Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Aib


__ADS_3

Reihan meraih ponselnya yang sedari tadi bergetar. Rupanya panggilan dari Melin.


"Kak Rei lagi apa?"


"Baru selesai makan. Bagaimana kabarmu?" tanya Reihan.


"Aku ingin segera pulang."


"Tinggal pulang saja kan." jawab Reihan singkat.


"Eyang masih menahanku."


Reihan menarik nafas panjang. Sudah bisa ditebak, Melin tidak akan bisa menolak keinginan eyangnya begitu saja.


"Kak Rei...!!! Coba gambarkan aku sebuah mobil...!!" seru Lili yang tiba-tiba masuk ke kamar Reihan.


"Sebentar ya, kakak sedang menerima telepon." jawab Reihan dengan lembut.


"Baiklah. Aku tunggu di depan ya..."


"Kak Rei masih di rumah paman...?"


"Iya. Aku masih ingin tinggal di sini." kata Reihan.


"Baiklah. Aku akan kembali bujuk eyang. Kak Rei jaga kesehatan ya. I love you..."


"Love you too. Jaga diri baik-baik di sana."


Setelah sambungan terputus, Reihan segera menemui Lili untuk membantunya menggambar.


"Kakak..., kapan kak Melin ke sini? Kenapa dia lama sekali...? Aku sudah kangen tahu..." kata Lili


"Besok ya. Kalau sudah pulang jenguk eyang." balas Reihan.


"Memangnya eyangnya sakit apa? Kenapa tidak sembuh-sembuh? Pasti malas minum sirup ya?!" celotehnya.


"Iya. Makanya do'akan agar cepat sembuh ya." Reihan mengusap rambut Lili.


"Iya. Nanti aku bantu do'ain." balasnya.


"Anak pintar..."


"Kakak juga sangat kangen sama dia, Li. Tapi kakak tidak bisa menjemputnya."


......................


Sementara itu, Melin yang sedang duduk di teras rumah eyang dibuat kaget karena kedatangan mamanya.


"Bagaimana kabar Reihan?" tanya mama Yunita.


"Baik, ma. Tapi masih di rumah paman." kata Melin.


Melin tidak dapat menutupi kesedihannya. Otaknya dipenuhi rasa khawatir terhadap suaminya.


"Maa..., aku pulang besok ya sama papa." katanya kemudian.


"Kenapa buru-buru...?" sahut eyangnya tiba-tiba. "Bukannya masuk sekolah masih seminggu lagi?"


"Duduklah, bu..." mama Yunita berdiri dari kursinya, lalu menuntun ibunya untuk duduk di sana.


"Melin harus mempersiapkan acara penerimaan siswa baru, bu." mama Yunita mengedipkan matanya pada Melin.


"Kegiatan seperti itu tidak akan memperngaruhi nilaimu. Tidak usah hadir." sahut eyang dengan ketus.


"Eyang..., aku akan ke sini lagi pas liburan berikutnya." ujar Melin.


"Kamu ingin sekali pulang kenapa? Mau bertemu suamimu kan...? Setelah kamu pulang besok, kamu juga akan bertemu dia setiap hari. Sedangkan eyang harus menunggu sampai kamu liburan." begitu kata eyangnya.


"Suamimu itu membuatmu mengabaikan eyang." tambahnya.

__ADS_1


"Eyang..., tidak begitu..." balas Melin.


"Eyang tahu, sekarang kamu lebih peduli pada suamimu daripada eyang." eyang beranjak dari kursi, lalu kembali ke dalam rumah.


"Eyang kenapa sih, ma? Mudah sekali uring-uringan." Melin jadi geregetan sama eyangnya.


"Sayang..., hampir semua orang kalau sudah seusia eyangmu, pasti sikapnya begitu. Kekanak-kanakan. Jadi kita yang muda harus lebih sabar." begitu nasihat mamanya.


"Sudah, ayo masuk. Dingin lho, nanti kamu sakit." mama Yunita mengajak Melin ke dalam.


......................


Pagi itu Arka datang membawa bubur kacang hijau pesanan eyang. Saat itu Melin sedang duduk termenung di tepian kolam ikan koleksi eyangnya.


"Ekhm!!"


Melin menoleh ke belakang setelah mendengar deheman itu.


"Pagi-pagi sudah ngelamun. Kangen Reihan...!!" goda Arka.


"Arka kan dekat sekali dengan eyang. Bisa dong aku minta dia bujuk eyang, agar aku bisa pulang." begitu pikir Melin.


"Sayangnya eyang melarangku pulang." gerutu Melin.


"Kenapa? Kan eyang sudah sembuh." Arka duduk di samping Melin.


"Katanya masih ingin aku temani." balas Melin. "Kamu bantu bujuk eyang dong. Please...!!"


"Eeem..., gimana ya...?" Arka pura-pura mempertimbangkan.


"Ayolaaah...!!!" bujuk Melin.


"Tidak gratis ya?!" balas Arka.


"Kamu mau imbalan apa?!" tanya Melin.


"Apa yaaa...?" pikir Arka. "Nanti deh, aku akan coba bicara sama eyang dulu." katanya.


"Aaah..., aaah...!" pekik Arka. "Terimakasihnya begini amat...!!!" ujar Arka sambil mengusap telinganya.


Malam harinya mama Yunita mencari Melin di kamarnya. Dia ketuk beberapa kali tidak ada yang membuka pintu. Akhirnya mama Yunita membuka pintu itu sendiri.


"Astaghfirullah, Meliiiin...!!!" seru mama Yunita saat pintu terbuka.


"Bangun kalian! Apa yang kalian lakukan?!!!" mama Yunita memukul tubuh putrinya dan juga Arka bergantian


Iya, di atas kasur itu Melin tengah tidur dengan Arka. Kancing kemeja Arka hampir terlepas semuanya. Sedangkan Melin menampakkan sedikit belahan dadanya.


"Mamaaa..." Melin masih belum sadar. "Aaah..., pusing sekali..." dia memegang kepalanya.


"Melin?!" Arka tak kalah terkejutnya dengan mama Yunita.


Arka bergegas turun dari kasur sambil memasang kancing bajunya. Sementara Melin tampak semakin bingung melihat gelagat Arka. Lalu dia melihat dirinya sendiri.


Melin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia menangis karena membayangkan kejadian yang baru saja terjadi tanpa dia sadari.


"Ada apa ribut-ribut...?!" eyang datang ke kamar mereka.


"Kalian sedang apa?!" tanya eyang sambil menatap Melin dan Arka bergantian. "Kenapa kalian berantakan sekali?! Katakan!!" serunya dengan tegas.


"Sumpah eyang aku tidak tahu kenapa bisa ada di sini." kata Arka dengan sungguh-sungguh.


Arka benar-benar tidak tahu bagaimana dia bisa berada di kamar Melin. Apalagi dengan keadaan yang begitu memalukan.


"Ini aib. Kalian berdua harus bertanggung jawab!!" eyang menunjuk wajah keduanya bergantian.


"Ini tidak masuk akal...!!" seru Arka yang semakin frustasi.


"Melin, mama kecewa sama kamu. Kamu lupa, kamu ini sudah memiliki suami, naaak...!!! Apa yang ada dalam pikiran kamu, haaah...?!!!" mama Yunita menguncang-guncangkan bahu putrinya yang sedang menangis.

__ADS_1


"Maa, aku nggak tahu apa-apa...!" balas Melin sambil menangis.


"Mama tidak tahu lagi harus apa sekarang...!!!" mama Yunita pun menangis meratapi perbuatan anaknya.


"Memalukan...!!" hardik eyang.


"Pergi kalian semuaaaa...!!! Keluar dari kamarkuuu...!!!" teriak Melin sambil melemparkan bantalnya.


"Mel, dengarkan aku...!" Arka mendekati Melin.


"Pergiiii...!!!" teriaknya lagi.


"Aku benar-benar tidak tahu apa-apa, Melin. Aku berani bersumpah!" ujar Arka dengan tegas.


"Nggak ada sedikitpun niatan di otakku untuk menyakitimu. Percayalah...!!!" kata Arka.


"Pergiiii....!!" seru Melin.


Pada akhirnya Arka menyusul eyang dan mama Yunita keluar.


"Tante..." gumam Arka.


"Pergilah!" titah mama Yunita tanpa memandang Arka.


"Apa yang sudah terjadi padaku...? Apa yang aku lakukan...?!" Melin menangis histeris.


"Kak Reeiiiii...!!!!"


Tangisan pilu itu menggema di kamar yang Melin tempati. Sementara mama Yunita masih setia duduk di depan pintu kamar Melin. Sosok seorang ibu itu benar-benar terpukul. Tapi, biar bagaimana pun dia tetap mengkhawatirkan kondisi anaknya di dalam sana.


......................


Karena peristiwa mengejutkan itu, papa Adi terpaksa kembali ke rumah eyang. Dia juga mengajak Reihan bersamanya. Namun, sebelum sampai di rumah itu, papa Adi menerima panggilan dari sang istri agar mereka langsung menuju rumah sakit.


"Sudah kuduga, pasti sesuatu terjadi pada Melin."


Reihan sama sekali belum tahu apa yang terjadi di sana. Tapi setelah mama Yunita telepon, dia bisa menyimpulkan bahwa Melin sedang sakit. Karena itu papa mertuanya mengajaknya kembali ke rumah eyang.


Sampai di depan ruang perawatan Melin, mereka disambut oleh Arka. Baik Reihan maupun mertuanya sama sekali tidak mempedulikan keberadaan si Arka. Mereka langsung saja masuk ke kamar perawatan.


"Maa..." Melin menarik tangan mamanya saat melihat Reihan masuk bersama papanya.


Mamanya tidak mengatakan apapun, dia hanya mengusap tangan Melin.


"Mel..." ujar Reihan.


"Melin sedang ingin sendiri. Ayo bicara di sana." kata mama Yunita.


"Ta..."


Reihan tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena mama memberi kode agar Reihan mematuhinya. Hancur hati Reihan saat melihat Melin memalingkan wajahnya.


Mama Yunita menarik tirai yang menutupi tempat tidur pasien. Kemudian mengajak suami dan menantunya duduk di ruang tunggu.


"Apa yang terjadi, ma?" tanya Reihan.


"Dia tiba-tiba drop di kamarnya. Sesak nafasnya kambuh." balas mama Yunita.


"Dia seperti habis menangis. Ada apa sebenarnya terjadi, ma?" tanya Reihan lagi.


Mama Yunita melirik suaminya, dia tidak sampai hati menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Papa harap kamu bisa tahan emosi saat mendengar semua cerita papa. Ini belum bisa dipastikan kebenarannya, jadi tolong kamu bisa berpikir dengan kepala dingin." tutur papanya sebelum bercerita.


"Katakan paa, jangan bertele-tele...!" Reihan sudah tidak sabar.


Mata dan wajah Reihan memerah setelah mendengar penjelasan papa mertuanya. Urat-urat nadinya tampak menonjol, karena amarah yang tertahan. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu bangkit dari kursinya, dan beranjak dari ruangan itu.


Kedua mertuanya saling pandang dengan tatapan yang mengambarkan kekhawatiran.

__ADS_1


......................


__ADS_2