
Melin dan Reihan dibuat terkejut ketika tiba di rumah Keira. Seorang tukang kebun di sana menceritakan hal buruk yang terjadi pada Keira semalam, setelah mereka pamit pulang.
"Nona melukai tangannya, seperti orang mau bunuh diri."
Melin langsung menutup mulutnya, sementara Reihan merangkul bahunya agar tidak sampai menunjukkan reaksi yang berlebihan.
"Bapak tahu dibawa ke rumah sakit mana?" tanya Reihan.
"Sebentar saya tanyakan." bapak itu kemudian pergi ke dalam rumah.
"Tidak apa-apa. Jangan panik." ujar Reihan.
"Keira, kak..." ucap Melin dengan nada lirih, disertai mata yang berkaca-kaca.
"Dia pasti baik-baik saja." jawab Reihan.
Setelah mengetahui rumah sakit tempat Keira dirawat, mereka pun segera meluncur ke sana.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di sana, karena memang malam itu keluarga membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Bagaimana keadaan Keira, tante?" tanya Melin.
"Kacau, Mel...!!" tangis mama Keira pecah saat itu juga.
Melin dengan sigap memeluk wanita dewasa yang rapuh itu.
"Dia tidak mau bertemu dengan siapa-siapa. Tidak mau makan juga. Dokter membuatnya tertidur agar pikirannya tenang." begitu cerita mama Keira.
"Sabar ya, tante. Semoga Keira segera membaik." ujar Melin.
"Dokter sudah memeriksa semuanya. Dan semua masih baik-baik saja. Tapi sepertinya yang terjadi semalam membuat mentalnya sangat down. Sampai dia berakhir di sini sekarang." kata mama Keira.
"Iya, tante. Saya mengerti. Yang penting mulai saat ini, jangan biarkan dia sendiri. Cepat atau lambat dia pasti butuh seseorang untuk berbagi apa yang dia rasakan." balas Melin.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Kevin datang membawa beberapa bungkus makanan. Reihan mulai waspada, begitu juga dengan Melin. Dia segera merapat pada Reihan. Sedangkan Kevin tersenyum miring, ketika dia menaruh makanan di atas meja.
Tak perlu berlama-lama lagi, Melin memutuskan untuk segera pulang. Dia tidak nyaman berada satu ruangan dengan Kevin.
"Em, tante..." ujar Melin. "Saya pamit dulu ya. Soalnya mau ada acara juga."
"Ah, iya. Terimakasih sudah datang ya, Mel. Bantu do'ain Keira, ya." katanya.
"Iya, tante."
Keduanya kemudian keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan si Kevin.
Kevin kemudian mengeluarkan handphone dari sakunya. Tapi itu bukan miliknya, melainkan milik Keira. Dan Kevin melihat foto yang membuatnya sangat tertarik.
"Seksi..., begini cara mainmu sama jongos kampungan itu. Baiklah Melin..., sekarang aku tahu rupanya kamu juga menyukai yang seperti itu..."
......................
Hari berikutnya.
"Oh my God, Mel...!!" seru Sasha. "Kamu sudah dengar belum, kalau Keira mencoba bunuh diri." kata Sasha.
Melin sedikit kaget, bagaimana Sasha bisa tahu soal itu. Bahkan dia tidak mengatakan apapun padanya.
"Ngawur." balas Melin.
"Ya ampun..., ini sungguhan Meliiiin...! Asal kamu tahu ya, ada yang melihat Keira masuk UGD dengan tangan yang berdarah-darah. Lalu dia kirim fotonya di grup kelasnya. Aku tadi lihat." ujar Sasha.
"Sudahlah, jangan sibuk ngurusin orang." hanya itu tanggapan Melin.
"Ya..., nggak asik banget diajak ngerumpi." gerutu Sasha.
"Harusnya ini tidak terjadi. Siapa yang setega itu menyebarkan kondisi Keira, sih...?!" batin Melin.
Baru beberapa jam Melin mengikuti pelajaran, tiba-tiba saja seorang guru datang mengetuk pintu kelas.
"Maaf, saya memanggil Melin karena ada tamu yang ingin bertemu." ujar guru itu.
__ADS_1
"Siapa? Tumben-tumbenan yang ganggu jam sekolahku..."
Melin pun keluar mengikuti guru yang memanggilnya. Melin diarahkan ke ruang tamu yang berdekatan dengan lobi.
Deg
Syok, takut, lututnya lemas. Itu yang Melin rasakan saat mengetahui sosok yang mencarinya.
"Jadi Melin, ini kakaknya Keira ingin mengajak kamu ke rumah sakit. Karena Keira bilang hanya ingin bicara sama kamu." begitu ujar sang guru.
"Benar, Mel. Ikut aku sebentar saja, nanti aku akan bawa kamu kembali ke sini. Setelah Keira memberikan keterangan pada pihak berwajib. Dia bungkam, tidak ingin mengatakan apapun. Itu mempersulit penyelidikan." tutur Kevin.
Dengan berbagai pertimbangan, pada akhirnya Melin memutuskan untuk pergi bersama Kevin.
"Kenapa, kamu takut dekat-dekat sama aku?" tanya Kevin saat mereka tiba di parkiran. "Kalau memang begitu, kamu duduk saja di bangku belakang." ujarnya lagi.
Melin pun patuh, dia pikir akan lebih aman kalau dia berada di bangku penumpang. Dan jauh-jauh dari si Kevin.
Akan tetapi prediksinya salah telak. Di tengah jalan tiba-tiba muncul seseorang dari belakang bangkunya. Dengan gerakan super cepat dia membungkam Melin dengan sapu tangan. Dan dalam hitungan detik, dia terkulai lemas tak sadarkan diri.
Kevin pun menghentikan mobilnya di tempat yang sepi. Lalu dia bertukar posisi di bangku belakang bersama Melin. Orang suruhannya kemudian mengambil alih kemudi.
......................
"Wellcome to my world, cantikku...!!" dengus Kevin setelah membaringkan Melin di kasur.
Kevin duduk di kursi yang dia letakkan tepat di samping kasur. Dia belum bosan memandangi Melin sejak di dalam mobil tadi. Pesona Melin benar-benar membuatnya hampir gila. Apalagi setelah dia foto Melin yang diambil diam-diam oleh adiknya. Kevin merasa semakin tertantang untuk segera memilikinya.
Setelah beberapa menit, Melin tersadar. Dia melihat ke sekelilingnya yang tampak asing.
"Dimana ini?"
"Sudah bangun..." ujar Kevin.
Melin benar-benar terkejut mendengar suara itu. Dia mulai menyadari kalau posisinya saat ini sangat berbahaya. Melin buru-buru bangun, menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Hal itu membuat Kevin tersenyum miring.
"Baiklah, karena kamu sudah bangun, aku akan buatkan makanan dulu. Pasti lapar kan?" kata Kevin.
"Kamu bilang akan membawaku ke tempat Keira. Kenapa ke sini?!" tanya Melin yang ketakutan.
Melin membuka selimutnya, dia ingin pergi dari tempat itu. Namun Kevin menarik tangannya.
"Tidak semudah itu, cantik. Diamlah di sini, dan bersikap manislah." bisik Kevin tepat di telinga Melin.
"Enggak..., aku mau pulang...!!" Melin berusaha menarik tangannya dengan keras.
"Jika kamu tidak ingin aku bersikap kasar. Maka diamlah." ujar Kevin.
"Aku mau pulaaaang...!!" gumam Melin yang sudah berurai air mata.
"Aku akan mengantarmu, tapi nanti. Atau besok. Lusa..." Kevin menatap Melin. "Atau tidak akan. Karena aku belum bosan melihatmu." katanya.
"Jangan macam-macam! Aku mau pulang...!!" teriak Melin.
"Tidak sekarang. Kita belum banyak ngobrol dan bersenang-senang." Kevin mengedipkan matanya.
"Jangan gila kamu! Aku ini sudah bersuami, kamu tidak pantas seperti ini!" bentak Melin di tengah tangisnya.
"Apa?! Bersuami?! Helllooo...!!!" balas Kevin yang sama sekali tidak percaya.
"Aku mohon..., keluarkan aku dari sini...!!" pinta Melin.
"TIDAAAK....!!!" teriak Kevin.
Kevin mendorong Melin hingga terjatuh di atas kasur. Lalu dia keluar dari kamar itu dan menguncinya.
Melin pun tidak mau diam saja. Masih dengan rasa takutnya, dia mencari tempat untuk kabur dari kamar itu. Tapi percuma, karena jendala di kamar itu pun sudah terkunci rapat.
"Kak Rei...!! Toloooong...!!" jerit Melin dalam hati.
......................
Di saat yang bersamaan, Reihan merasa sangat gelisah. Dan pikirannya hanya tertuju pada Melin seorang.
__ADS_1
"Rei, malam minggu nanti jangan lupa datang ya ke pestaku." Bunga kembali mengingatkannya.
Reihan tidak menjawab, dia masih sibuk merapikan bukunya.
"Reihan..., kamu dengar aku tidak sih?!" Kata Bunga lagi.
Reihan tidak meresponnya lagi. Dia justru melewati Bunga begitu saja.
"Reihan...!!! Rei...!!!" seru Bunga. "Iiih....!!!" dengus Bunga kesal.
Tanpa sepengetahuan Bunga, Anya rupanya sudah berada di luar lebih dulu. Kemudian dia menghadang Reihan.
"Reihan, mau jemput Melin kan. Aku nebeng dong, banku tiba-tiba kempes. Sedangkan aku buru-buru mau ke sekolah." begitu alasannya.
"Naiklah, cepat!" titah Reihan tanpa banyak tanya lagi.
"Siap...!!" Anya tersenyum penuh kemenangan.
Sampai di sekolah Reihan tidak menemukan Melin di depan gerbang. Dia justru melihat Sasha dengan wajah paniknya sambil membawa tas milik Melin.
"Melin mana?" tanya Reihan.
"Itu dia, kak. Tadi pas jam pelajaran dia dipanggil, katanya ada tamu. Dia jemput Melin karena diminta menemani Keira."
"Ponselnya dibawa?" tanya Reihan.
"Tidak." jawab Sasha.
"Aku akan susul ke sana." putus Reihan.
"Aku ikut ya, kak!"
Reihan kembali masuk mobil, dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Keira dirawat. Reihan sudah tidak peduli jika tadi dia datang bersama dengan Anya. Anya pun hanya diam dengan berbagai pikiran dalam benaknya.
"Keira? Siapa dia? Kenapa mereka sepanik itu...?!"
Setelah Reihan pergi, Anya segera menghubungi orang untuk membawa mobilnya ke sekolah. Sejujurnya dia tidak ada urusan penting di sekolah. Itu hanya akal-akalan Anya, agar bisa bareng dengan Reihan ke sekolah dan membuat kesal si Melin saat melihat kedatangannya. Sayangnya, lagi-lagi Melin pemenangnya. Dia selalu sukses membuat Reihan memprioritaskannya.
Dan setibanya Reihan dan Sasha di rumah sakit...
"Melin tidak datang?!" Reihan sangat terkejut.
"Tapi kata guru tadi, kakaknya Keira datang ke sekolah atas permintaan Keira. Untuk menjemput Melin." sahut Sasha.
"Tidak sama sekali." jawab mama Keira.
"Apa Keira punya kakak selain Kevin?!" tanya Reihan.
"Tidak. Kevin satu-satunya." balas ibu itu.
"Di mana dia sekarang?!" tanya Reihan.
"Dia di rumah istirahat. Semalam begadang di sini. Ada apa ini?" mama Keira jadi bingung.
"Kita pergi!" ujar Reihan.
"Hei, kalian...!! Apa yang terjadi?!"
Mama Keira hendak mengikuti mereka, tapi diurungkan karena Keira terbangun.
"Aku mendengar suara kak Reihan. Ada apa, maa?" tanya Keira.
"Nak..., kamu bicara sama mama..." mamanya sangat bahagia. Lantas dia segera memeluk putrinya.
"Katakan pada mama. Apa benar kamu minta kakakakmu jemput Melin?" tanya sang mama. Keira menggeleng.
"Ya Tuhan..., apa Kevin membawa Melin pergi?!" gumam mamanya.
"Maksud mama?"
"Reihan dan temannya datang mencari Melin ke sini. Katanya kamu minta Melin datang." jawab mamanya.
"Apa kakak yang membawanya? Tapi buat apa? Bukannya semua sudah selesai...?!"
__ADS_1
......................