
Selama berhari-hari tidak ada sesuatu yang terjadi. Melin merasa sedikit lebih tenang. Menurutnya, mungkin Keira hanya berbohong soal foto dirinya waktu di toilet sekolah. Melin pun bisa menikmati kesehariannya di sekolah seperti hari-hari biasanya.
Malam minggu ini Keira pergi berkencan dengan Reihan. Mereka makan di sebuah warung sederhana pilihan Melin.
"Kenapa tidak memilih restoran? Kamu takut aku tidak bisa bayar, hah?" ujar Reihan ketika mereka sedang menunggu mie ayam yang dipesan.
"Orang aku maunya makan mie ayam di sini." balas Melin.
"Yakiiin...?" Reihan menyipitkan matanya.
"Yakinlah!" balasnya. "Reviewnya jug bagus. Makanya aku penasaran." kata Melin.
Mereka benar-benar menikmati mie ayam abang-abang yang hanya berdiri di bawah tenda.
"Setelah ini mau kemana?" tanya Reihan.
"Kak Rei maunya kemana?" Melin balik bertanya.
"Kita lihat Nathan balapan sebentar, mau?"
"Boleh." Melin mengiyakan permintaan Reihan.
Namun, perjalanan mereka menuju sirkuit terganggu oleh pemandangan yang sedikit membuat Melin penasaran. Lantaran dari kejauhan, tepatnya di depan sebuah kafe, Melin melihat Keira sedang dirangkul seorang lelaki. Dan Keira sepertinya tidak sadar. Atau mungkin dia sedang tertidur.
"Mau ngapain sih...?!" tanya Reihan. Karena Melin minta Reihan berhenti.
"Perasaanku nggak enak, kak. Ikuti mereka ya!" pinta Melin.
"Siapa mereka? Kenapa harus kita ikuti?" balas Reihan.
"Ikuti saja, ayo buruan...!"
Reihan patuh saja, dia fokus mengikuti mobil yang membawa Keira. Hingga mobil itu memasuki sebuah apartemen.
"Nggak bener ini." gerutu Melin. "Ayo turun kak, cepat...!"
Reihan mulai tahu kenapa Melin begitu cemas. Ternyata gadis yang dibawa lelaki itu adalah Keira.
"Woih...!!" teriak Reihan, ketika lelaki itu hendak membawa Keira masuk lift.
Reihan dan Melin berlari ke arah orang itu. Namun mereka di hadang security. Sehingga orang itu berhasil lolos.
"Itu teman saya yang dibawa, pak. Kenapa bapak diam saja?!" sentak Melin.
"Itu urusan mereka. Jangan ikut campur!" sahut si bapak.
"Bapak kalau kerja yang bener dong! Teman saya dalam bahaya itu...!!" tegur Melin.
"Berapa dia bayar bapak sampai bapak rela menjatuhkan harga diri bapak sebagai petugas keamanan?! Sumpah jabatan bapak fungsinya buat apa?! Formalitas doang, iya?!" bentak Melin.
"Kami bisa laporkan bapak, kalau sampai terjadi sesuatu pada teman kami!" tambah Reihan.
"Antar kami ke kamar orang itu. Atau bapak akan menyesal!!" sahut Melin.
"Sudahlah, kalian ini mending pulang saja. Tidak usah ikut campur urusan orang!" bapak security itu justru membentak mereka.
"Bac*t!!" sentak Melin. "Ayo!!"
Melin menarik tangan Reihan ketika lift sebelah terbuka, karena ada pengunjung yang keluar.
"Kalian...!!" security itu menggeram.
Beruntung Melin sempat memperhatikan lantai tujuan orang yang membawa Keira. Jadi Melin segera menuju lantai yang sama.
Sampai di sana mereka kebingungan karena tidak tahu di mana tempatnya. Kemudian Melin memencet bel di samping pintu satu persatu.
__ADS_1
"Itu mereka perusuhnya...!!"
Rupanya security tadi datang membawa pasukan.
"Hentikan!" teriak seorang security senior dengan tegas. "Kalian sudah mengganggu kenyamanan penghuni di sini!" katanya lagi.
Melin tidak peduli, dia terus memencet bel. Meski security yang di awal dia temui terus berusaha menghalanginya.
"Ada keributan apa ini?!"
"Mengganggu sekali...!"
"Iya, berisik!!"
"Maaf semuanya, kami sedang mencari teman yang disekap di sini. Mohon bantuannya!" ujar Melin.
"Sebaiknya kalian keluar!"
Tangan Melin dtarik oleh seorang security. Melihat hal itu, tentu Reihan tidak akan diam saja. Dia menendang tangan security itu.
"Jangan berani sentuh istri saya!" ucapnya dengan nada yang cukup mengejutkan.
"Tunggu. Ini waktunya orang istirahat." seorang bapak berusaha membuat situasi lebih kondisif.
"Katakan, seperti apa yang menyekap teman kalian? Kamu tahu orangnya?" tanya si bapak kemudian.
"Tinggi, kurus, rambut cepak!" sahut Reihan dengan cepat.
"Dion...?!" gumam orang-orang itu bersamaan.
Semua security saling pandang, kecuali yang sudah menerima suap dari lelaki itu. Dia terlihat sangat kikuk.
"Amankan apartemen. Tutup semua akses keluar!" titah security senior dengan tegas melalui HT.
......................
"Astaghfirullah..." Reihan segera mengalihkan pandangannya.
Dengan mudah mereka meringkus Dion, lantaran banyak penghuni apartemen yang turut mengepung unit milik Dion itu.
Setelah Dion dibawa keluar, Reihan menutup pintu kamar itu dan menunggu di luar. Karena Melin sedang membantu Keira untuk mengenakan bajunya kembali.
"Eeengh..." Keira melenguh, sepertinya kesadarannya mulai kembali.
"Kei..."
"Kamu?!" Keira terkejut.
"Aaah...!!!" Keira teriak saat tahu Melin memegang bajunya.
Keira menepis tangan Melin, dan mengacing bajunya dengan cepat. Bersamaan dengan itu Reihan masuk ke kamar. Keira menatap Melin dan Reihan bergantian.
"Kalian menjebakku?! Dasar jahat!!" teriaknya.
"Eh, bocah! Harusnya kamu berterimakasih, karena kami datang menyelamatkanmu." ujar Reihan dengan santai.
"Dion itu jahat, Kei. Kenapa kamu bisa bertemu orang seperti itu?" sahut Melin.
"Dion...?!" Keira kemudian melihat sekeliling ruangan itu.
Iya, dia sangat mengenal tempat itu.Dia pun sadar sedang berada di apartemen milik Dion. Ketika menatap kaca besar yang menempel di dinding kamar itu, Keira terbelalak. Matanya merah dan berkaca-kaca. Dia melihat lehernya penuh dengan noda yang pernah dia lihat di dada Melin beberapa waktu lalu.
"Tidaaaak...!!!" Keira teriak histeris sambil memukul lehernya berkali-kali. "Menjijikkaaan...!!!" tangis Keira pecah.
Melin segera memeluknya, dan berusaha membuatnya tenang. Melin meyakinkannya, bahwa Dion belum melakukan sesuatu seperti yang dia bayangkan. Tapi tetap saja itu tidak membuahkan hasil. Beberapa saat setelah tangis Keira reda. Melin dan Reihan mengantarnya pulang.
__ADS_1
Pintu rumah Keira terbuka, yang muncul adalah sang kakak, Kevin. Melin langsung melepas tangan Keira, lalu mundur beberapa langkah, dan berlindung di balik tubuh tegap sang suami.
"Kei, ada apa?" Kevin ingin meraih tangan adiknya, tapi Keira langsung berlari masuk ke rumah.
"Orang tuamu ada?" tanya Reihan tanpa ekspresi yang berarti.
"Apa yang terjadi?" Kevin menatap dia sejoli itu bergantian.
"Aku perlu bicara dengan orang tuamu." balas Reihan.
Akhirnya Kevin membawa mereka masuk. Dan memanggil kedua orang tuanya.
"Mau apa kalian kemari?!" nda dingin itu keluar dari mulut papanya Kevin.
Orang tua Kevin masih kesal dengan keluarga Melin. Mereka tidak terima dengan apa yang dilakukan papanya Melin setelah insiden itu.
Sekalipun sambutannya sedingin itu, Reihan tetap menceritakan semua yang terjadi pada Keira.
Setelah menyelesaikan urusan dengan Keira, Reihan dan Melin pamit undur diri.
"Melin, Reihan..." panggil papa Kevin.
Reihan dan Melin sontak menoleh pada sosok yang memanggil nama mereka.
"Terimakasih sudah sudah menolong Keira." katanya.
"Sama-sama om..." balas Reihan. Sementara Melin hanya menggangguk sambil sedikit menyunggingkan senyuman.
Saat dalam perjalanan pulang, Melin lebih banyak bengong. Dia masih khawatir dengan kondisi Keira.
"Langsung pulang saja ya." kata Reihan.
"Iya." jawaban yang singkat.
"Kamu kenapa? Dari tadi diam saja." tanya Reihan.
"Aku kepikiran Keira. Dia pasti sangat terpukul." kata Melin.
"Setelah apa yang Keira lakukan sama kamu, kamu masih bisa perhatian sama dia." sahut Reihan.
"Aku kasihan sama dia, kak." ujar Melin. "Aku bisa rasakan bagaimana perasaannya saat ini." gumam Melin.
"Aku tahu. Karena kamu memang berhati baik." kata Reihan. "Tapi jangan berlebihan mengkhawatirkan orang lain. Nanti kamunya malah yang sakit karena banyak pikiran." Reihan menasehati Melin dengan pelan.
"Iya, kak..." balas Melin.
"Semoga saja kamu tidak melakukan hal yang sama pada Kevin. Jelas sekali dia masih menginginkanmu. Jangan sampai dia salah paham dengan kebaikanmu."
Reihan teringat bagaimana cara Kevin menatap Melin. Padahal dia ada di samping Melin saat itu.
"Kalau besok, aku jenguk Keira. Kak Rei keberatan tidak?" tanya Melin dengan hati-hati.
"Tidak. Asal bersamaku." jawab Reihan.
Sesungguhnya dalam lubuk hati terdalamnya, dia sangat keberatan. Tapi semua kembali lagi Melin. Dia tidak ingin menambah kesedihan Melin, dengan melarangnya pergi ketemu Keira.
"Aku juga tidak berani pergi sendiri kali, kak. Aku masih takut dengan kak Kevin." Melin memelankan suaranya pada kalimat terakhirnya.
"Selama ada aku, kamu tidak perlu takut." Reihan tersenyum sambil mengacak-acak rambut Melin dengan tangan kirinya.
"Iya tahu...!!" Melin tersenyum.
"Beruntung aku memilikimu, kak. Suami idamaaaan bangeeet...!! "
......................
__ADS_1