
Situasi tak terduga yang dialami oleh Reihan dan Melin, membuat keduanya larut dalam kebersamaan yang sejak lama mereka rindukan. Bahkan Melin enggan untuk pergi dari kamar itu. Saat ini mereka tengah duduk berdua di sofa, dimana Melin menyandarkan kepalanya di bahu Reihan. Dan Reihan merangkulnya.
"Kalau aku kembali, aku takut besok tidak akan ketemu kak Rei lagi." gumamnya.
"Aku tetap di sini untuk beberapa hari ini. Karena pekerjaanku belum selesai. Aku akan menemuimu besok." begitu janji Reihan.
"Aku tidak mau kalau cuma besok." sahut Melin.
Melin bangun lalu meraih tangan Reihan, dan menatap matanya.
"Aku maunya kita bertemu setiap hari. Kita bersama lagi seperti dulu." ujar Melin.
Reihan tersenyum, kemudian dia mengulurkan tangannya dan membelai rambut Melin.
"Beri aku waktu sebentar lagi. Aku tidak ingin eyang mencelaku lagi kali ini." balas Reihan.
"Tapi eyang sudah tidak ada, kak. Eyang sudah meninggal." kata Melin.
"Innalillahi..." gumam Reihan lirih. "Kapan...? Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Reihan.
"Sudah lama sekali. Bahkan setelah pemakaman, aku pergi ke rumah paman Bian. Aku hanya bertemu bibi." Melin menurunkan nada suaranya, karena dia teringat kejadian malam itu ketika bibi Nurma memaki dan mengusirnya.
"Oh ya? Bibi tidak mengatakan apapun." Reihan terkejut setelah mendengar cerita Melin.
"Aku juga pergi ke kampus. Dan aku melihat kak Rei bersama Anya. Aku pun berpikir, mungkin kak Rei sudah bahagia dengan Anya."
Melin sama sekali tidak menceritakan bagaimana sikap sang bibi. Dia tidak ingin ada perselisihan antara Reihan dan bibinya.
"Lalu kamu tidak jadi menemuiku?!" terka Reihan sedikit kecewa. Melin pun mengangguk.
Reihan kemudian merogoh bagian dalam kemejanya. Dia mengeluarkan cincin yang sangat familiar bagi Melin.
"Bahkan selama bertahun-tahun aku masih menyimpannya. Karena aku yakin, suatu saat nanti aku bisa membawamu kembali padaku." ujar Reihan dengan tegas.
Mata Melin seketika berkaca-kaca. Dia tidak menyangka Reihan begitu setia dengan cinta pertamanya.
"Tidak ada siapa pun dalam hidupku, selain kamu. Percayalah...!" katanya.
Reihan meraih tubuh Melin untuk dia peluk.
"Sudah aku katakan, aku akan selalu mencintaimu." bisik Reihan.
"Aku juga." balas Melin.
Reihan kemudian melepas pelukannya. Dan menghapus air mata Melin.
"Sudah sangat malam. Aku antar kamu kembali ke kamar, ya?" ujar Reihan. Melin hanya diam.
"Kita bertemu lagi besok. Aku mau ajak kamu sarapan bareng. Oke?!" bujuk Reihan.
"Aku tidur di sini saja. Boleh...?!" rengek Melin.
"Hei..., kita bukan suami istri lagi. Itu tidak baik. Mengerti...?!" Reihan menoel hidung Melin.
"Tapi aku masih mau di sini, menghabiskan banyak waktu sama kak Rei." Melin tetap berusaha untuk tinggal.
"Lain kali ya, yuk...!" kata Reihan kemudian. "Lantai dan nomor berapa?" tanya Reihan.
"Lantai 4 nomor 125." jawab Melin dengan malas.
"What?!" Reihan kembali terkejut, dia bahkan tertawa. "Seriusan...?!" dia kembali memastikan kalau dia tidak salah dengar.
"Apa sih? Jadi ngantar tidak?! Atau aku tidur sini saja!" sahut Melin.
"Baiklah..., baiklah...!!"
__ADS_1
Reihan tidak ingin berlama-lama lagi. Semakin lama Melin di kamarnya, itu akan sangat berbahaya bagi keduanya. Reihan tidak ingin sesuatu yang di luar batas itu terjadi tanpa ikatan yang sakral.
Ternyata kamar mereka bersebelahan. Reihan di nomor 126. Itulah yang membuat Reihan tertawa.
"Istirahat ya. Sampai jumpa besok pagi." kata Reihan.
"Em." Melin mengangguk. "Janji besok sarapan bareng kan?" Melin kembali mengingatkan Reihan.
"Aku janji. Aku akan datang menjemputmu. Jangan dandan terlalu lama." canda Reihan.
"Iiih...!!!" rengek Melin.
Rengekan itu juga yang selalu membuat Reihan rindu. Rengekan manja khas seorang Melin yang tiada duanya.
Melin mengetuk pintu kamarnya, tak lama kemudian Sasha membuka pintunya. Dia teriak histeris saat melihat Melin kembali. Sedangkan Reihan hanya bisa tersenyum menyaksikan adengan di hadapannya.
"Kak Rei...?!" seru Sasha yang baru menyadari keberadaan Reihan.
"Kok...?!" Sasha menunjuk wajah keduanya bergantian.
"Panjang ceritanya. Ayo, masuk!" Melin mendorong Sasha agar segera masuk.
"Bye..." Melin tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Reihan.
Reihan hanya membalas dengan lambaian dan senyuman.
"Terimakasih Tuhan, akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya. Aku akan buktikan, kali ini aku benar-benar layak bersanding dengannya. Selamanya."
......................
Melin sengaja bangun lebih awal, dia sudah mandi mengganti piyamanya dengan dress yang santai namun tetap anggun.
"Ya ampuuun..., mau balik sepagi ini...?!" gerutu Sasha yang terbangun saat mencium aroma parfum milik Melin.
Sasha langsung bangkit dan mendekati Melin.
"Jadi apa yang terjadi sama kalian semalam...?!" Sasha sangat antusias.
"Menurutmu?!" balas Melin.
"Kalian tidak sengaja bertemu, lalu pergi berdua?!" terka Sasha.
"Dan membiarkan aku kebingungan semalam!" kini wajah Sasha berubah cemberut.
"Sorry..." sahut Melin. "Tapi bukan seperti itu. Aku pingsan dan dia membawaku ke kamarnya."
"APAAA...?!!!" seru Sasha. "Ke kamarnya?! Lalu...?!"
"Pasti otak kamu mulai travelling." sahut Melin.
Tok... Tok... Tok...
Melin dan Sasha menoleh ke arah pintu.
"Pasti dia. Bye..., pergi dulu sayang..." Melin mencubit pipi Sasha.
"Bagaimana nggak travelling...? Secara gitu, mantan suami istri berdua dalam kamar. Haiyooo..., gimana aku nggak mikir yang iya-iya...?!" gumam Sasha sambil melihat kepergian Melin.
Ternyata benar, yang mengetuk pintu adalah Reihan. Dia benar-benar menepati janjinya.
"Mau sarapan dimana?" tanya Reihan.
"Terserah. Aku juga belum begitu kenal daerah sini." jawab Melin.
"Sarapan di tempat favoritku ya?" balas Reihan.
__ADS_1
"Boleh." jawab Melin penuh semangat.
Reihan tidak lagi membawa motornya. Dia sudah memiliki mobil sendiri, meski tidak semewah milik Melin. Mobil itu menggunakan aroma yang sangat Melin suka, yaitu aroma apel.
"Maaf, hanya bisa menyamai parfumnya." gurau Reihan.
"Yang penting orangnya." balas Melin.
Mobil itu melaju menuju ke sebuah tempat penjual sarapan yang ada di tepi jalan.
"Bahkan sudah begini, seleranya tetap sama."
Melin tersenyum bangga pada sosok di sisinya.
"Dua ya, bu." kata Reihan.
"Bungkus apa makan sini, mas?" tanya si ibu.
"Makan sini saja." balas Reihan.
Reihan kemudian mencari tempat duduk untuk Melin.
"Kak Rei suka makan di sini?" tanya Melin.
"Kalau ke sini, memang ini yang cocok di lidahku." kata Reihan.
"Berarti sering ke sini?" tanya Melin lagi.
"Iya, karena project di sini belum selesai. Baru 60%." ujar Reihan.
Obrolan mereka terjeda, karena sarapan sudah diantarkan. Dan mereka pun segera menyantapnya.
Di tengah aktivitas sarapan itu, tiba-tiba handphone Melin berbunyi. Theo memanggil.
"Ya, ada apa Theo?" tanya Melin.
Mendengar nama itu Reihan langsung menatap Melin.
"Sorry, aku masih di luar kota." Melin diam.
"Belum tahu juga. Kamu langsung hubungi papa saja. Sudah dulu ya. Bye..."
Melin memutus panggilan itu. Dia malas sekali berlama-lama ngobrol dengan Theo.
"Jadi orang penting sekarang." canda Reihan.
"Tidak. Biasa saja. Itu hanya orang modus. Awalnya saja bahas pekerjaan, lama-lama ngajak jadian." celoteh Melin tanpa sungkan.
"Oh ya...?!" sahut Reihan.
"Aku sudah berulang kali menolak. Tapi dia tetap saja keras kepala." balas Melin.
"Bagaimana kalau aku yang ngajak jadian?" pancing Reihan.
"Nggak mau!" jawab Melin dengan tegas. "Maunya kita nikah saja!" imbuhnya sambil tersenyum.
"Baiklaaah..." Reihan tersenyum mendengar jawaban dari Melin.
"Kak..., aku serius...!!!" Melin sedikit ragu dengan ekspresi wajah Reihan.
"Aku tahu." balas Reihan. "Habiskan makanannya. Setelah ini ikut aku ke lokasi." titah Reihan.
Melin sangat senang. Dia akan diajak melihat bangunan hasil rancangan Reihan.
......................
__ADS_1