
Begitu tiba di kamarnya, Nara mengacak-acak rambutnya yang sebenarnya sudah sangat acak-acakan.
"Bagaimana ini? Kenapa Fano justru setuju." Nara yang frustasi langsung membanting tubuhnya di atas ranjang dengan kesal.
Keberanian yang dia punya saat menjebak Fano semalam benar-benar sudah hilang, yang tersisa kini hanya kekhawatiran dan perasaan bersalah.
Nara yang tengah tidur terlentang di atas ranjang kecilnya, kini mulai menerawang jauh kedepan. "Apa yang akan terjadi kalau Fano tahu aku menjebaknya?" tanya Nara pada dirinya sendiri, lalu detik selanjutnya ia menghela nafas dengan kasar. "Pertanyaan konyol yang seharusnya tak pernah aku tanyakan, karena aku memang sudah tahu jawabannya."
"Saat Fano tau nanti, dia pasti akan langsung ceraiin aku. Dan aku harus nyiapin diri dari sekarang. Bukan hanya nyiapin diri jadi istri, tapi juga nyiapin diri jadi janda. Sebuah status yang udah sepantas aku sandang karena udah manfaatin orang sebaik Fano."
Nara kembali menghela nafasnya dengan kasar. "Jalani aja Nara. Kamu udah terlanjur menyalakan api besar itu. Dan mau tak mau kamu harus siap menanggung resikonya, termasuk ikut terbakar di dalamnya."
...***...
Tugas utama Nara di rumah ini adalah memasak. Mulai dari menu sarapan, makan siang hingga makan malam. Karena sebab itulah Nara menjadi satu-satunya asisten rumah tangga yang tinggal di kediaman Darmawansa. Sebab asisten yang bekerja untuk membersihkan rumah, mencuci, menyetrika, mereka tak tinggal di rumah ini.
Dulu sebenarnya ada satu juru masak lagi yang tinggal di sini bersama Nara. Namun tiga hari yang lalu ia keluar karena harus mengurus ayahnya yang sudah lanjut usia. Dan sampai saat ini belum ada yang mengantikannya, hingga Nara pun mulai sedikit keteteran.
"Maaf ya, kamu jadi kerepotan. Saya belum sempat mencari penganti mbak Narti," ujar Rani yang datang membantu gadis itu menyiapkan makan malam, padahal ia baru tiba dari luar kota beberapa jam yang lalu.
"Ah, tidak pa-pa Nyonya. Saya masih bisa melakukannya sendiri. Apalagi di rumah ini saya hanya perlu memasak untuk tiga orang saja." Nara menjawab dengan tak enak hati. Bukan karena sang majikan yang sigap membantunya, namun karena kebaikan wanita paruh baya itu membuatnya merasa sangat jahat, jahat karena sudah menjebak putra pertamanya.
__ADS_1
"Kamu memang hebat Nara. Di usiamu yang masih muda, kamu sudah pandai memasak," puji Rani. Dia berkata jujur, Nara memang pandai memasak. Cita rasa makanan yang gadis itu masak sangat cocok di lidahnya dan juga di lidah anggota keluarga yang lainnya.
Nara juga cepat belajar. Beberapa hari yang lalu Rani sempat mengajari Nara cara memasak makanan kesukaan Fano. Dan hebatnya gadis itu sangat cepat menyerap semua yang dirinya ajarkan.
"Terimakasih pujiannya Nyonya." Nara memang suka memasak. Maka dari itu saat SMK dia mengambil jurusan tata boga. Dia bahkan sempat magang di salah satu restoran berbintang empat. Hingga memasak bukanlah sesuatu yang sulit baginya, melainkan keahliannya.
Setelah selesai memasak, Nara dan Rani mulai menata makan malam di meja makan. Hingga tak lama berselang Arya datang diikuti Fano di belakangnya.
"Kamu mau kemana Nara." Rani mencegah Nara yang hendak pergi meninggalkan meja makan.
"Tugas saya disini sudah selesai. Jika nanti ada sesuatu yang kurang, Nyonya bisa panggil saya. Saya ada di dapur basah." Nara menunduk dan hendak melanjutkan niatnya untuk pergi, apalagi disini ada Fano. Setiap melihat pria itu Nara merasa sangat bersalah. Bahkan seharian ini Nara berusaha menghindar agar bisa mengurangi berinteraksi dengan pria itu.
"Kamu harus makan malam dengan kami." Nara menatap Rani dengan sorot mata memelas. Ini bukan pertama kalinya wanita paruh baya itu mengajak Nara makan bersama. Namun Nara yang menyadari posisinya akan lebih memilih makan di belakang seorang diri.
"Istri saya benar. Makan malamlah bersama kami. Dan jangan merasa tak pantas. Kita semua sama," ujar Arya tak mau di bantah. Berbeda dengan Rani yang tersenyum senang mendengar ucapan suaminya, Nara justru merasa sebaliknya. Dia merasa menjadi penjahat yang paling jahat di tengah-tengah keluarga sebaik ini.
"Duduklah Nara." Mama Rani menarik kursi kosong untuk Nara. Dan sialnya kursi itu berada di sisi Fano yang sejak tadi hanya diam saja tanpa berkomentar apapun. "Ayo duduk Nara!"
Nara mengehela nafas berat. Meski enggan, tapi dia tak bisa lagi menolak. Nara pun akhirnya mendudukan tubuhnya di kursi yang berada tepat di sisi Fano.
"Nara tolong kamu ambilin makan buat Fano ya. Soalnya saya ambilin buat suami saya," ujar Rani setelah mengambilkan satu centong nasi untuk suaminya.
__ADS_1
"Fano bisa ambil sendiri Ma," tolak Fano. Dia sempat melirik Nara yang hanya diam mematung. Sepertinya gadis itu nampak tak nyaman dengan permintaan Mama Rani.
"Udah gak pa-pa." Meski enggan, Nara tetap mengambilkan makanan untuk Fano sebagai bentuk tanggung jawabnya menjalakan perintah dari majikannya.
"Segini?" tanya Nara setelah memasukan satu centong penuh nasi ke piring Fano.
"Iya cukup."
"Lauknya mau yang mana?" tanya Nara lagi.
"Aku mau itu, itu dan itu." Fano menunjuk beberapa lauk dan sayur yang dia inginkan, dan dengan sigap Nara pun mengambilkan apapun yang Fano inginkan.
Mereka mulai makan malam dan sesekali Arya menanyakan kapan putranya itu siap kembali bekerja di perusahaan. Mengingat sudah dua tahun Fano benar-benar meninggalkan perusahaan demi melanjutkan pendidikannya.
"Pa, Ma ada yang mau Fano bicarain," ujar Fano begitu mereka menyelesaikan makan malam.
Melihat wajah serius Fano, Nara pun berdiri dari duduknya. "Kalau gitu saya permisi dulu."
Namun belum juga melangkahkan kakinya, tangan Nara justru sudah lebih dulu di cekal oleh Fano. "Tetaplah disini."
Mendengar perintah dari Fano, bukannya duduk Nara justru diam ditempat. Bahkan wajah gadis itu sudah mulai putih pucat. Dia sudah bisa menebak apa yang akan Fano bicarakan pada ke dua orang tua pria itu. Dan mendadak Nara menjadi takut. Takut dengan apa yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
"Duduk Nara!" Mendengar perintah tegas dari Fano untuk yang kedua kalinya membuat Nara menuruti perintah pria itu tanpa berani membantah.
"Jadi apa yang mau kamu bicarakan pada kami?"