
Wajah Jessica pucat seketika, biasa nya jika Dia berada di situasi seperti ini, pelukan Elmira yang Dia butuh kan. Tapi kondisi nya tidak memungkinkan. Ada seorang gadis di hadapan nya yang membutuhkan arahan untuk kedepan nya. Dan Jessica juga harus menjaga image nya, pokok nya tidak boleh sampai rusak bukan ?
"A..Apa Anda baik baik saja, Nona Kesatria ? Wajah.. Wajah Anda tampak pucat." Tanya sang gadis dengan wajah khawatir.
"Tak apa.. Aku baik baik saja." Jawab Jessica cepat, karena tak mau membuat sisi lemah nya di lihat oleh orang lain, selain Elmira. "...Hanya beberapa ingatan menyakitkan yang menikam ingatan Ku, sehingga Aku agak drop. Tapi tak masalah, kalau segini saja masih bisa Ku tahan." Lanjut Jessica di dalam hati nya. Tak mungkin juga Dia mengatakan hal itu secara terang-terangan.
"Sudahlah.. Kita abaikan wajah Ku yang mendadak pucat. Sekarang mari fokus pada Diri Mu. Aku tanya, apakah Kamu sangat mahir dalam menjahit ? Atau, seberapa hebat Kamu dalam membuat baju, atau sebuah benda dari penyatuan beberapa kain atau lebih.?" Tanya Jessica mengganti topik.
Entah kenapa, tapi walaupun wajah gadis itu kini tidak terlalu bersih-bersih amat, Jessica dapat melihat semburat merah di pipi nya dan mata yang nampak sangat berbinar.
"Ah, Saya pernah membuat sebuah gaun. Walaupun gaun yang di buat oleh Saya dan Nenek saya belum terkenal, tapi itu adalah gaun yang sangat indah menurut saya. Walaupun belum sampai di tahap penyempurnaan, sudah terlihat jelas bahwa itu adalah gaun yang sangat indah. Tapi sayang nya, gaun itu juga sudah di sita bersamaan dengan butik. Tapi desain gaun itu masih ada di dalam ingatan Ku. Terukir dengan sangat jelas malah, aahh gaun itu jika di pakai oleh Nona Kesatria pasti akan sangat cocok. Lalu..."
Gadis itu terus bercerita tentang satu gaun yang di desain dengan Nenek nya sebelum menjadi sebatang kara di dunia ini, dan Jessica sadar betul bahwa gadis yang ada di hadapan nya saat ini tidak gagap sama sekali, dalam menceritakan tentang urusan butik dengan amat lancar.
Bahkan dia sangat bersemangat dalam menjelaskan tentang Gaun yang pernah dibuat bersama sang Nenek.
"Apakah kamu pernah menjahit desain pakaian yang digambar oleh orang lain ?"
"Em ? Saya memang bisa menjahit desain yang diberikan oleh orang lain, tapi sejauh ini belum ada seorangpun yang mempercayakan desain nya kepada Saya. Saya hanya bisa menjahit desain yang saya buat bersama Nenek. Selebih nya tak pernah lagi."
"Oh ~ Benarkah ? Lalu apakah Kamu sehebat itu dalam membuat gaun ?" Tanya Jessica yang nampak ikutan antusias.
"Walaupun ini terdengar terlalu tidak masuk akal, tapi saya yakin 100%, bahwa saya cukup ahli dalam bidang ini." Jawab nya yakin.
"Hem.. Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar." Kata Jessica tersenyum senang, mengambil kertas dan pena bulu di samping nya, dan mulai menorehkan tinta hitam di atas putih.
Gadis yang duduk di hadapan Jessica hanya memiringkan kepala nya, merasa heran dengan apa yang sedang di lakukan oleh Nona Kesatria, karena terlihat sangat serius.
__ADS_1
...After five minute......
"Nah, coba lihat ini. Apakah Kamu bisa membuat nya menjadi nyata ?" Tanya Jessica sambil menyerahkan selembar kertas.
"Em ? Maksud Nona Kesatria apa-"
Perkataan gadis itu terhenti. Bukan karena di sela oleh orang lain, tetapi karena melihat sesuatu yang ada di atas kertas.
"W..Wow.. Ini.. Ini desain yang sangat indah. Walaupun banyak yang terkesan terbuka, tetapi ini hanya menperlihatkan betis kita saja. Bahkan akan lebih indah jika memperlihatkan setengah paha. Di bagian dada tidak ada yang terbuka sedikit pun, di bagian pundak belakang juga sama."
Tanpa sadar, gadis itu memberikan ulasan nya. Beruntung nya, pikiran nya tidak kolot di mana akan mempersalahkan bagian gaun yang di gambar oleh Jessica, yang panjang nya tidak sampai di mata kaki.
"Astaga, saya yakin sekali. Desain seperti ini tak akan pernah terpikirkan oleh siapa pun. Karena gaun yang beredar di saat ini, seberbeda apapun warna, harga kain, dan sebagai nya, ujung-ujung nya tetap mengutamakan kemewahan. Dan lagi, selalu panjang hingga mata kaki. Memang terkadang lengan nya di buat pendek atau memanjang, atau bahkan di hilangkan, tapi model model itu bukan kah terlalu tidak kreatif ?"
Sambung nya lagi. Seperti nya jika sesuatu yang berhubungan dengan desain, gaun, dan butik, sudah di sukai oleh gadis ini.
Jessica hanya bisa terkekeh pelan, karena gadis yang ada di hadapan nya mirip sekali dengan anak umur lima tahun. Di mana, yang sedang terkagum-kagum nya dengan sesuatu yang berbeda dari yang di ketahui selama ini.
"Ya! Walaupun pola nya sangat sulit, dan terkesan sangat baru, tapi Saya yakin Bahwa Saya dapat menbuat nya menjadi nyata."
"Seberapa mirip Kamu dapat membuat gaun yang ku gambar menjadi nyata ? 50% ?70% ?80% ?90% ? Atau mungkin-"
"100 % Nona Kesatria." Jawab sang gadis yang seketika langsung menyela perkataan Jessica.
Jessica terkejut, karena bukan cuma menyela perkataan nya, tapi gadis itu mantap sekali dalam menjawab.
"Baiklah, melihat kepercayaan diri Mu ini, seperti nya akan membuah kan hasil yang sesuai. Hei, apakah Kamu mau bekerja bersama Ku ? Aku akan menjamin hidup Mu, asal hasil kerja yang Kamu berikan sangat memuaskan." Tawar Jessica sambil mengulurkan tangan nya.
__ADS_1
Gadis yang ada di hadapan Jessica saat ini nampak sedikit terkejut, lalu tatapan nya berubah menjadi terharu dan langsung menjabat tangan yang berada di depan nya.
"Baiklah. Saya akan berusaha sekuat yang Saya bisa, Madam." Kini panggilan Nona Kesatria sudah di ganti dengan madam.
Karena di kekaisaran ini, jika seorang wanita sudah menjadi pemilik butik yang terkenal ataupun tidak, Dia akan di panggil Madam. Tapi kali ini Jessica bukan lah Madam nya, karena dia hanya memberikan uang, barulah menjadi butik. Seperti insventasi mirip nya.
"Jangan panggil Aku Madam. Panggil saja Jessica, karena menurut ku, Aku bukan lah pemilik butik. Yaaa, Aku hanya membuat nya menjadi ada, tapi itu bukan profesi Ku. Apa Kamu paham ?"
"Em, baiklah. Maka Saya akan memanggil Anda Nona Kesatrian." Ujar nya yang kembali memakai panggilan sebelum nya.
"Oia. Siapa nama Mu ? Sejak membicarakan pembicaraan panjang sedari tadi, Author hanya menyebut Mu sebagai seorang Gadis atau Sang Gadis. Apakah Kamu tidak memiliki nama ?" Tanya Jessica yang baru mengingat hal ini.
"Eh ? Saya belum memberitahukan nama Saya ?" Tanya balik gadis itu.
"...." Jessica hanya diam dan mengangguk berkali kali, karena teringat jelas bahwa sedari tadi tak ada sesi perkenalan.
"Ah, kalau begitu Saya akan memperkenalkan diri Saya. Nama Saya Irene Valerin, umur Saya 18 tahun. Namun bulan depan, saya akan berumur 19 tahun."
"Hehehe, baiklah Irene. Semoga kerja sama kita ke depan nya tidak mengecewakan yaaa ?!" Ujar Jessica lagi, yang kembali menggerakkan tangan nya yang masih tertaut dengan tangan Irene.
Lalu tepat setelah menyelesaikan sesi perkenalan, kereta kuda pun berhenti di sebuah tempat yang sepi.
"Kita sudah sampai. Karena beberapa hal, Aku harus melewati lorong rahasia, baru sampai di tempat kerja. Apakah Kamu percaya pada Ku ?"
"Em." Jawab Irene yakin dan berjalan di belakang Jessica dengan langkah yang selalu cepat. Dia takut tertinggal di jalan yang baru Dia lihat.
Melihat ada rasa takut dari ekspresi Irene, membuat Jessica mengambil sebuah tindakan yang dapat menenangkan nya.
__ADS_1
Jessica memegang tangan Irene, dan berjalan seperti seorang Kaka yang sedang berjalan dengan adik yang berumur 5 tahun ke sebuah taman bermain.
Irene pun menciptakan senyum di wajah nya, karena Jessica terus memperlakukan nya seperti manusia. Benar benar seperti manusia, bukan binatang dan seonggok sampah.