Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Hampir Saja


__ADS_3

Malam semakin larut, dan angin kian menunjukkan dinginnya ketika menyentuh kulit. Ketika semua tengah mengistirahatkan tubuh lelah mereka, Reihan justru belum bisa memejamkan matanya. Selain karena tidak nyaman tidur di rumah orang, dia juga masih terus memikirkan Melin yang belum juga menonaktifkan mode ngambeknya.


Aku tahu kamu belum tidur, Mel... Tapi kenapa kamu tidak mau membalasku?!


Reihan terus menunggu balasan dari Melin. Tapi dari sekian banyak pesan, tidak satu pun yang dihiraukan oleh Melin.


Harus bagaimana agar kamu mau bicara lagi?? Katakan Mel...!!


1 menit...


5 menit...


10 menit...


Baiklah, jangan kaget kalau aku akan mendatangi kamarmu sekarang juga. Dan aku tidak akan pergi sampai kamu mau bicara padaku lagi.


Reihan menahan tawanya ketika mengetik pesan itu.


Di saat yang bersamaan, tepatnya di kamar Melin. Melin bergegas turun dari kasurnya setelah membaca pesan dari Reihan. Kemudian dia mengecek pintu dan jendela, memastikan bahwa semua sudah terkunci rapat. Dan tidak akan ada yang bisa masuk ke kamarnya.


"Lama-lama makin ngeselin deh. Nggak begitu juga konsepnya orang minta maaf...!!"


Melin mengerucutkan bibirnya sambil berjalan menuju kasurnya. Dan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Ketika tengah malam, tiba-tiba Melin merasa sangat lapar. Karena dia tidak makan apapun selain makanan yang di taman sore itu. Dan itupun tidak dihabiskan.


Melin memutuskan untuk pergi ke dapur mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya.


"Yaa.., nggak ada..." gumamnya.


Melin pun mengambil roti dan mengolesinya dengan selai kacang.


Ceklek


Melin menoleh pada sumber suara, memastikan siapa yang membuka pintu dapur. Setelah mengetahui sosok yang datang adalah Reihan, Melin pun segera beranjak dari kursinya.


"Meeell...!!"


Berkat langkah panjangnya, Reihan berhasil menahan Melin.


"Masih marah?" tanya Reihan dengan nada suara yang lembut. "Aku benar-benar minta maaf. Mau maafin aku kan?" pintanya.


Melin tetap diam. Reihan melihat roti yang ditangan Melin, kemudian dia tersenyum.


"Pasti lapar. Duduk sini, aku buatkan sesuati." Reihan menuntun Melin agar duduk di depan pantry.


Melin terus memperhatikan Reihan yang sedang memasak nasi goreng. Saat Reihan membelakanginya, Melin menyunggingkan senyuman meski setipis tisu. Setelah matang, Reihan menghidangkan nasi goreng itu untuk Melin.


"Makan." ujarnya.


Reihan duduk di hadapan Melin, memperhatikan Melin yang sedang menyantap nasi goreng buatannya.


"Enak...?" tanya Reihan.


"Perasaan kemarin ada yang bilang, kalau cowok jago masak hanya ada dalam drama." ujar Melin tanpa melihat Reihan.


"Apa itu artinya, masakanku enak?" sahut Reihan.


"Setidak bisa mengganjal perutku." balas Melin sekenanya.


"Setidaknya juga..., aku bisa mendengar celoteh pacarku lagi." Reihan berusaha menggoda Melin.


Uhuk... Uhuk...


Melin yang sedang minum, sampai tersedak mendengarnya.


"Maaf..., maaf..." Reihan memutari pantry, lalu mengusap punggung Melin.


"Sudah enakan?" tanya Reihan.


"Em." balas Melin.


"Syukurlah..." gumam Reihan.


"Sudah mau memaafkanku...?" tanya Reihan. "Ngambeknya sudahan ya..., please...!!"


"Jangan bicara macam-macam lagi." kata Melin.

__ADS_1


"Iya, janji." Reihan tersenyum. Melin pun mengangguk.


"Senyum, dong...!" bujuk Reihan.


"Itu baru pacarku. Cantik...!!" Reihan mencubit pelan pipi Melin.


"Sekarang kamu masuk kamar dan tidur." kata Reihan.


"Baru juga selesai makan." balas Melin. "Nanti gendut lagi... Mau pacarnya gendut."


"Biar gendut asal itu kamu tidak masalah."


"Diiih..., gombal." sahut Melin.


"Serius...!" kata Reihan. "Almarhumah ibuku juga gendut, cantik, dan ayah sangat mencintainya." Reihan tersenyum seolah melihat ibunya ada di dekatnya.


"Oh ya...? Aku boleh lihat fotonya?" tanya Melin.


"Handphoneku di paviliun. Besok aku tunjukkan." janjinya.


"Oke."


"Sekarang kamu tidur, ini sudah sangat malam." kata Reihan.


"Temani ke kamar boleh?" pinta Melin dengan suara manjanya.


"Sampai tangga saja ya." jawab Reihan.


Mereka pun beriringan menuju tangga. Tak ada suara apapun malam itu, kecuali langkah kaki mereka dan detak jarum jam. Rumah sangat sepi karena kedua orang tua Melin sedang pergi. Dan para pekerja sedang beristirahat di paviliun.


"Tidur yang nyenyak ya." kata Reihan yang masih memegang kedua tangan Melin.


"Kak Rei juga." balas Melin tersipu malu.


"Naik, gih. Aku awasi dari sini." ujar Reihan sambil melepaskan tangan Melin.


Baru berjalan beberapa langkah, Melin berhenti. Tiba-tiba saja dia memeluk Reihan. Membuat Reihan syok dan mematung.


"Terimakasih untuk semuanya, kak. I love you..." itulah kalimat yang dia ucapkan.


Reihan tersenyum, kemudian membalas pelukan Melin.


Adengan itu tidak berlangsung lama, karena Reihan sadar mereka sudah menginjak garis batasan. Sebelum terbuai terlalu jauh, Reihan melepaskan pelukan itu. Dan meminta Melin segera pergi ke kamar. Melin pun mematuhinya.


"Oh Tuhan..., hampir saja."


Reihan mengusap-usap dadanya saat kembali ke paviliun.


......................


"Pagi, non..." sapa bibi saat menghidangkan sarapan untuk Melin.


"Pagi, bi..." balas Melin.


"Non Melin semalam makan ya? Kok tidak bangunin bibi?" tanya bibi.


"Ah, iya bi." Melin sedikit gugup. "Tadinya mau bangunin bibi, tapi nggak jadi. Hehehee..."


"Lain kali bangunin bibi saja, tidak apa-apa non. Biar tidak masak sendiri. Kalau non Melinnya sampai luka, bibi bisa kena omel." celoteh si bibi.


"Tidak apa-apa bi. Makanya bibi jangan bilang-bilang mama dan papa." kata Melin.


"Aman!!" bibi langsung membuat gerakan mengunci bibinya.


"Bi..., kak Reihan masih di sini?" tanya Melin.


"Iyalah non, kan semalam disuruh ibu tidur sini. Takut kalau non Melin butuh apa-apa." jelasnya.


"Oh..." balas Melin. "Ya sudah, bibi ajak semuanya sarapan di sini ya. Aku nggak suka makan sendirian." katanya.


"Siap, non."


Tidak akan ada penolakan untuk permintaan yang satu itu. Karena itu memang selalu Melin lakukan ketika dia harus makan seorang diri. Sayangnya yang bisa ikut sarapan hanya bibi, karena yang lain masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Termasuk Reihan.


"Kak Rei, sudah makan belum?" tanya Melin saat dia menemui Reihan yang sedang memanasi motor.


"Nanti." katanya. "Hari ini mau kemana? Kalau tidak ada acara, aku akan izin pulang." ujarnya.

__ADS_1


"Oh. Iya." balas Melin, raut wajah kecewanya tampak sangat jelas.


"Kenapa, heem...?" Reihan mendekati Melin.


"Nggak apa-apa." jawabnya biasa saja. Tanpa ekspresi.


"Tidak ingin aku pulang...?" sahut Reihan dengan senyuman manisnya.


"Ya Tuhan..., memangnya boleh secakep ini...?????" batin Melin.


"Kan semalam sudah dipeluk." bisik Reihan.


Plak...!!


Tabokan yang tidak terasa sakit itu mampir tepat di bahu Reihan.


"Aaauuhh...!" Reihan pura-pura kesakitan.


"Maaf...!" Melin mengusap bahu itu.


"Aku mau ngomong. Tapi janji tidak boleh ngambek lagi." Reihan memperingatkan Melin dengan nada yang lembut.


"Apa?" sahut Melin.


"Janji dulu...!" balas Reihan.


"Iyaaaa..., aku janjiiii...!!" ujar Melin.


"Lain kali, jangan seperti itu lagi ya." kata Reihan.


Melin menyipitkan matanya sebagai tanda belum mengerti 'seperti itu' yang mana yang Reihan maksud.


"Jangan main peluk-peluk begitu lagi. Aku cowok normal Mel, dan imanku kadang juga bisa goyah. Mengerti maksudku...?"


"Kan cuma meluk doang..." Melin sedikit tidak terima dengan ucapan Reihan.


"Memang meluk doang, tapi efeknya panjang, Meeeel..." Reihan hanya bisa mengumpat dalam pikirannya.


"Kalau ada yang lihat bagaimana? Bisa-bisa kita diminta menikah saat itu juga." ujar Reihan sekenanya. Terlebih dia tahu, kalau Melin tidak mau menikah muda.


"Masa begitu doang harus nikah?!" sahutnya dengan nada agak tinggi.


"Ssssttt...!!" Reihan memberi isyarat agar Melin mengecilkan suaranya.


"Ya sudah, aku pulang ya. Kalau kamu mau kemana-mana hubungi aku." Reihan lagi-lagi tersenyum manis.


"Hubungi siapa?!" sahut Melin menggoda.


"Hubungi pacar kamu." bisik Reihan.


"Siap, pacar...!!" balas Melin sambil memberi hormat.


Reihan menaiki motor yang sudah dia panasi sebelumnya. Tak lupa juga memakai helmnya.


"Kak..."


"Eem...?!" Reihan menoleh ke samping tempat Melin berdiri.


"Kapan-kapan kita pergi naik motor ya?!" pintanya.


"Boleh. Aku akan izin orang tuamu dulu." balas Reihan.


"Iih..., kalau izin mana dibolehin. Langsung pergi saja."


"Pacarku, sayang...!" ujar Reihan. "Kalau caranya begitu, sama saja aku nyulik kamu. Dan itu perbuatan jahat." tuturnya.


Melin langsung pasang wajah cemberut.


"Aku akan bilang papamu dan bujuk dia agar diizinkan. Aku janji. Tapi jangan cemberut begitu. Jelek tahu...!!" bujuk Reihan.


"Lagian nyebelin." balas Melin.


"Iya deh iya..., yang paling nyenengin..." godanya. "Aku pulang ya. Bye...!!"


"Bye..., hati-hati ya...!!"


"Yaaa, pulang deh...!!" batin Melin setelah Reihan tak terlihat lagi.

__ADS_1


......................


__ADS_2