Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Ketahuan


__ADS_3

Melin membuka matanya, disambut dengan pesona wajah tampan sang suami yang masih terlelap.


"Benar-benar rindu kamar ini rupanya. Sampai tidak bangun-bangun..."


Melin tersenyum sambil terus menatap Reihan. Tak lama kemudian tangannya mulai usil. Dia memainkan hidung Reihan, beralih ke bibirnya, lalu ke telinganya. Reihan tampak menggeliat karena ulah Melin.


Merasa terusik, Reihan pun menangkap tangan Melin lalu membuka matanya. Melin hanya menahan tawanya.


"Tidak bisa diam?"


"Lagian nggak bangun-bangun..., sudah subuh ini..." balas Melin.


Cup


Tiba-tiba saja Reihan mengecup bibir Melin. Melin langsung melotot sambil menutup bibirnya, karena pergerakan yang spontan itu.


"Jangan mainkan telinga lagi, itu bisa mengusik semuanya." bisik Reihan. "Mengerti...?"


Melin menggelengkan kepalanya, dengan tangannya yang masih setia menutupi bibirnya.


"Tidak ingin cepat-cepat merawat baby kan...??!" ujar Reihan masih dengan suara pelan.


Melin menggeleng dengan kecepatan penuh, dia mulai paham maksud Reihan. Wajahnya yang memerah membuat Reihan tersenyum, lalu dia memeluk Melin dengan posesif.


"Aku cowok normal, sayang. Jangan menggodaku kalau belum siap." tuturnya.


Melin diam seribu bahasa, tidak berkutik sama sekali.


Langit masih belum terlalu terang, karena matahari belum menampakkan dirinya. Bibi Nurma sudah bersiap untuk pergi berbelanja.


"Bibi mau kemana?" tanya Melin yang kebetulan baru keluar dari kamar.


"Mau belanja." jawabnya.


"Aku ikut ya bi...?" pinta Melin.


Setelah pamit pada Reihan, Melin pergi bersama bibi Nurma.


Tak jauh dari gang masuk rumah paman Bian, setiap paginya memang selalu ada penjual sayuran dan perikanan yang menggelar dagangannya. Dan selalu dikerubungi oleh ibu-ibu, termasuk bibi Nurma.


Melin selalu menyunggingkan senyuman ketika berpapasan dengan orang. Meski tak jarang, ada yang menatap sinis pada dirinya.


"Pak, dada ayamnya habis?" tanya bibi Nurma.


"Iya, sudah saya beli." sahut seorang ibu dengan nada sedikit ngegas.


"Oh, iya mbak. Tidak apa-apa." balas bibi Nurma biasa saja.


"Ya Allah, ini ibu..." batin Melin.


"Di rumah nggak ada yang alergi seafood kan bi?" tanya Melin pada sang bibi.


"Tidak. Mau masak itu?" bibi Nurma balik bertanya.


Melin mengangguk. Melin mengambil dua bungkus ikan sotong. Dia juga mengambil beberapa perbumbuan yang tidak ada di dapur bibinya.


"Memang bisa masak seafood, mbak Nurma?!" cibir ibu tadi.


Bibi Nurma hanya tersenyum kikuk. Karena memang belum pernah masak sotong.


"Kan saya yang masak, bu. Mumpung di sini, jadi bisa masak buat bibi. Iya kan, bi...?" balas Melin sambil tersenyum pada bibinya.


"Bisa masak...?" si ibu tampak meragukan Melin.


"Alhamdulillah." jawab Melin. "Berapa semuanya pak?" tanya Melin.


Setelah membayar semua belanjaannya, Melin dan bibinya segera pergi. Sebelumnya bibi mengajak Melin mampir ke sebuah rumah yang berjualan jajanan tradisional.


"Bibi..., selamat pagi...!!" sapa seorang gadis muda.


"Lempernya ya." kata bibi Nurma.


"Tumben, bang Rei pulang ya? Kan yang suka lemper cuma bang Rei." katanya.


"Iya. Dia datang sama istrinya." ujar bibi.


Gadis itu melirik Melin sekilas, kemudian kembali fokus pada kue lempernya.


"Melin mau apa?" tanya bibi.


"Terserah bibi saja." balas Melin.


"Aku kasih bonus nih lempernya, spesial buat bang Rei. Sampai kangen lho, lama tidak ketemu." katanya lagi.


"Diiih..., sengaja sekali rupanya." batin Melin terus mengumpat.


Sampai di rumah Melin dan bibi langsung bertempur di dapur. Sudah ada sayuran juga yang tadi sempat dipetik oleh paman Bian untuk melengkapi menu pagi ini.


"Mel..."


"Iya, bi." Melin menoleh pada bibinya yang sedang memotong sayur.


"Jangan ambil hati ucapan Tari tadi ya." rupanya bibi mengkhawatirkan perasaan Melin.


"Bibi ngomong apa coba. Aku nggak apa-apa, kok." bualnya.

__ADS_1


Sejatinya Melin sangat dongkol, dan ingin sekali mengingatkan gadis itu kalau Reihan sudah memiliki istri.


"Bibi khawatir saja." balas sang bibi.


"Jangan khawatir bi. Dulu di sekolah juga banyak yang suka sama kak Reihan." ujar Melin.


"Benarkah...?!"


"Iya..."


Mereka melanjutkan masak sambil terus ngobrol santai.


......................


Melin dan Reihan segera kembali ke rumah setelah mereka selesai sarapan. Karena mereka harus merapikan kamar dengan segera, sebelum Sasha datang.


"Kak Rei tidur di kamar kak Guntur saja. Deketan." ujar Melin.


"Bagaimana kalau tiba-tiba ketemu Sasha pas aku keluar?" balas Reihan.


"Ya, teruuuus...?" Melin memanyunkan bibirnya.


"Aku di kamar bawah saja. Oke...? Kita bisa bertemu setelah Sasha tidur." ujar Reihan.


Melin hanya mengangguk pasrah. Daripada Reihan menginap di rumah pamannya.


"Iya deh. Daripada di rumah paman. Nanti ketemuan sama penjual lemper itu." ucapnya.


Reihan menarik nafas panjang, lalu tersenyum.


"Masih dibahas lagi. Kan sudah dibilang dia bukan siapa-siapa."


"Iya bagi kak Rei. Tapi baginya kak Rei tetap saja idaman, meski sudah jadi suami orang." balas Melin.


Tanpa banyak bicara, Reihan langsung saja memeluk Melin yang moodnya sedang tidak bagus.


"Terserah orang lain mau apa. Yang penting kan aku sudah jadi milik kamu sekarang. Terimakasih sudah cemburu..." ujar Reihan.


"Nyebelin tapiii...!!" gumam Melin.


"Sebelnya sama aku?" tanya Reihan.


Melin menggelengkan kepalanya dalam pelukan hangat itu.


Selang beberapa jam, Sasha tiba di rumah Melin. Kala itu Reihan sedang membersihkan mobil di garasi rumah mewah itu.


"Yang rajin, kak...!!!" seru Sasha.


Reihan hanya mengangkat tangan kanannya yang membawa kanebo. Melin yang ada di belakang Sasha memberikan finger heart pada Reihan. Reihan hanya membalas dengan senyuman.


"Kak Rei masih di sini jam segini. Apa kalian akan malam mingguan?" tanya Sasha setelah menaruh tasnya di meja.


"Ah, tidak. Mungkin dia ada acara sama paman dan yang lain nanti malam. Entahlah." begitu alasan yang dibuat Melin.


"Mel..." Sasha mengambil parfum di meja rias Melin.


"Oh Tuhan...!!"


Melin merutuki kecerobohannya, karena meninggalkan parfum Reihan di sana.


"Saking bucinnya, sampai kamu beli parfumnya kak Reihan...? Pantas saja kadang aroma kamu itu mirip dia." kata Sasha.


"Apa sih...!!" Melin merebut parfum itu, lalu menaruh botol itu kembali ke tempatnya.


"Ya ampun..., pegang doang kali...!! Posesif banget...!!" gurau Sasha.


"Biarin. Wleeek...!!" Melin menjulurkan lidahnya pada Sasha.


Malam pun tiba. Melin dan Sasha sibuk dengan dramanya di dalam kamar itu. Mereka sama sekali tidak keluar kamar setelah acara makan malam.


"Bentar ya." Sasha turun dari kasur, kemudian pergi ke kamar mandi.


Kesempatan itu digunakan Melin untuk mengirim pesan pada Reihan.


Sudah tidur?


_


Belum. Lagi di dapur buat kopi. Mau teh hangat? Aku buatin.


_


Boleh. Aku turun sebentar lagi😘


_


Aku tunggu


_


Melin segera turun dari kasurnya, untuk menemui Reihan.


"Sha...! Aku ke bawah. Mau dibawain apa...?!" seru Melin.


"Terserah deh. Aku kan tamu yang baik..." balas Sasha dari dalam sana.

__ADS_1


"Oke...!!"


Dengan langkahnya yang ringan, dia menuruni anak tangga. Lalu pergi menuju ke dapur.


"Dooor...!!!" Melin menepuk pundak Reihan.


"Jangan berisik, sudah malam." balas Reihan. "Ini tehnya." katanya.


"Thankyou..."


"Kenapa belum tidur? Begadang pasti...!" Reihan memites hidung Melin.


"Nonton drakor." jawabnya.


"Jangan terlalu malam. Cepat istirahat ya." Reihan mengecup kening Melin penuh sayang.


"Iya..., iya..." ujar Melin. "Kak Rei juga cepat tidur."


"Iya." kali ini Reihan mengusap pipi Melin.


Setelah mengambil beberapa camilan, Melin kembali ke kamarnya. Dan melanjutkan acara nontonnya bersama Sasha.


......................


Pagi yang cerah, Sasha pergi ke balkon untuk menghirup udara segar. Dia melihat Reihan sedang melakukan olahraga ringan di halaman.


"Kak Reihan...? Sepagi ini? Apa semalam dia tidur di sini?" gerutunya pelan.


Sasha memutuskan untuk turun, meninggalkan Melin yang sedang sibuk di kamar mandi.


"Melin belum turun?" tanya mama Yunita pada bibi.


"Tadi sudah turun bikin susu hangat untuk mas Reihan. Lalu kembali lagi." jawab si bibi.


"Bagus deh. Saya pikir dia lupa melayani suaminya. Maklum masih bocah." mama Yunita tersenyum geli.


Tak disangka Sasha mendengar obrolan itu, dia kemudian kembali ke kamar Melin.


"Dari mana?" tanya Melin.


Namun tidak ada jawaban dari Sasha. Sasha justru mendekati Melin, dan menatapnya dengan sorot mata yang tajam.


"Jujur sama aku, apa yang kamu rahasiakan?!" katanya.


"Apaan?! Nggak ada apa-apa..." balas Melin.


"Yakin...?!"


"Kamu ini kenapa sih?" Melin beranjak dari meja riasnya, dia lanjut merapikan sepreinya.


"Kalian sudah menikah?!"


Deg


Seketika Melin menghentikan aktivitasnya. Kemudian dia duduk di tepi kasur. Dia yakin sekali Sasha sudah tahu. Meski dia tidak tahu siapa yang mengatakannya.


"Iya." Melin mengangguk.


"Oh my God, Mel...!!!" Sasha menepuk jidatnya, sambil duduk di samping Melin.


"Apa yang sudah terjadi?! Kalian melakukan itu?!! Bagaimana bisa?!! Aku pikir kak Rei polos, baik."


"Dia memang baik." sahut Melin. "Makanya dia menyetujui permintaan papa untuk menikahiku. Karena dia tidak mau terjadi fitnah." terangnya.


"Ah?!" Sasha jadi merasa tak enak hati, karena sudah berpikiran buruk.


"Makanya otak ini jangan negthink mulu isinya..." tegur Melin.


"Sorry..., kan biasanya begitu."


"Tapi kasus ini luar biasa." gumam Melin. "Jadi tolong rahasiakan dulu ya, Sha." pinta Melin.


"Em." Sasha mengangguk. "Aku jadi nggak enak tahu sudah menginap di sini. Tidur di kamar kalian pula." katanya.


"Tidak apa. Kak Rei yang kasih izin, agar kita bisa quality time." Melin memeluk Sasha.


"Nggak enak sumpah, Mel..."


"Bawa enjoy saja." Melin melepas pelukannya. "Mandi gih, terus kita sarapan." ujar Melin.


Sasha pun segera membersihkan diri di kamar mandi.


Beberapa saat kemudian mereka turun ke ruang makan. Sebelumnya Melin sudah memberitahu Reihan soal Sasha. Jadi saat ini Reihan ikut bergabung bersama yang lain di meja makan.


"Kalian berdua awas ya!" ujar Sasha. "Beraninya nikah nggak ngundang aku." katanya.


Orang tua mereka hanya bisa tersenyum mendengarnya.


"Sebagai gantinya besok aku traktir deh." Melin mencoba merayunya.


"Kamu pikir aku cewek apaan...?!" sahut Sasha.


Hal itu membuat semua tertawa. Termasuk bibi yang datang membawa nasi goreng.


......................

__ADS_1


__ADS_2