Jatuh Cinta Pada Senior

Jatuh Cinta Pada Senior
Cepat Keluar


__ADS_3

Reihan mempersilakan Melin masuk lebih dulu setelah dia membuka pintu. Dengan langkah ragunya, Melin memasuki ruangan itu.


"Tidak mewah, Mel. Tapi setidaknya bisa untuk tinggal. Cuma semalam saja, semoga kamu betah." ujar Reihan saat melihat Melin sedang memperhatikan setiap detail dalam ruangan itu.


Memang apartemen yang Reihan beli bukan apartemen mewah. Tapi Reihan tetap bersyukur karena pada akhirnya dia bisa memilikinya sekarang.


"Kamu bisa tidur di kamarku. Karena kamar satu lagi masih penuh dengan barang." kata Reihan lagi.


"Lalu kak Rei?" sahut Melin.


"Aku bisa tidur di sini." Reihan menunjuk sofa panjang di sampingnya.


Ketika memasuki kamar Reihan, hal pertama yang membuatnya tertarik adalah sebuah foto yang terpajang di atas nakas di samping tempat tidur. Melin mendekati foto itu, lalu mengambilnya. Dan lagi, air matanya menetes untuk kesekian kalinya.


"Kenapa? Keberatan aku memajangnya?" tanya Reihan yang sudah berada di belakang Melin.


"Kalau seperti ini faktanya, kenapa kita harus menunggu selama itu untuk kembali bertemu?" balas Melin.


"Karena itu adalah garis yang sudah Allah tentukan. Manusia hanya bisa menjalani sesuai alurnya." tutur Reihan.


"Kenapa selalu menangis sih...?" Reihan mengusap air mata Melin. "Sekarang sebaiknya kamu istirahat. Aku keluar dulu." kata Reihan.


"Em." Melin mengangguk.


"Good night..." Reihan menepuk puncak kepala Melin.


Setelah Reihan menutup pintu, Melin duduk di kasur sambil terus memandangi foto yang ada di tangannya. Dia masih ingat foto itu diambil mereka sedang berkencan setelah menikah. Melin kemudian merebahkan tubuhnya sambil memeluk frame foto itu hingga dia tertidur.


Ketika Reihan memasuki kamarnya untuk mengambil selimut, dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Bagaimana tidak, di atas kasur itu Melin tertidur sambil memeluk foto mereka. Sedangkan kakinya masih bergelantungan.


Reihan kemudian melepaskan sepatu Melin, lalu membenarkan posisi tidurnya. Setelahnya dia mengambil frame dalam pelukan Melin. Dan diakhiri dengan menutupi tubuh Melin dengan selimut.


"Mimpi indah, Mel..." batin Reihan.


Reihan merapikan rambut Melin yang menutupi wajahnya. Dia terus memandangi wajah itu. Bahkan sisi nakal dalam dirinya, seakan tidak ingin keluar dari kamar itu. Dan memilih tidur di samping Melin sambil memeluknya.


"Istighfar, Rei...! Dia bukan istrimu lagi. Sabar..., sabar...!"


Reihan mengelus dadanya sendiri. Dan tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum saat menyadari sikap konyolnya itu.


"Cepatlah keluar Rei, bisa bahaya kalau kamu terus di sini. Auranya mantan istrimu ini sangat memikat."


Setelah itu dia kembali ke ruang tamu sambil membawa selimutnya.


"Aaah..., lelahnya..." keluhnya pada diri sendiri.


......................


Pagi harinya, Melin menyiapkan sarapan seadanya untuk mereka. Karena Melin hanya menemukan mie instan dan telur di dalam lemari es.


"Sarapan, kak." kata Melin setelah Reihan keluar dari kamarnya.


"Maaf, hanya ada mie." balas Reihan.


"Memangnya apartemen ini tidak ditempati? Kok nggak ada apa-apa?" tanya Melin.


"Aku hanya singgah kalau lagi banyak kerjaan." katanya.


"Kalau begitu buat apa beli mahal-mahal. Sayang uangnya tahu. Mending sekalian tidur di kantor nggak usah pulang." celoteh Melin.


"Itu saran atau sindiran, hah...?!" balas Reihan.


"Dua-duanya." sahut Melin.


"Paling bisa." Reihan mencubit pelan pipi Melin.


"Setelah ini aku antar kamu pulang, ya?" kata Reihan kemudian.


"Nanti saja, setelah jenguk bibi. Oke?" ujar Melin.

__ADS_1


"Baiklah." balas Reihan.


"Teman-teman kak Rei nggak pernah datang kemari?" tanya Melin di tengah kegiatan mereka menyantap mie instan.


"Hanya Nathan." jawabnya singkat. "Karena hanya dia yang tahu tempat ini. Orang kedua adalah kamu." imbuhnya.


"Lalu Anya?" cetus Melin.


"Kenapa tiba-tiba larinya ke Anya?" sahut Reihan.


"Ya, semalam kan kata paman Lili sama Anya. Aku pikir kalian sangat dekat sekarang." balas Melin.


"Dia memang dekat dengan keluargaku. Tapi status kita hanya teman. Jadi jangan cemburu." Reihan tersenyum.


"Diiih, siapa yang cemburu." elak Melin.


"Entahlah, siapa ya...?!" gurau Reihan.


Reihan menarik tangan kiri Melin, lalu dia tersenyum.


"Aku suka kamu cemburu, itu artinya kamu peduli padaku." katanya.


Melin tersenyum tipis saat mendengar ucapan Reihan. Senyuman yang sangat tidak ikhlas. Reihan pun menyadari hal itu. Dan itu justru membuat Reihan semakin gemas dengan Melin. Sehingga dia terus saja menatap Melin.


"Kenapa sih?" tanya Melin.


Reihan hanya diam sambil tersenyum.


"Iih...!!" Melin sengaja beranjak dari kursinya karena ingin menghindar.


Namun dengan cepat Reihan menarik tangannya. Hingga Melin jatuh dalam pelukannya. Niatnya menghindar agar Reihan tidak melihatnya salah tingkah, justru sekarang dia mati kutu di dalam dekapan Reihan.


"Aku peringatkan, jangan seperti ini lagi." bisik Reihan. "Aku bisa saja melakukan sesuatu karena kamu sangat menggemaskan." imbuhnya.


Melin langsung melotot, dia sedikit takut dengan omongan Reihan.


"Siap-siaplah, setelah ini kita berangkat." kata Reihan sambil melepas pelukannya.


"Itu anak, makin-makin deh sekarang. Kebanyakan gaul sama Nathan pasti nih..."


Melin berusaha menetralkan debar jantungnya dari balik pintu yang sudah tertutup rapat.


"Ayo, Mel. Cepat kemasi barangmu. Kamu harus pergi secepatnya. Reihanmu itu sekarang lebih bar-bar dari yang dulu..."


Dengan cepat Melin merapikan tas make up yang tadi sempat dia keluarkan. Lalu memasukkannya dalam koper.


Saat Melin membuka pintu kamar itu lagi, dia dikejutkan oleh kehadiran Reihan di depan pintu.


"Kenapa kaget begitu?" Reihan tertawa kecil.


"A..., enggak." elaknya.


"Sudah semua?" tanya Reihan. Melin pun mengangguk. "Sini, biar aku yang bawa." Reihan mengambil alih koper milik Melin.


......................


Dari apartemen itu, mereka langsung menuju ke rumah sakit untuk menjenguk bibi Nurma. Rupanya di rumah sakit sudah ada Anya. Tentu saja Melin kesal melihat Anya di sana.


Sementara si Anya dan bibi Nurma tampak terkejut saat melihat Reihan datang bersama Melin.


"Bagaimana bi, bibi sudah enakan?" tanya Melin. Bibi Nurma mengangguk.


"Syukurlah kalau begitu." kata Melin sambil tersenyum.


"Bagaimana dia bisa selembut ini, setelah dulu aku memaki-maki dia dan mengusirnya dari rumah..."


Bibi Nurma menitihkan air matanya. Semua yang ada di ruangan itu menyadari hal itu.


"Bibi kenapa?" Anya mengambil langkah cepat untuk menenangkan bibi Nurma.

__ADS_1


"Kalian bisa tinggalkan saya dan nona Melin berdua?" pinta bibi sambil melihat Reihan dan Anya bergantian.


Melin pun menatap Reihan, seakan bertanya apa yang terjadi?...


Reihan menepuk pundak Melin untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


Setelah Reihan dan Anya keluar, bibi Nurma mencoba untuk bangun. Melin dengan sigap membantunya.


"Terimakasih." ujar bibi Nurma.


"Boleh saya peluk non Melin...?" suara itu terdengar lirih.


Melin mengangguk dengan cepat, lalu memeluk bibi Nurma.


"Bibi..." Melin pun meneteskan air matanya saat itu.


"Maafkan bibi, non. Bibi sudah bersikap kasar sama non Melin." tutur bibi.


"Bibi tidak salah. Memang aku yang salah bi. Maafkan aku..." balas Melin.


Bibi Nurma melepas pelukan itu. Dia menggenggam tangan Melin.


"Bibi senang bertemu non Melin lagi. Bibi benar-benar menyesal. Sejak malam itu, bibi..."


"Bi..." potong Melin. "Jangan bicara apapun lagi ya. Aku sudah melupakan semuanya." ujar Melin sambil tersenyum.


"Maaf, non..." kata bibi lagi.


"Aku akan memaafkan bibi, kalau bibi berhenti memanggilku nona!" ucap Melin.


Bibi pun tersenyum, lalu mengangguk.


"Bibi..." Melin kembali memeluk bibi Nurma.


Sementara di luar kamar perawatan itu, Reihan dan Anya menunggu dengan penuh rasa penasaran.


"Bibi mau apa sama Melin?" tanya Anya.


"Aku tidak tahu." balas Reihan.


Anya duduk di samping Reihan, dia menatap Reihan untuk menuntut penjelasan.


"Paman Bian bilang, semalam kamu datang sebentar sama Melin. Lalu pulang. Tapi kamu tidak pulang ke rumah. Dan sekarang kamu datang sama dia lagi. Apa yang terjadi?" celoteh si Anya.


"Bagaimana bisa semalam itu kalian bersama? Bukannya kamu sedang ada project di luar kota?"


"Anya, cukup!" sahut Reihan yang mulai kesal. "Itu bukan urusan kamu. Jadi tolong, berhentilah mempertanyakan masalah pribadiku!" tegasnya.


"Rei, aku hanya tidak mau kamu kembali terpengaruh sama dia. Dan kamu jadi budak cintanya seperti dulu. Lalu kamu dibuat terpuruk, saat dia ninggalin kamu lagi." balas Anya tak kalah keras.


"Itu bukan urusanmu, Nya!" sahut Reihan.


Ceklek


Anya baru saja akan bicara, tapi Melin tiba-tiba keluar. Sehingga Anya mengurungkan niatnya. Dia memilih diam.


"Sudah?" Reihan berdiri, kemudian menghampiri Melin.


"Bibi minta kak Rei masuk." kata Melin.


"Oh, ayo!" Reihan mengajak Melin kembali masuk ke ruangan bibi.


Anya kesal karena Reihan mengajak Melin masuk lagi. Sedangkan dia terabaikan di ruang tunggu. Sendirian.


"Kenapa sih mereka bisa bertemu lagi? Sudah bagus nggak ketemu juga. Iiihh...!!!"


Jalannya untuk bersama Reihan yang awalnya mulus. Kini ada satu hambatan yang kembali muncul. Dan itu benar-benar membuat Anya frustasi.


"Padahal tinggal sedikit lagi. Meliiin..., ngapain sih kamu itu muncul lagi?!!!"

__ADS_1


......................


__ADS_2