
Suatu ketikan Reihan mendapat tugas kelompok dari dosennya. Dan secara kebetulan dia satu kelompok dengan Bunga. Raut wajah bahagia terukir jelas di wajah Bunga, ketika namanya berada dalam deretan anggota kelompok Reihan. Lain Bunga, lain pula Anya. Anya yang hingga detik ini masih berusaha mendekati Reihan, tampak kesal ketika mengetahui nama Bunga masuk dalam tim Reihan. Bukan dirinya.
"Jadi kita bertemu dimana nanti sore?" tanya Farel.
"Bagaimana kalau di D'Caffe?" usul Reihan.
Reihan memilih tempat itu karena dia juga akan mengantar Melin ke sana sebelumnya. Tujuannya agar dia tidak perlu bolak-balik lagi. Sekalian jalan saja.
"Oke." jawab yang lain, termasuk Bunga.
"Kalau begitu aku duluan ya. Sampai ketemu di sana." pamit Reihan.
"Buru-buru amat, Rei. Mau kemana?" tanya Riska.
"Tidak usah ditanya kali, sudah pasti mau jemput ayang...!!" ujar si Farel.
Reihan hanya tersenyum sambil menepuk pundak Farel.
Benar sekali yang dikatakan Farel, Reihan memang harus ke sekolah Melin untuk menjemputnya.
Baru saja mobil yang dikemudikan Reihan menepi, Melin sudah tampak melambaikan tangannya dengan raut wajah yang selalu ceria. Kemudian dia berlari seperti anak kecil menuju mobilnya.
"Sudah lama?"
Pertanyaan itu hampir selalu menjadi sambutan setiap menjemput Melin.
"Tidak, baru keluar kok." katanya.
Setelah Melin duduk manis dan memasang seatbeltnya, barulah Reihan melajukan mobilnya.
"Kak, ke tempat bi Ismi yuk...?!" ajak Melin. "Mau beli kue."
"Siap tuan putri..." balas Reihan.
"Diiih..., lebay...!!" sahut Melin.
Hanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai di toko kue itu. Dan kedatangan Melin bersama dengan Reihan disambut hangat oleh bibi Ismi.
"Ramai bi?" tanya Reihan.
"Alhamdulillah..." balas si bibi.
"Kemarin pamanmu dari sini juga. Katanya Lili mau makan kue buatan bibi." begitu cerita bibi.
"Ah iya. Dia kemarin minta padaku. Tapi aku harus mengantar Melin hingga malam. Jadi paman yang aku suruh datang." jelas Reihan.
"Kapan?" sahut Melin yang ikutan nimbrung setelah memilih kue dilayani oleh pegawai bibi.
"Waktu kamu lomba kompetensi. Kan sampai malam." kata Reihan.
Melin mengangguk paham. Memang dia sampai rumah hingga jam sembilan malam saat itu.
Setelah ngobrol cukup lama, mereka memutuskan untuk segera pulang. Karena nanti jam tiga sore Melin ada janji sama teman sekolahnya.
......................
Sambil menunggu Melin yang sedang merayakan pesta kecil temannya, Reihan kembali memeriksa kelengkapan untuk tugas kelompoknya nanti.
Saat melihat kedatangan teman-temannya, Reihan pun segera turum dari mobil dan bergabung dengan mereka. Sebelum masuk ke ruang VIP yang sudah dipesan oleh Bunga, Reihan singgah sejenak di meja yang ditempati Melin dan teman-temannya.
"Aku di atas, kalau sudah selesai langsung ke sana ya." ujarnya.
"Oke."
"Ciieehh...!!!" seru teman-teman Melin.
"Kak, nggak mau makan bareng kita nih?" tawar Sasha yang hari ini berulang tahun.
"Bungkus boleh." candanya sambil menaruh dagunya di atas kepala Melin.
"Yaelah..., warteg kali." balas Sasha.
Setelah itu Reihan pamit, dan segera menyusul teman-temannya. Beberapa saat setelah Reihan naik, datanglah Bunga. Melin yang melihat kehadiran Bunga, menjadi sedikit kesal.
"Kenapa harus sama dia juga sih...?!"
"Kenapa Mel?" tanya Sasha.
"Nggak ada." balas Melin.
Beberapa menit kemudian acara Sasha selesai. Melin memilih menunggu Reihan di mobil, daripada harus melihat Bunga di sana. Pasti Bunga akan kembali mengoloknya.
__ADS_1
Aku di depan. Kunci mobil dong, aku tunggu di mobil saja.
Begitu pesan yang Melin kirimkan pada Reihan.
Beberapa saat kemudian Reihan keluar.
"Kenapa tidak masuk saja? Tunggu di dalam. Sepertinya aku masih lama." kata Reihan.
"Malas ah. Nanti pacarku nggak fokus lagi." sahut Melin sambil mengedipkan mata kirinya.
"Bisa saja kamu. Memang kamu selalu bikin gagal fokus." Reihan menoel hidung Melin.
"Ini. Jangan ketiduran ya." pesan Reihan sambil menyerahkan kunci itu.
"Siap komandan." balas Melin.
Setelah Melin turun, Reihan kembali menemui teman-temannya.
"Sudah pacarannya?!" cibir Bunga dengan lirikan sinis.
"Bunga..." tegur Riska dengan suara lirih karena tak enak sama Reihan.
"Apa sih kamu, Nga...?! Reihan kan cuma kasih kunci mobil." Farel memberikan pembelaan.
"Sorry, yuk lanjut!" kata Reihan.
Cukup lama waktu yang mereka habiskan untuk membahas tugas yang diberikan oleh dosen. Riska melihat jam tangannya.
"Sisanya kita bahas besok di kampus ya." kata Riska.
"Oke." sahut yang lain.
"Bunga bawa mobil?" tanya Farel.
"Bawa, kenapa?" balas Bunga yang sedang menata laptopnya dalam tas.
"Kali saja tidak, bisa sekalian sama kita." kata Farel.
"Tahu gitu tadi aku minta jemput kalian saja." guraunya.
"Rei, kamu duluan tidak pa-pa. Kasihan itu si ayang nungguin." ujar Riska sambil tersenyum.
"Bareng saja." kata Reihan.
Reihan terkejut karena mobilnya tidak terkunci. Dan Melin tertidur di dalam sana.
"Ya ampun, Mel..." gumam Reihan.
Reihan menutup pintu dengan hati-hati, agar tidak mengusik Melin. Lalu dia menata posisi kursinya agar Melin merasa lebih nyaman. Setelah itu barulah dia menjalankan mobilnya.
......................
Selama beberapa hari Reihan disibukkan dengan tugas kelompoknya. Apalagi Reihan dan Bunga sudah masuk sesi latihan untuk presentasi. Dan momen itu dimanfaatkan dengan baik oleh Bunga, untuk membuat Reihan menghabiskan banyak waktu dengannya.
"Bagian yang ini sudah pas belum? Kayaknya kok hambar gitu..." kata Bunga saat mereka kroscek rekaman hasil latihan.
"Iya, saat bagian ini coba lebih tegas ngomongnya." begitu saran Reihan. "Mau coba sekali lagi?" tanya Reihan.
"Boleh." tentu saja Bunga sangat antusias, karena memang itulah yang dia mau.
"Kalian ini semangat sekali. Sudah sore banget ini. Pulang yuk...!" ajak Riska.
"Duluan saja nggak pa-pa." balas Bunga.
"Gimana Rel?" tanya Riska.
"Bolehlah." balasnya. "Kita cabut ya." pamit Farel.
Akhirnya mereka meninggalkan Bunga dan Reihan berdua saja. Keduanya akan melakukan rekaman sekali lagi.
Setelah dikroscek lagi, hasilnya masih tidak memuaskan. Malah semakin banyak kesalahan. Reihan menghembuskan nafas panjang. Dia hanya berpikir mungkin Bunga sudah lelah.
"Besok kita cek sama yang lain. Sekarang sebaiknya kita pulang." kata Reihan.
"Oke." balas Bunga dengan santainya, seolah tidak ada masalah apapun.
Mereka berjalan beriringan saat keluar kelas. Sambil ngobrol seperlunya saja.
"Bawa motor?" tanya Bunga.
"Tidak." balas Reihan singkat.
__ADS_1
"Bareng aku saja." kata Bunga.
"Tidak terimakasih. Kamu duluan saja."
Bunga mulai memikirkan sesuatu. Beberapa detik kemudian dia mulai menjalankan aksinya.
"Aah...!" Bunga pura-pura sempoyongan ketika melewati turunan.
"Bunga!" Reihan dengan gerakan reflek menahan tubuh gadis itu.
"Kamu kenapa?" tanya Reihan.
"Nggak tahu, Rei. Tiba-tiba pusing banget." gumamnya.
"Sebaiknya aku antar, takut ada apa-apa di jalan." kata Reihan.
Pada akhirnya Reihan yang mengantar Bunga pulang.
"Ya ampun..., non Bunga kenapa...?!" seru pembantu di rumah mewah itu.
"Sepertinya tidak enak badan. Tolong bantu." kata Reihan.
Kemudian dua orang pembantu di rumah itu mengantar Bunga ke kamarnya. Diikuti Reihan dari belakang, karena dia membawa barang-barang milik Bunga. Kalau saja isinya bukan hasil tugas kelompok mereka, Reihan tidak akan mau membawanya hingga ke kamar Bunga.
"Thanks, Rei... Maaf merepotkanmu..." ujar Bunga.
"Ya sudah, aku balik." balas Reihan sekalian berpamitan.
"Bawa mobilku saja." kata Bunga.
"Tidak, Nathan sudah menjemputku." katanya.
Yups, Reihan memang sempat mengirim pesan pada Nathan sebelum dia mengantar Bunga pulang.
Bunga tampak tersenyum puas setelah Reihan keluar dari kamarnya.
"Setidaknya aku sudah mendapatkan perhatian darimu, Rei."
......................
"Seriously...?!" begitu respon Nathan saat mendengar cerita Reihan tentang Bunga.
"Kamu jelas dibegoin sama dia. Dia itu di sekolahnya dulu jago sekali debat. Mustahil hanya presentasi gitu saja dia ngulang sampai berkali-kali." begitu tutur Nathan.
"Darimana kamu tahu?" tanya Reihan penasaran.
"Aku sempat kepoin dia sebenarnya. Tapi rupanya cintaku ke Gina sepertinya sudah mentok. Jadi tidak bisa pindah ke lain hati." katanya.
"Dasar playboy." balas Reihan.
"Kembali ke Bunga." Nathan tampak makin serius. "Kamu kepikiran tidak kalau dia melakukan semua itu hanya untuk caper sama kamu?"
Pertanyaan itu membuat Reihan berpikir keras. Dia mulai menghubungkan semuanya. Termasuk diawal-awal ketika Bunga protes soal kedekatannya dengan Melin. Lalu ketika Melin keceplosan dan mengatakan kalau Bunga bicara tak sopan padanya. Semua dia kaitkan, hingga dia bisa mengambil kesimpulan. Bahwa Bunga memang tidak beres.
"Hati-hati saja, Rei. Aku takutnya ulah Bunga ini akan membuat Melin cemburu. Cewek kalau ngambek ribet, bro...!" celoteh Nathan.
"Ah, benar. Kalau sudah seperti itu, semua yang kita lakukan salah terus di mata mereka." Reihan setuju dengan Nathan.
"Memangnya Melin sudah pernah?!" Nathan jadi kepo juga.
"Bukan pernah lagi, sering. Dan betah sekali diam kalau sudah begitu."
Acara nongkrong yang diagendakan sebentar saja, telah berubah menjadi sesi curhat yang memakan waktu berjam-jam. Sehingga keduanya telat pulang ke rumah.
"Malam sekali pulangnya?" tanya bibi Nurma.
"Maaf bi, tadinya mau cepat pulang. Tapi Nathan ngajak ngopi." jawab Reihan.
"Yang penting kamu pulang selamat. Bibi itu takut kamu kenapa-kenapa di jalan. Apalagi lagi marak pembegalan."
"Iya, bi. Maaf membuat bibi khawatir." Reihan rangkul bibi Nurma sambil mengusap punggungnya.
"Sudah makan?" tanya bibi kemudian.
"Sudah bi, tadi ditraktir Nathan." jawabnya.
"Oh, ya sudah. Sekarang kamu mandi, lalu istirahat ya." begitu tutur bibi.
"Iya, bibi juga harus cepat istirahat. Kan aku sudah di rumah." katanya.
Bibi Nurma kembali ke kamarnya. Reihan terus menatap bibinya sambil mengulas sebuah senyuman.
__ADS_1
"Kelak aku akan mengubah hidup kalian. Kalian berhak bahagia."
......................