JEBAKAN PERNIKAHAN

JEBAKAN PERNIKAHAN
Mempertanggungjawabkan


__ADS_3

Begitu berada di dalam kamar mandi, Nara mulai mengatur napasnya yang sejak tadi naik turun karena menahan emosi.


Nara menatap pantulan tubuhnya dalam kaca. Wajahnya sudah sangat kusut dengan jejak air mata yang menghiasi.


Nara merasa bersalah sudah marah-marah dan memaki Fano. Bahkan dengan teganya Nara justru sampai mengancam pria itu.


Dia tahu apa yang di lakukannya salah. Tapi ini sudah cara paling tepat untuk mendapatkan biaya operasi ibunya yang memang tak sedikit.


"Bu, Ibu yang sabar ya. Nara pasti akan dapatkan uang secepatnya untuk biaya operasi ibu," ucapnya sembari mengusap air mata yang seakan tak ada habisnya.


Sedangkan disisi lain, Fano yang mendengar pintu kamar mandi yang di tutup dengan kasar hanya bisa menghela napas berat.


Fano ikut memunguti pakaiannya dan langsung mengenakannya. Tak lucu bukan jika nanti Nara keluar dari kamar mandi, Fano masih dalam keadaan polos.


Setelah memakai seluruh pakaiannya, Fano mendudukan kembali tubuhnya di atas ranjang. Namun sesaat kemudian, pandangan Fano justru tertuju pada bercak merah yang menempel pada sprei abu miliknya.

__ADS_1


"Bercak merah? Ahkk..." Fano mengacak rambutnya dengan kasar. Sepertinya sebentar lagi dia benar-benar gila. Dia sudah menghancurkan masa depan seorang gadis. Bahkan sepertinya bukan hanya menghancurkan masa depan seorang gadis saja, tapi juga masa depannya sendiri.


Cukup lama Fano termenung. Memikirkan langkah apa yang sebaiknya dirinya ambil agar Nara maupun dirinya sama-sama tak di rugikan. Hingga suara kamar mandi itu pun terbuka.


Pandangan Fano tertuju pada seorang gadis berkulit putih dengan kaos oversize yang warnanya sudah sangat pudar namun sama sekali tak mampu menghalangi kecantikan gadis itu.


Quennara Azmi, gadis dengan rambut lurus berwarna hitam nan panjang. Tinggi tubuh gadis itu kurang lebih 165 senti, cukup tinggi untuk standar gadis di negara ini, hanya saja bobot tubuhnya sangatlah kurang, terlihat dari tulang selangkanya yang sangat menonjol.


Nara memiliki wajah yang manis dengan dua lesung pipi yang muncul saat ia tersenyum. Bulu matanya panjang dan lentik, hidung gadis itu juga sedikit mancung. Bibirnya memang mungil namun memiliki warna merah muda alami hingga membuat siapa saja yang melihatnya ingin merasakan seberapa manisnya bibir itu.


Sadar Fano sadar. Fano menggelengkan kepalanya saat otak liarnya mulai membayangkan bagaimana rasanya bibir ranum itu. Mungkin selama dua minggu di rumah ini, baru kali ini Fano memperhatikan Nara hingga sedetail ini.


"Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi." Tanpa menoleh, Nara berjalan menuju pintu kamar Fano.


Lebih baik dia segera pergi dari kamar ini dan mencari jalan keluar yang lain untuk pengobatan ibunya. Daripada terus memaksa Fano mempertanggungjawabkan hal yang tak pernah pria itu lakukan.

__ADS_1


Nara sadar dia salah. Oleh karena itu setelah dirinya lama berpikir di kamar mandi, Nara memutuskan untuk tak melanjutkan rencana jebakan pernikahan ini. Dan untuk Fano yang sempat melihat dua gunung kembarnya, anggap saja itu sebagai kompensasi karena Nara sudah berani menipunya.


Dan untuk ancamannya yang akan melaporkan Fano pada polisi, Nara tak akan pernah melakukannya. Karena sudah bisa di pastikan jika nanti bukan Fano yang masuk penjara melainkan dirinya sendiri.


Nara bahkan bisa terkena pasal berlapis dengan tuduhan pencemaran nama baik dan laporan palsu. Huh, membayangkan dirinya yang diseret masuk ke dalam jeruji besi saja sudah membuat Nara bergidik ngeri.


"Nara..."


Gadis itu berhenti dan membalikan badan. "Sudahlah Fano. Aku rasa kita udah gak perlu bicara apapun lagi. Kalau yang kamu takutkan aku akan melaporkanmu ke polisi, kamu gak perlu khawatir karena aku janji gak akan pernah melakukannya. Dan untuk tadi malam, lupakan saja apapun yang terjadi di antara kita."


"Bagaimana bisa aku melupakannya. Mengingat yang tetjadi semalam saja aku tak bisa," ucap Fano dengan jujur.


"Baiklah, kalau gitu kamu cukup anggap semalam tak terjadi apapun," putus Nara yang sudah sangat lelah berdebat. Lagi pula ada yang lebih penting dari sekedar meladeni Fano. Karena pagi ini dia harus mencari tahu kabar terkini tentang kondisi ibunya sembari memikirkan bagaimana dirinya bisa mendapatkan uang secepat mungkin.


"Bagaimana bisa..."

__ADS_1


"Lalu maumu apa Fano!" Nara menatap Fano kesal. Pria itu benar-benar membuang waktu berharganya.


Fano menatap Nara dengan pandangan tak terbaca, sebelum akhirnya kalimat tak terduga itu justru keluar dari bibirnya. "Aku tahu aku salah. Dan aku sudah memutuskan untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku padamu. Aku Grafano akan menikahimu Quennara."


__ADS_2