Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Apa aku hamil...?!


__ADS_3

Tidak mudah bagi Reihan menjalani hidupnya dengan status baru yang sungguh tidak membanggakan itu. Pikirannya masih dipenuhi oleh Melin, Melin, dan Melin. Seorang perempuan pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta, hingga akhirnya dia nikahi.


Tapi Reihan tetap berusaha membangkitkan semangatnya sendiri. Karena masih banyak impian yang harus dia kejar.


"Aku tidak akan menyerah. Cukup eyang yang menghinaku. Selanjutnya tidak akan ada lagi. Semangat Rei, masa depanmu masih panjang...!!"


Begitu cuitan batin Reihan sebelum dia berangkat kuliah.


Setelah memastikan semua barangnya lengkap, Reihan segera ke meja makan untuk sarapan.


"Lho, berangkat pagi?" tanya bibi Nurma.


"Siang sih bi, tapi mau ke toko dulu. Terus nanti langsung ke kampus." jawabnya.


"Rei, bagaimana tawaran pak Adi waktu itu...? Kamu sudah memutuskannya?" tanya paman Bian.


"Sudah paman. Aku langsung telepon papa kemarin. Aku menolaknya." kata Reihan dengan santainya.


Paman Bian dan bibi Nurma saling pandang. Lalu bibinya mengangkat bahu begitu saja.


"Ya sudah. Kamu sudah dewasa, pasti bisa menentukan jalanmu sendiri." begitu ujar sang paman.


"Do'akan saja, paman." Reihan tersenyum tipis.


Seperti yang sudah dia rencanakan, dia pergi ke toko di pagi hari. Bibi Ismi menatapnya dengan rasa iba. Dia tidak menyangka pernikahan Reihan akan kandas begitu saja. Padahal dia sangat yakin cinta keduanya begitu besar.


"Ini kue mau diantar atau diambil, bi?" tanya Reihan.


"Nanti ada yang ambil." jawab bibi Ismi.


Tadinya Reihan mau menawarkan diri untuk mengantarnya. Tapi setelah mendengar jawaban bibi Ismi, dia beralih ke pekerjaan yang lainnya.


"Mas Rei..." suara yang menyapanya sangat familiar.


Reihan yang sedang mendisplay kue segera menoleh.


"Paman. Apa kabar?" sapa Reihan.


"Baik, mas." jawabnya. "Kuliahnya libur?" tanya paman Lukman kemudian.


"Masih nanti siang, paman." jawab Reihan.


"Eh, pak Lukman. Mau ambil kue?" ujar bibi yang baru keluar.


"Iya, bu." jawab paman Lukman.


Saat mengetahui itu kue pesanan paman Lukman. Reihan melihat ke depan toko. Berharap bisa melihat sosok sang mantan di luar sana.


"Paman sendiri..." paman Lukman menyadari apa yang Reihan lakukan.


"Ini kuenya, pak." bibi Ismi menyerahkan kue itu.


"Terimakasih. Sudah dibayarkan?"


"Sudah, pak." lalu bibi tersenyum. "Terimakasih. Saya tinggal ke dalam dulu." pamit bibi.


"Iya, sama-sama, bu." pak Lukman sedikit menganggukkan kepalanya.


"Apa dia baik-baik saja, paman?" tanya Reihan.


"Entahlah. Tidak terlihat sehat, tidak juga seperti orang sakit." ujar paman. "Non Melin sekarang lebih banyak diam. Dia juga memilih homeschooling." begitu cerita paman Lukman.


"Homeschooling?!" Reihan terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Non Melin tidak mau berinteraksi dengan banyak orang." sahut paman.


Setelah mendengar cerita paman Lukman, Reihan jadi semakin mengkhawatirkan kondisi Melin.


......................


Reihan hanya mengaduk minumannya sejak tadi, hal itu tentu saja membuat Nathan kesal.


"Kalau tidak mau minum, sini buat aku saja!" Nathan merebut gelas milik Reihan. Reihan pasrah saja.


"Mikir apa sih, bro...?" tanya Nathan kemudian. "Have fun sajalah. Masih banyak cewek cantik yang siap dampingi kamu. Percaya deh...!!" ucap Nathan.


Reihan sedikit kesal dengan ucapan Nathan.


"Asal kamu tahu, dia tidak akan tergantikan oleh siapapun!" ucap Reihan, pelan tapi tegas. Kemudian Reihan pergi dari hadapan Nathan.


"Ya ampun..., salah lagi...!" gumamnya.


Reihan kembali ke kelasnya dengan wajah kusut, terlihat sekali dia menyimpan banyak beban.


"Kamu baik, Rei?" tanya Anya yang kebetulan saat itu ada di dalam kelas.


"Em." jawabnya.


"Kamu seperti ini bukan karena Melin yang pindah ke luar negeri kan?"


Pertanyaan Anya itu membuat Reihan menoleh ke arahnya.


"Jangan tanya kok aku tahu...?" sahut Anya sambil menunjukkan senyumnya. "Aku beberapa hari yang lalu main ke sekolah, dan tidak sengaja mendengar cerita anak-anak." katanya.


"Melin homeschooling, tapi bilang pindah ke luar negeri. Sebegitu tidak maunya dia bertemu orang lagi...?! Ini semua gara-gara Arka...!"


"Santai saja, Rei. Sekarang banyak media yang mempermudah pasangan yang sedang LDR." ucap Anya.


"Sorry, Nya. Bisa tolong tinggalkan aku? Aku ingin tidur sebentar." katanya.


Kejadian itu rupanya terpantau oleh Bunga. Dan tentu saja membuat Bunga sangat kesal. Pasalnya selama ini Anya tempatnya curhat, Anya pula yang banyak memberi saran dan trik padanya untuk mengambil simpati Reihan. Tapi sekarang dia justru melihat Anya dekat Reihan. Bahkan berani menyentuh Reihan.


Ketika mata kuliah selesai, Reihan segera pulang dengan mengendarai motor yang dia beli di dealer motor second. Tidak baru tidak apa-apa, asal bisa dipakai. Dan yang terpenting dia tidak perlu berhutang pada orang lain untuk mendapatkannya.


Diam-diam Reihan mendatangi rumah Melin. Tapi dia tidak masuk, dia hanya memantau dari jauh. Dia berharap keberuntungan berpihak padanya, sehingga dia bisa melihat Melin di atas balkon kamarnya. Itu adalah tempat yang sering mereka gunakan untuk menghabiskan waktu berdua.


"Keluar, Mel. Please...! Aku sangat ingin melihatmu meski hanya sebentar."


Reihan tak henti menatap ke arah balkon kamar Melin. Sampai seorang security mendatanginya.


"Masnya!" security itu menepuk punggung Reihan.


"Eh?!" Reihan tersentak karena tadi sedang bengong.


Untung Reihan memakai masker, jadi security rumah sebelah itu tidak mengenalinya.


"Kenapa di sini?! Mau aneh-aneh ya?" tuduhnya.


"Ah, tidak pak. Sedang menunggu COD ini. Tapi orangnya ditelepon tidak bisa." alibinya.


"Siapa namanya?" tanya security yang begitu mudahnya dikibuli.


"Melin, pak." jawab Reihan sekenanya.


"Nona Melin putri pak Adi?" security itu memastikan. Reihan mengangguk.


"Mau saya panggilkan?" tawar security itu.

__ADS_1


"Tidak perlu, pak. Terimakasih. Saya akan tunggu sebentar lagi." balas Reihan.


Kemudian security itu pamit pada Reihan, dan kembali ke pos jaganya.


Tak lama kemudian Reihan pun pergi dari tempat itu. Karena Melin tak kunjung muncul.


.......................


Melin baru saja menyelesaikan tugas dari gurunya. Dia keluar menuju baklon untuk menghirup udara segar. Tiba-tiba matanya tertuju pada pengendara motor yang baru saja berlalu.


"Kak Rei..."


"Ah, tidak mungkin. Jaket seperti itu banyak yang punya."


Melin memejamkan matanya sejenak.


"Kak Rei bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja...?"


Butiran bening menetes dari sudut matanya.


Tok... Tok...


Pintu kamar Melin terbuka, rupanya mama Yunita yang datang.


"Bagaimana hari ini?" tanya sang mama.


"Baik, ma." Melin menyunggingkan senyuman, meski hanya sekilas.


"Tapi kamu pucat sekali, nak. Sakit?" tanya mamanya lagi.


"Enggak, ma. Cuma sedikit mual saja." kata Melin.


"Mual?! Apa dia hamil?!" batin sang mama.


"Kita ke dokter ya?!" ajak mama Yunita.


"Nggak ah, ma. Tante saja suruh datang."


Sore itu Annisa datang ke kediaman Adi Widjaya. Dia memeriksa kondisi keponakan kesayangannya itu. Sementara sang mendampingi dengan cemas.


"Apa aku hamil?" pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Melin.


Pertanyaan itu cukup membuat mama Yunita terkejut. Bagaimana Melin bisa sesantai itu menanyakan perihal kehamilan?


Sedangkan Annisa justru tertawa sambil mencubit dagu Melin.


"Kamu pikir, semua orang mual pertanda sedang hamil begitu?!" kata Annisa.


"Asam lambung kamu naik. Perbaiki pola makannya. Dan yang terpenting, pikiran mesti tenang." tutur Annisa.


"Mensmu lancar?" tanya Annisa kemudian.


"Aku belum mens." jawab Melin dengan malas.


"Kan, pasti pengaruh hormon. Perbaiki suasana hati kamu, ya. Aku kasih vitamin dan obat untuk lambung kamu." kata Annisa.


Mama Yunita sedikit lega, ternyata Melin tidak hamil. Kalau saja Melin benar-benar hamil, maka semua akan semakin rumit. Apalagi anak itu pasti bukan darah dagingnya Reihan. Melainkan pria lain yang tidur bersama putrinya hari itu. Begitu pikir mama Yunita.


"Benar tidak perlu tes kehamilan?" bisik mama Yunita saat mengantar Annisa ke depan.


"Buat apa...?" sahut Annisa. "Sudah jelas kan, mereka pisah sudah hampir 2 bulan. Sudah pasti tidak ada hubungan di antara mereka. Bagaimana bisa hamil?" kata Annisa.


"Ya, itu karena kamu tidak tahu kejadian sebelum perceraian itu."

__ADS_1


Benar sekali. Karena yang tahu kejadian itu hanya Melin dan keluarga intinya. Mereka benar-benar menutup rapat, karena dikhawatirkan akan tersebar kemana-mana. Dan semakin membuat Melin terpuruk.


......................


__ADS_2