
Suasana kembali hening. Jessica masih duduk dengan santai nya, karena masuk akal jika Sharon bereaksi seperti ini. siapa yang tak akan kaget coba ? Mana Sharon sudah mengumpat pada Jessica saat Dia sedang dalam keadaan yang kacau tadi. Beban pikiran nya seakan bertambah menjadi beberapa ton lebih berat.
"MA...MAAF KAN SAYA!!!" Teriak Sharon yang langsung menundukkan kepala nya. Saking menunduk nya, Sharon bahkan sampai mencium lutut kaki nya sendiri.
Jessica hanya menatap Sharon dengan tatapan tenang seperti biasa nya, dan menganggukan kepala yang menandakan bahwa Dia tak masalah dengan hal ini.
"Tak usah terlalu di pikirkan, Sharon. Maaf sebelum nya, tapi Aku akan langsung pada inti nya. Apakah sejak dini Kamu tidak memiliki keluarga ? Entah bagaimana cerita nya, Apakah sejak Kamu membuka mata, Kamu sudah berada di sebuah panti asuhan ?"
Jessica pun memberikan pertanyaan kepada Sharon. Mendengar pertanyaan Jessica, sempat membuat Sharon bingung sampai memiringkan kepala nya. Kemudian Sharon bertanya balik.
"Maaf Nona Majikan. Bukan nya menjawab pertanyaan Anda, tapi saya malah dengan lancang bertanya. Tapi untuk apa anda menanyakan tentang latar belakang saya ? Apakah ada suatu masalah yang berhubungan dengan keluarga ku ? "
"Ah, bukan apa-apa. Dengan Viona yang tidak memegang selembar kertas pun, telah menjelaskan semua nya. Bahwa orang yang sedang di tolong saat ini, tidak memiliki latar kekeluargaan atau dalam hal ini adalah anak yatim piatu. Jadi agar semuanya menjadi lebih pasti, Aku ingin mendengar jawaban nya dari mulut Mu sendiri." Ujar Jessica sambil menangkupkan pipi nya dengan satu tangan yang menjadi tumpuan di lengan kursi.
Mendengar Jessica yang memberikan penjelasan yang dapat dipahami oleh otak nya, Sharon yang awal nya memasang ekspresi sedikit gelisah, mulai menghembuskan nafas panjang dan berniat ingin berbicara. Seperti nya Dia akan berkata apapun itu, asal diperintah kan oleh Jessica.
"Jujur, dari relung hati yang paling dalam, pertanyaan yang sama juga saya lampirkan kembali untuk diri saya sendiri. Memang ini agak gila, tapi seperti nya Saya memiliki keluarga." Ujar Sharon yang hanya bisa menatap paha nya.
"Seperti nya ?" Jessica memperjelas.
"Saya tidak terlalu ingat akan hal itu. Dan saya juga masih merasa ragu, karena masih memiliki pendapat bahwa yang saya lihat itu entah merupakan mimpi atau kenyataan." Jelas Sharon lagi.
"Hem... Coba katakan pada Ku." Pinta Jessica.
"Saat saya masih kecil, seperti nya Saya berasal dari sebuah Desa. Saya ikut ke dua orang tua saya dan Kaka perempuan Saya, saat hendak ke suatu tenpat. Kemudian saat perjalanan di sebuah hutan, para serigala muncul dan membuat rombongan Kami kocar kacir. Lalu entah bagaimana, saat Saya membuka mata lagi, Saya sudah berada di sebuah panti." Jelas nya yang masih enggan menatap mata Jessica.
__ADS_1
"Apakah pemilik panti memperlakukan Mu dengan baik ?"
"Ya. Buk Kartika selalu memperlakukan Kami semua dengan sangat baik. Bahkan, seperti nya Dialah yang menyelamat kan Saya. Karena ada bekas cakaran serigala di lengan kiri nya. Padahal sudah ada bekas cakaran di lengan nya, tapi Saya masih belum dapat mempercayai bahwa yang Saya ingat ini adalah kenyataan, atau kejadian yang di buat buat oleh alam bawa sadar Saya, karena menginginkan sebuah keluarga."
"Aku akan mencoba membantu Mu sekuat kemampuan Ku. Jadi, bisa kah Kamu memberitahu kisaran umur Kakak Mu ? Atau apakah ada sesuatu yang Kamu ingat dari Kakak atau ke dua orang tua Mu ?" Tawar Jessica.
"Untuk ke dua orang tua Saya, seperti nya tak ada yang Saya ingat. Wajah mereka hanya nampak buram saat Saya mencoba mengingat kembali."
"Lalu apakah tidak ada sesuatu yang sangat spesial, yang dapat menjadi ciri khas Kakak Mu ?" Desak Jessica, karena Dia tak ingin jika niat nya untuk membantu Sharon malah tak bisa di lakukan karena Sharon yang tidak memberi petunjuk sedikit pun.
"Kakak Saya ? Dia adalah wanita yang selalu memberikan senyum yang sangat lebar setiap kali melihat saya. Rambut nya yang berwarna hitam, mata nya yang bulat, dan AH. Aku mengingat nya. Ada sebuah tahi lalat di belakang telinga nya. Entah spesifik nya di sebelah kanan atau kiri, yang jelas Dia memiliki tahi lalat."
Sharon pun memberitahukan ciri khas yang di miliki oleh Kakak nya, setelah bergelut cukup lama dengan otak nya. Entahlah dengan ke dua orang tua nya, tapi Sharon seakan punya kesan tersendiri pada Kakak nya, sehingga dapat mengingat Ciri Khas nya.
"Oke, kalau begitu yang terakhir. Kamu tidak perlu bekerja jika mental Mu masih terganggu. Aku akan menjamin hidup mu, sampai hembusan terakhir Mu jika Aku masih hidup."
"Tidak. Saya tidak mau berhenti kerja. Saya akan berusaha sekuat tenaga, agar tidak mengecewakan Nona Majikan. Saya mohon, jangan pecat Saya." Mohon Sharon.
"Dia berasal dari Divisi apa Vio ?"
"Ah, kedudukan nya lumayan. Dia menjadi asisten dari pemimpin departemen bagian penjualan."
"Hem, kalau begitu posisi nya akan semakin tinggi Vio. Angkat Dia menjadi asiaten Mu. Jika dia sangat terampil, Kamu dan Dia dapat memikul tugas yang sama dengan saling suport kan ?"
"Dia ? Bersama Saya ? Saya tidak yakin apakah Dia dapat menyamai kerja gila Saya yang ukuran masih setengah dari Anda Nona."
__ADS_1
"Tak apa. Ajarkan saja apapun itu pada Saya, karena jika soal pekerjaan, Saya sangat mudah untuk cepat paham." Ujar Sharon percaya diri.
"Hem ? Bukan soal Kamu yang paham atau tidak Sharon, tapi Orang yang sedari tadi Kamu panggil Nona Majikan adalah seorang maniak kerja. Apa belum ada gambaran sedikit pun di benak Mu ?"
"....." Sharon terdiam, dia belum dapat mencerna perkataan Viona.
"Sudahlah Viona. Aku akan menyerahkan Dia pada Mu, untuk saat ini Aku akan berangkat terlebih dahulu ke tempat kerja. Semoga Kamu cepat menyusul." Ucap Jessica yang sudah berdiri dari kursi nya.
"Jangan lupa untuk memngajarkan pada Sharon, agar dapat membedakan orang munafik yang selalu ada di mana pun itu." Cetus Jessica sambil menatap Viona, dan anggukan patuh di berikan nya. Lalu Jessica kembali menatap Sharon dan berkata "Viona memang tampak ketus di pertemuan pertama kalian, tapi asli nya Dia baik kok. Kalau urusan pekerjaan, Aku sarankan Kamu tidak menbuat kesalahan kecil, karena itu adalah hal yang sangat di benci oleh nya. Paham ?"
Celetuk Jessica dan beranjak pergi dari ruangan itu, sehingga menyisahkan Viona dan Sharon yang saling bertatapan dengan netra bingung.
"Haaahh.. Aku sungguh berharap, ini adalah masalah terakhir hari ini. Aku ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan tentang Asosiasi Dagang, agar tidak tampak seperti lepas tanggung jawab." Monolog Jessica sambil mendengus pelan.
Lantaran Dia sudah di buat hampir gila, dengan semua persoalan yang terjadi beberapa hari belakangan.
...***...
Di perjalanan menuju tempat kerja nya, Jessica duduk di dalam kereta kuda sepeeti biasa nya.
"HIIIIKKKCCCC!!!!"
Suara Kuda yang seakan kaget karena kusir menarik tali mereka dengan kencang, membuat kereta kuda yang di naiki Jessica tergucang dengan hebat nya. Bahkan Jessica hampir terjedot oleh jendela.
"A...APA LAGI YANG TERJADI ?" Geram nya dengan tangan yang sudah di kepal kan.
__ADS_1