
Melin sedang beristirahat di kamarnya. Tubuhnya terasa sangat lemah. Karena dia tidak makan apapun selama di rumah sakit. Dia memang tipe yang tidak pernah bisa memasukkan apapun ke mulutnya ketika berada di balai pengobatan macam itu. Bahkan di tempat praktek dokter pribadi sekalipun.
"Sejak tadi mama sudah khawatir. Tapi kamunya maksa ikut Reihan." ujar mamanya.
"Kasihan kak Rei, ma. Dia sangat panik. Mama kan tahu kalau orang sedang panik kadang tidak bisa berpikir normal." balas Melin.
"Itu kamu. Reihan itu kan pintar." sahut mamanya.
"Mama iiih...!!" ujar Melin. "Panik itu tidak pandang level otak mama...!" katanya.
"Ya sudah, sekarang istirahat. Kalau butuh sesuatu panggil mama, ya!" pesan sang mama sebelum keluar.
Setelah memberi kecupan sayang, mama Yunita meninggalkan Melin agar bisa segera beristirahat.
"Bagaimana kondisinya, ma?" tanya papa Adi.
"Stabil pa. Dia hanya butuh istirahat. Mama sudah menyuruhnya tidur." jawab sang istri.
"Mama belum kasih tahu Reihan soal kondisi Melin?" tanya papa Adi.
"Lho, bukannya papa sudah cerita?!" mama Yunita tampak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan suaminya.
"Papa...!!" mama Yunita sedikit geram dengan reaksi yang ditunjukkan papa Adi.
"Biar besok mama yang kasih tahu dia. Papa ini bagaimana sih? Merekrut bodyguard kok tidak total begitu. Untuk Melin tidak apa-apa." tambah mama Yunita.
Sementara itu di tempat yang lain, Reihan sedang dilanda gelisah. Selain karena Lili, dia juga kepikiran dengan Melin. Sejak mengantar Melin pulang sore itu, Reihan belum mendapatkan kabar terupdate dari Melin. Tidak ada tanda-tanda kehidupan pada room chatnya bersama Melin.
"Bisa tidak sekali saja kamu tidak membuatku khawatir, Meeell...?!"
......................
Sampai keesokan harinya, Reihan belum juga menerima balasan dari Melin. Hal itu membuat Reihan datang ke rumah Melin lebih cepat dari hari biasanya.
"Pagi sekali, Rei...?" begitu sapa mama Yunita yang sedang memberikan perawatan rutin pada bunga-bunga koleksinya.
"Dari klinik?" tanya mama Yunita kemudian sambil meletakkan botol spray yang berisikan nutrisi tanaman.
"Tidak bu, saya dari rumah." balasnya.
"Oh, begitu." kata mama Yunita. "Ah, kebetulan sekali. Duduk sini, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan sama kamu."
Reihan kemudian duduk di kursi berhadapan dengan mama Yunita.
"Ada apa bu?" tanya Reihan dengan nada yang sangat lembut.
"Apa yang terjadi pada Melin kemarin? Apa dia sempat mengeluhkan sesuatu?" mama Yunita balik bertanya.
"Tidak. Melin hanya bilang ingin tidur, dan minta dibangunkan ketika sampai rumah." jawab Reihan.
"Sebelumnya dia merasa gerah, atau engap mungkin?" tanya mama Yunita lagi.
Lalu Reihan teringat dengan apa yang dilakukan Melin sebelum tertidur pulas. Dan dia mengatakan semuanya pada mama Yunita.
"Sini ikut saya!" titah mama Yunita.
__ADS_1
Mama Yunita berjalan menuju mobil yang biasa dipakai Reihan untuk antar jemput Melin. Kemudian membuka dashboard mobil, lalu mengeluaran kotak P3K dari dalam sana.
"Melin memiliki masalah dengan pernafasannya. Bisa sewaktu-waktu kambuh karena beberapa faktor. Terlebih ketika dia sedang lelah. Kalau minum es dan yang mengandung pemanis, biasanya akan batuk dan berujung sesak nafas. Telat makan, asam lambungnya naik, bisa memicu kambuh juga." begitu cerita mama Yunita.
"Gejala awalnya seperti yang kamu ceritakan tadi. Dan ini obat yang harus dia minum. Tolong kamu ingat-ingat ya, barang kali nanti dia lupa." mama Yunita menunjukkan obat khusus yang selalu dia siapkan untuk putrinya.
"Satu lagi. Dia tidak bisa makan atau minum apapun ketika sedang berada di rumah sakit maupun klinik. Pasti kemarin dia menahan lapar waktu itu. Tapi beruntung dia bisa mengendalikan semuanya. Dia bilang kalau dia meminum obat ini, lalu tidur sebelum kalian pulang."
Reihan merekam dengan baik semua yang diutarakan oleh mama Yunita. Ada rasa menyesal, karena dia membawa Melin ke klinik kemarin. Harusnya Reihan mengantarkannya lebih dulu.
Beberapa menit kemudian Melin keluar, dan mereka berangkat sekolah bersama.
"Sudah lebih baik?" tanya Reihan sambil mengemudi.
"Baik. Memangnya kenapa?" balas Melin.
"Khawatir saja kalau sakit. Kemarin kamu sangat pucat." ujar Reihan.
"Harusnya kakak mengkhawatirkan Lili. Bukan aku." balas Melin.
Padahal hatinya berbunga-bunga setiap kali Reihan mengungkapkan kekhawatirannya.
"Lili sudah lebih baik." kata Reihan.
"Nanti kak Rei ke sana lagi kan?" tanya Melin.
"Em. Tapi aku akan mengantar kamu pulang dulu." jawab Reihan.
"Aku juga mau ikut menjenguk Lili." sahut Melin.
"Kak Rei..."
"Aku bilang tidak!" nada datar itu keluar dari mulut Reihan. Dan membuat Melin bungkam, tidak melanjutkan kalimatnya.
Suasana di dalam mobil pun jadi sepi. Hingga mereka sampai di parkiran sekolah.
"Maaf, Mel." ujar Reihan. "Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Jadi mengertilah...!"
Melin menatap Reihan yang sedang melepas seatbeltnya. Merasa sedang diperhatikan, Reihan pun menoleh ke arah Melin yang duduk di sampingnya.
"Jangan tersinggung dengan laranganku tadi. Aku tahu kamu baik, kamu peduli dengan Lili dan keluargaku. Tapi kamu juga harus peduli dengan kesehatan kamu, Mel." tutur Reihan.
"Iya." hanya itu balasan yang Melin berikan.
"Aku sudah tahu bagaimana kondisimu, Mel. Bu Yunita sudah menceritakan semuanya." kata Reihan kemudian.
"Ah...?!" Melin sedikit terkejut.
"Mulai saat ini, aku akan lebih berhati-hati. Tolong jangan menahan apapun yang kamu rasakan. Oke?!" Melin hanya mengangguk.
"Ayo turun!" ajak Reihan sambil melepas seatbelt yang menahan tubuh Melin.
Apa yang dilakukan Reihan itu, sontak membuat Melin gugup. Dadanya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
"Jangan capek-capek. Kalau kenapa-kenapa cepat hubungi aku. Jangan tinggalkan HP dalam kelas kalau kemana-mana!" begitu pesan Reihan.
__ADS_1
Melin hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak berani bersuara, karena takut suaranya akan terdengar bergetar karena efek dari jantungnya yang sedang bergejolak hebat di dalam sana.
......................
"Kak, mampir ke tempat bi Ismi ya. Aku mau beli kue nanti kasihkan ke Lili." kata Melin saat dalam perjalanan pulang.
"Em." Reihan mengangguk.
"Kue...??? Bu Yunita bilang dia tidak bisa makan makanan manis. Bagaimana dia bisa makan kue? Selama ini dia sering membeli kue bibi." begitu umpat Reihan dalam batinnya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di toko kue itu. Kedatangan Melin dan Reihan disambut hangat oleh bi Ismi.
"Berapa hari kamu tidak mengunjungi bibi, hah...?!" goda bi Ismi. "Sudah berani menduakan kue bibi...?" tambahnya sambil tersenyum.
"Tidak berani mendua bibi. Karena kue buatan bibi satu-satunya yang bisa aku makan." jawab Melin.
Reihan yang membantu memilih dan membungkus kue buat Lili, mendengarkan obrolan mereka dengan jelas.
"Iya dong, karena semua bahan bibi pakainya yang premium." ujar bibi Ismi dengan bangga. "Mama kamu juga bilang, hanya kue coklat buatan bibi yang cocok buat kamu. Apa itu benar? Sampai kakak ipar kamu pun sekarang berlangganan sama bibi."
"Iya bi. Akhirnya aku bisa makan coklat tanpa takut kenapa-kenapa." Melin tersenyum pada bibi pemilik toko kue itu.
"Sudah, pergi sekarang?!" Reihan telah menyelesaikan tugasnya.
"Iya, kak." balas Melin.
"Bi, aku akan segera kembali nanti." begitu kata Reihan pada bi Ismi.
"Fokus dulu sama Lili. Ada mbak Rena yang bantu bibi. Jangan khawatirkan itu." balas bi Ismi.
"Terimakasih, bi." ujar Reihan.
Keduanya pun berpamitan pada bibi. Juga pada Rena, anak bi Ismi.
Seperti yang dikatakan Reihan sebelumnya, dia akan mengantar Melin terlebih dulu ke rumah. Barulah dia pergi ke klinik.
"Pakai mobil ini saja kak. Siapa tahu nanti kakak harus pergi dan bawa barang banyak." ujar Melin.
"Pakai motor saja." balas Reihan.
"Melin benar, Rei." sahut mama Yunita. "Bawa saja mobilnya!"
"Tidak bu. Saya pakai motor saja."
"Bawa sampai Lili keluar dari klinik! Ini perintah!" tandas mama Yunita.
Melin menahan tawanya mendengar ucapan mamanya.
Pada akhirnya Reihan membawa mobil itu meski dengan berat hati.
"Mama jangan sok galak. Nggak cocok tahuuuu...!!!" ujar Melin setelah Reihan pergi.
"Setidaknya ampuh kan." balasnya.
"Iya deh iya..., emak-emak kok dilawan...!" canda si Melin.
__ADS_1
......................