Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Mendadak Nikah


__ADS_3

Reihan merasa sangat lega setelah berhasil mempresentasikan tugasnya dengan baik dan lancar. Setelah tadi pagi dia menghadiri sebuah persidangan bersama keluarganya dan juga keluarga Melin, guna mendapatkan izin untuk melangsungkan sebuah pernikahan. Karena usia Melin masih 17 tahun.


"Haaah..., akhirnya selesai juga...!!!" batin Reihan mendengus lega.


"Kita nongkrong dulu yuk. Sebagai perayaan keberhasilan kita." usul Farel.


"Sorry, aku tidak ikut ya." balas Reihan.


"Kenapa, Rei?" tanya Bunga.


"Iya nih. Kenapa tidak ikut..?" Farel menimpali.


"Ada urusan. Lain kali ya." begitu kata Reihan.


"Penting banget rupanya, sampai tidak bisa ditinggal...??" sahut Riska.


"Memang ada urusan apa, Rei?" Bunga ikutan kepo.


"Duluan ya." Reihan tidak mengabaikan pertanyaan Bunga.


Reihan melambaikan tangan setelah menggendong tas ranselnya. Lalu dia meninggalkan teman-temannya.


"Nggak like nih kayak begini." gerutu Farel.


"Sudahlah. Barang kali memang penting banget kan. Kita bertiga saja ya." ujar Riska.


"Ya sudah. Yuuk...!!" ajak Farel.


"Oke." balas Bunga, meski sebenarnya dia masih penasaran dengan sikap Reihan.


Reihan memang biasa menolak ajakan nongkrong teman-temannya. Tapi untuk kali ini dia menolak dengan raut wajah yang terlihat berbeda. Itulah yang membuat Bunga penasaran.


Rupanya Nathan sudah menunggu Reihan di depan lobi. Kali ini dia membawa mobilnya, demi kenyamanan si Reihan katanya.


"Silakan masuk capeng...!!!" goda Nathan.


"Bisa diam?!!" sentak Reihan sambil menutup pintu mobil itu.


"Hahahaaa...!!! Cieeeh..., yang lagi nervous...!!!" katanya. "Minum dulu, minum...!"


"Ini Gila...!!!" gumam Reihan setelah meneguk air mineral yang diberikan Nathan.


"Itu impianku bersama Gina..." sahut Nathan seenaknya, sambil menjalankan mobilnya.


"Diam! Atau aku sumpal mulutmu itu!" ujar Reihan.


"Sorry..., sorry...!!" Nathan menahan tawanya. "Santailah bro. Toh kamu nikahnya juga sama cewek yang kamu cintai. Nikmati saja..."


"Sumpah, aku sangat gugup. Ini jauh lebih menegangkan dari ujian dan kompetisi tingkat nasional." kata Reihan.


Nathan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Rilekskan dulu..." ujar Nathan.


......................


Malam pun tiba, dan pernikahan mereka akan segera dilaksanakan di kediaman Adi Widjaya. Acara itu hanya dihadiri oleh keluarga inti dari kedua mempelai. Juga beberapa saksi dari tokoh masyarakat di lingkungan kedua keluarga tersebut tinggal.


"Sudah plong?" bisik Nathan yang turut hadir dalam acara itu.


Reihan tidak menjawab, dia hanya memberi pukulan kecil di lengan Nathan.


"Aku rasanya istrimu tidak berani keluar dari kamarnya." lagi-lagi dia menggoda Reihan.


Sementara di dalam kamar Melin.


"Aku deg-degan, kak...!!" adu Melin pada kakak iparnya, Mika.


"Sama, kakak dulu juga begitu. Rileks saja ya.." ujar Mika.


"Bawa slow saja, Mel." sahut Gina.


"Slow..., slow...!! Kak Gina nggak ngerti sih rasanya. Makanya nikah sana!" balas Melin.

__ADS_1


"Iya..., iya..." ujar Gina sambil menahan tawanya.


Ceklek....


Ketiga perempuan dalam kamar Melin menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka. Mama Yunita datang untuk menjemput sang putri yang sudah resmi jadi seorang istri malam ini.


"Saatnya turun, sayang." kata mama Yunita.


"Boleh tidak, kalau tidak usah keluar saja...??" rengek Melin. Mika dan Gina tersenyum saat mendengarnya.


"Eh, mana bisa. Kamu harus tanda tangan buku nikah, tukar cincin, dan masih banyak lagi. Ayo...!" sang mama menggandeng tangan putrinya.


"Malu, mamaaa..." rengekan manja itu kembali terdengar.


Tangan Melin sangat dingin, karena dia sangat gugup. Debar jantungnya semakin tidak karuan, setelah melihat Reihan berdiri untuk menyambutnya.


"Tuhan..., mau pingsan saja, please...!!!"


Reihan berjalan mendekati Melin, lalu dia meraih tangan Melin dan menggandengnya menuju meja penghulu untuk tanda tangan buku nikah, dan pemasangan cincin.


Beberapa orang tampak tersenyum ketika melihat tangan kedua mempelai bergetar. Selesai bertukar cincin, Melin mencium punggung tangan Reihan. Reihan membalas dengan mengecup kening Melin. Wajah keduanya tampak memerah karena malu.


Selesai acara, para undangan undur diri satu persatu. Hanya menyisakan Mika dan Guntur, paman Bian beserta istri dan anaknya juga. Mereka akan menginap malam ini. Sedangkan Gina sudah pulang bersama dengan Nathan.


"Rei, kamu tidak istirahat?" tanya papa Adi.


"Nanti, pa." jawab Reihan.


"Alaaa..., palingan dia gugup mau masuk kamar, paa." goda Guntur.


Papa Adi dan paman Bian kemudian tersenyum mendengar ucapan Guntur.


"Benar begitu, Rei?" tanya paman Bian.


"Ah, tidak. Belum ngantuk saja." bualnya.


"Meskipun belum ngantuk, sebaiknya istirahat. Papa tahu seharian ini energimu banyak terkuras. Naik sana!" titah sang papa.


"Sudah sana. Sebelum Melin kunci pintu, karena dia lupa sudah punya suami." lagi-lagi Guntur bercanda.


Ceklek


Melin menoleh ke asal suara. Dia tersenyum kikuk saat Reihan masuk.


"Kak Rei, mau mandi air hangat?" tanya Melin yang sudah mengganti kebayanya dengan piyama.


"Tidak perlu. Kenapa belum tidur?" tanya Reihan.


"Belum ngantuk." balas Melin.


"Aku..., mandi dulu ya." kata Reihan kemudian.


"Em. Sudah ada handuk di dalam." ujar Melin.


Selagi Reihan mandi, Melin mengambil piyama yang sudah disiapkan mamanya dalam lemari.


Melin baru tahu, rupanya seniornya itu tipe orang yang betah di kamar mandi. Bahkan hampir menyamai dirinya.


Melin baru saja beranjak dari kasurnya ketika pintu kamar mandi terbuka. Reihan keluar dengan mengenakan kimono handuk, dan tangannya terus mengusap rambut basahnya dengan handuk.


"Oh, no...!! So manly...!!" puji Melin.


"Kenapa?" tanya Reihan yang bingung dengan tatapan Melin.


"Ah?!" Melin terkejut. "Aku mau ambil sesuatu di bawah. Kak Rei mau dibawain apa, gitu...?" ujar Melin.


Reihan melihat ke sekeliling kamar, apa yang dia cari tidak ada di sana.


"Air putih." katanya. "Eh, biar aku saja yang ambil. Kamu istirahat saja." ujar Reihan.


"Nggak pa-pa, kak." balas Melin. "Aku sudah baikan." katanya lagi.


Reihan masih saja khawatir, karena beberapa hari yang lalu kesehatan Melin menurun karena kejadian itu.

__ADS_1


......................


Adzan subuh berkumandang, Reihan bangun lebih dulu daripada Melin. Dia beranjak dengan hati-hati, agar tidak membangunkan Melin.


"Kaaaak..." suara parau khas bangun tidur tiba-tiba terdengar.


Reihan mengurungkan niatnya untuk turun. Dia kembali menaikkan kakinya ke atas kasur. Dan mendekati Melin.


"Koo sudah bangun?" balas Reihan.


"Sudah subuh ya?" tanya Melin.


"Em." Reihan mengangguk. "Mau sholat bareng?" tanya Reihan sambil merapikan rambut Melin yang berantakan.


"Em." Melin mengangguk.


"Aku siapkan air hangat buat kamu mandi ya." Reihan kemudian turun dari kasurnya.


"Thank you..., baik sekali..." puji Melin.


"Kalau tidak baik, kamu tidak mungkin jatuh cinta sama aku...!" celetuk Reihan sebelum memasuki kamar mandi.


"Kak Reeei...!!!" teriak Melin. "Diam-diam mulutnya suka gitu deh...!!" gerutu Melin.


Melin sedikit melakukan peregangan di atas kasurnya. Seulas senyuman terukir di wajahnya. Dia teringat obrolan semalam bersama Reihan, sang suami.


"Kita tidak akan melakukannya sampai sama-sama siap. Deal...?!"


"Deal...!"


"Tidak boleh jail ketika salah satu diantara kita sedang mengerjakan tugas."


"Deal...!!"


Melin menggelengkan kepalanya. Dia merasa lucu dengan semua ini.


"Ada kek pengantin baru bahasnya begituan. Minimal itu bahas honeymoon kemana gitu, kek...!"


Melin tertawa tanpa suara, kemudian beranjak dari kasur dan bersiap untuk mandi.


Setelah keduanya melakukan ibadah. Mereka kembali rebahan di kamar. Karena hari masih gelap.


Melin menemukan hal baru yang paling nyaman sejak semalam. Yaitu menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Reihan. Semakin pewe ketika tangan Reihan mendekapnya dengan begitu intens. Seperti yang terjadi saat ini di atas tempat tidurnya.


"Hari ini kak Rei kuliah?" tanya Melin.


"Aku izin sih. Papa nyuruhnya begitu." jawab Reihan. "Kenapa?"


"Oh, aku juga sudah dimintakan izin lagi." balas Melin. "Terus kita di rumah saja gitu...?!" tanya Melin lagi.


"Kamu mau pergi kemana? Kak Guntur, paman, mereka masih di sini. Masa kita tinggal pergi." begitu tutur Reihan.


"Iya, sih." balas Melin.


"Kita di rumah saja hari ini ya... Setelah mereka pulang, aku ajak kamu pergi naik motor. Aku kan kemarin sudah janji." bujuk Reihan.


"Oke." Melin sangat senang.


"Kita juga harus beli kalung untuk ini." Reihan mengangkat jari manisnya yang dilingkari sebuah cincin. "Kan kamu bilang tidak mau ada yang tahu dulu. Iya, kan...?"


"Iya, kak. Aku belum siap..." gumam Melin.


"Aku mengerti." Reihan mengecup kening Melin dengan lembut.


"Jangan cium terus dong...!!" rengek Melin.


"Biarin. Kan sudah halal." balas Reihan.


"Iiih..., malu kak...!!"


"Kan cuma berdua. Malu sama siapa?"


"Sudah, aah...!" Melin mencubit pinggang Reihan.

__ADS_1


......................


__ADS_2