JEBAKAN PERNIKAHAN

JEBAKAN PERNIKAHAN
Menutupi Rencana Pernikahan


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok..


Mendengar ketukan pintu membuat Papa Arya dan Mama Rani menghentikan pembicaran mereka. Keduannya saling pandang seolah saling bertanya siapa kira-kira sosok di balik pintu kamar mereka.


Tok.. Tok.. Tok..


"Pa, Ma, ini Fano. Apa kalian udah tidur?" tanya Fano dari balik pintu kamar dengan sesekali mengetuknya pelan.


Mama Rani yang menyadari jika sosok yang berada di balik pintu kamar mereka merupakan sang putra pun langsung berdiri untuk membukakan pintu.


"Ada apa sayang, apa ada sesuatu?" tanya Mama Rani begitu melihat sosok sang putra yang berdiri tegak di hadapannya.


Fano tak lantas menjawab, ia sedikit mengintip ke dalam kamar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang mama. "Iya, ada hal yang mau Fano bicarain. Apa di dalam Papa udah tidur?"


Mama Rani menggeleng pelan. "Papa kamu belum tidur, masuklah!" Mama Rani membuka pintu kamarnya selebar mungkin agar sang putra bisa masuk dengan lebih leluasa.

__ADS_1


Setelah mendapat persetujuan dari Mama Rani, Fano pun berjalan masuk dan langsung mendudukan tubuhnya di sofa yang ada di sudut kamar orang tuanya.


"Ada apa?" Papa Arya mendekat lalu mendudukan tubuhnya di sisi kosong yang ada di sebelah sang putra.


"Aku ingin membicarakan soal pernikahanku dengan Nara," jawab Fano apa adanya.


"Memang harus sekarang? Tak bisa besok? Ini sudah malam." Mama Rani menyela sembari mendudukan tubuhnya di samping Fano, hingga pria tampan itu kini di apit oleh kedua orang tuanya.


"Gak bisa Ma. Karena Fano ingin segera menikahi Nara. Fano gak bisa menunda-nunda lagi."


"Memang kenapa harus segera? Bukankah kamu tahu jika acara pernikahan itu gak bisa di persiapkan dalam waktu singkat?" Mama Rani bertanya menyelidik. Walau hati kecilnya sebenarnya menduga jika sebenarnya sudah terjadi sesuatu pada putranya dan Nara malam itu.


"Tapi apa benar kamu tak memaksa Nara untuk menikah denganmu?" Kali ini Papa Arya yang bertanya. Pria paruh baya itu masih tak yakin Nara dengan suka rela menerima pinangan Fano. Walaupun hal itu bisa saja terjadi jika di malam itu mereka melakukan kesalahan fatal.


"Fano gak maksa. Justru Nara yang maksa Fano," balas Fano tak terima di tuduh memaksa Nara agar mau menikah dengannya. Namun detik selanjutnya di mengatupkan mulutnya setelah menyadari jika dirinya keceplosan.

__ADS_1


"Maksud kamu apa? Apa terjadi sesuatu di antara kalian?" tuduh Papa Arya yang sebenarnya sudah bisa menyimpulkan sendiri dari jawaban Fano sebelumnya.


"Gak terjadi apa-apa?" jawab Fano gugup. Apalagi saat ini kedua orang tuannya tengah menatapnya penuh selidik hingga membuat Fano seolah tengah menjadi terdakwa kasus berat.


"Papa sama Mama apaan sih liat Fano gitu," ujarnya tak nyaman.


"Memang kenapa dengan cara kita liat kamu? Kita biasa aja kan Pa liat Fanonya?"


"Hmm, Mama kamu benar." Papa Arya menatap Fano dengan raut kecewa. Tapi dia tak bisa berbuat apapun dengan apa yang sudah terjadi pada Nara dan putranya itu, selain merestui pernikahn mereka berdua. Walau Papa Arya tahu pernikahan itu terjadi karena ada sebuah insiden yang sengaja di tutupi oleh Fano dan Nara.


"Udahlah Fano kesini cuma mau bilang kalau kita besok akan ke bogor untuk meminta Nara pada orang tuanya. Dan satu lagi, Fano minta tolong Papa sama Mama jangan bilang apapun dulu sama Ello." Bukan tanpa alasan Fano meminta untuk menyembunyikan rencana pernikahannya dengan Nara. Fano hanya tak ingin Ayura membantu persiapan pernikahnnya hingga memperbanyak interaksi antara dirinya dan wanita yang masih di cintainya itu.


"Kenapa Ello gak boleh tahu? Dia adik kamu. Sudah sewajarnya dia harus tahu kalau kakaknya akan menikah. Dia pasti senang." Mama Rani tak setuju saat Fano berniat menutupi rencana pernikahannya dengan Nara. Walau bagaimanapun ini kabar bahagia, terlepas dari apapun alasan di balik pernikahan ini.


"Ello pasti akan Fano kasih tahu Ma. Tapi tidak sekarang. Fano hanya tak mau Ayura mengintrogasi Nara," kilah Fano.

__ADS_1


Dan disisi lain saat Fano menyebut nama Ayura, baik Papa Arya ataupun Mama Rani bisa melihat sorot mata kesedihan di mata putranya itu. Hingga mau tak mau mereka menyetujui keinginan sang putra untuk menyembunyikan dulu rencana perniakahan putra sulungnya itu demi kebaikan bersama.


Fano bernapas lega. Setidaknya sebelum acara perniakahnya nanti dengan Nara, dirinya tak harus bertemu dengan Ayura dulu. Karena pasti akan sangat merepotkan hatinya jika sampai dirinya sering bertemu Ayura.


__ADS_2