
"Mahar?" tanya Fano tak percaya. Dia pikir Nara berbeda. Namun ternyata wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumahnya ini sama saja dengan para wanita yang selama ini mendekatinya.
"Iya, bolehkan saya meminta mahar saya lebih dahulu?" Nara bertanya lagi masih dengan wajah penuh harap. Wajah cantik yang justru kini Fano anggap sok polos.
"Hmm, kamu ingin mahar apa dariku?" Fano balik bertanya dengan dingin. Entah kenapa setelah mengetahui Nara berani meminta mahar bahkan sebelum tanggal pernikahan mereka di tentukan membuat Fano merasa ilfeel pada wanita itu.
"Saya mau mahar uang, boleh?" tanya Nara antusias.
"Hmm.. Kamu mau meminta uang mahar berapa dariku? 1M, 2M atau justru 10M?" Fano kembali bertanya sembari tersenyum sinis kearah Nara. Apalagi saat meminta uang mahar, wajah Nara nampak jelas sangat menginginkan uang itu. Dan hal itu semakin membuat Fano kesal pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia meniduri wanita yang hanya mengincar uangnya saja.
"Tidak. saya tak mau uang bermilyar-milyar," tolak Nara. Lihatlah, Fano ini memang pria yang sangat baik bukan? Bahkan ketika ia meminta uang mahar, Fano langsung menawarkan dengan jumlah yang fantastis.
__ADS_1
"Katakan, berapa yang kamu mau?" sentak Fano kesal. Sudah di beri tawaran uang bermilyar-milyar, namun Nara justru menginginkan lebih? Tapi jangan harap! Fano tak akan pernah memberikan uang sebanyak yang wanita itu inginkan.
"Saya mau mahar uang 150 juta," jawab Nara dengan lirih. Dia baru menyadari perubahan raut wajah Fano yang nampak tak bersahabat seperti sebelumnya. Dan hal itu cukup membuatnya takut.
"Hanya 150 juta?" tanya Fano tak percaya. Bukankah seharusnya Nara menerima uang berM-M yang dirinya tawarkan. Bukan malah meminta nominal yang lebih kecil seperti sekarang.
"Iya," jawab Nara yang sudah menundukan kepalanya sejak menyadari raut wajah tak bersahabat Fano.
Nara menggelengkan kepalanya sembari mengangkat kepalanya. "Tidak. Tapi bisakah Tuan Fano memberikan uang itu malam ini juga?"
"Malam ini? Memangnya untuk apa uang itu?" tanya Fano curiga.
__ADS_1
"Uang itu untuk...." Nara nampak ragu ingin memberi tahu Fano atau tidak.
"Sudahlah kalau kamu memang gak mau kasih tahu. Lagipula aku juga gak peduli uang itu untuk apa." Walau sebenarnya ingin tahu, namun Fano tak ingin memaksa Nara memberi tahu. Lagipula setelah tahu Nara hanya mengincar uangnya, Fano mendadak tak begitu respect dengan wanita itu.
"Uang itu untuk biaya operasi Ibu saya."
Fano langsung menatapa Nara dengan pandangan tak terbaca. Namun jauh di lubuk hatinya dia merasa bersalah karena sempat mengira Nara meminta uang mahar hanya untuk kesenangan wanita itu. Padahal kenyataannya Nara memberanikan diri meminta uang mahar darinya demi pengobatan calon Ibu mertuannya yang bahkan Fano sendiri tak tahu jika sedang dalam kondisi sakit.
"Ibu saya sudah di rawat di rumah sakit sejak hari selasa karena penyakit jantungnya kambuh. Beberapa waktu yang lalu adik saya mengabari jika kondisi Ibu saya semakin menurun dan dokter menyarakan agar operasi segera dilakukan, karena jika tidak Ibu saya bisa me......" Nara tak lagi bisa melanjutkan penjelasannya. Gadis itu sudah menunduk sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hingga beberapa detik setelahnya suara isakan yang sama seperti malam itu kembali menusuk gendang telinga Fano.
Fano menarik tubuh Nara kedalam pelukannya. Mengusap punggung gadis itu dengan perlahan. Dia tahu jika membicarakan hal yang menyangkut kondisi kesehatan orang tua memang sangat sensitif. Apalagi saat ini Ibu Nara memang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Kamu jangan sedih lagi, untuk biaya pengobatan Ibu kamu, itu sekarang sudah menjadi tanggung jawab saya. Karena sebentar lagi beliau juga akan menjadi Ibu saya juga."