
Tiga hari sudah Lili dirawat di klinik, dan sekarang dia sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Enak tidur di sana kasurnya empuk." kata Lili dengan polosnya.
Yang lain tersenyum mendengar cuitan gadis kecil itu.
"Oh, mau sakit dan disuntik lagi, iya?" goda Reihan.
"Enggak, cuma suka kasurnya empuuuk..., sekali...!!" begitu jawabnya.
"Do'akan kakak dapat banyak rejeki, nanti kita beli kasur baru buat Lili. Oke?!" Reihan mengacungkan jempolnya.
"Oke!" sahut Lili yang penuh antusias.
"Sudah ngobrolnya?" ujar bibi Nurma. Kemudian keduanya menoleh ke arahnya. "Kalau sudah biar kakak mandi dulu, sayang. Dan Lili juga istirahat." katanya.
"Apa menurutmu kakak perlu mandi? Bukannya masih ganteng dan wangi?" tutur Reihan pada Lili.
"Em!" Lili mengangguk. "Tidak usah mandi. Biar kakak di sini sama aku. Boleh kan ibu...?!" Lili menatap ibunya untuk meminta persetujuan.
"Ya sudah. Ibu akan masak untuk makan malam." balas bibi Nurma.
"Kakak..., kakak Melin yang waktu itu kenapa tidak ikut ke sini?" tanya Lili setelah ibunya keluar.
"Kenapa? Kamu mau bertemu dengan kakak itu?" Reihan balik bertanya.
"Em." Lili mengangguk.
"Nanti kakak ajak ke sini." begitu janji Reihan.
"Benar begitu?" Lili tersenyum sangat lebar.
"Iya. Semoga kakaknya bisa datang." sahut Reihan.
"Aamiin...!!" balas Lili.
Malam itu juga, Reihan mengirim pesan pada Melin untuk menyampaikn maksudnya.
Hari minggu besok ada acara?
_
Tidak. Kenapa ******kak******?
_
Lili tadi tanyain kamu. Kalau tidak keberatan, mungkin kamu bisa datang menemuinya.
_
Tentu. Besok aku akan ke sana.
_
Aku jemput kamu sekalian kembalikan mobil. Bagaimana?
_
Oke
_
Ah, tidak. Jangan.
_
Why?????
_
Kita naik mobil saja. Mobilnya akan aku kembalikan setelah kamu dari sini.
_
Aku tidak keberatan kalau naik motor.
_
Aku tidak mau
_
Padahal aku mau😔😔
_
__ADS_1
Aku tidak ingin kamu sakit karena kena angin
_
Ah..., so sweeeeeet....🤗🤗
_
Aku jemput besok jam 9. Sekarang istirahatlah.
_
Siap kak Rei
Reihan tersenyum simpul setelah membaca pesan terakhir dari Melin. Dia menaruh ponselnya di atas meja, lalu kembali merebahkan diri di kasurnya.
"Sepertinya sangat tidak pantas. Bahkan hanya untuk memikirkanmu. Tapi kenyataan, otakku tidak bisa berhenti melakukan itu, Mel...!!"
......................
Reihan memasukkan mobilnya ke lahan kosong di samping gang menuju kediamannya. Lahan itu memang sengaja disiapkan oleh penduduk setempat, untuk tempat parkir warga yang memiliki kendaraan roda empat.
"Pak, titip ya." kata Reihan.
"Siap, mas!" balas si bapak. "Kalau mau bisa bawa motor ini, mas Rei. Lumayan jauh lho." bapak itu menawarkan motornya.
Reihan menatap Melin. Dia merasa kasihan kalau mengajak Melin jalan kaki menuju rumahnya. Belum lagi nanti kalau banyak orang yang menatapnya di sepanjang jalan. Mungkin akan membuat Melin tidak nyaman.
"Boleh, pak?" Reihan kembali memastikan penawaran si bapak.
"Bolehlah. Silakan...!" jawabnya.
Reihan pun meminjam motor bapak itu. Dan mengajak Melin untuk segera naik.
"Mari, pak..." Melin sedikit membungkuk saat akan menarik motor.
"Iya, non. Hati-hati...!" balas bapaknya.
Tak lama kemudian motor yang dikendarai Reihan memasuki pekarangan rumah.
"Waoh...!!" begitulah reaksi pertama ketika Melin turun dari atas motor.
"Ada apa?" balas Reihan.
Melin menyukai pemandangan yang ada di sekitarnya. Rasanya dia ingin sekali memetik sayuran segar itu.
"Itu hobi bibiku." katanya.
Bersamaan dengan itu keluarlah seorang perempuan dengan baju kebesarannya, daster bunga-bunga. Setelah mengucap salam dan saling menyapa, keduanya masuk ke rumah bersama bibi Nurma.
"Sedang apa, Lili...?" Melin mendekati Lili yang sedang mewarnai sebuah gambar.
"Ini, bagus tidak?" Lili menunjukkan hasil karyanya.
"Waaah..., bagus sekali." puji Melin. "Lili suka mewarnai?"
"Em!" Lili mengangguk.
"Yaaah, tahu gitu tadi kakak bawain buku mewarnai. Kak Rei nggak kasih tahu sih." ujar Melin.
"Lha, kenapa jadi aku dibawa-bawa...?!"
"Besok ya, kalau main ke sini lagi." begitu janji Melin pada Lili. "Sekarang ini saja buat Lili."
Melin memberikan sebuah hadiah untuk Lili. Isinya adalah sebuah boneka beruang warna putih. Dan Lili sangat menyukainya.
Reihan dan Melin menghabiskan waktu mereka untuk menemani Lili. Hingga pada akhirnya Lili terlelap saat Melin membacakan buku cerita favorit Lili.
"Biar aku pindahkan ke kamar." kata Reihan.
"Lho, dia tidur?" begitu kata ibunya saat melihat Reihan menggendong Lili.
"Sepertinya sangat mengantuk, bi." sahut Melin.
"Iya, tadi pagi-pagi sekali dia sudah bangun." balas bibi. "Non Melin makan siang di sini ya?!"
"Ah, jadi merepotkan bi."
"Tidak..., tidak...! Ayo kita makan sama-sama...!" ajak bibi.
Melin pun menurut saja. Dia tidak enak juga kalau menolak, apalagi makanan sudah terlanjur dihidangkan. Tak lama kemudian Reihan menyusul kedua perempuan itu ke ruang makan.
"Seadanya ya, non..." kata bibi Nurma.
"Ini sih bukan seadanya bi, tapi semua ada." ujar Melin. "Aku sampai bingung milih." katanya.
__ADS_1
"Asal jangan ini." sahut Reihan sambil mengambil segelas minuman rasa jeruk.
"Reihan..., itu buat non Melin." kata bibinya.
"Dia tidak bisa minum ini, bi. Hanya air putih." balas Reihan, kemudian dia menatap Melin.
"Benar, non?" bibi kembali memastikan.
"Iya, bi." jawab Melin sambil menganggukkan kepalanya.
Kemudian bibi mengganti minuman itu dengan air putih.
Setelah makan siang, Melin ngobrol dengan bibi Nurma sebentar. Barulah kemudian Reihan mengantarnya pulang.
"Besok mulai libur kan?" Melin membuka obrolan.
"Em." balas Reihan. "Tapi kalau butuh aku, panggil saja." katanya kemudian.
"Sebut nama kakak tiga kali gitu...?!" gurau Melin. Reihan hanya tersenyum tipis.
"Rencananya kakak akan kuliah atau kerja setelah lulus?" tanya Melin.
"Kuliah, tentunya sambil kerja." jawab Reihan.
"Di mana?" Melin enggan melepas pandangannya dari Reihan.
"Di mana saja yang mau menerima." jawab Reihan sekenanya.
Melin hanya mengangguk saja saat mendengar jawaban Reihan. Lalu kembali fokus ke depan. Reihan meliriknya sekilas.
"Menurutmu kampus mana yang cocok?" tanya Reihan.
"Aku sih mana tahu, kak. Sekolah saja kemarin yang pilih papaku." jawab Melin.
"Tapi pilihan papa kamu tidak salah kan?" tanya Reihan lagi.
"Tidak." Melin tersenyum.
Dia kembali teringat bagaimana ngototnya dia untuk menolak. Tapi seketika semua berubah setelah dia menemukan Reihan di sekolah itu.
"Kenapa tersenyum?" Reihan kembali melirik Melin.
"Tidak ada." bual si Melin.
"Apa kak Rei akan tetap bekerja sama papa setelah kuliah? Bukannya kuliah itu membuat orang makin sibuk dengan tugas setiap harinya...?!"
Tiba-tiba wajah Melin berubah murung. Ada rasa sakit di dadanya ketika dia membayangkan Reihan yang akan super sibuk dengan tugasnya.
"Ada apa?" rupanya Reihan cukup peka. Dia bahkan mengetahui kalau mood nonanya itu berubah.
"Kak Rei..."
"Hem...?!"
"Setelah kuliah nanti, apa kak Rei masih akan bekerja sama papa?" tanya Melin dengan hati-hati.
Reihan merasakan sesuatu yang aneh saat mendengar kalimat itu dari Melin. Karenanya Reihan mengurangi kecepatan, lalu menepikan mobilnya.
"Kenapa berhenti kak?" tanya Melin penasaran.
"Kamu maunya aku tinggal apa berhenti?" pertanyaan itu sungguh mengejutkan Melin.
"Aku?!" sahut Melin. "Ke..., kenapa kakak tanyanya ke aku?" Melin sedikit gelagapan.
"Karena bekerja untuk kamu, bukan papa kamu." balas Reihan.
"Memangnya..." kalimat itu terjeda. Melin ragu akan melanjutkannya atau tidak.
"Kalau aku minta tinggal, kak Rei akan tinggal...?" kata-kata itu keluar dengan hati-hati.
Melin pun menatap Reihan, dia penasaran dengan jawaban dari kakak kelasnya itu.
"Kenapa kamu ingin aku tinggal?" Reihan membalas tatapan itu tanpa ragu.
"A..., aku..." Melin menundukkan kepalanya sambil memainkan jarinya.
Reihan tersenyum saat melihat gelagat dari Melin.
"Sebaiknya kita segera pulang. Orang tuamu pasti menunggu." kata Reihan.
"Ah?!" Melin dibuat bengong olehnya.
"Iiih..., ngeselin tahuuu...!!" umpat Melin.
......................
__ADS_1