
Begitu masuk ke dalam kamar, Papa Arya langsung mendudukan tubuhnya di atas ranjang dan diikuti oleh sang istri yang melakukan hal yang sama.
"Apa Papa yakin dengan keputusan ini?" tanya Mama Rani membuka pembicaraan.
"Bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya? Lalu apa lagi yang Mama khawatirkan?" Papa Arya menatap istrinya dengan bingung.
Malam dimana Fano mabuk, Papa Arya mendapat telepon dari salah satu security komplek yang melihat Fano turun dari taksi dengan tubuh sempoyongan.
Security komplek itu menyapa Fano hingga ia mengetahui jika anak salah satu pemilik rumah mewah di komplek ini tengah dalam keadaan mabuk berat.
Security itu sempat menawarkan bantuan untuk mengantar Fano masuk. Namun pria itu menolak keras, hingga security komplek itu memutuskan untuk menelepon Tuan Darmawangsa untuk mengabarkan kondisi putra sulungnya. Apalagi sebelumnya Tuan Darmawangsa memang sempat menitipkan penjagaan rumah pada security tersebut, mengingat malam itu security rumahnya sedang sakit dan tak bisa bekerja.
Papa Arya yang mendapat laporan dari security komplek lantas langsung menghubungi Fano, namun sayangnya nomor ponsel putra sulungnya itu sama sekali tak aktif. Ia juga sempat menelepon Nara, mengingat gadis itu satu-satunya orang yang berada di rumah. Namun lagi-lagi sama, nomor telepon Nara juga tak aktif, seolah keduanya tengah janjian untuk menonaktifkan ponsel mereka.
"Ma, kata security komplek, Fano mabuk berat." Papa Arya yang sudah dalam keadaan bingung memilih membangunkan istrinya dan menceritakan apa yang terjadi pada putra pertama mereka.
"Apa?" Mama Rani yang awalnya masih setengah sadar kini langsung membuka kedua matanya lebar-lebar. Rasa kantuknya mendadak hilang saat mendengar kondisi putra sulungnya yang dalam keadaan tak biasa.
"Fano mabuk," ulang Papa Arya dan berhasil membuat Mama Rani menangis.
__ADS_1
"Fano belum bisa melupakan Ayura Pa," ujar Mama Rani di tengah isakannya.
"Apa? Bagaimana bisa? Ayura sudah menjadi istri Ello adiknya, dan itu sudah berlangsung selama dua tahun. Lalu bagaimana bisa Fano belum bisa melupakan adik iparnya sendiri?" tanya Papa Arya tak percaya.
"Mama bisa melihat dari tatapan Fano pada menantu kita. Dia belum bisa melupakan Ayura. Dia hanya berpura-pura telah melupakan rasa cintanya pada Ayura demi menjaga hati adiknya, Ello. Selama dua tahun ini Fano tak pernah pulang ke Indonesia karena dia sadar hatinya belum sepenuhnya bisa menghapus nama Ayura. Hingga akhirnya sampai waktunya dia harus pulang, dia hanya bisa berpura-pura baik-baik saja. Padahal hatinya tidak merasa seperti itu."
Papa Arya hanya bisa diam terpaku mendengar apa yang istrinya katakan. Papa Arya tahu jika Fano menyukai Ayura sejak putra sulungnya itu duduk di bangku SMA. Karena sebab itulah Fano menawarkan diri untuk menjadi calon di dalam perjodohan antara putra Darmawangsa dan putri Aditama. Namun siapa sangka jika takdir jodoh putri Aditama justru adik kandung Fano sendiri.
Dan saat ini Papa Arya tak menyangka jika setelah dua tahun berlalu, hati putranya itu justru masih tetap menyimpan satu nama yang seharusnya sudah putranya itu lupakan.
"Lalu bagaiaman keadaan Fano sekarang Pa? Apa kita pulang sekarang aja? Di rumah gak ada siapapun yang bisa menjaga Fano." Mama Rani mulai panik, dia mengkhawatirkan keadaan putranya. Apalagi selama dua puluh tujuh tahun putranya hidup, Mama Rani tak pernah melihat Fano meminum minuman beralkohol apalagi sampai mabuk.
Papa Arya di temani sang istri langsung mengecek CCTV di dalam rumahnya. Dia bisa melihat Fano yang tertidur pulas di atas sofa sedangkan di sisi sofa yang lainnya ada Nara yang duduk melamun.
"Lihatlah, Fano baik-baik saja. Mama jangan khawatir."
Awalnya semua terlihat tak ada yang salah apalagi mencurigakan, namun semua menjadi terasa aneh saat Nara membawa Fano masuk ke dalam kamar putranya itu.
Baik Fano maupun Nara berada di dalam kamar dalam waktu yang lama. Bahkan Nara baru keluar saat matahari sudah hampir terbit.
__ADS_1
Sebagai seorang pria dewasa, Papa Arya hanya menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar putranya, karena memang di dalam kamar tidak ada CCTV yang bisa dirinya akses.
"Menurut Mama apa yang terjadi di antara Fano dan Nara selama beberapa jam ada didalam kamar berduaan?" tanya Papa Arya setelah menceritakan apa yang terjadi di kediaman Darmawangsa, karena beberapa saat setelah Fano dan Nara masuk kamar, wanita paruh baya itu justru kembali tertidur.
"Mama gak tahu Pa, hanya Fano dan Nara yang bisa menjawabnya. Mama juga tak mau menduga-duga, karena kalaupun terjadi sesuatu di dalam sana, Mama yakin Fano akan bertanggungjawab dengan menikahi Nara."
"Tapi Ma, Fano masih mencintai Ayura. Lalu bagaimana bisa dia menikahi gadis lain?" Papa Arya nampak tak setuju, kalaupun terjadi sesuatu pada mereka mungkin Papa Arya akan mencari solusi lain. Tentunya yang tak merugikan Nara. Karena disini Nara lah korbannya.
"Mungkin ini salah satu jalan yang Tuhan berikan untuk Fano agar bisa melupakan Ayura yang sudah menjadi adik iparnya."
"Maksud Mama?" tanya Papa Arya tak mengerti.
"Mungkin dengan mereka menikah, Fano bisa belajar mencintai Nara. Dan itu bagus, karena Fano bisa melupakan rasa cintanya pada Ayura."
"Memang bagus untuk Fano. Tapi bagaimana dengan Nara? Apa perlu kita mengorbankan gadis sebaik itu?"
"Mama yakin jika mereka menikah, Nara juga bisa mencintai Fano. Lagi pula tak ada hal yang membuat Nara bisa menolak pria seperti putra kita," ujar Mama Rani yakin.
"Papa hanya akan setuju mereka menikah jika tak ada keterpaksaan di antara keduannya," ujar Papa Arya final.
__ADS_1