Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Bertemu Eyang


__ADS_3

Suatu hari, di musim liburan. Reihan harus mengikuti acara keluarga sang istri. Yaitu pergi ke rumah eyang Melin. Reihan sangat senang karena suasana di sana sangat cocok dengannya. Masih asri dan udaranya sejuk. Berbeda dengan kota yang dia tempati.


Tapi kesenangan Reihan terusik, setelah sang mertua memperkenalkannya sebagai menantu.


"Suami?!" eyang putri langsung menatap kedua anaknya bergantian. "Sejak kapan? Bagaimana ini bisa terjadi?!" nada bicaranya sudah cukup menunjukkan kalau dia tidak menyukai pernikahan sang cucu.


"Bu..." mama Yunita berusaha memberi isyarat agar ibunya tidak mengatakan apapun.


"Melin, ajak Reihan istirahat di kamar ya!" titah papa Adi.


Kemudian Reihan dan Melin pamit undur diri. Mereka menuju ke kamar yang biasa Melin tempati.


"Kak Rei..." Melin mendekati Reihan yang sedari tadi diam di dekat jendela.


"Em..." hanya deheman yang Melin dapatkan.


"Kok diam saja, sih?" tanya Melin basa-basi. "Jalan-jalan yuk...?!" ajak Melin.


"Nanti, ya. Aku masih capek." balas Reihan datar.


"Kak Rei tersinggung ya dengan ucapan eyang?" tanya Melin.


"Memangnya tidak ada yang memberitahu eyang tentang pernikahan kita?" Reihan balik tanya. Melin menggeleng.


"Kenapa?!"


"Ceritanya mau bikin kejutan buat eyang. Karena dari dulu eyang ingin melihat aku datang bersama pasanganku. Lagian kan kita belum gelar resepsi. Jadi nantinya eyang akan turut andil dalam mempersiapkan segalanya buat kita. Itu yang sangat eyang inginkan." tutur Melin sangat antusias.


"Kamu yakin eyang akan menyukaiku?" mata Reihan menerawang jauh.


"Yakinlah. Siapa yang tidak menyukai kak Rei? Ayo katakan!" balas Melin.


Tok... Tok... Tok...


Melin pergi membuka pintu, rupanya yang datang adalah mama Yunita.


"Keluar yuk, sebentar lagi waktunya makan malam." kata mama Yunita.


"Iya, ma." jawab Melin.


Reihan dengan malas mengikuti Melin keluar kamar, dan bergabung dengan anggota keluarga yang lain.


"Tunggu, Arka belum datang." ujar eyang. "Dia akan bergabung dengan kita. Dia ingin sekali bertemu Melin, sudah lama sekali mereka tidak bertemu." katanya.


Melin langsung melirik Reihan yang ada di sampingnya. Reihan merasa akan ada sesuatu yang tidak beres setelah ini.


Benar saja, tak lama kemudian seorang pemuda datang dan menyapa semuanya bergantian. Lalu dia mencubit Melin dengan gemas.


"Makin cute yaa...!!!" katanya.


Sementara Reihan sedang berusaha menahan emosi, karena melihat sang istri disentuh pria lain.


"Ini?" Arka menunjuk Reihan, yang tentu saja asing baginya.


"Suamiku." sahut Melin dengan cepat.


"Sungguh?!" Arka sangat terkejut. "Hai, bro. Aku Arka, teman main Melin sejak kecil." dia memperkenalkan dirinya tanpa sungkan.


Acara perkenalan selesai, berlanjut dengan makan malam, kemudian ngobrol santai.


"Eyang mau ke kamar. Mel, temani eyang ya." ujar eyang pada Melin.

__ADS_1


"Baik, eyang." Melin pun menggandeng tangan eyang.


"Arka..."


"Iya, eyang." sahut Arka.


"Radio yang kamu belikan itu suaranya aneh, coba lihat apa masih bisa diperbaiki." kata eyang.


Akhirnya Melin dan Arka pergi ke kamar eyang. Reihan makin kesal. Dia merasa eyang sengaja melakukan semua itu.


"Aku ke kamar dulu ya, pa." pamit Reihan.


Papa Adi hanya bisa mengiyakan. Dia dan sang istri saling pandang.


Reihan geram, tapi dia masih bisa menahannya. Dia merasa sangat kecil di hadapan eyang yang tampak tidak menyukainya sejak kedatangannya siang itu.


Reihan terus menatap jam tangannya, cukup lama, dan semakin lama, Melin tak kunjung kembali. Sampai akhirnya terdengar langkah kaki mendekat, Reihan pun segera memejamkan matanya.


"Kak..., sudah tidur...?" tanya Melin.


Melin menghembuskan nafas panjangnya, saat tahu Reihan sudah terlelap.


......................


Pagi itu terjadi perdebatan antara enyang dan orang tua Melin. Berawal dari mama Yunita yang menegur eyang, lantaran menginginkan Melin pergi membeli bubur bersama Arka.


"Melin sudah menikah dengan Reihan. Kenapa ibu menyuruhnya pergi sama Arka? Itu tidak baik, bu!" tegas mama Yunita.


"Yunita benar, bu. Nanti justru akan timbul kesalahpahaman." kata papa Adi.


"Baguslah. Jadi biar mereka pisah. Dan Melin menikahnya sama Arka. Arka lebih baik dari Reihan. Lebih mapan, masa depannya jelas." sahutnya.


"Eyang cukup. Jangan ganggu rumah tangga Melin dan Reihan!" kata mama Yunita.


"Jangan-jangan kalian juga yang biayai kuliahnya." enyang tersenyum miring.


"Eyang, stoooop...!!!" sahut Melin dari arah pintu.


"Mel..." gumam mama Yunita.


Mama Yunita juga melihat Reihan yang beranjak pergi.


"Eyang sudah keterlaluan! Tidak seharusnya eyang bicara begitu soal suamiku!" bentak Melin. "Aku nyesel datang ke sini! Aku benci sama eyang...!!!" teriak Melin.


Melin kemudian berlari menyusul Reihan ke kamar. Eyang terkulai lemas, dia pun pingsan setelah itu. Papa Adi bergegas merebahkannya di atas kasur.


"Jangan kasih tahu Melin." kata papa Adi. "Biarkan mereka berdua dulu."


Mama Yunita mengangguk patuh.


Di kamar Melin...


"Kamu tidak seharusnya bicara kasar pada eyang." ujar Reihan.


"Tapi eyang sudah keterlaluan." balas Melin.


"Tapi semua yang eyang katakan benar. Aku bukan siapa-siapa, aku tidak punya apa-apa. Bagaimana aku bisa..."


Melin menutup mulut Reihan dengan telapak tangannya. Lalu memeluk Reihan dengan erat.


"Aku sudah bilang kan. Aku nggak suka kakak bahas soal itu." gumam Melin.

__ADS_1


"Tapi itu kenyataan, Mel. Bahkan sampai hari ini aku belum bisa mengimbangi apa yang diberikan oleh keluargamu padamu. Aku belum bisa memberikan apapun padamu." balas Reihan.


Melin hanya menggelengkan kepalanya dalam di dada Reihan. Reihan pun tak ada niatan untuk membalas pelukan itu.


"Temui eyangmu, dan minta maaflah!" titah Reihan sambil mendorong pelan tubuh Melin.


"Tidak!" balasnya dengan tegas.


"Jangan jadi cucu durhaka. Harusnya kamu bersyukur karena masih memiliki eyang." tutur Reihan.


"Kak..., aku melakukan itu demi menjaga kehormatan kak Rei." kata Melin.


"Tidak perlu melakukan itu, aku baik-baik saja. Lagian itu tidak akan mengubah apapun." Reihan tersenyum tipis.


"Kak..." Melin merengek untuk tetap tinggal di kamar bersama Reihan.


"Aku akan berdosa membiarkan istriku berbuat seperti itu pada keluarganya." begitu ujar Reihan.


"Iiihh...!!" Melin menghentak-hentakkan kakinya beberapa kali, lalu keluar dari kamar itu.


Reihan yang frustasi mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu dia menyandarkan punggungnya di headboard.


......................


Reihan berkeinginan untuk segera keluar dari rumah itu. Namun sayangnya kondisi eyang putri membuatnya tidak berkutik. Sehingga mau tidak mau dia harus tinggal di sana sampai beberapa hari ke depan.


"Reihan, papa harap kamu bersabar. Eyang memang seperti itu. Tapi papa yakin, nantinya eyang akan berubah pikiran. Jadi kamu jangan berpikiran macam-macam ya. Papa ada di pihakmu, nak. Jangan khawatir." papa Adi menepuk-nepuk pundak menantunya.


"Terimakasih, paa." balas Reihan.


"Istirahatlah, papa akan memanggil Melin untuk menyusulmu." ujar papanya.


"Baik, pa. Permisi." Reihan kemudian meninggalkan teras rumah, dan pergi menuju kamarnya.


Dia seperti orang asing di rumah itu. Istrinya hampir tak ada waktu untuknya. Lantaran sang eyang selalu saja mencari alasan untuk bisa bersama Melin. Seolah tidak ingin melihat Melin bersamanya. Justru eyang membuat Melin selalu berada di sisinya, dan juga Arka.


Papa Adi menepati janjinya. Saat ini Melin sudah berada di dalam kamarnya bersama Reihan.


"Eyang sudah tidur?" tanya Reihan berbasa-basi.


"Belum. Mama yang menemaninya sekarang." balas Melin.


"Kapan kita pulang? Beberapa hari lagi kuliahku mulai aktif." kata Reihan masih tak ada ekspresi sama sekali.


"Kita akan pulang secepatnya." jawab Melin, dia mengerti kalau Reihan merasa tidak nyaman berada di rumah eyangnya.


"Baguslah. Aku sangat lelah. Selamat malam." Reihan kemudian merebahkan tubuhnya.


Bukan tubuhnya yang lelah, akan tetapi hati dan pikirannya. Dia ingin sekali pergi begitu saja, tapi dia masih memandang mertua dan istrinya.


Melin hanya bisa mengiyakan ucapan Reihan. Karena dia sangat tahu suaminya itu moodnya sedang tidak bagus. Terlebih setelah kejadian pagi itu. Ditambah lagi sekarang eyang jatuh sakit, dan selalu meminta Melin menemaninya. Mungkin kalau hanya sendiri tidak akan jadi masalah. Tapi eyang selalu saja menghadirkan Arka di tengah mereka.


Drrrt... Drrrt....


Sebuah pesan masuk dari Arka. Melin membukanya.


Eyang pesan, besok pagi eyang mau sarapan sama kamu di halaman samping. Eyang ingin makan sambil lihat ikan koleksinya.


_


Iya

__ADS_1


Melin menghela nafas setelah mengirim balasan. Dia kemudian menaruh ponselnya, lalu tidur di samping Reihan. Melin menatap Reihan yang sudah memejamkan matanya. Tak ada lagi bahu sebagai batal tidurnya. Tak ada lagi pelukan sayang. Apalagi kecupan. Melin sangat sedih. Dia pun tidur membelakangi Reihan, dengan air mata yang menetes dari sudut matanya.


......................


__ADS_2