
Reihan melepas dasinya, dia sudah mulai gerah dengan penampilannya yang terlalu formal.
"Langsung pulang?" tanya Gina.
"Aku akan menunggu Melin." jawab Reihan sambil menyimpan dasi dalam tasnya.
"Kita pulang duluan saja." kata Nathan pada Gina.
"Pergilah! Jangan pacaran di hadapanku!" celetuk Reihan.
Nathan dan Gina memang baru jadian dua minggu sebelum acara kelulusan.
"Ciieeh..., iri...?! Bilang bos...!!!" sahut Nathan.
"Rei...!!!"
Semua menoleh ke arah pintu. Ternyata Anya sudah berdiri di sana.
"Dia lagi..." gumam Gina.
"Rei, bisa ngobrol sebentar?" ujar Anya dengan lembut.
"Sebaiknya kita pergi!" Nathan sambil menggandeng tangan Gina.
"Hati-hati." bisik Gina pada Reihan.
"Sebaiknya bicara di luar." ujarnya sambil meraih tas ranselnya.
Anya mengikut saja. Asal dia bisa ngobrol dengan Reihan.
"Ada apa?" tanya Reihan saat mereka sudah berada di tempat yang masih ramai.
"Ini buat kamu, Rei. Sebagai hadiah karena kamu berhasil jadi lulusan terbaik." Anya menyodorkan sebuah papperbag pada Reihan.
Reihan tak bergeming.
"Rei..., setidaknya kamu bisa terima ini. Meski belum bisa membalasnya perasaanku padamu." ujar Anya.
"Sebagai teman." sahut Reihan. Anya mengangguk dengan senyuman yang mengembang.
"Thanks." kata Reihan. "Aku harus menemui Melin." Reihan beranjak dari tempatnya.
Mendengar nama itu membuat Anya meremas jemarinya. Dia tampak sangat kesal.
Sementara di aula, Melin tengah sibuk merapikan kursi dan perlengkapan lainnya bersama teman-temannya.
"Aaah...!!" dengus Melin. "Aku istirahat dulu ya, guys...!" katanya.
Reihan yang baru saja masuk, segera mendekati Melin.
"Capek?!" cibir Reihan.
"Ah!" Melin terkejut.
"Jadi ini yang membuatmu tidak ingin pulang?!" Reihan terlihat sangat marah.
"Kak..., aku hanya bantu sebentar." Melin mencoba memberi pengertian. "Tidak enak kalau aku tinggalin mereka begitu saja."
Tanpa banyak bicara, Reihan melepas tasnya dan menaruhnya di samping Melin.
"Diam di sini!" katanya lagi.
Reihan turun tangan membantu beberes di aula. Reihan juga mendekati ketua OSIS yang berada di sana juga.
"Tolong jangan libatkan Melin dalam kegiatan seperti ini. Meski dia memaksa." bisik Reihan. "Dia sakit."
"Oh, sorry kak. Aku tidak tahu."
"Dia juga anaknya tidak enakan, makanya memaksa diri seperti itu. Aku titip itu saja. Thanks ya." Reihan menepuk pundak adik kelasnya itu.
"Siap, kak!"
"Aku akan bawa dia pulang. Ini hampir selesai, tidak apa-apa kan?"
"Iya, kak. Terimakasih sudah dibantu."
__ADS_1
Setelah itu Reihan kembali pada Melin.
"Ayo!" Reihan meraih tangan Melin.
Melin patuh saja. Dia melangkah bersama Reihan yang sama sekali tidak ingin melepaskan tangannya.
"Masuklah, hati-hati." kata Reihan sambil membuka pintu mobil.
Mobil tak kunjung melaju meskipun keduanya sudah berada di dalam.
"Merasakan sesuatu?" tanya Reihan.
"Tidak, hanya sedikit lelah." jawab Melin.
"Sungguh?" Reihan kembali memastikan.
"Iya, kak." balas Melin. "Kak Rei tidak perlu sampai seperti itu. Aku juga tahu bagaimana keadaanku. Jadi kak Rei jangan berlebihan." celetuk Melin.
"Berlebihan?!" Reihan tersenyum miring. "Aku khawatir sama kamu apa itu salah?!"
"Bukan semata karena pekerjaanku, Mel. Pekerjaan bisa dicari. Tapi kamu?! Aku tidak rela terjadi sesuatu sama kamu. Karena aku peduli sama kamu. Aku sayang sama kamu!" celoteh Reihan.
Deg
"Kak Rei bilang apa...?" sahut Melin.
Reihan baru sadar kalau emosinya telah membuka rahasia yang selama ini dia simpan. Reihan menarik nafas panjang.
"Harusnya aku tidak memiliki perasaan apapun sama kamu. Tapi aku tidak bisa menolaknya." katanya sambil fokus ke depan.
"Memang salahnya dimana...?!" gumam Melin tak mengerti.
Reihan menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum tipis.
"Aku bukan siapa-siapa, Mel. Aku merasa tidak pantas bersanding denganmu, apalagi dengan keluargamu." balas Reihan.
"Kak Rei dapat kesimpulan itu atas dasar apa? Apa aku dan keluargaku terlihat seburuk itu?!" tanya Melin.
"Justru karena kalian baik dalam segala sisi." jawab Reihan dengan tenang.
Reihan terdiam.
"Asal kak Rei tahu ya, aku sekolah di sini awalnya terpaksa. Karena perintah papa. Tapi sejak aku bertemu kak Rei, aku jadi sangat bersemangat pergi ke sekolah. Dan aku semakin tidak bisa jauh dari kak Rei, sejak..." Melin tidak melanjutkan kalimatnya.
"Maaf, aku tidak bisa..." mata Melin tiba-tiba basah.
Reihan mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.
"Jangan dilanjutkan. Aku tahu." ujarnya.
Reihan kemudian meraih tangan Melin. Menarik nafas panjang untuk sekian kalinya.
"Kalau boleh, aku minta jaga hatimu sampai aku benar-benar bisa memantaskan diri denganmu. Aku tidak ingin bermain-main dengan sebuah hubungan. Aku tidak mau kalau hubungan kita nantinya mengganggu sekolah kamu. Ada orang tua yang menunggu keberhasilan kamu, bukan. Aku yakin pak Adi membawamu kemari bukan tanpa alasan." tutur Reihan.
Melin mengangguk. Karena yang dikatakan Reihan memang benar adanya.
"Aku juga memiliki keluarga yang harus aku bahagiakan. Kalau aku tidak berhasil membuat mereka merasakan hidup yang lebih baik. Bagaimana aku bisa meyakinkan keluargamu, kalau aku bisa membuatmu bahagia dan hidup layak." Reihan tersenyum.
"Kenapa kak Rei bahasnya sejauh itu...?" Melin jadi tersipu malu, hingga wajahnya merona.
"Sudah aku katakan, aku tidak ingin main-main. Memangnya kamu mau aku seperti Nathan, sebulan pacaran sebulan putus?" katanya.
Melin menggelengkan kepalanya. Lalu dia tiba-tiba teringat Gina. Yang baru saja menjalin hubungan dengan Nathan.
"Bagaimana dengan kak Gina...?" gumam Melin.
"Semoga Gina yang terakhir." balas Reihan. "Jadi pulang tidak?" tanya Reihan.
"Em." Melin menganggukkan kepalanya.
"Ya ampun..., mimpi apa aku semalam ya? Akhirnya aku mendapat pernyataan itu kak Rei. Aaahh..., pengen teriak...!!!"
......................
"Papa dengar Reihan jadi lulusan terbaik." kata papa Adi.
__ADS_1
"Iya, pa." balas Melin.
"Semoga kamu juga bisa mengikuti jejak Reihan. Menjadi murid yang berprestasi." ujar papanya.
"Aamiin..."
"Papa kan tadi sore ke rumah Reihan, bagaimana hasilnya?" sahut mama Yunita.
"Ke rumah kak Rei? Ngapain, paa?" balas Melin.
"Papa hanya menawarkan pekerjaan untuk pak Bian. Karena kantor sedang butuh tenaga tambahan." terang papa Adi.
"Hanya itu?" Melin masih tidak percaya.
"Terus menurut kamu papa mau ngapain? Minta Reihan jadi suamimu?!" canda papa Adi.
"Papaaa...?!" rengekan manja itu kembali terdengar setelah sekian lamanya.
"Papa ini suka sekali menggoda anaknya." sahut mama Yunita.
"Tapi ma, mama setuju-setuju saja sih kalau memang mereka nantinya niat menikah muda." papa semakin menjadi.
"Aku nggak mau ya...!" sahut Melin. Lalu dia beranjak dari ruangan itu.
"Nggak mau apa, sayang...?! Bukannya Reihan itu ganteng, pintar lagi...!!" seru papanya.
"Papaa, sudah ah." tegur mama Yunita.
Tapi dalam mama Yunita ada rasa bahagia, karena suaminya sudah berubah. Dia jadi lebih hangat, dan banyak bercanda sekarang.
"Feeling papa tidak akan meleset, ma. Diantara mereka seperti ada chemistry." tutur papa Adi.
"Apa menurut papa itu hal baik?" tanya mama Yunita.
"Semoga saja iya." papa tersenyum penuh harap.
Sementara itu Melin yang sudah sampai di kamarnya langsung mengunci pintu kamarnya.
"Papa kenapa sih? Salah minum obat kali." gerutunya sambil merebahkan diri di atas kasur.
Tok... Tok...
"Mel..., buka pintunya sayang...!"
Suara mama Yunita terdengar seiring ketukan pintu. Melin segera turun dan membukakan pintu untuk mamanya.
"Kak Mika di rumah sakit. Mama dan papa akan ke sana."
"Kenapa ma? Lahiran?" tanya Melin.
"Iya, sayang."
Kemudian Melin mengantar orang tuanya hingga depan pintu. Kali ini papa Adi tidak menyetir sendiri. Dia mengajak paman Lukman.
"Apa perlu papa minta Reihan ke sini?" tanya sang papa.
"Tidak, pa. Kan masih banyak orang di rumah. Lagian aku tidak akan pergi kemana-mana." jawab Melin.
"Baiklah. Papa pergi dulu, cepat istirahat ya." papa Adi mengecup kening Melin.
"Iya. Papa."
Setelah kepergian mereka, Melin kembali masuk ke rumah.
"Bi, pintunya belum aku kunci ya. Takutnya nanti bibi mau keluar ngedate sama security komplek." gurau Melin.
"Iih..., non Melin sukanya begitu." balas si bibi yang masih single itu. "Mending juga sama bodyguard non itu, lebih gagah." sambungnya.
"Diiih..., maunya." balas Melin.
"Memang mau sih, non..." bibi menahan tawanya karena malu.
Melin menggelengkan kepalanya sambil menaiki anak tangga.
......................
__ADS_1