
Reihan tidak bisa tidur dengan tenang malam ini. Dia terus saja memikirkan kondisi Melin. Selain itu, dia juga masih kepikiran dengan segala ucapan orang tua Melin.
"Tuhan..., apa yang harus aku lakukan? Mereka terus saja memenuhi otakku..."
Flashback On
"Saat ini saya bicara sebagai seorang ayah, Reihan." ujar papa Adi.
"Bagaimana pak Adi bisa tiba-tiba mengatakan semua ini pada saya?" balas Reihan sambil terus melihat lurus ke depan. Meskipun hanya ada dinging putih bersih dengan beberapa poster kesehatan.
"Kenapa, apa kamu tidak menyukai anak saya? Sehingga kamu merasa risih...?!" papa Adi menoleh ke arah Reihan.
"Sepertinya tidak ada yang tidak menyukai Melin, pak. Dia baik dan ramah dengan semua orang." balas Reihan.
"Termasuk kamu juga menyukainya?" sahutnya.
Reihan terdiam. Dia bingung harus mengatakan apa.
"Ah, maafkan saya, Reihan." papa Adi menepuk bahu Reihan, lalu tersenyum. "Sepertinya saya terbawa suasana dengan kedekatan kalian. Sekali lagi saya minta maaf, kalau sejak tadi ucapan saya membuat kamu tidak nyaman." tuturnya.
"Saya juga minta maaf, pak. Semoga pak Adi tidak tersinggung dengan sikap saya." kata Reihan menundukkan kepalanya sejenak.
"Justru saya merasa sangat lancang dan bersalah, karena berani menyukai putri bapak." sambungnya. "Karena saya masih sangat jauh dari kata pantas, untuk memiliki perasaan itu." tutur Reihan.
"Tidak ada yang salah dengan sebuah perasaan. Karena itu salah satu kelebihan yang Allah berikan pada manusia." tutur papa Adi.
"Jangan pernah berpikiran seperti itu. Jika memang ternyata kamulah orangnya, kami akan sangat bersyukur." katanya lagi.
"Terimakasih, pak Adi sudah membesarkan hati saya. Tapi maaf sekali lagi, pak. Untuk saat ini saya hanya bisa bertanggung jawab atas pekerjaan yang pak Adi berikan. Karena saya masih harus memberikan kehidupan yang lebih layak buat keluarga saya. Saya ingin mereka bisa merasakan kebahagiaan, karena merekalah saya bisa hidup sampai sekarang. Tentunya pak Adi juga sudah tahu kan latar belakang saya...?" tutur Reihan.
"Iya. Karena itu saya bangga sama kamu." puji papa Adi. "Ini sudah malam, karena kamu tidak bisa bermalam, sebaiknya kamu pulang. Sebelum makin larut." katanya.
"Iya, pak." Reihan menatap pintu kamar rawat Melin yang tertutup.
"Jangan khawatir, saya dan mamanya akan bersama di sini malam ini. Kalau ada apa-apa dengan Melin pasti saya kabari." dia sepertinya mengerti akan kekhawatiran pemuda di sampingnya itu.
"Iya, pak. Kalau begitu saya permisi." pamit Reihan.
Flashback Off
......................
Hari berikutnya Reihan kembali ke rumah sakit lebih awal. Wajahnya tampak lebih segar dan ceria, karena semalam dia berhasil membuat dirinya sendiri berdamai dengan keadaan. Dia meyakinkan dirinya, kalau lampu hijau yang orang tua Melin berikan harusnya tidak membuatnya gelisah. Justru dia harusnya bersyukur karena mereka mempercayakan Melin padanya.
Saat tiba di kamar Melin, tampak mama Yunita sedang membujuknya untuk sarapan. Dan seperti dugaan Reihan, Melin tidak memakan sarapannya. Karena itu dia membawa sarapan buatan sang bibi untuk Melin.
"Aaah, akhirnya pawangnya datang. Sini Rei." kata mama Yunita.
Mama Yunita beranjak dari kursinya. Lalu dia keluar dari kamar itu.
"Aku rasa, aku harus dapat bayaran dobel bulan ini." gurau Reihan sambil menyiapkan sarapan yang dia bawa.
"Karena tugasku sekarang merangkap jadi perawat juga." imbuhnya.
"Akan aku katakan pada papa." balas Melin sambil tersenyum.
"Ini masakan bibi, ayo makan." kata Reihan sambil mendekati Melin.
"Aku pikir kak Rei yang masak." ujar Melin.
"Hanya dalam kehidupan drama dan novel ada cowok yang pandai masak seperti bayanganmu." celoteh Reihan.
Reihan menyuapi Melin, sedikit demi sedikit dan pelan-pelan. Karena beberapa kali Melin tampak kesulitan menelannya.
"Minum dulu." Reihan memberikan air minum pada Melin.
"Lagi apa sudah?" tanya Reihan setelah mengembalikan gelas pada tempatnya.
"Sudah kak, nggak kuat." balas Melin.
Reihan membereskan makanannya. Setelah selesai dengan itu dia kembali duduk menemani Melin.
"Setelah mama kamu kembali, aku akan ke kampus. Setelah itu aku akan menemuimu lagi." begitu janji Reihan.
"Kak Rei berangkat sekarang juga tidak apa-apa. Daripada nanti telat." kata Melin.
"Tidak. Masuknya masih jam sembilan nanti." balas Reihan. Melin hanya mengangguk.
"Kak...?"
"Ya?!" jawab Reihan.
"Maafkan orang tuaku kemarin ya." pinta Melin.
Sejujurnya Melin juga tak enak hati pada Reihan, karena sikap kedua orang tuanya itu. Melin khawatir Reihan justru merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Itu hal wajar, karena mereka orang tuamu." balas Reihan. "Aku bisa mengerti. Jangan khawatirkan tentang aku. Aku baik-baik saja."
"Iya, kak." kata Melin.
Tok... Tok...
"Permisi...!!" seorang suster memasuki kamar Melin. "Selamat pagi..."
"Pagi, suster." mereka kompak menjawab.
"Saya ganti infusnya ya." ujar suster cantik itu.
"Makin ceria hari ini ya, beda sekali dengan semalam." begitu kata sang suster lagi.
"Kira-kira kapan bisa pulang, sus?" tanya Melin.
"Tunggu dokter datang ya, mbak. " jawab susternya.
Selepas menyelesaikan tugasnya, suster itu kembali. Dan kembali meninggalkan mereka berdua.
"Mau hirup udara segar?" Reihan menatap Melin.
"Mana ada udara segar di rumah sakit." ujar Melin.
"Adalah, mau tidak?" tanya Reihan lagi.
"Boleh..." Melin mengangguk.
Reihan mengambil kursi roda, lalu menuntun Melin duduk di atasnya dengan hati-hati.
Reihan membawa Melin ke sebuah taman yang termasuk bagian dalam lingkungan rumah sakit tersebut.
"Reihan...?!" seseorang menyapa Reihan yang sedang mendorong kursi roda.
"Hai." balas Reihan datar.
Sedangkan Melin hanya tersenyum ketika perempuan itu menatapnya.
"Bunga..., ayo...!" seorang ibu memanggil perempuan itu.
"Aku harus pergi. Sampai ketemu di kampus." katanya. "Bye..." dia melambaikan tangannya pada Melin.
"Teman kakak?" tanya Melin.
"Iya, kita satu kelas." jawab Reihan.
Reihan tidak menanggapinya, dia hanya fokus mendorong kursi roda.
Masih ada waktu sebelum Reihan berangkat, jadi Reihan akan menemani Melin duduk santai di taman.
"Lihat kan, tidak semua rumah sakit itu buruk seperti dalam pikiran kamu." kata Reihan.
"Tetap saja aku tidak suka." balas Melin.
"Kalau tidak suka, jangan ceroboh lagi. Kan sudah ku bilang, hanya kamu yang bisa tahu kapan tubuhmu butuh istirahat. Jadi jangan dipaksa, dan pura-pura kuat." tutur Reihan.
"Iya, maaf." Melin mengakuinya, dia terlalu bersemangat sehingga mengabaikan kondisinya.
"Jangan ulangi lagi. Oke?!"
"Iya..."
"Janji?!"
Melin menoleh pada Reihan yang ada di sampingnya.
"Banyak sekali janjiku. Aku takut tidak bisa menepatinya..." gumam Melin.
"Memang sudah seberapa banyak?" Reihan justru tersenyum.
"Seseorang memintaku berjanji menjaga hatiku. Lalu ada lagi yang minta aku berjanji untuk tidak ceroboh lagi. Kemudian..."
Tiba-tiba jari telunjuk Reihan mendarat pada bibir pucat Melin. Hingga membuat empunya terdiam.
"Maaf, jika itu membebanimu." Reihan menurunkan jarinya.
Melin menjadi salah tingkah karena ulah Reihan.
"Mel...?!" itu suara mama Yunita.
Reihan menoleh ke belakang, kemudian berdiri untuk menyambut kedatangan mama Yunita.
"Maaf, bu. Saya tidak minta izin terlebih dulu. Saya membawa Melin jalan-jalan agar tidak bosan."
"Iya, Rei. Saya hanya bingung tadi saat tahu kamarnya kosong." balas mama Yunita.
__ADS_1
"Mau kembali ke kamar sekarang?" tanya Reihan pada Melin.
"Masih mau di sini." jawabnya.
"Sama mama ya, Reihan harus ke kampus." sahut mama Yunita.
Reihan melihat jam tangannya, memang sudah saatnya dia berangkat.
"Kalau begitu saya pamit ya, bu." pamit Reihan. Lalu Reihan melihat Melin.
"Pamit saja, tidak perlu sungkan." goda mama Yunita, kemudian berlalu sedikit menjauh.
"Mamamu..." gumam Reihan sambil mengusap tengkuknya.
"Maaf..." balas Melin.
"Aku pergi dulu, jangan rewel. Kasihan mama kamu. Selesai kuliah aku akan segera kembali ke sini." kata Reihan.
"Iya. Hati-hati, kak." balas Melin.
Sudah pamit, tapi Reihan tak juga beranjak dari hadapan Melin.
"Ada apa?" tanya Melin bingung.
"Tidak." Reihan pun berdiri. "Pergi dulu ya."
"Iya, kak. Hati-hati ya..." kata Melin.
"Dia pasti akan bertemu dengan perempuan itu di kampus nanti. Belum lagi si Anya. Aaah..., mereka semua cantik. Mungkin kak Rei akan jatuh cinta pada salah satu dari mereka. Karena pertemuan mereka lebih intens. Mel..., sainganmu bertambah lho...!!"
Begitu batin Melin sambil terus menatap Reihan yang berjalan semakin jauh darinya.
......................
"Rei...!!" sapa bunga ketika Reihan sampai di kelas. "Aku pikir kamu tidak akan masuk hari ini." katanya.
Reihan tidak membalasnya.
"Siapa yang sakit itu?" tanya bunga setelah Reihan duduk di bangkunya.
"Melin." jawabnya.
"Adik kamu?" tanya Bunga lagi.
"Bukan." balasnya singkat.
"Pacar kamu ya?" kali ini Bunga tampak lebih berhati-hati dengan ucapannya.
"Em." Reihan hanya membalas dengan deheman.
"Oh, cantik ya. Cocok sama kamu. Kuliah di sini juga?" balas Bunga dengan kembali melemparkan pertanyaan.
"Tidak."
Obrolan mereka terhenti karena dosen sudah memasuki ruangan. Dan akan segera menyampaikan materi hari ini.
Beberapa jam berlalu, kuliah pun berakhir. Reihan sesegera mungkin keluar dari kelas, dia sudah sangat khawatir dengan kondisi Melin. Karena sudah masuk jam makan siang.
"Buru-buru amat Rei?!" sapa Anya memang satu kelas juga dengan Reihan dan Bunga.
"Pasti mau jenguk pacarnya." sahut Bunga.
"Pacar?!" gumam Anya bingung.
"Duluan ya." pamit Reihan.
"Dia pasti ke rumah sakit. Tadi pagi aku ketemu dia saat mengantar mama jenguk saudaranya." terang si Bunga.
"Melin bukan?" tanya Anya.
"Iya, kalau tidak salah itu nama yang Reihan sebutkan tadi." balas Bunga.
Anya menyeringai ketika mendengar jawaban Bunga.
"Benar itu pacarnya? Kan kamu dari sekolah yang sama." tanya Bunga pada Anya.
"Mereka memang dekat. Tapi setahuku belum pacaran. Kalau memang Melin orangnya, dia itu hanya majikan si Reihan. Karena Reihan itu bodyguardnya Melin."
"Majikan...?! Bodyguard...?!" sahut Bunga, dia tidak sepenuhnya percaya.
"Em. Feelingku sih, mungkin Reihan diancam dengan sesuatu. Jadinya Reihan menurut saja." begitu ujar Anya.
"Keterlaluan kalau memang seperti itu. Majikannya nggak benar itu." reaksi Bunga sesuai dengan harapan Anya.
"Iya, aku pikit juga begitu. Mana ada bodyguard sampai ngurusi hal pribadi seperti itu. Bodyguard kan pengawal untuk jaga keamanan, masa sampai ngurusi majikan sakit. Berjaga di luar kamar saja sudah cukup harusnya." Anya semakin menjadi.
__ADS_1
Ekspresi Bunga pun semakin membuat Anya menyeringai puas. Karena berhasil menyulut api pada temannya itu.
......................