JEBAKAN PERNIKAHAN

JEBAKAN PERNIKAHAN
Meminta Restu


__ADS_3

Terlalu gugup dan gelisah membuat Nara meremas tangan Fano yang entah sejak kapan sudah berada di gengaman tangannya.


"Pa, Ma. Fano mau minta restu." Nara semakin kuat meremas tangan Fano, namun detik selanjutnya ia justru merasakan usapan lembut di punggung tangannya.


Nara menunduk. Disana, di atas tangannya sudah ada tangan Fano yang bergerak lembut mengusap punggung tangannya. Sepertinya Fano menyadari jika saat ini Nara sedang dalam kondisi tak biasa, dan pria itu mencoba untuk menenangkannya.


"Restu? Restu untuk apa?" tanya Mama Rani yang meminta kejelasan atas permintaan putra sulungnya.


"Aku ingin menikah?"


"Menikah? Dengan siapa?" tanya kedua orang tua Fano secara bersamaan. Fano bisa melihat, baik Papa Arya maupun Mama Rani sempat terkejut karena ucapannya, namun sepertinya itu hanya berlangsung sesaat saja karena setelahnya ekspresi kedua orang tuanya justru terlihat biasa saja.


"Dengan Nara." Fano menjawab sembari menatap Nara dengan tersenyum hangat. Namun karena terlalu takut gadis itu justru hanya tertunduk tanpa berani mengangkat kepalanya.


"Maksud kamu Quennara ini?" tanya Papa Arya memastikan sembari menunjuk Nara dengan sudut matanya.


"Iya Pa. Fano akan menikahi Nara yang ini."


"Apa kamu yakin?" Kini giliran Mama Rani yang bertanya pada sang putra.


"Ya, Fano yakin Ma," jawab Fano tanpa keraguan.

__ADS_1


"Emang Naranya mau nikah sama kamu." Papa Arya kembali bertanya untuk memastikan.


"Mau Pa. Kalau Papa gak percaya tanya aja sendiri."


Seperti saran Fano, Papa Arya pun menanyakan kesanggupan Nara untuk menikah dengan putranya. "Nara, apa benar kamu mau nikah dengan Fano putra sulung saya?"


Nara mengangkat kepalanya menatap pria paruh baya yang tak lain adalah majikannya sendiri. "Iya Tuan saya mau." Gadis itu menganggukan kepalanya sesaat sebelum akhirnya kembali menunduk, dia sangat takut dengan tatapan Tuan Arya. Padahal Tuan besarnya itu tak menatapnya dengan tajam, melainkan dengan tatapan yang terkesan penuh selidik.


"Apa Fano memaksamu agar mau menikah dengannya?"


"Tidak Tuan. Tuan Fano tidak memaksa saya, karena saya sendiri juga mau menikah dengan Tuan Fano," jawab Nara dengan gugup. Dia khawatir dengan kemarahan kedua majikannya karena sudah dengan sangat lancang ingin menikah dengan putra kebanggaan mereka.


Nara tahu orang tua manapun pasti ingin anaknya mendapat jodoh yang sepadan. Sedangkan Nara bahkan tak ada satupun hal yang sepadan dengan Fano. Baik materi, fisik dan kecerdasan mereka sangatlah berbanding terbalik. Jika Fano berada di posisi langit teratas maka Nara justru sebaliknya, dia berada sangat jauh di jurang terbawah.


"Baiklah kalau kalian ingin menikah tanpa ada paksaan, kami sebagai orang tua hanya bisa merestui," ujar Papa Arya. "Dan untuk kamu Fano, setelah ini kamu siapkan waktu untuk melamar Nara pada keluarganya. Papa dan Mama sendiri yang akan mengantarmu nanti."


Setelah mengatakan hal itu, Papa Arya beranjak dari duduknya dan pamit untuk pergi ke kamar dengan di dampingi oleh Mama Rani.


Melihat suara langkah kaki yang berjalan menjauh membuat Nara mengangkat kepalanya dengan mulut yang sudah menganga. "Kenapa mereka pergi?"


"Papa sama Mama mau istirahat. Katanya masih capek abis perjalanan dari luar kota," jawab Fano seperti apa yang Papa Arya katakan tadi sebelum pamit kembali ke kamar.

__ADS_1


"Bukan begitu. Kenapa Tuan Arya dan Nyonya Rani tak memakiku dulu sebelum kembali ke kamar mereka?"


Berbeda dengan Nara yang masih menampakan ekspresi tak percaya, Fano justru mengerutkan dahinya bingung. "Memaki. Memaki untuk apa?"


"Ckk.. Masa kamu gak tahu?" tanya Nara kesal dan dia semakin kesal saat melihat Fano justru menggelengkan kepalanya.


"Gini ya Tuan Fano yang terhormat. Seharusnya Tuan dan Nyonya Darmawangsa memakiku karena sudah berani mengaku jika aku mau menikah denganmu. Seharusnya mereka menentang dan marah, karena putra kebanggaan mereka justru harus berakhir menikah dengan gadis sepertiku yang tak ada nilai plusnya. Seharusnya mereka meminta aku mundur dan jangan berharap bisa menikah dengan putra mereka yang berharga. Mereka itu aneh sekali, apa mereka tak sayang pada Tuan Fano sampai merelakan putra tampan mereka menikah dengan gadis jelek dan miskin sepertiku."


Pletak


"Aduh, sakut tauk." Nara mengaduh kesakitan sembari mengusap keningnya yang berdenyut nyeri. Setelah penjelasan panjang lebarnya, Fano justru menghadiahinya dengan sentian keras di kening.


"Gak pa-pa sakit sedikit. Yang penting kepala kamu kembali bener biar isinya gak aneh-aneh lagi."


Nara memanyunkan bibirnya. "Isi kepalaku gak aneh," ucapnya tak terima.


"Gak aneh gimana? Jelas-jelas isi kepalamu itu aneh semua. Bagaiaman bisa kamu berpikir kalau kedua orang tuaku akan melakukan hal sepicik itu?" Fano menggelengkan kepalanya tak percaya. "Papa dan Mama gak pernah memandang seseorang dari segi fisik maupun materi, melainkan hatinya. Jadi tak ada yang salah jika mereka setuju aku menikahimu. Karena itu berarti, dimata mereka kamu memiliki hati yang baik."


Memiliki hati yang baik? Nara tersenyum miris. Dia tak sebaik itu buktinya dia rela menjerumuskan Fano dalam jebakan pernikahan yang dirinya rancang.


"Jadi Nara, kapan aku bisa menemui orang tuamu untuk melamar kamu?"

__ADS_1


__ADS_2