
Yang terjadi sebelum Jessica masuk ke dalam rumah.
Di dalam kereta kuda.
"Kalau pemikiran Ku benar, saat ini Sekolah Tingkat Bangsawan sedang mengadakan penerimaan siswa baru, dan saat ini adalah saat di mana alur di dalam novel mulai berjalan. Tak ada untung nya jika Aku memikirkan hal ini, karena Aku sudah bukan bagian dari novel itu. Permasalahan nya, sejak seminggu belakangan ini situasi nya terlalu tenang. Aku hafal betul suasana seperti ini, karena sudah beberapa kali mengalami nya di jaman modern. Haah, semoga saja Mama di rumah baik baik saja. Karena jika terjadi sesuatu pada Nya, Aku tak tau Aku akan bertahan sendirian dengan cara apa. Haaahh, Jessica.. Sadarlah, rileks dan bersyukur saja. Nikmatin ketenangan ini oke ? Bukan kah yang di impikan diri Mu adalah suasana seperti ini ?" Monolong Jessica panjang lebar seorang diri.
Beberapa menit kemudian, Kereta kuda berhenti dan Jessica pun turun dengan perlahan. Dia masuk ke dalam rumah dengan membuka pintu, namun saat pintu baru terbuka, dan saat Jessica baru saja masuk, tiba tiba..
*Pofffff... Taaakk.. Taaakkk..*
Sebuah alat yang mengeluarkan bunyi dan potongan potongan plastik berhamburan di hadapan Jessica.
Jessica tau betul alat itu, karena alat itu adalah alat yang di keluarkan oleh Asosiasi yang dia pimpin. Metode nya sama dengan alat untuk memberikan kejutan pada seseorang yang berulang tahun atau menang dalam sebuah perlombaan.
"Mama ? Jessi belum ulang tahun loh, apa Mama salah mengingat hari ?" Tanya Jessica penuh keheranan sambil melepas mantel berbulu nya.
"Selamat sayang, Kamu di terima di Sekolah Bangsawan Tingkat Akhir." Ujar Elmira dengan penuh semangat, bahkan diri nya berekspresi seperti diri nya lah yang di terima di sekolah itu.
Elmira memencet alat yang ada di tangan nya berulang kali, yang membuat suasana rumah di malam ini sedikit ramai dan penuh dengan potongan plastik.
Elmira bersorak sorai berkali kali, bahkan menggoyangkan tangan Jessica, berharap Jessica ikut berlombat dan bersuka ria bersama diri nya.
Nyata nya Jessica malah langsung menjadi seperti orang linglung, dan bahkan secara spontan langsung menjatuhkan mantel nya saat mendengar nama Sekolah Bangsawan Tingkat akhir.
Jessica nampak seperti patung dengan raut wajah yang sudah tak bia di jelaskan lagi.
"Jessi ?" Panggil sang Mama.
__ADS_1
"...Se.. Sekolah Bangsawan Tingkat Akhir ? Mama lagi becanda kan ? Hahaha, mana mungkin hal seperti itu dapat terjadi ? Jessi kan tak mendaftarkan diri sama sekali. Jadi Mama jangan bikin kehebohan kaya gini yaa."
Ujar Jessica dengan harapan setinggi lagit bahwa pendengaran nya sedang bermasalah, tapi peluh sudah memenuhi wajah nya, seakan feeling nya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Padahal diri nya sedang berharap, tapi logika nya seakan memiliki feling nya tersendiri, dan mambuat Jessica mau tak mau harus merasakan hal lain yang semakin bergejolak dalam diri nya.
"Hahaha, Mama udah tau kalau jawaban Kamu bakal kaya gini. Kamu tau ? Mama yang udah daftarin Kamu sayang, jadi Kamu siap siap aja minggu depan di jemput sama kereta sekolah Bangsawan." Jelas Elmira secara lengkap.
"Ta.. Tapi, bagaimana bisa Ma ? Jessi tak pernah mengikuti ujian nya sekali pun. Kita rakyat biasa Ma, bukan bangsawan. Jadi tak mungkin Kita di kecualikan."
Menolak kenyataan, Jessica berusaha memberikan penolakan yang masuk akal, agar situasi saat ini cepat berlalu bahkan terlubur oleh waktu.
"Astaga Jessi. Kamu itu saking senang nya jadi tak mau percaya kan ? Haah, akan Mama perjelas lagi. Di desa sebelum nya, walaupun Kita pindah karena ulah Kamu yang terlalu pintar, sebelum itu juga Mama udah ambil ijazah Kamu loh Jess. Jadi, Mama masukin deh ijazah Kamu ke sekolah itu, dan benar saja, Kamu menjadi siswa dengan nilai terbaik yang masuk tahun ini. Jadi, Kamu tak perlu mengikuti serangkaian tes yang ada. Gimana ? Gimana ? Gimana ? Sekarang Kamu udah percaya kan ? Aahhh, Mama makin semangat Jess."
Penjelasan Elmira yang semakin terperinci pun membuat Jessica kehabisan akal untuk menangkis kenyataan ini. Elmira yang sedang memeluk Jessica setelah memberikan penjelasan terjelas, seketika langsung di tolak oleh Jessica.
"Jess ?" Panggil Elmira yang melihat perubahan reaksi pada Jessica.
"...." Jessica tak menjawab panggilan Mama nya walaupun dia mendengar nama nya di panggil.
Badan nya sudah bergetar hebat, mata nya membulat sepenuh nya. Di dalam benak nya langsung tercipta tornado berukuran raksasa setelah melewati banyak fase sejak tadi. Penglihatan nya seakan menjadi buram, dan tak jelas lagi.
Melihat anak nya nampak jelas sedang tidak baik baik saja, seketika membuat Elmira khawatir dan memanggil Jessica lagi.
"Jess." Panggil nya sambil mengulurkan tangan agar dapat menyentuh pipi Jessica.
"DON'T TOUCH ME !" Teriak Jessica sambil menepis tangan yang mendekat pada Nya.
__ADS_1
Tangan Elmira yang di tepis oleh Jessica langsung membuat punggung tangan Nya memerah, namun Elmira tidak merasakan sakit dan perih sedikit pun. Dia malah semakin tidak khawatir saat mendapat perlakuan seperti itu dari Jessica. Di pikirannya hanya penasaran, apa yang membuat Putri nya jadi seperti ini.
"JESS KAMU KENAPA ? APA YANG BUAT KAMU KAYA GINI ? KAMU LAGI SAKIT ? ATAU APA ?" Teriak Elmira di buat habis kesabaran saat ini.
Jessica masih tak menjawab, ingatan diri nya yang akan mati di tangan Aldara terus berputar berulang ulang bak kaset rusak, dan membuat otak nya nyut nyutan karena terlalu banyak memikirkan banyak hal di saat yang sama.
Elmira yang sudah tak tahan lagi mengulurkan tangan yang sama ke arah Jessica, dan kali ini di tepis lebih keras oleh Jessica.
"Auuuww..." Ringis kesakitan dari Elmira, yang sudah tak bisa menahan rasa nyeri karena di pukul di tempat yang sama.
Mendengar Elmira yang kesakitan, membuat Jessica tersadar dan penglihatan nya seakan baru menjadi jelas saat ini.
Melihat tangan kiri Elmira sudah memerah dan tampak sedikit bengkak, membuat Jessica menggigit ujung bibir nya sekuat tenaga, dan berlari ke kamar nya yang berada di lantai dua.
*BRAAAKKK...* Daun pintu yang di banting oleh Jessica sekuat tenaga.
"Kamu.. Kenapa Nak ?" Monolog Elmira yang entah kenapa merasa bersalah, sambil memegang punggung tangan kiri nya yang kesakitan.
***
Jessica berada di dalam kamar nya, lebih tepat nya sedang meringkuk di atas kasur sambil menutup seluruh tubuh nya yang bergetar tak karuan. Sadar tak sadar, diri nya sudah menangis sejak mendengar penjelasan dari sang Mama tadi, dan membuat mata nya tampak sudah membengkak, dengan wajah yang tampak sembab.
Penampilan Jessica saat ini sangat berantakan, berbeda sekali dengan penampilan nya yang selama ini sangat rapi dan berwibawa.
"Hikss... Aku.. Aku hanya tak mau mati.. Hiks.. Walaupun Aku tak tau bagaimana rasa sakit karena mati, tapi Aku tak mau mati lagi. Aku tak mau kehilangan orang orang yang sudah Aku dapatkan di dunia ini. Mama, Paman, Kakek, Viona, Dan, Ema, dan masih banyak lagi.. Tidak.. Hikss. Tidak.. Kumohon, bangunkan Aku dari mimpi menyeramkan Ini. Buat Aku bangun dalam keadaan di mana ini semua hanya mimpi saja. Hikss.. Ku mohon..."
Isak tangis Jessica di atas kasur, sebelum kegelapan menghampiri diri nya yang sudah tak bisa mempertahan kan kesadaran diri lagi.
__ADS_1