reihan sambil mengusap rambut panjang sang istri.
"Asal kak Rei di sini, aku akan baik-baik saja." jawab Melin seraya tersenyum manis.
"Aku akan selalu bersamamu." Reihan mendaratkan kecupan di kening Melin.
Melin menenggelamkan kepalanya di dada Reihan karena merasa malu. Dan hidung mancung Melin tak sengaja mengenai bagian yang cukup sensitif bagi Reihan.
"Mel...?!"
"Heeemm...?!"
"Jangan seperti ini." bisik Reihan.
Melin mendongakkan kepalanya. Dia tidak mengerti seperti ini yang dimaksud oleh Reihan itu apa.
"Ya, seperti itu saja. Jangan dekat-dekat yaa...!" kata Reihan.
"Kenapa...?!" Melin masih tidak mengerti maksud ucapan Reihan.
"Sudahlah, ayo tidur. Besok aku ajak keliling kampung sebelum pulang." Reihan kemudian memeluk Melin agar segera tidur.
"Mimpi indah ya..." ujar Reihan lagi.
Keduanya pun terlelap dengan saling berpelukan.
__ADS_1
......................