JEBAKAN PERNIKAHAN

JEBAKAN PERNIKAHAN
Keputusan


__ADS_3

Kepala Nara rasanya kosong, bahkan dia hanya bisa diam terpaku saat mendengar Fano berkata akan bertanggungjawab dengan menikahinya.


Seharusnya Nara senang, namun anehnya gadis itu justru merasa bersalah.


Ketika Nara sudah membuat keputusan akan mencari jalan lain untuk mendapatkan biaya operasi Ibunya dengan cepat. Saat itu juga Fano justru membuka jalan yang sempat pria itu tutup.


Jujur saja Nara tak yakin dengan apa yang akan terjadi ke depannya, mengingat Fano terpaksa akan menikahinya karena sebuah jebakan. Tapi Nara juga sadar jika dia harus segera mendapatkan uang untuk biaya operasi Ibunya. Nara khawatir jika terlalu lama menunda, maka kesehatan Ibunya akan semakin memburuk.


Tapi apa perlu Nara mengorbankan Fano demi kesembuhan Ibunya. Sungguh Nara tak ingin menjadi orang sejahat itu. Mengorbankan masa depan pria sebaik Fano hanya karena ketidak becusannya sebagai anak membiayai operasi Ibunya.


Ditengah kebimbangannya, panggilan Fano justru membuyarkan semua kegundahannya. "Nara...."

__ADS_1


Nara membalas tatapan Fano yang kini sedang menatapnya. "Apa kamu yakin?" tanya Nara dengan pandangan tetap fokus pada dua manik hitam milik pria berwajah tampan di depannya. Selain ingin mendengar jawaban dari mulut pria itu, Nara juga ingin tahu jawabannya dari kedua mata Fano.


"Aku yakin." Fano menjawab tanpa keraguan.


"Tapi aku yang tak yakin." Nara mengatakan yang sejujurnya. Dia yang membuat jebakan, namun dia pula yang tak yakin dengan keputusannya melakukan jebakan pernikahan. Keputusan yang dirinya ambil secara mendadak bahkan sebelum dia menimbang baik buruknya untuk kedepannya.


Ya, sekarang Nara sudah bisa menimbang baik buruknya. Baiknya ada di Nara karena dia bisa mendapat uang dari Fano. Sedangkan buruknya ada untuk Fano. Pria itu harus terjebak dalam pernikahan bersama orang yang tidak di cintainya. Apalagi Nara sadar, jika dirinya sangat jauh dari kata sempurna. Baik fisik maupun kepribadian. Seharusnya Fano bisa mendapatkan pendamping yang lebih baik dari dirinya.


"A-aku...." Nara bingung harus jujur atau tidak jika dia sudah menjebak Fano. Jika dia jujur, bisa dipastikan dia akan dipecat saat itu juga. Namun jika tak jujur, Nara justru merasa semakin bersalah. "Maafkan aku." Akhirnya hanya kata itu yang bisa terucap. Nara tak mengatakan yang sebenarnya karena tidak ingin kehilangan pekerjaan ini, pekerjaan yang dia dapatkan dengan susah payah. Walau gajinya tak bisa untuk membiayai operasi Ibunya, tapi setidaknya gaji disini bisa untuk memenuhi kebutuhan dirinya juga Ibu dan adiknya.


"Kamu gak perlu minta maaf. Aku yang salah. Aku yang mabuk, tapi kamu yang harus terkena imbasnya. Aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Nara aku minta maaf dan aku yakin akan bertanggungjawab dengan menikahimu."

__ADS_1


Lihat, bukankah Fano berhasil membuat Nara semakin merasa bersalah. Dia sudah menarik pria sebaik Fano dalam masalahnya. Bukankah seharusnya pria sebaik Fano mendapatkan pasangan yang baik juga. Bukan wanita licik seperti dirinya.


"Tapi Fano..."


"Tak ada tapi-tapian Nara!" ujar Fano tak mau di bantah. Dia sudah yakin dengan keputusannya. Selain karena ingin bertanggung jawab, Fano juga berharap pernikahan ini sebagai cara melepaskan diri dari bayang-bayang Ayura yang sudah menjadi milik adiknya.


Jika sudah menikah nanti, Fano akan berusaha membuka hatinya untuk Nara. Belajar mencintai wanita itu. Wanita yang mungkin saja di dalam rahimnya sudah tertanam benihnya.


"Lalu bagaiaman dengan Tuan Arya dan Nyonya Rani? Apa mereka akan setuju dan tak curiga dengan keputusanmu untuk menikahimu?" tanya Nara berusaha mengoyahkan keputusan Fano.


"Kamu gak perlu khawatir. Untuk restu kedua orang tuaku itu menjadi tugasku. Kamu hanya perlu sedikit bersabar untuk aku meyakinkannya." Ucapan Fano berhasil membungkam Nara. Dia tak memiliki alasan lagi untuk lari dari jebakan yang sudah dia buat sendiri. Dia sudah terjatuh terlalu dalam. Dan untuk keluar, rasanya sangatlah mustahil kecuali dengan dia mengakui semuanya. Dan Nara tau jika dia tak mungkin melakukannya. Hingga akhirnya mau tak mau Nara harus melanjutkan permainannya yang sudah dirinya mulai.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu keputusanmu. Aku harap kamu segera menikahiku."


__ADS_2