JEBAKAN PERNIKAHAN

JEBAKAN PERNIKAHAN
Berbicara Empat Mata


__ADS_3

Fano baru saja kembali ke kamar dan hendak merebahkan tubuhnya di atas ranjang saat mendengar suara ketukan pintu kamarnya.


"Ada apa lagi sih Ma?" ujar Fano sembari membuka pintu kamarnya dengan wajah lelah setelah beberapa saat yang lalu sempat berdebat dengan sang mama.


"Maaf Tuan kalau saya ganggu." Nara menundukan kepalanya. Dia takut terkena amukan Fano karena sudah berani menganggu pria itu di jam selarut ini. Namun Nara tak ada pilihan, dia memang harus berbicara penting saat ini juga dengan anak majikannya itu.


"Nara? Ada apa? Kenapa kamu belum tidur?" Fano nampak kaget begitu menyadari jika yang mengetuk pintu kamarnya bukanlah Mama Rani melainkan Nara, calon istrinya.


"Ada yang mau saya bicarain sama Tuan Fano. Apa kita bisa bicara di dalam?" tanya Nara sembari melirik ke dalam kamar melalu celah tubuh anak majikannya itu.


Sedangkan disisi lain Fano yang mendengar permintaan Nara justru nampak terkejut. Dia tak menyangka Nara seberani itu. Apa wanita ini tak takut jika kejadian malam itu terulang kembali sebelum mereka sah menjadi sepasang suami istri.

__ADS_1


"Apa bisa kita bicara di dalam?" tanya Nara lagi saat Fano justru hanya diam membisu.


"Di dalam? Kenapa harus di dalam? Maksudku, kenapa kita gak bicara di ruang keluarga saja." Fano memberi saran. Bukan apa, dia hanya takut kembali melakukan kesalahan yang sama. Walau saat ini dirinya tidak dalam keadaan mabuk, namun sebagai pria normal, Fano khawatir tidak bisa menahan diri untuk tak melakukan apapun di dalam kamar bersama seorang wanita yang mungkin tak sampai hitungan bulan akan berstatus sebagai istri sahnya.


"Jangan. Jangan di ruang keluarga," tolak Nara dengan tegas. "Aku ingin bicara empat mata ditempat tertutup."


"Apa?" Kedua mata Fano membola. Dia terkejut sekaligus tak percaya dengan apa yang di katakan Nara.


"Tapi jangan di kamarku juga dong."


"Lalu dimana tempat yang aman tanpa ada orang lain yang mendengar pembicaraan kita?" tanya Nara dengan tak sabar.

__ADS_1


"Ikut aku!" Fano menutup pintu kamarnya lalu menggenggam tangan Nara dan membawanya masuk ke dalam lift.


Sebenarnya banyak tempat aman yang bisa mereka gunakan untuk berbicara. Apalagi di rumah sebesar milik keluarga Darmawangsa ini hanya ada mereka dan kedua orang tua Fano saja yang menempati.


Namun Fano sengaja memilih halaman belakang rumah mereka untuk berbicara empat mata dengan Nara. Selain karena di tempat terbuka ini mereka tak akan mungkin melakukan hal yang aneh-aneh, di taman belakang juga memiliki udara yang menyejukan di tengah panasnya suhu ibu kota.


"Jadi apa yang mau kamu bicarain?" tanya Fano begitu mereka mendudukan tubuhnya di kursi rotan yang ada di tepi kolam renang.


Nara masih diam. Gadis itu justru memilin jari jemari kedua tangannya, dan hal itu membuat Fano heran sekaligus penasaran. "Bicaralah. Walaupun ini bukan ruang tertutup seperti keinginanmu tadi, tapi saya bisa jamin kalau disini tak akan ada yang mendengar pembicaraan kita berdua."


Nara menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Lalu setelahnya gadis itu memberanikan diri untuk menatap Fano sebelum akhirnya mengatakan apa yang sejak tadi ingin ia utarakan.

__ADS_1


"Maaf kalau saya lancang, tapi bolehkah saya meminta mahar saya dulu sebelum kita menikah?" tanya Nara sembari menatap Fano dengan penuh harap.


__ADS_2